
Karena aku bukan tipikal wanita yang menyukai tantangan, kini aku menyukai ideku yang nakal membeli sebuah gaun tidur keluaran brand Victoria Secret, membuat penampilanku tampak lebih seksi dan menantang.
Materialnya terbuat dari bahan satin merah, hanya menutup bagian belakang, dengan indah menunjukkan lekuk tubuhku. Bagian kerahnya yang berbentuk v-neck berenda berhasil mempertontonkan belahan dadaku, menggantung pada seutas tali tipis yang menahannya.
Pelan-pelan aku melangkah dengan berjinjit ke kamar Paul, tidak terlalu berhati-hati karena aku mendengar suaran ayahku mendengkur dengan keras di kamarnya yang terletak pada ujung koridor. Omong-omong, ini sudah lewat tengah malam.
Makan malam tadi terasa sangat menyenangkan, dan aku sangat bahagia karena pada akhirnya bisa kembali bercengkrama dengan adikku, Louis. Dia sudah berubah ke arah yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan.
Ketika esok pagi menjelang, kami akan merayakan hari ulang tahun ayahku.
Dengan pelan, aku mengetuk pintu kamar yang ditempati Paul, kemudian memutar kenop dan meyusup masuk ke dalam. Aku menutup pintu lalu berbalik dan mendapati dia berada di atas ranjang. Dia bersandar tanpa mengenakan pakaian, tubuhnya hanya ditutupi selimut hingga sebatas pinggul, sementara tangannya memegang ponsel.
"Wow,"
Kata itu lolos dari mulutnya begitu aku mendekatinya. Dengan sepasang mata gelapnya dia mengamati penampilanku, yang membuat tatapannya semakin gelap ketika dia bergeser untuk meletakkan ponsel di nakas.
Aku tiba di atas ranjang dan menaikkan sebelah lututku disana, hendak memanjat tubuhnya. "Do you like it?" tanyaku pelan, tersenyum nakal pada diriku sendiri. Caranya menatapku membuatku merasa lebih percaya diri seksi sekaligus.
"I love it..." katanya dengan nada sedikit gugup, lidahnya bergerak di sepanjang bibirnya ketika dia menyambutku.
"Aku baru membelinya dari Victoria Secret." kataku, senyumku melebar saat melihat dia berdeham lalu menelan ludah.
Paul menaikkan pandangan menatap mataku, membuatku gemetar halus menyadari betapa gelap tatapannya. "Kau selalu cantik saat mengenakan apapun. Saat ini sama sekali bukan pengecualian."
Aku bergerak memposisikan tubuhku di atas pangkuannya. Kedua telapak tanganku menempel pada dadanya yang keras, sehingga aku bisa merasakan ototnya. "Hi," gumamku lembut, lebih mirip seperti bisikan.
Paul masih bersandar pada kepala ranjang sementara tangannya berpindah ke pahaku. "Hey," Dia terkekeh, merasa lucu saat nada bicaranya mengikuti gayaku sementara dia menyingkap sedikit rok gaunku.
"Apa hubunganmu dengan Lucy?" tanyaku pelan, berusaha hati-hati.
Paul mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti mengenalnya, Paul. Tidak masalah kalau dia salah satu mantan kekasihmu, aku paham kau pernah menjalin hubungan dengan orang lain sebelum ini." Aku mencoba meyakinkannya, namun entah bagaimana kurasa pemikiranku salah karena ekspresi Paul tampak bingung.
Paul menggeleng keras. "Dia bukan mantan kekasihku. Tidak usah cemas, Rapunzel. Dia bukan siapa-siapa."
Aku menunduk, "Hm, kau malah membuatku semakin cemas sekarang."
Aku merasakan dia menyelipkan sejumput rambutku ke belakang telinga. "Kenapa? Dia kekasih adikmu, kan? Dan mereka bertemu di pusat rehabilitasi. Jadi, bagaimana mungkin aku mengenalnya."
Aku mengangkat kepala, menantang diriku sendiri untuk melihat apakah ada kebohongan di wajahnya. Dia tidak mungkin berbohong, kan? Kemudian aku mengangguk.
"Karena sudah begitu berani menampilkan pemandangan seperti ini padaku, sekarang aku sangat ingin melepasnya..." gumam Paul, mengarahkan pandangan ke seluruh tubuhku.
Aku tersenyum, semua pikiran buruk yang memenuhi kepalaku seakan terangkat begitu saja saat aku mencondongkan tubuh, menangkup rahangnya, lalu menciumnya. Paul membalas, satu tangannya menjalar dari pahaku, menyusup ke balik gaunku hingga berhenti di punggung, sementara tangannya yang lain naik ke dadaku.
Tepat saat aku ingin memutar kepala, satu pertanyaan yang keluar dari mulutnya membuatku menarik diri dengan cepat. "Berapa banyak anak yang kau inginkan?"
Aku gemetar sembari mengamatinya. "Maaf?"
Paul mengikik pelan. "Oke, kurasa pertanyaanku agak kurang tepat."
"Agak? Menurutmu begitu?"
"Ya. Maksudku, ayahmu dan Louis sempat membahas sesuatu soal cucu, kan? Aku hanya penasaran." kata Paul.
"Oh," Aku merasa lega, namun masih bingung pada perubahan topiknya yang tiba-tiba. Jangan sampai dia mengacaukan rencanaku malam ini, bahkan aku sengaja mengenakan gaun malam untuknya. "Sejak dulu aku ingin mengadopsi seorang anak. Banyak anak di luar sana yang membutuhkan rumah untuk tinggal."
