My Love Journey's

My Love Journey's
An Explanation



"Ini dia..." Paul mengulurkan segelas wine untukku.


Dia menghempaskan bokongnya bersebelahan denganku di sofa ruang tengah kamar hotelnya. Kami sudah mengganti pakaian yang lebih nyaman. Aku mengenakan sepasang piyama berbahan flannel sementara Paul memilih kaus dan celana jogger hitam berlogo klub sepak bola Bayern Munchen, klubnya di luar ajang Piala Dunia.


"Terima kasih sudah mau menemaniku makan malam. Aku benar-benar menikmatinya." katanya dengan tatapan berpusat pada gelas wine miliknya.


Aku menaikkan lutut hingga ke dadaku, dengan sabar menunggunya lanjut ke inti permasalahan. Sebelum aku memintanya secara langsung, dia membuka suara.


"Carmen menyimpan sebuah video saat kami bercinta," Paul berdeham seraya meraih ponsel dari atas meja.


Aku mengernyit. "Bukankah itu merupakan tindakan ilegal? Dia tidak boleh merekam hal itu tanpa sepengetahuanmu, Paul."


Aku memandanginya selagi dia membuka kunci layar ponselnya. Seketika terkesiap begitu melihat fotoku yang tadi diambilnya di restoran muncul di layar beranda. Aku ingin mengatakan sesuatu untuk itu, tapi segera urung kulakukan karena tak ingin mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah meminta pengacaraku menanganinya. Aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan tenang agar publik, dan terutama kau, tidak mengetahui soal video ini." cetusnya menjelaskan, lalu menyerahkan ponselnya padaku.


Aku melihat ada semacam video pendek berdurasi tiga puluh detik yang menunggu untuk di putar di galeri ponselnya. Aku menelan ludah, kemudian memandang Paul.


"Dia menggunakan ini sebagai alat agar aku memberinya sejumlah uang, dan mengancam akan menunjukkannya padamu." gumamnya pelan.


Aku menggeleng tak percaya. "Kenapa kau membiarkan dia melakukan itu? Kau harus melaporkannya ke polisi."


"Itu berarti masyarakat akan tahu kalau aku tidur dengan bagian dari kelompok wanita yang buruk. Kebanyakan masyarakat menganggap mereka sebagai wanita murahan yang mengincar uang dan ketenaran para atlet."


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Paul."


"Bianka, ini rumit. Pengacaraku sudah membuat kontrak untuk ditandatanganinya. Aku memberikan kontrak itu tadi, sebelum kita pergi makan malam." dengkurnya. "Aku menawarkan sejumlah uang padanya jika dia menghapus keseluruhan video itu."


Alisku masih meliuk dengan cara yang aneh. "Paul, kenapa kau tidak melapor ke polisi saja? Aku benar-benar tidak paham. Dia bisa di penjara karena mengancammu seperti itu."


"Percayalah, media akan menggila dan badai pasti bermunculan jika aku melaporkan masalah ini ke polisi. Karir dan nama baikku yang menjadi taruhannya, begitu pula dengan apa yang kulakukan padamu."


"Apa? Memangnya apa yang kau lakukan padaku? Kapan... kapan video itu direkam?" Aku memajukan dagu menunjuk ponselnya.


"Sehari setelah aku mengumumkan bahwa kita berkencan." Dia menunduk lagi. "Aku tidur dengannya malam itu. Aku... aku tidak tahu harus mengatakan apa."


Aku terdiam. Meskipun saat itu hubungan kami belum resmi, namun Paul yang selalu mendekatiku. Dia yang selalu berharap kami melangkah ke arah yang lebih serius, dia yang memaksaku meski aku menolaknya berkali-kali, tapi sekarang dia juga yang tidur dengan wanita lain.


Well, secara teknis, dia tidak mengkhianatiku, namun aku tetap tak bisa menerima ini. Aku merasa tertipu.


"Bianka, kumohon lihatlah videonya." Nadanya begitu lemah, seakan dia tak mau mengatakan apapun lagi. "Aku tidak mau kau melihatnya dari Carmen atau orang lain." sambung Paul.


"Memang siapa lagi yang mungkin menunjukkan video itu padaku? Kau tahu, Paul, memperjualbelikan video semacam ini merupakan tindakan kriminal, tidak mungkin Carmen berani melakukan itu... Dia sudah menandatangani kontraknya dan menghapus videonya, kan?"


"Dia tidak akan menjual video itu, Carmen bukan orang yang sulit untuk kuhadapi. Aku hanya... aku belum berhasil menekan Lucy."


"Ya Tuhan, apa hubungan Lucy dengan semua ini?" tanyaku dengan nada ragu. "Dan, aku tidak mau melihat videomu, memikirkannya saja sudah membuatku ingin muntah."


Aku mengembalikan ponsel kepada Paul lalu menenggak wine banyak-banyak sementara Paul mulai menjelaskan. "Lucy merupakan adik perempuan Carmen. Pertemuannya dan adikmu di pusat rehabilitasi merupakan bagian dari rencana mereka untuk memerasku. Lucy masih pecandu narkotika. Aku pernah melihatnya memberikan Louis semacam pil saat kita mengunjungi ayahmu. Kau tahu, Louis juga belum berhenti."


