My Love Journey's

My Love Journey's
Girls Night



@footballfanatic: ini menggemaskan, aku mendukung mereka.


@gary: dia sangat cantik, @PaulKlug sungguh beruntung


@cameltoe: OMG! Dia mengenakan hoodie klub Paul! Tolong posting lebih banyak tentang wanita ini @PaulKlug!


"Apa kubilang, love... mereka menyukaimu." kata Paul sambil menunjukkan beberapa komentar soal postingannya di akun Twitter-nya kemarin. Banyak juga orang yang membagikan ulang postingan itu.


Aku membaca beberapa komentar itu, menyadari lebih banyak orang baik dibandingkan sebelumnya. Aku tersenyum. "Nyaris tidak ada komentar yang menghinaku. Wow... ini sulit di percaya."


"Akan selalu ada orang yang tidak menyukai kita. Cukup fokus pada mereka yang baik dan mengagumimu." Paul menyeringai genit, menggodaku.


"Itu yang harus kita lakukan, kan?" Aku tertawa, menepuk lengannya pelan sebelum melanjutkan kegiatanku bersiap untuk malam ini.


***


"Terima kasih sudah mengajakku, Bianka." Valerie tersenyum padaku melalui pantulan cermin di toilet.


Aku memasukkan lipstik ke dalam tas lalu menolehnya. "Sama-sama. Aku senang kau mau bergabung dengan teman-temanku."


"Kau tahu, aku tidak memiliki banyak teman karena hubungan dengan Carl... well, kau pasti paham maksudku."


Hatiku sedikit menciut mendengarnya. Jika dia dan Carl sengaja menyembunyikan hubungan mereka agar mendapatkan ketenangan, aku penasaran bagaimana dengan hubunganku dan Paul ke depannya setelah semua informasi tentang kebersamaan kami diketahui oleh semua orang. Aku mencoba mengusir semua keraguanku dan berusaha percaya pada Paul. Semuanya akan baik-baik saja.


"Ya, aku mengerti." kataku, mengangguk sekali. "Ayo keluar. Aku yakin minuman kita sudah menunggu."


Valerie tersenyum lebar, sebuah senyum yang membuatku spontan membalasnya.


Tanpa membuang waktu lama, Valerie dan aku kembali ke meja kami. Bergabung bersama Stacey, Camille, dan Elise.


"Apa pekerjaanmu yang sebenarnya?" tanya Stacey, menyesap minumannya sementara matanya menatap Valerie.


Kami semua fokus memandang selagi dia menundukkan kepala sambil tersenyum. "Aku seorang analis keamanan informasi."


Kami terdiam, benar-benar tidak paham dengan pekerjaannya sebagai analis keamanan informasi. Pekerjaan apa itu?


"Ya, dan apa yang kau lakukan dengan pekerjaan itu?" tanya Stacey lagi, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan komputer. Melindungi mereka dari serangan peretas dan semacamnya. Well, kau bisa menyebutku sebagai hacker."


"Wow, menarik," seruku sambil mendorongnya dengan bahu, lalu menghabiskan minuman di gelas keduaku. "Apa itu berarti kau meretas untuk bersenang-senang?"


"Astaga, tentu saja tidak." Valerie tertawa. "Aku meretas untuk menghentikan aksi peretas lainnya, agak sulit menjelaskannya."


"Ya, belakangan ini memang banyak hal yang sulit dimengerti," Camille menghela nafas, aku belum melihatnya tersenyum sepanjang malam ini.


Tanpa diketahui Valerie, Camille sedang mengalami masa-masa sulit bersama Aaron. Hubungan mereka sedang mengantung di atas seutas benar, hampir hancur untuk yang ke seratus kalinya. Dari bawah meja, aku meremas tangan Camille untuk menguatkannya. Dia menatapku dengan senyum tipis yang menyiratkan kesedihan.


"Apa zodiakmu?" Elise bertanya sambil mendaratkan sikunya di meja, mencondongkan tubuh ke arah Valerie.


Oh, dia akan mulai lagi dengan ramalan anehnya.


Valerie mengerutkan alis seraya mengangkat kepala. "Pisces."


