
"Mom, Bianka menerima lamaranku!" Dengan bangga dia mengumunkan pada ibunya segera setelah kami masuk ke dalam mobil.
Air mataku masih menggenang dan sesekali menetes turun karena terlalu bahagia, kemudian gelak tawa halus terdengar dari mulutku saat ibu Paul menjerit senang di ujung sambungan telepon.
"Dia ingin bicara denganmu." Paul menolehku sambil tersenyum lebar, mengulurkan ponselnya.
Sorotnya berbinar-binar ketika kuarahkan ponsel ke telinga, mengamatiku dengan tatapan kagum dan penuh cinta yang membuatku meleleh.
"Selamat bergabung bersama The Klug, sweetheart!" kata ibu Paul dengan semangat berlebihan, dari suaranya aku menebak dia sedang menangis bahagia. Dia tak berhenti mengoceh dan juga mengucapkan terima kasih karena aku menerima anaknya.
***
"Aku harus masuk sekarang, Paul." cetusku seraya mengikik geli di bibirnya.
"Tunggu beberapa menit lagi, love." gumamnya, tangannya menahan tengkukku agar tidak menjauh dari wajahnya.
"Paul," Dengan lembut kuletakkan telapak tanganku di dadanya yang keras, memberi sedikit dorongan agar dia mundur. "Aku akan terlambat kalau begini..."
Dia nafas, menarik bibirnya dariku. "Baiklah,"
Aku meraih tas dari kursi penumpang bagian belakang, dan sebelum membuka pintu aku berucap. "Jangan lupa memberi makan Frosty, okay?"
"Siap, Nyonya." Paul terkekeh. "Oh, aku akan ke toko perhiasan untuk mengecilkan cincinmu, lalu langsung pergi latihan. Jadi, nanti Alfred yang akan menjemputmu."
"Aku bisa pulang naik taksi." kataku sembari membuka pintu mobil.
"Tidak, tidak." Dia menggeleng tegas. "Aku membayarnya untuk mengantarku kemanapun aku mau, dan sekarang dia juga bekerja untukmu. Tidak ada penolakan, kau pulang bersama Alfred dan kita akan memesan makan malam dari rumah."
"Okay, okay." dengusku menyerah. Lalu tersenyum merespon ucapannya soal 'rumah', yang mengindikasikan seakan tempat itu juga milikku.
Aku mencium pipinya sekali. "Hati-hati, ya."
Aku langsung keluar dan melangkah memasuki gedung rumah sakit, langsung menuju ruang ganti untuk mengenakan seragam. Aku bertemu Travis dalam perjalanan menuju ruang perawatan pasien yang haru kuperiksa, kami mengobrol sejenak sambil berjalan.
Daniel sudah keluar dari rumah sakit beberapa minggu yang lalu, tak jarang aku merindukannya saat jam istirahatku tiba. Sewaktu dia di rawat disini, aku sering memanfaatkan kesempatan itu untuk memberinya semangat. Dia masih sangat muda, sangat disayangkan kecelakaan yang menimpanya harus membuatnya terjebak di atas kursi roda, mungkin seumur hidupnya. Tapi aku berharap semoga ada keajaiban yang membuatnya bisa berjalan kembali agar dia mampu mewujudkan mimpinya menjadi pemain bola seperti Paul.
"Bianka, uhm... Aku mengundangmu dan Paul makan malam di rumahku sabtu depan, Mary sangat antusias ingin berjumpa denganmu." kata Travis sambil tersenyum.
"Rencana yang bagus. Aku menanyakannya pada Paul nanti malam." Aku membalas senyumnya, memelankan langkah saat tiba di depan ruang perawatan. "Aku yakin dia setuju. Kukabari nanti, ya?"
Travis menganggukkan kepala. "Okay! Selamat bekerja."
"Terima kasih. Kau juga."
Aku melangkah masuk ke dalam ruang perawatan dengan kepercayaan diri yang kuat, belum pernah aku merasa sesemangat ini saat bekerja. Paul dan aku telah resmi mengikat hubungan kami, bersama-sama melangkah ke arah yang lebih serius, dan aku sulit memahami kenapa aku bisa begitu tergila-gila padanya.
Tapi kemudian perasaan bahagiaku menguap dan langkahku terhenti begitu mendapati Carmen berbaring di ranjang pasien. Dari perubahan raut wajahnya aku yakin dia juga tak menyangka akan melihatku saat ini.
