
Beberapa hari sudah berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengan Paul. Dia demakin sibuk dengan jadwal latihannya sementara aku sendiri juga sibuk dengan segala kegiatan di rumah sakit. Kami masih saling mengabari satu sama lain.
Video konferensi pers yang dilakukan oleh manajernya untuk mengumumkan soal hubungan kami menjadi headline di hampir seluruh media berita, cetak dan penyiaran. Paul juga sering menjawab pertanyaan singkat yang diajukan wartawan setelah mereka menyelesaikan sesi latihan.
"Kekasihmu, Bianka, benar-benar cantik, Paul." sebuah video menunjukkan Paul sedang berjalan keluar dari sebuah restoran menuju mobilnya bersama beberapa orang temannya.
Dia mengangkat wajah begitu mendengar ucapan seorang wartawan padanya. Satu senyum kecil dan samar tampak sekilas muncul di sudut bibirnya, mengabaikan sorotan lampu kamera dan beberapa komentar lain yang ditujukan padanya.
"Memang, tapi kami hanya berkencan." jawabnya, fokus memperhatikan pria yang bertanya padanya. Sosoknya yang tegap bahkan terlihat jauh lebih menggiurkan disana.
Video itu terpotong saat salah satu pengawalnya berdiri di sampingnya dan merangkul bahunya sambil membisikkan sesuatu di telinganya, yang tidak bisa di dengar oleh orang lain. Kemudian beberapa orang pria dan dua orang wanita masuk ke dalam sebuah mini van.
Aku sudah menonton video itu berulang kali di dapurku ketika Paul mengatakan beritanya sangat viral. Butuh beberapa waktu untuk menyadari dampak dari video itu pada hubungan kami. Dan itu berarti tidak ada lagi ruang pribadi untuk Paul dan aku di tempat umum. Namun ada satu hal lain juga yang harus kuakui saat ini, bahwa aku sudah mengenali perasaanku sendiri. Aku ingin bersama Paul dan aku tidak akan melawan perasaan itu lagi.
***
"Bagaimana tanggapan Travis?" Stacey bertanya dari seberangku seraya menaikkan kedua alisnya.
Kami memutuskan pergi ke cafe kecil di sekitar rumah sakit saat jam istirahat sore, bergabung bersama Camille dan Elise yang sudah lebih dulu berada di sana.
Camille berdecak. "Itu tidak penting! Bianka kekasih Pauk Klug, itu yang lebih penting." katanya dengan suara antusias yang berlebihan sambil meraih dan meremas kedua tanganku.
Aku tersenyum tipis merespon ucapannya. "Aku bukan kekasihnya, Cam." Camille tidak tahu apa-apa soal hubunganku dengan Paul yang sebenarnya, tapi Stacey tahu. "Travis, uhm... aku tidak tahu." Aku menghela napas, menggoyangkan kepala beberapa kali. Meskipun Travis bukan dokter yang bertanggung jawab mengawasiku dan kami jarang bertemu, tapi aku tetap menyadari kalau dia sedang menjaga jarak denganku.
Kami sempat makan siang bersama beberapa hari yang lalu, namun dia tidak pernah mengirimiku pesan, tidak menungguku pulang dan mengajakku minum-minum, atau melakukan sesuatu yang menunjukkan dia tertarik padaku seperti yang sebelumnya dia lakukan. Aku mengerti, Travis mungkin sakit hati, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk itu. Kami hanya berteman dan aku tidak punya tanggung jawab untuk membuat perasaannya lebih baik.
"Dia mengajakku makan siang hari Minggu besok, kuharap kami bisa memperbaiki hubungan kami. Setidaknya kami bisa berteman seperti sebelumnya." gumamku pada teman-temanku. "Dia cukup membantuku menghadapi hari-hari berat di rumah sakit, jadi aku tidak mau dia menjauhiku."
"Aku lebih suka Travis, dia sangat baik dan tidak terlalu banyak drama." kata Elise, senyum sungkan terlihat di bibirnya. "Bukan berarti Paul tidak keren, hanya saja... dia seorang Leo." Dia mulai menyisipkan ramalan zodiak andalannya. "Sekali Leo, akan selamanya menjadi Leo." gumamnya menambahkan. Camille dan Stacey mengangguk setuju.
Aku menyeringai. "Dia Leo yang baik, paling baik dari yang pernah kutemui."
"Kau harus mengajaknya makan siang bersama kita, Aaron juga akan..." Camille menyarankan, namun ucapannya terpotong saat Stacey mendengus.
"Kau kembali lagi dengan Aaron?" tatapannya terpaku pada Camille yang sedang bahagia.
"Aaron seorang Scorpio, Stacey. Apa lagi yang bisa kau harapkan?" dengkur Elise meledek mereka berdua.
Kami mengobrol selama beberapa waktu sampai Stacey dan aku harus kembali ke rumah sakit. Aku bergabung dengan Dr. Grey untuk memeriksa beberapa pasien. Aku bersyukur hari ini kami tidak terlalu sibuk.
"Kau sudah menunjukkan pekerjaan yang sangat baik secara konsisten padaku, Bianka." Dr. Grey memulai begitu kami keluar dari salah satu ruang perawatan pasien. "Aku jarang melakukan ini, tapi kurasa Kau boleh pulang sekarang. Kau pantas mendapatkannya."