"Ah! Aku suka Pisces." sembur Elise secepat kilat.


Stacey memutar bola matanya. Sama seperti kami semua, dia juga sudah mulai melayang. "Itu karena zodiakmu juga Pisces!"


"Eh, akui saja kalau Pisces merupakan zodiak terbaik." Elise bertahan.


Sementara itu, Valerie mengangguk dengan antusias. "Itu benar! Aku setuju."


"Hei, para cewek!" Red tiba meja kami. Raut senang tergambar di wajah Valerie dan aku menyaksikan kehadirannya.


Red duduk dikursi sambil memegang segelas cocktail. "Maaf, aku terlambat. Felix dan aku mencoba melakukan Facetime s-e-x, atau apapun itu istilahnya." gumamnya cuek, lalu menyesap minumannya.


Kami tertawa, kemudian aku mengenalkan Stacey, Camille, dan Elise padanya.


"Apa kau kekasih Felix North?" Elise bertanya dengan raut gembira.


"Mhm."


"Dia seorang Libra, kan?" Dia mengerang. "Aku bahkan tidak bisa membayangkan..."


"Oh, astaga... kenapa kau terus membahas ramalan zodiak bodoh seperti itu, sih?" kata Stacey, dengan segera menghentikan semangat Elise. Mereka saling melempar pandangan sejenak, lalu sama-sama mengedikkan bahu.


"Dia Libra, ya." Red menjawab, sementara Elise menyengir senang.


"Apa kalian akan ke Rusia nanti?" Aku bertanya kepada Valerie dan Red setelah memesan minuman tambahan.


Kami duduk di meja yang agak tersembunyi dengan meja lainnya, jadi aku tidak perlu khawatir seseorang selain teman-temanku akan mendengar apa yang kami bicarakan. Tempat kami duduk juga lebih gelap, sumber cahaya yang masuk hanya dari lantai dansa.


Red mengangguk. "Oh, tentu saja."


"Aku juga belum yakin." Paul juga memintaku mengunjunginya kesana tapi sudah kubilang aku akan memikirkan itu. Setelah apa yang terjadi belakangan, ditambah cederanya, kami belum sempat membahas rencana itu lagi. Sebenarnya aku bisa saja mendungkungnya dari rumahku.


Malam yang kami sebut sebagai malam para cewek berlangsung riang. Kami menghabiskan bergelas-gelas minuman sebelum turun ke lantai dansa dan menari bersama pengunjung lainnya.


Kemudian aku teringat pada Frosty. Aku menitipkannya pada tetanggaku dan kuyakin mereka bisa menjaganya dengan baik, tapi aku juga sadar kalau aku tidak mungkin meninggalkannya lebih lama. Waktuku bersama Frosty sudah cukup berkurang sejak kesibukanku di rumah sakit meningkat, lalu sekarang aku semakin jarang bertemu dengannya karena Paul.


Malam ini Paul juga memintaku menginap di rumahnya. Tapi aku belum memberinya jawaban karena ragu dengan kondisi otakku yang sedang tinggi akibat alkohol. Aku tidak mabuk, cuma sedikit goyang. Well, kalian pasti paham maksudku.


Ketika kami menari di lantai dansa, tiba-tiba Stacey menarikku ke toilet. "Hei, pelan sedikit, dong." Aku agak tersandung, bingung karena mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. "Apa kau baik-baik saja?"


Stacey menarik napas. "Elise dan aku berciuman." Dia berbalik menatapku saat kami berdiri di tempat yang lebih sepi.


Aku menaikkan alis terkejut. "Oh, wow!" Namun Stacey tampak tidak senang sama sekali. "Kenapa?" tanyaku, sedikit bingung dan penasaran sekaligus. Dia selalu mengkritik keras ketertarikan Elise pada astrologi dan ramalan zodiak, jadi aku tidak mengira ada perasaan lain di antara mereka.


"Kurasa aku baru saja membuat kesalahan besar," Dia menarik napas lagi, lebih dalam. "Aku bahkan ragu Elise akan mengingat itu... Aku menyukainya, Bee."


