My Love Journey's

My Love Journey's
Illusion.



Author's POV.


Paul telah menelepon ibunya di Jerman berminggu-minggu lalu untuk memberitahu masalah yang menimpa hubungannya dengan Bianka. Anne, tak diragukan lagi ikut merasa bersalah sehingga dia berpikir bahwa dibutuhkan setidaknya sedikit saja bentuk pertanggungjawaban darinya. Maka dari itu, Anne berniat datang ke Indonesia untuk bertemu dan berbicara dengan orang tua Bianka.


Tapi, Paul dengan tegas menolak, mengatakan bahwa dia masih bisa menangani situasi sejauh ini. 'Tenang saja, Mom.' begitu katanya. Namun, tidak sampai dihadapkan pada situasi genting seperti kali ini, ketika Bianka mengalami keguguran. Lagi. Mau tidak mau Paul harus menerima usulan ibunya, karena biar bagaimana pun dia tahu wanita lebih bisa memahami perasaan sesamanya.


Paul meninggalkan apartemennya untuk kembali ke rumah sakit. Dia meninggalkan Bianka tiga jam yang lalu dalam keadaan tidur. Wanita itu menangis selama berjam-jam sebelum terlelap karena kehabisan tenaga. Paul merasa kalah dan agak tersingkir dari permainan yang dia ciptakan sendiri. Dia butuh waktu untuk mengendalikan emosi serta pikirannya. Dia ingin menghabiskan waktu meringkuk di ranjang, tapi entah kenapa sulit sekali baginya melakukan itu. Hingga dia menyadari bahwa berada di samping Bianka merupakan satu-satunya yang dia inginkan. Marissa menyuruh agar dia pulang dan istirahat sementara dia yang akan menjaga Bianka.


Paul menoleh ibunya yang duduk di kursi penumpang. Dia tahu ibunya sangat menyayangi Bianka, tapi tidak pernah menyadari akan sebesar ini. Rautnya menyiratkan kesedihan, duduk dengan gelisah, lalu mengangkat kepala lemah ketika menyadari mobil yang mereka tumpangi telah berhenti.


Tak satu pun dari mereka yang membuka suara di dalam perjalanan menuju lift. Paul melirik ibunya melalui sudut matanya sekali lagi, terakhir kali dia melihat kesedihan yang mendalam di wajah ibunya seperti hari ini adalah saat ayah kandungnya meninggal. Sudah pasti itu bukan kenangan yang bagus. Paul menggeleng halus, mencoba mengusir kenangan itu dari benaknya. Sekarang bukan waktu untuk menggali kesedihan lain.


Paul langsung menghambur keluar begitu lift berhenti, tak mau membuang-buang waktu. Kurang dari tiga puluh detik, dia dan ibunya sudah berdiri di depan pintu ruang perawatan Bianka. Tangannya baru saja menjulur hendak membuka pintu saat ibunya menyela.


"Paul, aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kita masuk."


Paul menghela napas, mengenyahkan gejolak tak nyaman yang mengaduk perutnya. "Apa, Mom?" Dia mencoba untuk tidak menggerutu.


"Kau harus memberitahu orang tua Bianka."


Mata Paul membelalak sedetik sebelum dia menggelengkan kepala. "Tidak."


"Paul, kau tidak bisa menutupi ini dari mereka." kata Anne.


"Aku bisa dan itulah persisnya yang akan kulakukan."


Paul tak mampu membayangkan reaksi orang tua Bianka jika mereka mendengar ini, terutama ayahnya. Ibu Bianka cukup terbuka dan agak ramah padanya, tapi ayahnya... neraka jelas mendingin andai ayah Bianka bisa menerima berita itu dengan hati yang tenang.


"Untuk sekali saja dalam hidupmu, Paul..." Anne mencoba lagi, tapi langsung di potong oleh anaknya.


"Kau tidak paham, Mom. Ayahnya tidak lagi menyukaiku. Tidak, dia membenciku." Paul berjuang untuk tidak menaikkan nadanya. "Satu-satunya alasan dia belum membunuhku hingga saat ini adalah karena hanya keberadaanku yang mampu mempertahankan kewarasan putrinya, meski aku sendiri mulai meragukan itu. Lihat apa yang terjadi pada Bianka, dan itu semua karena aku mengabaikannya. Sekarang, Mom ingin aku meneleponnya?" sambung Paul, mengusap rambut dengan gusar. "Untuk mengatakan bahwa putrinya mengalami keguguran lagi, dan mungkin depresi karena aku? Tidak!" putus Paul dengan yakin.


"Paul..."


"No, Mom. Aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku menelepon ayahnya dan memberinya alasan lain untuk lebih membenciku? Bagaimana mungkin aku menelepon ibunya dan mengakui bahwa aku telah gagal, serta tak mampu menjaga putri kesayangannya? Dan mungkin saja suaminya bersikap telah bijak dengan menentang hubungan kami, karena pada kenyataannya aku memang tak cukup baik untuk putri mereka."


Paul tak memberi waktu bagi ibunya untuk berbicara. Dia sedang ketakutan setengah mati. Takut menghadapi ayah Bianka. Takut pada Bianka. Takut seandainya mereka telah tiba di titik terujung perjalanan.


"Paul..." Anne berusaha sekali lagi, tapi Paul tak mendengarkan.


"Aku tahu, Mom. Aku memang pecundang!" Dia mendengus. "Kita tidak akan berdiri di tempat ini, saat ini, andai aku tidak mengejarnya lagi. Aku marah karena..." Paul menarik napas, menyadari keputusasaan begitu menyiksanya. "Sudahlah, itu tidak penting lagi, kan?" gumamnya mengakhiri, nadanya begitu menyedihkan.