Satu senyum tulus di bibirnya membuatku menari-nari dalam pikiranku. Dr. Grey sangat profesional dan tegas, mendapat kesempatan ini merupakan satu pencapaian luar biasa untuk seorang perawat magang sepertiku. Jackpot!
"Terima kasih, Dok." Aku membalas senyumnya, namun sebelum aku sempat mengatakan sesuatu lagi, dia sudah melangkah bersama seorang perawat lain yang membutuhkan bantuannya.
Aku berjalan bersama seorang perawat magang dan mengobrol bersamanya sebelum masuk ke ruang ganti untuk mengganti seragamku.
Aku sedang melangkah ke arah pintu keluar saat kudengar seseorang memanggilku. "Hai, apa kau Bianka?"
Aku berhenti lalu berbalik dan mendapati seorang anak kecil berambut pirang, berumur kira-kira sepuluh tahun, mendorong kursi rodanya sendiri menghampiriku.
"Hei," Aku tersenyum padanya. "Ya, aku Bianka. Dari mana kau tahu namaku?" balasku.
"Aku penggemar berat kekasihmu," gumamnya padaku, mata hijau cerahnya berkilat senang. "Aku ingin menjadi seorang pemain bola seperti Paul Klug saat dewasa nanti."
"Aw, itu sangat keren," Aku berjongkok di depannya untuk menyamakan posisi kami. "Siapa namamu, boy?"
"Aku Daniel. Apa kau tahu, aku juga bermain bola dan aku sangat hebat." Dia menyeringai senang, menampakkan sedikit celah di antara dua gigi depannya.
"Well, senang berjumpa denganmu, Daniel. Omong-omong, apa yang membuatmu terjebak di kursi roda ini?" tanyaku padanya, melirik dan tersenyum sekilas pada Stacey yang berjalan tergesa-gesa sambil mengedipkan mata saat melewati kami.
"Aku mengalami kecelakaan. Ada seorang dokter bodoh yang bilang kalau aku tidak akan bisa bermain bola lagi," Dia terkikik sedih pada dirinya sendiri, dan senyumku menguap. "Aku pasti sembuh dan kembali bermain bola."
"Oh, tentu, boy. Kau pasti bisa melakukannya." Aku mencoba tersenyum untuk menguatkannya, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Aku harus pergi sekarang, Miss. Ibuku tidak mengijinkanku pergi terlalu jauh." katanya kemudian, matanya masih bersinar cerah.
"Baiklah, kuharap kau segera sembuh, boy."
Senyumnya semakin lebar, menandakan ucapanku barusan sangat berarti untuknya. "Sampaikan salamku untuk Paul dan bilang kalau aku fans beratnya."
"Pasti, Sayang. Sebaiknya kembali pada Ibumu sekarang sebelum dia mencemaskanmu." Aku berdiri lalu mengacak-acak rambutnya, dan dia tertawa.
"Bye, bye!" Dia melambaikan tangan, kemudian mulai mendorong kursi rodanya. Aku masih berdiri disana, memandangnya hingga dia menghilang di balik pintu salah satu ruang perawatan.
Begitu keluar dari gedung rumah sakit, aku menghubungi Paul.
"Hei, love." suaranya yang serak seketika membuatku merasa hangat.
"Hai," Aku membuka pintu mobil dan melesak masuk ke dalam. "Aku berpikir apa kau ingin melakukan sesuatu malam ini? Aku sudah pulang kerja."
"Are you free now?" tanyanya kemudian, nadanya terdengar jelas sedang memikirkan sesuatu.
"Beri aku waktu satu jam. Aku perlu mandi dan mengganti pakaian." balasku, mengaktifkan pengeras suara lalu memasang sabuk pengaman dan meletakkan tasku di kursi penumpang.
"Oke, Alfred akan menjemputmu. Aku ingin kau datang menonton kami berlatih." katanya.
Aku mengernyit. "Apa aku tidak salah dengar? Kau tahu, mengetahui kalau bola itu bulat saja sudah merupakan keajaiban untukku." sahutku sambil terkekeh. Aku memang buta soal olahraga, terutama sepak bola.
Paul ikut tertawa di ujung sambungan telepon. "Ayolah, sweetheart. Valerie dan beberapa gadis lainnya juga akan berada di sana. Kita bisa melakukan apapun yang kamu mau setelah itu, seperti menonton atau makan malam. Bagaimana?" katanya menyarankan.
Aku menghela nafas berat, menundukkan pandangan ke pangkuanku. "Kau tahu kita tidak mungkin muncul di depan umum."
"Kenapa? Apa kau tidak mau orang-orang melihatmu bersamaku? Lagi pula, mereka semua sudah tahu kalau kita berkencan."
Aku menarik napas lagi. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu tanpa takut seseorang akan mengambil foto kita dan menyebarkannya."
"Apa kau sedang berusaha menggodaku agar tidur di rumahmu lagi, Bianka?" dengkurnya genit, dan aku tertawa.
"Apa? Tentu saja tidak!" Aku menyeringai, menggiling dan menyandarkan kepalaku ke belakang. "Baiklah, aku akan menontonmu menendang bola, tapi kita akan ke rumahku setelah itu. Oke?"
"Rencana yang sempurna, Bianka. Kau tahu kemana itu akan berakhir, kan?" Aku bisa mendengar nada bicaranya yang bersemangat.
"Oh, ya... aku tahu."