"Tidak mau melahirkan anakmu sendiri?"
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku akan memikirkan apakah aku harus mengadopsi anak atau memilih hamil setelah sekolahku selesai dan kondisi keuanganku sudah stabil. Bagaimana denganmu?"
"Aku selalu ingin memiliki anak laki-laki. Aku akan melatihnya menjadi pemain sepakbola paling hebat pada generasinya." kata Paul dengan bangga sambil menyeringai. Aku tertawa halus, menggelengkan kepala tak percaya pada rencananya. "Kenapa kau bilang kondisi keuanganmu belum stabil?"
"Berapa banyak yang harus kau bayar?"
Aku menggeleng cepat. "Kau tak perlu tahu."
"Kenapa?" Dia terlihat benar-benar ingin tahu. "Pinjaman itu hanya akan menahanmu begitu kau menyelesaikan studimu."
"Aku bisa membayarnya begitu aku bekerja sebagai perawat resmi, mudah saja. Lagi pula, kenapa kau merasa tertarik membahas ini?"
"Aku bisa membantumu, Bianka." ucapnya dengan serius manawarkan. "Itu bukan masalah..."
"No. Absolutely not, Paul. Aku sudah bekerja keras hingga berada di posisiku saat ini, dan aku tidak ingin menghianati usaha itu dengan membiarkan orang lain ikut campur."
"Aku ingin membantumu, Rapunzel. Kau tahu, kau terlalu keras kepala, padahal ini demi kebaikanmu sendiri." kata Paul, tersenyum.
"Kumohon, hentikan pembicaraan ini." Aku menghembuskan napas berat. Aku masih bersemangat merasakan sentuhan tangannya di punggungku, namun percakapan kami sungguh membuatku kehilangan gairah.
"Okay," Paul mengangguk sekali. "Tapi, masih ada satu hal yang ingin kutanyakan..."
"Paul..."
"Jangan khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan pinjaman mahasiswa itu." Dia tersenyum, sementara aku memutar bola mata. "Aku ingin kau datang mengunjungiku di Rusia."
"Kau pernah bertanya sebelumnya."
"Tapi kau belum memberikan jawaban, Bianka. Itu akan menjadi minggu terakhir pertandingan kami di Piala Dunia. Untuk posisi sekarang, tampaknya kami akan melaju hingga ke final. Jadi, kami akan bertanding di minggu itu untuk merebut posisi sebagai pemenang atau puas menjadi runner up."
"Hm, kedengarannya cukup serius." Aku menyeringai senang. "Kau tidak mungkin punya waktu untuk bersantai."
"Tentu saja aku punya. Aku sudah meminta libur selama sehari penuh tanpa latihan di antara pertandingan, dan aku berencana menghabiskan waktu itu bersamamu. Bagaimana? Aku akan mengurus semuanya kalau kau mau."
"Paul, kedatanganku hanya akan mengganggu konsentrasimu." Aku sengaja menyisipkan sedikit desas-desus tentang kami yang merebak di masyarakat.
Paul tersenyum, menaikkan sedikit gaunku. "Tidak akan, Bianka. Kau malah membuatku semakin bersemangat, kau pasti tahu itu. Kita bisa jalan-jalan dengan bebas disana, berkeliling layaknya turis asing."
Aku terpaku sejenak. "Tidak ada istilah bebas kalau menyangkut namamu, Paul. Terutama ketika menghabiskan waktu denganmu di tempat umum."
Paul menggeleng keras. "Percaya padaku, sayang."
Aku menarik nafas dalam-dalam, kilat di matanya berhasil membuatku tenang. "Oke, baiklah. Aku akan meminta jadwal liburku di ganti untuk minggu depan, yang berarti aku harus bekerja lebih banyak pada minggu ini. Tapi, aku tidak mau kau membayar tiketku, aku tidak suka itu."
"Okay, kalau begitu kau berangkat menggunakan jet pribadi."
"Tidak." Aku menahan tawa, menggeleng keras.
"Ya. Kecuali kau membolehkan aku membeli tiket first class untukmu..." gumamnya riang. "Kau bisa berangkan bersama Valerie, bagaimana?"
"Okay, kita akan membahasnya nanti." kataku sambil tersenyum.
Paul mengangguk setuju, menarik gaunku ke atas hingga melewati kepalaku. Menyisakan celana berenda sebagai satu-satunya kain terakhir yang menempel di tubuhku. "Kau tahu, aku senang hubunganmu dan adikmu terlihat baik-baik saja. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Hm, terasa agak asing. Aku masih mencoba memahami semuanya. Dia sangat berbeda, namun dalam arti yang baik..." cetusku. "Aku tahu ayahku sangat senang karena pada akhirnya kami kembali bersatu. Aku juga tahu meskipun dia tidak melakukannya secara terang-terangan, tapi dia jelas kagum padamu."
"Menurutmu begitu?" Paul terkekeh. "Dia pria yang menyenangkan, Bianka. Aku bisa melihat usahanya dalam memperbaiki hubungan Louis dan kau. Mungkin kau merasa aneh ketika dia melarang kita tidur di kamar yang sama, tapi sebagai laki-laki aku bisa memahaminya."
"Aku paham maksudnya, aku hanya merasa seperti orang bodoh sudah mengundangmu kesini sementara kita tidak memiliki waktu bersama-sama."
Dengan sungguh-sungguh, Paul menjawabku. "Tak perlu merasa begitu. Aku bersyukur kau mau mengenalkanku pada keluargamu, love."
Aku maju dan mencium bibirnya. "Terima kasih, Paul..."