"Aku mengerti maksudmu, Nak. Tapi, kau harus mencoba dan memahami apa yang ingin kusampaikan. Aku orang tua, Paul. Dan aku tahu bahwa aku juga ingin mengetahui kabar anakku jika aku adalah ibunya. Kau tidak boleh menyembunyikan masalah seserius ini dari mereka. Setidaknya, tanyakan pada Bianka apakah dia ingin memberi tahu mereka."


"Baiklah." Dia mengalah setelah beberapa saat menimbang. Dia memutar kepala untuk melihat Mia berjalan mendekati mereka. "Hei," sapa Paul.


"Hei," Mia membalas. "Aku habis membeli kopi." katanya sambil menggoyangkan cup kopi di tangannya.


Paul mengangguk. "Mia, ini ibuku. Mom, mia... Kakak sepupu Bianka."


Kedua wanita itu saling berjabat tangan. "Aku Anne, senang berjumpa denganmu, Mia."


"Selamat datang di Jakarta." kata Mia, tersenyum hangat.


"Dia masih tidur saat aku meninggalkan kamarnya beberapa menit yang lalu."


"Terima kasih," ujar Paul sebelum membuka pintu.


Bianka tak terlihat di ruangan. "Dimana dia? Kau bilang dia tidur!" Paul hampir berteriak, mengarahkan pandangan kepada Mia dan mengerutkan kening.


Mia tampak kebingungan. "Memang." jawab Mia, berjalan ke kamar mandi lalu mengetuk pintunya. "Bianka, apa kau di dalam?"


Hening. Tak ada jawaban.


"Mungkin perawat membawanya untuk melakukan tes atau semacamnya. Coba kutanya sebentar." Usul Anne.


"Itu tidak masuk akal, Mom." sergah Paul.


Mia mengangguk setuju, kemudian mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi dan langsung berinisiatif membuka. Tiba-tiba jeritan memekakkan telinga menggema di seluruh sudut ruangan.


Paul buru-buru menghampiri, tanpa sadar kakinya mundur selangkah begitu melihat ke dalam.


Bianka terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding, kepalanya menekuk dengan posisi tak wajar di bawah wastafel. Kedua matanya tertutup, bibirnya yang pucat sedikit membuka. Darah mengalir perlahan, membentuk genangan merah yang memenuhi lantai di sekitar tubuhnya yang membiru dan menodai jubah rumah sakitnya.


Segala yang ada disana seolah luput dari pandangan. Paul merasakan napasnya tersekat di tenggorokan, hatinya terhenyak dengan sensasi amat menyakitkan, membuat ibunya berteriak meminta bantuan untuk menyadarkannya. Paul menjatuhkan diri ke tubuh Bianka yang terbaring lemah.


"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.h Kumohon buka matamu, love." Dia terisak. "Ayolah, buka matamu. Biarkan aku melihat matamu. Ayo, Bianka!" Dia terus memohon sambil mengguncang tubuh Bianka. "Kau akan baik-baik saja, okay? Aku berjanji. Kita akan baik-baik saja. Kumohon... jangan tinggalkan aku."


Paul menangis sejadi-jadinya, memohon agar Bianka membuka mata dan mengatakan sesuatu. "Maafkan aku, love... Kumohon, bangun. Kau tidak boleh pergi seperti ini. Kita bisa memperbaiki segalanya. Kumohon, aku... aku... Bianka!"


Walaupun bisa mendengar suara-suara di belakangnya, Paul tidak dapat mencerna apa yang mereka katakan. Hanya saat melihat dokter berlutut di sampingnya, barulah dia menyadari bahwa dia harus melepaskan Bianka agar dokter itu bisa memeriksanya.


Paul tidak tahu apa yang dilakukan sang dokter. Pandangannya buram. Sekujur tubuhnya gemetar, cemas, dan gugup. Tapi ketika mendengar kalimat berikutnya, dia merasa dunianya telah runtuh.


"Aku minta maaf. Sudah terlambat. Kita tidak bisa menyelamatkannya."


Paul menggeleng keras, menolak percaya ucapan sang dokter. "Tidak. Kau pasti berbohong!" gumamnya, kembali merengkuh tubuh kekasihnya. "Ayolah, Bianka... Buka matamu untukku, Sayang." mohon Paul, acuh pada darah yang menodai pakaiannya, serta jerit tangis memilukan di belakangnya.


"Maafkan aku, Sir, tapi..." Dokter itu mencoba lagi, menepuk pundak Paul.


Paul membalas dengan menggoyang pundaknya dengan kasar dan memaki. "Jangan sentuh aku! Panggil dokter lain! Panggil seseorang yang bisa menyelamatkannya, Sialan!" Wajahnya banjir air mata.


Dengan hati-hati, Anne memeluk anaknya, memandang tubuh Bianka yang tak bergerak. "Paul..."


"Tidak!"


"Paul, tolong..."


"Tidak, tidak, tidak!"


Paul tak mendengarkan. Dia sudah terlalu larut dalam kesedihan saat ibunya menangkup tangannya. "Paul..."


Paul mengangkat kepala, ekspresinya bingung. Wajah ibunya menggantikan penampakan Bianka. Dia menunduk dan menyadari kini Bianka tak lagi ada. "What the fu¢k!" bisiknya, menyapukan tangan ke wajah, mencoba mencerna apa yang terjadi.


"PAUL, BANGUN!!!" Dia mendengar suara Anne berteriak.