"Well, kau cuma perlu memberitahunya, kan?" gumamku mendukungnya. "Mencium Elise bukan masalah besar. Besok coba ajak dia makan siang atau makan malam."


"Tapi dia juga pasti mengajakmu."


"Ah, kau benar. Sayang sekali, aku tidak akan berada di kota besok." balasku sambil menyeringai.


"He?"


"Paul dan aku sudah berencana menghabiskan akhir pekan di rumah ayahku untuk merayakan ulang tahunnya." kataku. "Besok Camille kerja, kan? Jadi kau punya waktu berdua dengan Elise."


"Oh, okay." Aku tertawa melihat Stacey yang gugup, ini jarang terjadi. Dia merupakan wanita paling percaya diri yang pernah kukenal, begitu juga dengan Elise.


"Kau tahu, aku tidak menyangka kau akan gugup begini... very sweet." cetusku riang menggodanya. "Apa kau berubah karena mencium Elise?"


"Oh, hush!" Dia menggeleng sambil tertawa dan mendorongku pelan. "Ini karena aku terlalu banyak minum."


"Aku tidak percaya, tapi... baiklah." Dengan genit, aku mengedipkan mata.


Stacey terkekeh. "Okay, okay. Aku tahu kalau aku harus segera mengatakan ini padanya, tapi aku tidak mau terlalu senang. Elise dan aku memang berbeda, tapi aku tidak bisa berhenti mengaguminya."


"Berbeda..." kataku memulai, namun Stacey dengan cepat memotong ucapanku.


"Secara selera. Aku benci ketika dia berbicara soal ramalan zodiak bodoh dan menyebalkan itu, dan kurasa aku membiasakan diri menerimanya."


Oh.. Eh.. Aku tersenyum geli. "Kembalilah ke dalam, Elise pasti sedang mencarimu."


Pada saat yang bersamaan, ponselku bergetar dari dalam dompet kecil yang kubawa. Karena sangat mengenal Elise, aku yakin dia yang mengirimku pesan saat ini untuk menanyakan Stacey yang tiba-tiba menghilang.


"Okay. Terima kasih, Bee."


Aku mengangguk, memeluknya sambil tersenyum lalu mendorongnya kembali ke dalam klub. Ketika Stacey sudah menghilang dari pandanganku, aku meraih ponsel dari dalam dompet dan menyadari bukan Elise yang mengirim pesan padaku, tapi Paul.


From: Paul: Kembali kesini, ya..


To: Paul: Maaf, kurasa aku harus pulang ke rumahku. Aku tidak bisa meninggalkan Frosty lebih lama.


From: Paul: Kalau begitu, bawa saja dia kemari.


To: Paul: Bukankah kau tidak menyukainya? Haha.


From: Paul: Memang, tapi perasaan sukaku padamu lebih besar di banding benciku pada kucing jelmaan iblis itu, love.


To: Paul: Besok akan menghabiskan waktu yang panjang di rumah ayahku. Lagi pula, aku harus berkemas. Jadi, kau tidur sendiri malam ini, ya?


From: Paul: Okay, okay. Jangan terlalu mabuk, love. Perlu kusuruh Alfred menjemputmu?


To: Paul: Ah, berhenti mengkhawatirkanku. Aku pulang bersama Camille, dia menginap di rumahku.


From: Paul: Baiklah, kabari aku begitu kau sampai dirumah.


To: Paul: Siap, Kapten!


From: Paul: Koreksi, Asisten Kapten.. tapi, terserah kau saja.


To: Paul: ❤️


From: Paul: ❤️


Aku kembali bergabung dengan teman-temanku, hingga sejam berikutnya kami semua memutuskan pulang ke rumah masing-masing.


Camille dan aku pulang ke rumahku menggunakam taksi. Seriang apapun dia saat di klub tadi, sikapnya berubah begitu efek di tubuhnya alkohol mulai berkurang. Aku tahu dia sedang marah pada drama yang terjadi di antara dia dan Aaron, dan kuyakin kali ini bukan Camille yang menjadi sumber masalah.


Aku terus menghiburnya sampai matahari nyaris terbenam, hingga akhirnya dia menyerah pada keresahannya dan kami berhasil menutup mata.