
...Author's POV....
Bianka terjaga hampir satu jam lalu, oleh suara Paul bermain dengan Benji. Dia mandi dan kembali ke ranjang. Dari kamar dia bisa mndengar Paul sedang mengobrol dengan adiknya di ruang tamu. Entah bagaimana dua pria itu terdengar santai setelah mabuk semalam. Satu hal yang ingin dia hindari sekarang adalah berurusan dengan Louis, tapi pada saat yang sama dia juga merasa lapar. Setelah beberapa menit, dia memutuskan bergabung dengan mereka untuk sarapan.
"Selamat pagi," katanya sambil mencium Paul yang duduk di sofa, segelas kopi di tangannya.
Paul meletakkan gelas kopinya dan mengurung Bianka dengan memeluk pinggul wanita itu. "Selamat pagi, love." Dia menyurukkan wajah ke leher Bianka dan menarik napas puas.
"Hai, Kak..." Louis ikut merespon. Pria itu berdiri beberapa meter, juga dengan segelas kopi di tangan. "Apa tidurmu lelap?" tanyanya dengan kilatan mata jenaka.
"Apa aku kelihatan seperti memiliki malam yang tenang, Lou?" balas Bianka, membalikkan badan, sekarang punggungnya menempel di dada Paul. Dia mendengar Paul membisikkan kata maaf sebelum mencium pundaknya, sementara Louis tertawa.
"Sepertinya seseorang bangun di sisi ranjang yang salah." Louis terkekeh lagi.
Bianka memutar mata dan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya. "Sialan kau!" Dia meraup gelas Paul dan menyesap kopinya. "Aku sedang tidak ingin terlibat dalam permainan bodohmu."
"Oh, bro! Seharusnya kau mengatakan masih ada yang belum selesai di antara kalian!" Paul dan Bianka mengernyit, memandang Louis yang menyeringai senang. "Aku tidak keberatan menyingkir sementara."
Walaupun Louis mengucapkan sesuatu yang tidak sepantasnya dia katakan, Bianka tidak mau ambil pusing. Hari masih terlalu pagi dan dia kelaparan. "Paul, mau sanwich dan telur orak-arik?" gumamnya menawarkan.
Paul tersenyum kecil. "Ya, terima kasih, love."
Bianka beranjak ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.
"Kak, boleh aku mendapatkan bagianku juga?" Dia mendengar Louis berseru dari belakang, lalu pria itu tiba-tiba mengerang. Oh, Paul...
Saat menoleh, dia mendapatkan pemandangan ekstrim; Louis berbaring di lantai dengan sebelah tangan terlipat ke belakang, Paul berdiri menekan punggungnya. Bianka hendak melerai, tapi Paul sudah lebih dulu melepaskan Louis dan membantunya berdiri, lalu menepuk pundaknya sambil tersenyum puas.
"Waktunya makan!" seru Paul, menepuk tangan dua kali.
Bianka berbaring dengan nyaman di sofa sembari memainkan ponsel, kakinya menjulur di paha Paul sementara Benji tidur di perutnya. Paul sedang memijat kaki Bianka sambil menonton film dokumenter. Di sisi lain, Louis duduk di teras dan memeriksa pesan di ponselnya. Beruntung, tidak ada lagi keriuhan setelah kejadian semalam. Keadaan kembali normal dan tenang.
Setelah sarapan, Bianka berniat melesak ke dalam kamar, tapi Paul mendadak mengeluarkan sisi manja dalam dirinya. Pria itu hampir merengek seperti bayi saat Bianka mengatakan ingin ke kamar dan membiarkannya mengobrol dengan Louis.
Mata Bianka baru saja tertutup ketika mendengar Louis terbatuk-batuk selagi berjalan ke ruang tamu. Benji mulai menggonggong. Bianka membuka mata dan menurunkan Benji ke lantai, menoleh ke balik bahu untuk melihat Louis. Anak muda itu terus batuk sambil berusaha mendekati kursi. Sebelah tangannya memegang dada, sementara tangan yang lain menutup mulutnya dengan tisu.
"Hei, ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Bianka, memandang Louis dengan cemas.
Louis mengangguk, namun masih terus batuk. Bianka menjatuhkan kakinya dari pangkuan Paul dan duduk. "Kau tidak terlihat baik, Lou." Dia berdiri dan menghampiri adiknya. "Mau aku ambilkan air?" usulnya sambil menepuk-nepuk punggung Louis.
Louis menggoyangkan kepala, menolak tawaran Bianka.
Bianka melirik Paul yang sedang memperhatikan mereka dengan alis berkerut. "Ada apa, Louis?" tanyanya, kekhawatiran melintas di wajahnya.
Akhirnya, batuk Louis berhenti dan dia menjauhkan tisu dari mulutnya. Bianka terkesiap, mengatupkan tangan ke mulutnya sendiri karena terkejut. Tisu di tangan Louis penuh dengan darah. Dia memutar kepala menoleh Paul yang juga sama terkejutnya.
"Lou, kita ke rumah sakit sekarang!" gumam Paul, berjalan ke arah dua kakak-adik itu.
