My Love Journey's

My Love Journey's
Watching The Practice



Aku berada di situasi yang belum pernah kualami sebelumnya; berjalan bersama dua orang pria bertubuh tegap yang menuntunku menuju ke sebuah pintu di ujung koridor. Yang kutahu hanyalah, aku berada disini untuk menonton sesi latihan tim nasional sepak bola Jerman. Dan situasi saat berada di dalam lift terasa seakan aku sudah terjebak di sana selama berabad-abad.


Aku membaca pesan terakhir yang dikirim oleh Paul, mencoba meyakinkan diriku sekali lagi kalau aku akan duduk di tribun dengan tenang dan berharap semoga bisa bertemu Valerie, karena hanya dia satu-satunya yang kukenal disini selain Paul.


From: Paul: Jangan cemas, kau akan baik-baik saja, love. Aku tidak sabar ingin berjumpa denganmu x


Paul mengirim pesan itu sekitar satu jam yang lalu, dan sekarang dia pasti sudah berada di lapangan karena aku terlambat.


Pintu di depanku dibuka oleh salah satu penjaga keamanan, namun aku begitu terkejut begitu mendapati pemandangan paling aneh yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Sebagian besar wanita yang berdiri disana tampaknya amat menggilai operasi plastik dan nyaris semuanya melakukan itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat begitu banyak belahan dada terpampang dengan cara yang amat menantang para pria.


"Hei, Bianka!" Valerie berjalan menghampiriku, langsung menyelimutiku dengan satu pelukan hangat. Aku tahu dia sudah mengalami apa yang kurasakan pada masa-masa awal hubungannya bersama Carl, dan jelas tahu bagaimana perasaanku sekarang.


"Hei," Aku tersenyum begitu pelukan kami terlepas. "Tempat apa ini?"


Aku baru mengetahuinya setelah kami keluar dari pintu. Posisi kami benar-benar tinggi, di atas lapangan hijau yang membentang luas, dipagari dinding kaca pembatas. Titik paling sempurna untuk menonton seluruh pertandingan. Terdapat sebuah meja yang penuh dengan camilan dan beberapa botol sampanye.


"Kekasih, istri, selingkuhan, atau siapapun yang diinginkan para atlet, datang ke tempat ini untuk menyaksikan mereka berlatih atau bertanding. Mereka tidak datang setiap saat, namun hari ini merupakan pengecualian..." Valerie tersenyum lebar sambil menyodorkan segelas sampanye untukku.


"Pengecualian untuk apa?" tanyaku saat kami melangkah melewati beberapa wanita yang sedang mengobrol, menuju ke dinding kaca pembatas.


Aku memperhatikan para pria yang sedang menendang bola, dan mereka tampak sangat kecil, seorang pelatih sepertinya sedang menginstruksikan sesuatu dengan tangannya yang bergerak kesana-kemari.


"Ini hari terakhir mereka latihan sebelum pergi untuk bertanding di Piala Dunia." cetusnya riang, seakan itu bukan apa-apa. Tapi ini cukup serius untukku karena Paul belum membahas soal ini denganku.


"Ah, ya, tentu saja." Aku menganggukan kepala, merasa asing sendiri karena tempat ini dipenuhi wanita dengan dada berukuran luar biasa besar.


"Lihat, itu Paul," Aku mengikuti arah telunjuk Valerie. Meskipun dia sangat kecil, aku masih bisa mengenalinya dengan baik.


Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, itu semacam taktik, tetapi aku masih bisa melihat dan memahami semua gerakannya dalam proses latihan mereka. Dia mendominasi permainan dengan mudah, persis seperti yang selalu dilakukannya padaku.


Kemudian aku menyadari betapa pentingnya sepak bola bagi Paul, dan dia merupakan asisten kapten tim nasional. Dia benar-benar layak mendapatkan semacam perhatian dari nyaris seluruh penggemar di dunia, karena dia memang hebat.


"Dia sangat hebat," kataku, menyesap sampanye.


"Apa kau gadis-nya Paul?" suara seoarang wanita terdengar dari belakang kami.


Aku tidak tahu bagaimana kepribadiannya melalui nada bicaranya yang agak sarkastis, dan ketika aku berbalik, aku nyaris melompat saat berhadapan dengan dua pasang dada yang berukuran jumbo tepat di depan wajahku.


"Aku bukan gadis-nya." kataku dengan sopan pada seorang wanita tinggi berambut gelap. "Kami hanya berkencan."


Seorang wanita lain disampingnya hanya mengangguk, tampak tidak terlalu tertarik dengan apa yang baru saja kukatakan.


"Kau pasti cukup hebat di ranjang jika kau bisa membuatnya bertekuk lutut seperti itu," dia memperhatikanku dari atas kepala hingga ke kaki, kemudian tatapannya berhenti di dadaku dan dia tertawa. "Aku tidak percaya ini, bagaimana mungkin Paul tunduk pada seorang membosankan sementara aku sudah berusaha memberinya sesuatu yang lebih." Dia tertawa lagi.


"Oh," Aku tidak harus mengatakan apa untuk meresponnya.