"Hello," sapaku, mengenyahkan kecanggungan dan mencoba bersikap profesional. Aku tidak mau melibatkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan.
Aku masih agak marah mengingat dia dan Paul pernah berada dalam situasi yang berhubungan dengan kegiatan seksual. Di tambah lagi, dia mengancam Paul menggunakan video saat mereka melakukan hubungan badan yang diambilnya diam-diam untuk mendapatkan sejumlah uang. Semua itu membuatku ingin sekali memakinya dengan kata-kata kasar.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan nada tak senang selagi aku memeriksa papan informasi kesehatannya.
Aku mengernyit, membaca catatan kesehatannya sekali lagi untuk memastikan penglihatanku tak salah. Carmen masuk rumah sakit karena di duga memiliki tumor payudara.
"Dr. Grey memintaku memeriksamu lebih dulu sebelum dia datang." Aku berdeham lalu memusatkan pandangan padanya. "Apa yang kau rasakan?"
"Kepalaku sakit. Ambilkan obat untukku." katanya memerintah, seolah dia seorang ratu yang berkuasa.
Aku tersenyum simpul padanya. Aku percaya terkadang sikap yang baik dan tulus dari kita bisa merubah cara pandang seseorang, bahkan untuk wanita seperti Carmen sekalipun. Kemudian aku meninggalkannya sebentar untuk mengambil obat yang dibutuhkannya dan kembali sekitar dua menit kemudian.
"Carmen, aku minta maaf karena mencoba menyakitimu saat di Rusia ." kataku bersungguh-sungguh begitu dia menelan obat.
Alisnya mengernyit sementara ekspresinya tampak ragu memandangku. "Apa kau serius?" cetusnya, lalu tertawa.
"Ya, aku serius. Aku bukan tipikal wanita kasar yang sanggup menyerang seseorang, tapi pikirabku sedang kacau saat itu." kataku, menghela nafas sejenak. "Maafkan tindakanku yang berlebihan dan mengatakan kau wanita murahan. Aku benar-benar menyesal sudah melakukan itu padamu."
Carmen memperhatikanku dengan seksama, membuatku semakin merasa tak nyaman.
"Seharusnya aku yang minta maaf," dengkurnya, terdengar jujur. "Bukan kau." Dia melempar pandangan sambil menegakkan tubuhnya.
Ekspresi garang yang selalu kulihat di wajahnya kini memudar. Mungkin itu karena tak satupun temannya berada disini untuk mendukungnya, jadi dia tak memiliki alasan untuk mempertahankan harga dirinya di hadapanku.
"Ini bukan masalah siapa yang harus minta maaf. Kita sama-sama bersalah, dan aku hanya meminta maaf atas perlakuanku yang kasar kepadamu." Carmen menaikkan pandangan menatapku. "I'm sorry. Apa kau memaafkanku?"
"Ya, ya. Aku juga minta maaf karena... well, kau pasti paham maksudku..."
"Ya."
Aku tersenyum padanya saat menyadari dia agak gelisah dan tidak mampu meneruskan ucapannya. Dia tahu sebesar apa masalah yang dilemparkannya kepada Paul dan aku, dan aku benar-benar menghargai niatnya yang tulus.
"Aku akan menyiapkan obat yang lain untukmu." kataku, dan dia tersenyum setelah memandangku beberapa saat.
"Paul! Kau pasti tidak akan percaya jika aku mengatakan kejadian di rumah sakit siang tadi," seruku penuh semangat, tak sabar ingin memberitahunya tentang pertemuanku yang tak sengaja dengan Carmen.
Aku masuk melangkah lebih jauh ke dalam rumah dan buru-buru melepas baju hangat dan sepatu yang kukenakan. "Paul?" panggilku sekali lagi, tapi tidak ada jawaban.
Aku merunduk mencapai Frosty yang sedang berjalan menghampiriku, lalu membawanya ke ruang keluarga. Hampir seluruh ruangan gelap, kecuali ruang keluarga, jadi kurasa Paul ada disana.
"Paul!" Bibirku melengkung tinggi begitu mendapati dia sedang duduk di sofa, bersandar membelakangiku.
