
Aku berguling dengan perasaan gelisah di atas ranjangku, tidak bisa menutup mata meskipun aku sudah berjuang setengah mati sejak tadi.
Paul Klug, si pesepak bola sialan itu tidak mau hilang dari kepalaku, aku masih terus sosoknya yang kini mungkin sedang bermimpi indah di atas sofa ruang keluarga di rumahku. Pesonanya benar-benar memabukkan dan membuatku linglung tergila-gila.
Aku memandangi buku yang terbuka di atas ranjang. Tidak ada sedikitpun yang bisa diserap otakku selama dua jam terakhir ini. Semuanya karena Paul dan yang paling kuinginkan saat ini adalah melihatnya. Cukup melihatnya.
Sosoknya yang jantan dan menggiurkan amat sangat membuatku panas hingga rasanya tubuhku akan hangus terbakar oleh gairahnya. Aku tidak sanggup menahan perasaan menyiksa ini lebih lama. Aku bisa gila, meskipun aku tahu ini bukan sesuatu yang baik bagi hubungan kami.
Aku mengusap rambutku dengan gusar sambil memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang. Sialan!
Kuputuskan berhenti memikirkan hal selain Paul dan aku. Saat ini hanya ada kami di rumahku, jauh dari orang-orang yang ingin tahu soal hubungan kami. Tidak ada media atau siapapun yang harus kukhawatirkan. Ini tempatku, aku yang berkuasa disini. Persetan dengan mereka.
Aku beringsut turun dari ranjang, melepaskan semua pakaianku hingga tidak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhku. Aku memandangi tubuhku di cermin selama beberapa saat sebelum meraih satu pengaman dari laci meja riasku dan langsung melangkah keluar kamar.
Ketika aku tiba di anak tangga, aku mendapati Paul sedang tidur dengan posisi yang membuat kewanitaanku berdenyut sementara hasratku menjerit ingin segera dilepaskan. Otot dadanya yang keras dan terbentuk sempurna seakan memanggilku segera mendekat, sebelah kakinya terjuntai hingga menyentuh lantai sementara selimut hanya menutupi bagian tubuhnya yang nikmat.
Aku merasa seperti orang aneh karena bergairah saat mengamatinya seperti ini, tapi Paul sendiri memang luar biasa. Dia terlihat sangat indah bahkan ketika sedang tidur sekalipun. Menyaksikan wajah dan sekujur tubuhnya yang terlelap damai merupakan pemandangan eksotis yang tidak mungkin sanggup kau lewatkan begitu saja.
Tanpa membuang waktu lebih lama, aku berjalan mendekatinya, menurunkan selimut, dan duduk di atas kedua pahanya. Pau menggeliat namun belum membuka mata. Jantungki berdegup semakin kencang. Aku belum pernah melakukan hal memalukan seperti ini, menindih seorang pria yang sedang tertidur seakan-akan aku merupakan wanita liar yang gila s-e-x.
Ini gila. Benar-benar gila! Paul membuatku kehilangan akal sehat dan bertingkah seperti wanita murahan. Tapi apa paduliku, aku memang menginginkannya. Setidaknya aku akan menikmati malam ini sebelum malapetaka datang menghampiri dan mengacaukan kehidupanku.
"Paul..." bisikku, nyaris mendesah di depan bibirnya. Aku menciumnya sekilas lalu menyusurkan wajahku ke lehernya.
"Bianka?" suaranya yang serak seketika membuatku gemetar. Hanya Tuhan yang tahu betapa gilanya gairahku saat ini.
Aku mencium rahangnya beberapa kali sebelum menarik wajahku dan menatapnya. "Maaf, apa aku mengganggumu?"
"Fvck! Aku bersyukur kau melakukannya." Dia memandangi tubuhku yang tanpa pakaian. "Aku tidak mungkin melewatkan ini."
Tidak ada keraguan atau perasaan tak nyaman yang kurasakan, terutama saat dia melihatku dengan tatapan lapar sementara menjilat bibirnya sendiri dengan cara yang membuat wanita manapun gila dalam sekejap.
Paul menggelengkan kepala, mengerjap beberapa kali seakan sedang memanggil kesadarannya. "Apa ini nyata?" katanya dengan raut terlihat bingung seperti orang bodoh.
Aku tersenyum. "Yes." balasku, meraih satu tangannya lalu menuntunnya ke pinggangku, menggerakkannya disana hingga Paul mengambil alih dan menangkup dadaku. Aku mendesah. "Aku sudah menyiapkan ini." Bengkulu sambil menggoyangkan satu pengaman di tanganku.
Paul mengambil pengaman itu dariku dan mengamatinya selama beberapa saat, kemudian alisnya berkerut. "Ini tidak muat, love," dengan satu gerakan cepat dia melempar pengalaman itu dan menyeringai. "Terlalu kecil..."
"Oh, God..." aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Aku menyesal karena sudah membeli sekotak penuh."