"Ahh, kalian tenang saja. Ini bukan masalah besar."
Bianka memandang Paul dengan mata siap melompat dari rongganya, dengan raut mengatakan 'Lakukan sesuatu!'
"Apa ini pertama kali kau mengalami ini?" tanya Bianka. "Kupikir Paul Benar, kita harus ke rumah sakit. Aku akan siap-siap."
Semoga saja ini memang bukan masalah besar seperti yang dikatakan Louis. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Selagi melangkah ke kamar, dia mendengar seseorang memanggilnya.
Louis kembali batuk. Kali ini, sekujur tubuhnya gemetar. Darah mengalir dari bagian bawah bibir hingga ke dagunya. Tubuh pria merosot ke lantai dan mulai mengejang, semakin banyak darah yang keluar dari mulutnya.
"Cepat telepon ambulan, Paul!" Bianka berteriak saat menyadari Paul tidak bergerak sama sekali. Dia mengedarkan pandangan untuk mencari ponselnya dan meraih benda itu dengan tangan gemetar. Bianka baru saja hendak menelepon ketika tiba-tiba seseorang tertawa. Dia menatap Paul dengan raut bingung sementara pria itu tertawa. "Paul?"
Bianka menggelengkan kepala, berusaha untuk tidak panik. Mendadak dia mengernyit, menyadari kekasihnya bukan satu-satunya orang yang tertawa. Pria yang semenit lalu mengalami kejang sekarang berdiri di samping Paul. Keduanya terpingkal-pingkal.
"Apa-apaan..."
"Kena kau!" kata Louis, masih tertawa.
"T-tapi... tapi..." Bianka tergagap, matanya beralih dari dari satu orang ke yang lainnya. "Kau... darah..."
"Itu palsu. Kami mengerjaimu!" dengkur Paul.
"Kau harus melihat wajahmu," Louis menambahkan di sampingnya.
Sekujur tubuh Bianka gemetar dari kepala ke ujung kaki. Rasa panik yang dia rasakan berganti menjadi marah. Ini tidak lucu.
Dua orang pria idiot itu masih terpingkal-pingkal sambil menyelamati satu sama lain seolah-olah mereka baru saja memenangkan kejuaraan dunia membuat *prank*. Bianka mencari sesuatu yang kira-kira bisa dia gunakan untuk memukul mereka. Kemudian, matanya menangkap kunci mobil Louis di atas meja. Dia meraih kunci itu dan berjalan ke pintu depan. "Dasar brengsek kalian!" umpatnya, dengan kekuatan penuh melempar kunci ke arah mereka.
Seketika gelak tawa Paul terhenti. Dia berlari mengejar Bianka dan memeluk pundaknya sebelum wanita itu sempat membuka pintu. "Aku minta maaf. Jangan marah, ya? Kami hanya bercanda."
Bianka memutar tubuh dan mendorong Paul. "Apa kau melihatku tertawa, Paul? Kupikir dia sekarat! Aku tidak mengerti kenapa kalian menganggap ini lucu!"
Paul mencoba menangkup wajah Bianka, tapi wanita itu menepis tangannya dengan kasar. "Jangan menangis, love."
Bianka mengangkat tangan ke matanya dan menyadari Paul benar. Tanpa sadar, dia memang menangis. Dia melihat Louis berdiri di belakang Paul, seakan mencoba bersembunyi.
"Kak... Maafkan aku. Ini sepenuhnya ideku. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Yah, mungkin aku tidak berpikir. Tolong jangan menangis, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."
Paul mencoba menyentuh Bianka sekali lagi, dan kali ini dia membiarkan pria itu memeluknya. "Aku minta maaf. Kau benar, kami memang bodoh. Aku tidak mau kau marah padaku."
"Bolehkah aku mendapat pelukan juga?" Louis bergumam di belakang mereka setelah beberapa saat.
"Pergilah, Louis!" balas Paul kesal, membuat Bianka terkekeh di dadanya.
Paul menghela napas, lega karena Bianka sudah tenang. Dia mengurai pelukannya dan mencium kening Bianka. "Aku akan memotong kejantananmu, menggorengnya, dan memaksamu memakannya jika kau berani melakukan hal semacam itu lagi." ancam Bianka, terlihat bersungguh-sungguh.
Kedua pria itu mengangkat tangan ke udara, ketakutan setengah mati. "Semoga hidupmu beruntung, kakak ipar." kata Louis, seketika mendapat tatapan tajam dari Paul.
"Oh, aku tidak sedang membicarakan Paul. Aku mencintai kejantanannya."
"Ewwww!" desis Louis, mengerutkan hidung dengan jijik. Saat menyadari maksud ucapan Bianka, dia langsung berlari ke arah pintu sambil menjumput kunci mobilnya dari lantai. "Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang. Paul, tolong jangan biarkan dia keluar rumah. Aku masih membutuhkan benda pusaka ini." katanya, menunjuk bagian sensitif tubuhnya.
Pauk meledak dalam tawa, sementara Bianka berlari mengejar adiknya.