Aku mendekatinya dan memeluk lehernya dari belakang. Mengikuti suasana hatiku yang bahagia saat ini, aku mencium pipinya beberapa kali untuk menarik perhatiannya. "Hei, apa kau bisa menebak kejadian tak terduga di rumah sakit hari ini?" kataku mengulangi.
Perasaan bahagia yang memenuhi hatiku seketika menguap saat melihat ekspresinya yang mengejutkan. Dia terlihat kesal, marah, dan tak berdaya.
"Bianka, ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Dengan begitu saja, aku tahu pasti ada yang tidak beres disini. Aku berderap mengitari sofa dan duduk disampingnya. "Ada apa?" tanyaku penasaran sambil memperhatikan rautnya yang aneh.
Aku merasa dia sengaja menghindari kontak mata denganku, pandangannya tertunduk, menatap meja di hadapan kami. Dia berdeham lalu menopangkan siku ke lututnya.
"Paul?" Aku memutar tubuhku menghadapnya, kekhawatiran mulai merasuki pikiranku. "Katakan padaku, ada apa?"
"Publik belum mengetahui ini sama sekali," katanya memulai dengan suara rendah, "Tapi, besok pasti akan merebak. BBC punya hak paling besar untuk merilis beritanya, dan semua orang akan menggila karena itu..."
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Namun, meskipun rasa penasaranku begitu tinggi seiring rasa cemasku yang juga perlahan naik, aku memilih bersabar menunggunya. Memberinya kesempatan menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
"Okay," gumamku pelan, sebisa mungkin berusaha bersabar dan mencoba memahami setiap kata-katanya.
"Ini musim transfer pemain... oh, maaf, kau pasti tidak paham soal itu, kan?" dia meremas rambutnya dengan gelisah, lalu memandangku dengan tatapan seakan dia tahu isi kepalaku saat ini.
Apapun artinya transfer pemain itu, entah kenapa aku tidak menyukai kata 'transfer' yang di ucapkannya.
"Kau tahu club tempatku bermain sekarang?" tanyanya seraya memperhatikan perubahan ekspresiku lekat-lekat.
"Ya..." balasku gugup.
"Untuk saat ini, aku merupakan pemain terbaik di dunia, yang artinya banyak klub besar yang menginginkanku bergabung dengan mereka. Dengan kontrak kerjaku yang sekarang, ada pasal tentang jual-beli pemain," Dia menjelaskan, namun begitu menyadari rautku yang bingung, dia mengganti taktiknya. "Uhm, contoh... andai Manchester City ingin Cristiano Ronaldo masuk ke klub mereka, mereka harus membayar berapapun harga Cristiano dalam kontrak bersama Juventus. Itu maksudnya pasal jual-beli pemain. Kau paham?"
"Kurasa begitu," sahutku lemah. Ini jelas bukan berita bagus untuk hubungan kami.
"Bagus. Harga kontrakku sekitar 250 juta Euro, manajemenku sengaja menaruh angka paling tinggi untuk menjaminku tetap berada disini. Tapi, setelah aku menduduki posisi puncak di Fifa dan mengalahkan Cristiano Ronaldo, muncul penawaran yang lebih besar..."
Aku terperangah mendengar kalimatnya. Aku baru tahu uang yang dia hasilkan bisa sebesar itu hanya dengan menedang bola. Ini benar-benar gila dan aku sama sekali tak pernah memikirkan sejauh itu.
"Oh," Seperti orang bodoh, kemampuanku berbicara seolah hilang begitu saja.
"Ada kesempatan yang sangat besar dan kemungkinan aku akan bermain dengan klub yang baru, Bianka."
Aku terdiam sejenak, berusaha menyingkirkan kekhawatiranku tentang klub baru yang mungkin letaknya tidak disini. Maksudku, banyak klub sepak bola bagus di Jerman, kan? Dan, kurasa dia tidak perlu pindah ke...
"Real Madrid menginginkanku."
Aku merasakan tenggorokanku tercekat. "Real Madrid... itu ada di..."
"Madrid. Spanyol." katanya, mengalihkan pandangan dariku.
"K-kau mau pindah ke Spanyol?" tanyaku dengan suara gemetar. Hatiku sesak membayangkan kemungkinan itu. Aku takkan sanggup menghadapi ini sekarang, rasanya momen bahagia di antara kami baru terjadi sepuluh menit yang lalu, dan sekarang... Ya Tuhan, apa-apaan ini?!
