
Aku terbangun saat mendengar suara alarm dari ponselku di atas nakas. Kuputar kepala menoleh Paul yang masih terlelap di sampingku. Dia terlihat begitu damai dalam tidurnya setelah semalam membiarkanku istirahat lebih dulu sementara dia masih melakukan sesuatu di ruang kerjanya.
Dengan perlahan, aku beringsut turun dari ranjang, meraih ikat rambut dari atas nakas lalu mengikat rambutku tinggi-tinggi. Kemudian kuayunkan langkah keluar dari kamar dan menuju dapur. Aku meminum segelas air sebelum mulai menyiapkan sarapan untuk Paul dan aku.
Hari ini kuputuskan untuk tetap bekerja karena tak merasa ada yang aneh dengan tubuhku setelah kejadian tak terduga kemarin. Aku tidak mau terus menerus libur, meski Dr. Grey mengatakan tidak masalah kalau aku izin hari ini.
Saat sedang menyiapkan sandwich untuk Paul, dia muncul dan memelukku dari belakang. "Good morning, wife." katanya, mencium leherku.
Aku tersenyum. "Good morning, husband."
"Apa kabarmu dan anakku di dalam sana?" Dia mengusap perutku dengan sangat lembut dan hati-hati seakan takut menyakitiku.
"We're fine." sahutku. "Aku tidak mual pagi ini, jadi..."
"Benarkah?" Aku mengangguk, lalu mengangkat piring berisi sandwich dan berbalik. "Terima kasih, love." Paul mencium bibirku.
Kami duduk di konter meja dapur dan Paul mulai menyantap sarapannya sementara aku memilih alpukat untuk mengisi perut pagi ini. "Apa kegiatanmu hari ini?" tanyaku sambil membelah alpukat.
"Latihan." jawabnya. "Dan, bertemu manajerku saat makan siang. Kau ingin melakukan sesuatu?"
Aku menggeleng. "Aku harus bekerja." Mendadak ekspresi Paul tampak terkejut seolah aku mengatakan sesuatu yang aneh. Dia meletakkan sandwich ke piringnya dan menatapku lekat-lekat. "Kenapa?" tanyaku heran.
Dia berdeham, mengalihkan pandangan dariku. "Uhm, love, bisakah kau berhenti bekerja?" katanya saat kembali menatapku. Aku mengernyit, sudah menduga hal seperti ini pasti terjadi tapi tidak mengira akan secepat ini. Paul jelas menyadari ketidaksukaanku dan dia buru-buru melanjutkan. "Dengar, aku tahu kau menikmati pekerjaanmu, tapi..."
"Tidak, Paul." sergahku. "Kau tidak tahu." Hatiku seketika dipenuhi amarah. "Aku tidak mau kau mengendalikanku. Kau sudah berjanji tidak akan mengganggu pekerjaanku."
"Yah, aku minta maaf. Tapi, ini demi kebaikanmu. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Kau tidak tahu betapa takutnya aku saat melihatmu kesakitan seperti itu, Bianka."
"Paul..."
"No, dengarkan aku. Tinggallah di rumah, setidaknya sampai kau melahirkan, kau bisa kembali bekerja setelah itu."
"Tapi, aku akan kehilangan pekerjaanku. Rumah sakit tidak mungkin mengijinkanku libur selama hamil." Aku menggeleng tak percaya memandangnya. "Tujuh bulan, Paul. Kau pikir aku sanggup bertahan di dalam rumah selama tujuh bulan? Aku bisa gila!" semburku, meninggikan suara.
Dia tersentak, tak menyangka aku akan semarah itu. Aku tidak pernah benar-benar marah padanya, tapi ini menyangkut pekerjaan. Aku tidak akan membiarkan dia melarangku bekerja, tidak selama aku masih sanggup melakukannya.
"Kau tidak akan kehilangan apa pun, Bianka. Aku sudah berbicara kepada kepala perawat di rumah sakit dan mengatakan kau akan cuti selama hamil, dan dia setuju setelah aku membujuknya." katanya dengan tenang, seolah itu bukan apa-apa.
Aku terperangah. "Kau... apa?" Ya Tuhan, aku tidak percaya ini! Aku merasakan jantungku siap melompat detik itu juga. "Kenapa kau egois, Paul? Kau tahu seberapa penting pekerjaan ini untukku, aku tidak..."
"Apa pekerjaanmu lebih penting daripada keselamatan bayi yang ada di kandunganmu?" Kali ini, dia terdengar marah. Rahangnya mengertak sementara kedua tangannya mengepal di atas meja.
Aku menantangnya. "Tentu tidak. Tapi bukan berarti kau berhak mencampuri urusan pekerjaanku. Kau bahkan tak mau repot-repot bertanya pendapatku. Astaga, Paul..." Aku berdiri, lalu melangkah kembali ke kamar.
Aku tidak mau membuat keributan di pagi hari. Aku mengenalnya, Paul tidak akan tenang jika aku terus mengikuti permainannya. Dia perlu dibiarkan sementara waktu hingga kepalanya yang sekeras batu itu sedikit melunak. Selama empat tahun ini aku sudah memahami kebiasaannya saat dia marah. Meski aku sendiri tidak terima dengan sikapnya, tapi aku tahu tidak ada untungnya berdebat saat kami sama-sama berada dalam situasi mental tak mengenakkan.
Aku menghabiskan waktu selama dua puluh menit berendam sambil mencoba menenangkan diri. Membayangkan terkurung di dalam rumah selama berbulan-bulan sudah cukup membuatku pusing. Aku tidak mungkin bisa tenang sementara menunggu Paul pulang seperti ibu rumah tangga lainnya. Aku terbiasa bekerja.