Dadaku memang kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita lain disini, tapi aku bisa menangkap sesuatu dari kata-katanya. Dia wanita bar-bar! Jika dia disini karena salah satu teman Paul yang mengundangnya, kenapa dia harus berusaha memikat Paul?


Valerie masih diam di sebelahku.


"Jangan dengarkan dia, dia terlalu menganggap dirinya bagus." Seorang pria mendekati kami, berdiri di depan si wanita bar-bar. Rambut pirang, mata biru cerah, dan senyum menawan tampak menghiasi wajahnya.


"Paul akan kembali padaku, persis seperti sebelumnya." Wanita itu berbicara lagi lalu mendengus dan melangkah meninggalkan kami.


Aku tersenyum pada pria yang baru saja bergabung seraya menggumamkan terima kasih.


"Oh, baiklah. Proses pengabaian dimulai." kataku sambil tersenyum lalu menyesap sampanye. Valerie dan pria itu terkekeh.


"Kau tahu Felix? Dia kekasihku dan juga teman dekat Paul." gumamnya lagi.


Hubungan sesama jenis bukan hal baru bagiku, terutama sejak aku pindah ke Jerman. Awalnya memang agak mengejutkan, tapi perlahan aku mulai mengerti pola hidup orang-orang disini.


"Maaf, aku tidak tahu. Aku pendatang baru disini." Aku menggeleng. "Omong-omong, aku Bianka. Senang berjumpa denganmu."


"Oh, ya ampun, aku bahkan belum mengenalkan diri." Dia menyeringai, menyapukan tangan ke rambut pirangnya. "Aku Reddington."


"Nama yang bagus," gumamku, menyesap sampanye lagi sementara mendengar segerombolan wanita dengan penampilan luar biasa di belakang kami sedang bergosip riang, tentu saja, aku yang menjadi pusat pembicaraan mereka.


"Kau bisa memanggilnya Red," gumam Valerie seraya memeluk lengan Red.


"Oke."


Kami mengobrol sambil menonton para atlet berlatih. Mulai membosankan setelah beberapa saat, namun menyaksikan Paul sedikit menghiburku. Dia amat sangat seksi bermain di bawah sana. Paul lebih menonjol di antara pemain lainnya, bukan karena aku menyukainya, namun bisa kubilang kemampuannya bermain bola memang mengagumkan.


Valerie, Red, dan aku melangkah keluar lebih dulu dari lounge begitu para atlet meninggalkan lapangan dan menuju ke ruang ganti.


"Aku bertaruh hubungan mereka tidak akan bertahan lama." Aku mendengar suara wanita bar-bar itu berbicara pada temannya, kurasa dia menghabiskan terlalu banyak sampanye karena memikirkanku.


"Aku setuju, Paul hanya ingin menidurinya. Paling cuma bertahan seminggu." Wanita lain membalasnya, dan seketika hatiku menciut.


Aku membiarkan mereka. Ada Valerie dan Red disampingku, jadi persetan dengan orang lain yang mencoba menjatuhkanku. Kami terus berjalan hingga tiba di koridor yang cukup luas.


Saat berdiri menunggu disana, kami mengobrol dengan pelan sementara segerombolan wanita tadi memenuhi setiap sudut tempat dengan suara keras dan tawa mereka.


"Bianka."


Aku memutar kepala ke arah kerumanan wanita itu saat mendengar suara yang sangat kukenali. Mendadak situasi tak nyaman yang kurasakan sejak tadi menghilang begitu saja. Sambil menggumamkan 'maaf' dengan gerakan mulutnya, Paul berjalan tergesa-gesa melewati mereka dan mendekatiku.


Dia mengenakan kaus abu-abu dan celana olah raga yang senada, rambutnya masih basah, sementara satu tas hitam mengantung di bahunya. Sebelum aku sempat menangkap tatapan iri dan jijik dari segerombolan wanita berdada palsu itu, Paul sudah berdiri di depanku, menangkup wajahku dan mencium bibirku.


"Hei," Dia tersenyum begitu ciuman kami terlepas. "Apa kau baik-baik saja?"


"Ya,"


"Kenapa harus buru-buru, sih?" Seorang pria lain berdiri dan bertanya pada Paul. "Hei, babe." Dia memeluk pinggang Red dan menciumnya.


Ini pasti Felix. Aku mengenalinya. Dia salah satu teman Paul yang kulihat di rumah sakit saat pertama kalin kami bertemu karena insiden gegar otak yang dialaminya waktu itu. Ya Tuhan, terasa seakan itu sudah lama sekali.


"Kau pasti Bianka, aku ingat melihatmu di rumah sakit." Dia tersenyum padaku. "Paul tidak pernah berhenti membicarakanmu..."


"Diamlah!" Paul meninju lengannya sekali lalu terkekeh.


Aku membalas senyumnya. "Kau Felix? Senang berjumpa denganmu."


"Sebelum kita pergi, love." Aku kembali menatap Paul. "Aku ingin mengenalkanmu kepada teman-teman se-tim-ku." Kemudian dia menggengenggam tanganku, lalu menuntunku melewati kerumunan para wanita yang paling ingin kuhindari sejak tadi.


Aku menyeringai senang, mengusap lengannya selagi kami berjalan.