"Sepertinya begitu," tegasnya, lalu menangkup wajah dengan kesua tangan. Paul pasti tak senang dengan gagasan ini.
Aku mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Dia harus memilih antara aku dan keluarga beserta teman-temannya disini, atau karir sepak bolanya. Aku bisa merasakan betapa sulit baginya mengambil keputusan dan aku menginginkan yang terbaik untuknya, yang berarti dia harus menerima tawaran transfer ke klub terbaik di dunia. Sebenarnya karirnya sudah cukup bagus, tapi ini sebuah kesempatan besar dan langka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Aku tahu itu.
Aku berdeham. "Uhm, aku ingin ke kamar mandi sebentar..." kataku, jangan sampai dia melihatku kesal karena dia pasti merasa bersalah. Ini demi karirnya, dan dia tidak perlu merasa bersalah karena mengecewakanku atau siapapun.
Tepat saat aku berdiri dan berbalik hendak melangkah menuju kamar mandi, air mataku turun membasahi pipi. Kemudian Paul meraih tanganku dan menghentikan langkahku. "Bianka..."
Satu hembusan nafas gemetar terdengar dari mulutku, buru-buru aku mengusap pipi lalu menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan diri.
"Kejadian di Rusia tidak akan terulang lagi. Aku tahu kau marah, begitu juga denganku. Kau tidak perlu bersembunyi lalu menangis di kamar mandi dan bersikap seakan semuanya baik-baik saja, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu lagi." Paul memutar tubuhku agar menghadapnya. "Duduk dan katakan pendapatmu soal ini. Aku perlu mengetahuinya."
Aku menelah ludah, dengan berat hati terpaksa menganggukkan kepala. Menurutku, Paul tidak mungkin melepaskan kesempatan ini begitu saja, ini bisa merubah karirnya dan membuat hidupnya lebih cemerlang, untuk itulah dia berjuang sangat keras agar bisa mencapai posisi puncak sebagai pemain sepak bola terbaik di dunia. Aku peduli padanya, pada impiannya, tapi bolehkah aku bersikap egois dan bilang kalau aku tidak mau dia meninggalkanku dan hidup di tempat yang sangat jauh hanya untuk menendang sebuah bola sialan?
Aku kembali duduk di sofa, berhadapan dengan Paul. "Bagaimana menurutmu, love?" cetusnya mendesakku, aku tidak mungkin mematahkan semangatnya dan mengatakan pendapatku dengan jujur.
"Kurasa itu bagus. Kau mendapat kesempatan yang lebih besar untuk menunjukkan kemampuanmu." gumamku, berusaha tersenyum.
"Aku merasa seperti pion yang tak berdaya di atas papan catur, Bianka." katanya, menyandarkan punggung ke belakang sambil mengembuskan nafas putus asa. "Aku tidak bisa menolak transfer itu. Tentu, manajemenku akan melakukan yang terbaik untuk membuatku senang, tapi..."
"Tapi?" tanyaku, menelan ludah pahit.
"Aku ingin tetap berada disini denganmu. Tidak mungkin aku menolak tawaran itu dan menyebut namamu sebagai alasan. Semua orang akan menyalahkan dan membencimu, padahal mereka sama sekali tidak tahu sejauh apa hubungan kita, dan..."
"Paul, hei, tenanglah..." kataku seraya menghela nafas. "Kumohon, jangan seperti ini."
Aku tahu dia sedang frustasi menghadapi masalah ini. Jarak antara Jerman dan Spanyol memang tak terlalu jauh, hanya dua jam penerbangan dan kau akan tiba disana, tapi aku tidak mungkin terbang setiap libur untuk bertemu dengannya.
"Paul, dengar, pekerjaanmu lebih penting..."
"Aku tidak peduli mana yang lebih penting saat ini, Bianka. Itu tidak adil untukmu," dengkurnya menyela ucapanku. "Sekarang, katakan apa yang harus kulakukan, aku benar-benar gila memikirkan ini."
Aku terdiam sejenak sebelum berbicara. "Kurasa kau patut bangga akan hal ini. Real Madrid... itu klub besar, namamu akan semakin bersinar disana." Aku mencoba meyakinkan Paul dan juga diriku sendiri.
"Memang. Ini akan menjadi transfer pemain terbesar dan paling mahal yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola di dunia..." Dia menggeleng putus asa, lalu mendadak ekspresinya menggelap. "Bianka?"
"Ya?"