Aku ingin menangis sekarang. "Dia bilang padaku kalau dia sudah berhenti..." Aku cukup senang saat mendengar Louis mengatakan hal itu padaku hingga saat ini, aku selalu mengira adikku sudah kembali ke kehidupannya yang tenang.


"Kau benar-benar bodoh, Paul."


Dia tergelak, lalu menatapku. "Aku tahu. Aku hanya... kumohon, jangan tinggalkan aku."


"Bagaimana dengan Lucy?"


"Aku juga sudah menyiapkan kontrak untuknya. Begitu dia menandatanganinya dan menghapus video itu, aku akan membayarnya. Selesai."


"Apa kau pernah meniduri wanita lain setelah kita resmi menjalin hubungan? Maksudku, benar-benar resmi?"


Dengan cepat, Paul menggeleng keras. "Tidak. Tentu tidak, Bianka. Aku salah besar karena membiarkan Carmen masuk ke rumahku malam itu. Aku benci pada apa yang sudah kulakukan, sekarang kuharap kita bisa melupakan itu. Kau tidak akan lari dariku, kan?"


Aku ingin berteriak dan mengatakan aku membencinya lalu pergi meninggalkannya. Aku butuh waktu untuk mencerna semua yang telah terjadi. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Penolakan dariku akan berimbas pada permainannya di pertandingan final mereka besok. Sebesar apapun keinginanku untuk mengatakan kalau dia sudah membuatku kecewa, aku tak mau menjadi seseorang yang egois dan mengacaukan emosinya. Aku mengingat dengan jelas reaksinya ketika dia melihat postinganku dan Travis di twitter, permainannya berantakan, dan aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.


"Bianka, kau tidak akan meninggalkanku, bukan?"


Kurasa dunia benar-benar tak mengijinkan kami menjalin hubungan lebih lanjut. Seharusnya aku berhenti mendengarkan segala bujukan Paul.


Aku berdeham. "Ya, aku akan tetap bersamamu." kataku, mencoba tersenyum meski sulit. "Aku... aku harus ke kamar mandi."


Tanpa menunggu balasan darinya, aku berdiri dan langsung berjalan ke ujung ruangan menuju kamar mandi. Air mataku mengalir deras begitu pintu tertutup.


Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi menyakitkan begini? Bukan ini drama yang kubayangkan akan terjadi di antara kami. Aku tidak mengira Paul berpikiran sebodoh itu dan membiarkan Carmen mengancamnya.


Oh, Louis... aku harus segera menemuinya begitu tiba di Jerman dan menyuruhnya kembali ke pusat rehabilitasi.


Aku berdiri menghadap cermin, memandang air mataku yang mengalir deras. Bagaimana aku harus menyelesaikan ini sekarang? Aku bingung, otakku seakan berhenti berpikir sementara dadaku mulai sesak dan merasa sedikit panik. Segalanya berubah begitu aku menyerahkan diri kepada Paul, dan sekarang semuanya terasa runtuh perlahan-lahan.


"Bianka?" Aku tersentak mendengar suara lembut Paul dari balik pintu.


Dengan cepat kuhapus air mataku, lalu berdeham. "Ya?"


"Bisakah kau keluar?"


Aku menghela napas sepelan mungkin, mencoba merapikan tampangku agar Paul tak melihat jejak tangisku. Kemudian kutarik dalam-dalam dan membuka pintu.


Paul berdiri disana, dengan wajah tersenyum manis. Tak mau membuang waktu yang ada, dia langsung menarikku dan menciumku. "Kau tidak akan tahu betapa bahagia aku saat ini." gumamnya di bibirku. "Aku tahu sulit bagimu memahami semuanya, dan aku bersyukur atas kemurahan hatimu yang luar biasa, love."


Aku menciumnya sekilas, merasa buruk karena tidak mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku peduli padanya, dan aku tidak ingin menghancurkan mimpinya. Aku ingin Paul berhasil meraih impiannya pada pertandingan final besok. Sebesar itu rasa peduliku padanya. Aku tak sanggup berlaku egois meskipun dia sudah menyakitiku.


"Aku mencintaimu, Bianka."


Perutku merasakan gejolak yang amat keras mendengar tiga kata yang baru saja dilontarkannya, sampai rasanya aku ingin menangis kembali. Alih-alih membalas ungkapan cintanya, aku menaikkan tanganku untuk menangkap rahangnya lalu menciumnya. Air mata panas dan menyakitkan kembali mengalir deras tanpa sepengetahuan Paul.


***


Aku termenung menatap layar ponselku selama beberapa menit, menimbang apakah aku harus melakukannya atau tidak. Paul sudah terlelap sejak beberapa jam lalu begitu kami menyelesaikan permainan ranjang gila-gilaan yang kurasa untuk terakhir kalinya.


Sekarang aku sudah tahu harus melakukan apa. Aku memesan tiket pulang ke Jerman pada waktu tepat sebelum pertandingan mereka berlangsung besok. Semoga Paul tidak menyadari kepergianku hingga dia kembali ke hotel.