Kami sama-sama terdiam setelah aku berbicara, hanya saling menatap satu sama lain. Aku tidak tahu kenapa mulutku bisa sejujur itu mengatakan soal pengaman yang sudah kusiapkan, seolah-olah aku memang sudah merencanakan untuk bercinta dengannya di lain hari.
Well, untuk sekarang memang hanya Paul yang berhubungan denganku, tapi aku tidak mau dia mengira aku mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Dari hubungan kami. Karena aku tahu aku bukan satu-satunya untuk Paul, itu tidak mungkin mengingat reputasinya soal wanita tidak terlalu bagus. Semacam celup sana-sini?
"Berikan itu kepada Travis. Sepertinya dia akan membutuhkan itu suatu hari nanti saat..."
Aku langsung mencium mulutnya agar dia berhenti berbicara. "Kau menjengkelkan! Sekali lagi kau berbicara buruk tentang Travis, maka aku akan kembali ke kamarku, oke?" gumamku di bibirnya, memberi sedikit hukuman dengan menggigit bibir atasnya.
"Kau punya pengaman?" tanyaku.
"Ya, di saku belakang celana jinsku."
Aku menarik diri darinya lalu meraih celana jinsnya sambil berbicara. "Kenapa kau membawanya?" Aku penasaran kenapa dia bisa semudah itu tidur dengan para wanita.
"Aku selalu membawanya, love. Hanya untuk berjaga-jaga. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi kau membuatku bergairah setiap kali kita berdekatan."
Aku tersenyum saat berhasil menemukan pengaman itu di saku celananya, dan langsung memasangkan ke bagian tubuhnya yang luar biasa besar. Bagian paling nikmat dan memuaskan.
"Apa yang sudah kulakukan sampai kau menyerahkan dirimu seperti ini, he?" Paul bertanya namun matanya mengamati gerakan tanganku.
Aku meliriknya. "Entahlah, aku hanya mencoba memanfaatkan kesempatan sebelum kita kembali ke kehidupan masing-masing." balasku, menyelesaikan kegiatanku dan langsung mengarahkan ujung kejantanannya ke kewanitaanku yang berdenyut gelisah.
"Kenapa harus berakhir seperti itu, love?" tanyanya lagi dengan suara serak dan dalam, terdengar tidak terpengaruh sedikitpun dengan sikap liar yang kutunjukkan menggodanya.
"Aku tidak tahu." jawabku, kemudian menurunkan pinggulku hingga kejantanannya melesak ke dalam diriku.
Satu geraman tertahan keluar dari mulutnya sementara aku mendesah sambil menahan nafas. Mendadak sel-sel sarafku seakan tersenyum senang merasakan hiburan yang datang tiba-tiba setelah beberapa waktu menunggu tanpa kepastian.
Paul mengerang. "Ah, Bianka... Jesus Christ... you're fvcking good. Ride me baby... tunjukkan padaku kemampuan terbaikmu."
Tanpa menunggu lama, aku menuruti permintaannya dengan menggerakkan bokongku hingga Paul mengeram dan aku mendesah. Aku merunduk untuk mencapai bibirnya, lalu menciumnya dengan serakah. "Aku benar-benar menggilai kejantananmu, Paul." gumamku di bibirnya.
"Kau juga sangat nikmat, Bianka... Oh, God..."
Janggutnya menggelitik daguku saat ciuman kami semakin dalam, begitu cepat mendatangkan gairah, hasrat, dan kebutuhan murni yang semakin membengkak dalam diriku. Tangannya berada di pinggulku, mendorongku lebih kuat hingga dia bisa mencapai titik terdalam ditubuhku, sementara ujung jemarinya menusuk kulitku.
Aku tidak merasa sakit sedikitpun, malah itu membuatku semakin gila dan bergerak naik-turun lebih cepat di atasnya. "Ah, Paul..."
"Yes, baby,"
Aku merenggut bibirnya lagi, meremas rambutnya dengan satu tangan sementara tanganku yang lain menangkup rahangnya. Paul mendesakku lebih keras sambil meremas bokongku sampai tubuhku berguncang-guncang hebat di atasnya.
Di dalam rumahku, di sofaku, kami bercinta seperti orang sinting. Tanpa perasaan apapun, murni hanya untuk memenuhi kebutuhan seksual dalam diri kami. Melepaskan hasrat yang terkurung selama beberapa waktu. Mencari kesenangan dengan memanfaatkan tubuh satu sama lain.
Aku tidak pernah merasa kelaparan seperti ini sebelumnya, namun cita rasa yang dimiliki oleh Paul memang berbeda. Aku jatuh tersungkur, memohon kenikmatan yang tersimpan dalam dirinya. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi besok, yang penting malam ini aku terpuaskan.
Bitches! Ya, aku memang persis seperti itu. Persetan dengan orang lain, aku membutuhkannya dan dia membutuhkanku, itu sudah cukup menjadi alasan kenapa kami melakukan ini.
"Paul, I'm close..."
"Me too, baby."