
"Apa Ellie sudah tidur?" tanyaku begitu melihat Paul masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dengan satu tangan.
"Ya, sekarang kita aman." balasnya, melangkah ke tepi ranjang sambil menyisir rambutnya.
Tadi, sewaktu Paul menidurkan Ellie, aku menggunakan kesempatan itu untuk membersihkan wajah dan menggosok gigi, aku juga mengganti pakaian dan sekarang mengenakan kaus putih dan pakaian dalam, tanpa mengenakan celana.
Aku memandang perubahan ekspresi Paul saat dia duduk di sampingku yang sedang memegang buku. "Buka kausmu, love." katanya, kemudian dia berderap ke arah lemari.
Aku tertawa seraya menegakkan tubuh dan bersandar pada kepala ranjang. Aku meletakkan buku di atas nakas. "Sudah tidak sabar, ya? Well, aku suka itu..."
Dia menggelengkan kepala sambil menyeringai setelah meraih selembar pakaian dari dalam lemari. Dia kembali mendekatiku dan duduk di tepi ranjang. "Pakai ini." cetusnya, menyerahkan hoodie. Dengan segera aku menyadari itu merupakan hoodie yang sama dengan yang sering kukenakan dulu, hoodie yang sengaja kutinggalkan di Rusia ketika hubungan kami memburuk.
Aku memandangnya lekat-lekat sebelum menerima hoodie itu dari tangannya dan langsung mengenakannya. "Sudah puas?" godaku, membuat Paul tersenyum senang.
"Sangat puas." Dia maju untuk mencium bibirku sekilas. "Apa kau lelah?" gumamnya dengan suara yang membuat jantungku melemah.
"Sedikit. Ah, aku masih belum percaya kau secara tidak langsung mengajari Ellie mengumpat."
Paul mengernyit. "Astaga, aku hanya sekali mengumpat di rumah ini. Aku tidak tahu dia berada disana dan mendengarnya..."
Aku menggeleng sembari menghembuskan nafas. "Kurasa kau harus mulai mengurangi kebiasaanmu mengumpat."
"Aku akan lebih berhati-hati, love." sahutnya cuek. "Oh, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
"Paul..." Kewaspadaan mulai menghantuiku saat dia beranjak ke arah lemari. "Aku tidak menginginkan apapun..."
Paul menolehku sambil menyunggingkan senyum penuh misteri, menandakan dia sedang merencanakan sesuatu. Meskipun begitu, dia mengabaikanku dan sebagai gantinya malah meraih sesuatu dari dalam tasnya. Paul menyembunyikan entah apapun itu di balik punggungnya saat dia kembali menghampiri ranjang.
"Aku membelinya saat di Rusia. Bukalah..." Dengan senyum ragu-ragu dia menyerahkan sesuatu padaku.
Aku tahu itu bukan cincin karena kotaknya terlalu besar dan agak datar. Kutebak isinya kalung. Kuputuskan berhenti memberontak sejenak lalu membukanya. Begitu mataku melihat isi kotak tersebut, aku terperangah.
"Apa kau menyukainya?"
Aku terlalu sibuk mengagumi sebuah kalung indah berwarna silver, dihiasi semacam ukiran berbentuk bunga yang ditengah-tengahnya terdapat berlian kecil. "Paul..."
"Aku tidak akan mengatakan padamu soal harganya. Percayalah, itu tidak semahal yang kau pikirkan, love." Dia tergelak, nyaris gugup karena dia sendiri tahu aku tidak pernah suka kalau dia memberikan sesuatu padaku.
"Kau memberiku kalung ini," Aku menoleh selagi dia menunjukkan kalung yang kuberikan menggantung di lehernya. "Jadi, aku juga ingin memberikan sesuatu yang sama."
Tanpa sadar aku tersenyum merespon kata-katanya. Yang membuatku bahagia adalah dia masih mengenakan kalung dariku. Aku maju untuk mencium bibirnya sekilas. "Terima kasih, Paul. Aku suka." bisikku, setelah berhasil bernegosiasi dengan prinsipku sendiri. Sejak dulu aku benar-benar tidak suka menerima pemberian berupa barang-barang mewah dari siapapun. Itu membuatku merasa seakan berhutang pada seseorang, dan aku harus membayarnya suatu hari nanti.