"Jika... uhm, andai aku benar-benar resmi bermain dengan Real Madrid, apa kau mau ikut denganku? Kau tidak perlu bekerja, meski aku tahu kau menginginkannya... Aku bisa membantumu mencari pekerjaan disana." Sebuah senyuman perlahan muncul di bibirnya, seolah yakin dia sedang menawarkan sesuatu yang tak bisa kutolak. Tapi itu malah membuat hatiku semakin sakit.
Dengan berat hati, aku menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa, Paul. Aku... tidak, aku tidak bisa."
Aku sungguh-sungguh mencintainya, tapi bukan berarti aku rela meninggalkan semua kerja kerasku disini untuk mengikutinya dan menjadi wanita rumahan yang duduk tenang menunggu di rumah sementara dia berada di luar. Sampai kapanpun, itu tidak akan terjadi padaku.
"Kenapa? Kurasa dimanapun kita berada tidak akan penting selama kita bisa bersama." balasnya, belum menangkap maksud ucapanku.
"Aku masih kuliah, dan hubunganku dengan Louis baru saja membaik. Aku tidak mungkin membiarkan ayahku mengurusnya sendirian, Paul. Mereka membutuhkanku, untuk itulah aku rela kembali ke Jerman dan meninggalkan pekerjaanku di Indonesia. Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu."
Paul tampak masih belum paham. Untuk kesekian kalinya, kami berhadapan dengan masalah gaya hidupnya. Aku sama sekali tidak menyalahkan Paul karena tidak bisa menyesuaikan diri denganku, aku bisa mengerti kenapa kehidupan kami berbeda. Victoria Beckam selalu ikut kemanapun suaminya pergi, dan Paul pasti mengharapkan itu terjadi pada kami, tapi aku tetap tidak bisa melakukannya.
"Kau bisa pulang kapanpun kau ingin melihat mereka, love. Atau mereka bisa mengunjungi kita sesekali." gumamnya menunjukkan sikap keras kepalanya. "Kau juga bisa melanjutkan kuliahmu disana,"
"Kehidupanku disini, di Jerman. Kumohon, mengertilah..." suaraku mulai gemetar, berharap dia bisa memahamiku meski aku tahu itu tidak mungkin.
"Aku tidak sanggup berjauhan denganmu, Bianka."
Aku terdiam. Menundukkan pandangan ke pangkuanku lalu terpejam untuk menahan air mataku. Ini terlalu sulit untuk kucerna.
Belum sempat aku mengatakan sesuatu, Paul kembali berbicara. "Baiklah, tapi kita bisa melakukan hubungan jarak jauh, kan?" gumamnya penuh harap.
Aku menggelengkan kepala merespon kalimatnya yang terasa lebih menyakitkan lagi. Hingga hari ini, sebenarnya masih banyak sekali rumor yang tersebar tentang hubungan kami, dan aku selalu berusaha mengabaikannya.
Jika dia pindah ke Spanyol dan kami melakukan hubungan jarak jauh seperti yang dia katakan, masalah yang muncul akan lebih besar lagi. Aku takkan sanggup hidup tenang sementara bisa dipastikan berita tentang Paul bersama wanita saat di Spanyol terus-menerus bermunculan di semua platform media. Itu fakta yang tak terbantahkan, dan aku sudah sering melihatnya.
Aku hanya bisa melupakan semua berita itu saat bersamanya, dan jika dia benar-benar pindah ke Spanyol, semua pikiran buruk dan kecurigaan akan terus mengambil alih kendali atas pikiranku. Aku tidak mungkin mampu hidup seperti itu, jadi rasanya percuma memberi harapan pada hubungan kami. Paul dan aku memang tidak bisa bersama.
Tanpa kusadari, pipiku sudah basah oleh air mata. Dengan hati yang hancur, aku menggeleng keras. "Tidak, Paul."
"Bianka..."
"Tidak bisa, aku minta maaf." kataku tegas. "Aku ingin ke kamar mandi."
Aku berdiri, membalikkan tubuh dan berderap menuju kamar mandi. Aku masih bisa mendengar Paul mengumpat kasar dalam perjalananku, tapi aku tidak peduli. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sendiri dan mencoba menerima apa yang direncakan Tuhan untuk hubungan kami, tapi sepertinya bukan sesuatu yang Paul dan aku harapkan akan menjadi kenyataan.