Aku paham maksudnya memintaku tetap tinggal di rumah, sungguh, aku paham. Tapi, bukan begini caranya. Dia bisa saja memintaku lebih berhati-hati alih-alih mengambil keputusan sepihak yang justru akan membuatku semakin tertekan.
Aku merasa sedikit lebih tenang sehabis mandi, tapi kemudian bingung karena tak tahu harus melakukan apa. Aku bertahan di kamar selama beberapa menit hingga Paul muncul.
"Love..." panggilnya, mendekat ke tepi ranjang. Aku tidak merespon. "Aku minta maaf. Kupikir itu cara terbaik untuk menjaga kalian berdua."
Dia menunduk dan menarik nafas dalam-dalam. "Kau bisa meluangkan waktu melakukan sesuatu yang lain di rumah, Bianka." katanya, masih belum mengerti maksudku.
"Apa tepatnya yang bisa kulakukan, hm? Kau tahu selama ini hanya pekerjaan yang bisa sedikit menghiburku saat kau harus keluar kota. Sekarang, coba sebutkan apa yang bisa kulakukan di rumah ini?" Dia terdiam seperti orang bodoh, dan aku melanjutkan. "Aku tidak bermaksud cengeng atau manja, tapi kau sendiri tahu bagaimana rasanya saat harus berdiam diri di rumah sementara kau bisa melakukan banyak hal di luar sana."
"Love,"
"No, Paul. Don't 'Love' me! Kau tahu, aku benar-benar marah padamu saat ini. Belum sebulan kita menikah dan kau sudah mengatur hidupku. Tentu, aku paham kekhawatiranmu, tapi kita bisa membicarakannya, kan? Bukankah selama ini selalu begitu? Komunikasi, Paul. Mulut diciptakan bukan hanya untuk makan, kau bisa menggunakannya untuk berbicara." Aku berdiri lalu meraih ponsel dari nakas dan hendak keluar dari kamar, tapi dia menahan tanganku.
"Baiklah, kita bicara, okay?" katanya dengan nada memohon.
Aku mendengus. "Percuma. Kau sudah mengambil keputusan. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Aku melepas genggaman tangannya dan berderap meninggalkannya.
Aku masih mendengar dia mengumpat di dalam kamar, jelas merasa frustasi menghadapi kemarahanku. Bukan salahku, dia sendiri yang menginginkannya. Bertindak sesuka hati tanpa mempertimbangkan pendapatku.
Aku duduk di ruang keluarga dan menelepon Valerie. "Bianka?" sapanya tepat setelah dering pertama berakhir.
"Hei, Val, apa kau sibuk?" tanyaku.
"Aku libur hari ini, kenapa?" jawabnya, persis seperti yang kubutuhkan.
Aku tersenyum. "Mau bersenang-senang?" kataku saat tiba-tiba suatu ide melintas di kepalaku.
Dia terkekeh. "Aku tidak yakin menghabiskan waktu bersama wanita hamil masuk dalam kategori bersenang-senang." selorohnya.
"Oh, kau belum tahu wanita hamil yang satu ini." balasku, menyeringai. "Bersiaplah. Aku akan menjemputmu." Aku mematikan sambungan telepon setelah dia menjawab 'Ya', dan kembali ke kamar untuk mengganti pakaian.
Paul sedang mandi saat aku masuk ke kamar dan aku menggunakan kesempatan itu dengan buru-buru mengganti pakaian dan berhasil keluar sebelum dia selesai. Kuraih kunci Bugatti Chiron kesayangannya dari laci yang berada di ruang ganti. Aku sengaja memilih mobil itu sebagai upaya balas dendam karena tahu dia akan sangat marah jika menyadari aku membawa mobil kesayangannya. Siapa suruh membuatku kesal?
"Miss?" Aku tersentak saat Pablo mendadak bersuara saat aku akan masuk ke dalam mobil. Dia menatapku dengan pandangan curiga. "Aku yakin Mr. Klug tidak menginjinkanmu menaiki mobil itu." tuduhnya.
Aku menyeringai. "Lalu, menurutmu siapa yang boleh menaiki mobil ini kalau istrinya saja tidak mendapat pengecualian? Kau?" balasku ketus.
Dia mengernyit, tak menyangka akan mendapat kalimat sindiran itu dariku. Maaf, Pablo, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini.
Aku langsung masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah menuju apartemen Valerie. "Kau akan melihat apa yang bisa kulakukan sebagai ibu rumah tangga, Paul. Akan kubuat kau menyesal karena telah menganggu kesenanganku!" kataku saat memasuki area parkir di depan gedung apartemen Valerie.
To: Valerie: Aku di bawah.
Dia membalas beberapa detik kemudian.
From: Valerie: I'm coming!
"Alright, what are we going to do now?" tanyanya begitu masuk ke dalam mobil. "Aku mencium aroma masalah di sini." Dia benar-benar mengenalku.
"Well, apa gunanya punya suami kaya kalau tidak bisa menikmati hidup?" jawabku, tersenyum sambil menaikkan alis. "Kau siap?"
Dia tertawa. "Ini yang kusuka darimu, Bianka. Kau tampak setenang riak di permukaan danau, tapi menyimpan gelombang berbahaya yang sewaktu-waktu siap menggulung siapa saja."
"Perkenalkan, Bianka Klug!"
Kami tertawa dan aku mulai melajukan mobil ke salah satu salon perawatan kuku langganan kami sebagai tujuan pertama untuk acara melampiaskan amarah hari ini.