Paul membantuku memasang kalung itu lalu mencium leherku begitu dia selesai. "Terlihat sangat cocok di lehermu, love." Dia berpindah ke depanku untuk menciumku.
"I love you," desisku di sela-sela ciuman, lalu mengangkat tangan menangkup wajahnya.
Paul menyingkirkan selimut dari pangkuanku dan menempatkan dirinya persis di hadapanku. Sementara bibir kami masih menyatu, aku menurunkan punggung sambil menariknya.
"Paul," Kuhentikan ciuman kami sejenak. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" Dia menatapku.
"Apa kau benar-benar bersih? Maaf, aku tidak bermaksud meragukanmu, aku hanya... Kemarin kita melakukannya tanpa pengaman, jadi aku perlu mengetahuinya."
Paul mengerutkan kening. "Tentu saja, love. Aku tidak pernah tidur dengan wanita tanpa pengaman sebelumnya. Hanya denganmu."
"Okay. Uhm, lalu... apa kau pernah melakukan tes untuk Penyakit Menular Seksual?" Ini masalah penting bagiku. Tidak peduli sebesar apapun perasaanku kepadanya, kesehatan tubuhku lebih penting dari apapun.
"Ya, dan aku bersih. Tidak ada penyakit apapun. Lagi pula, aku tidak akan menjeruskanmu." gumamnya dengan nada serius.
"Okay, bagus. Terima kasih, Paul." Aku menghadiahinya satu senyum tulus.
"Kau juga bersih, kan?"
Aku mengangguk. "Yep."
"Kau tahu, love? Kau membuatku semakin bergairah saat bertingkah seakan kau sedang bekerja. Kau perawat terseksi yang pernah ada." goda Paul sambil berlutut di antara kedua pahaku.
Aku tertawa sementara dia membuka hoodie yang belum lama melekat di tubuhku. "Aku hanya ingin menjaga kesehatanku, Paul. Itu satu-satunya aset yang kumiliki." cetusku meluruskan pendapatnya.
"Aku tahu, sayang..." Pandangannya turun, bibirnya melengkung indah saat dia menatap bagian depan tubuhku yang hanya mengenakan sehelai pakaian dalam terakhir.
Melihat dia masih mengenakan pakaian, maka aku pun dengan genit menggodanya. "Kau mau bercinta tanpa membuka pakaianmu?"
Paul menyeringai senang, kemudian beranjak ke tepi ranjang untuk menanggalkan seluruh pakaiannya dan memamerkan otot-otot tubuhnya yang keras dan jantan. Aku sengaja menopang tubuhku dengan siku agar bisa menikmati pemandangan indah di hadapanku. Kulitnya yang menggelap karena sinar matahari saat bermain bola sama sekali tidak memiliki dampak yang berarti dalam mengurangi ketampanannya, itu malah membuatnya tampak semakin seksi.
Tanpa malu-malu, kurunkan pandangan ke dadanya, perutnya, pinggulnya, lalu kejantanannya yang sudah penuh dan keras, membuatku menelan ludah sementara bagian di antara kedua pahaku berdenyut keras.
"Berbalik, love. Aku ingin melakukannya dari belakang."
Aku nyaris mendesah dengam perasaan mendamba saat mendengar suaranya yang dalam dan penuh tekanan. Gairahku benar-benar sudah terkumpul di bawah sana. Kemudian aku menuruti perintahnya dengan perasaan membara karena dia terus memperhatikan gerakanku. Aku membelakanginya, menunggu dia melakukan sesuatu.
Aku agak tersentak saat Paul menyentuh bokongku, memberi usapan lembut disana. Kuarahkan pandangan ke balik bahu untuk melihat ekspresi kelaparan yang tergambar di wajahnya. Aku merasakan gairahku panas membara, tak yakin bisa bersabar lebih lama lagi. Lalu kugoyangkan pinggulku sekali untuk menarik perhatian Paul.
"Kau sudah basah, love." katanya sambil menyeringai, matanya masih beradu dengan mataku sementara tangannya menurunkan pakaian dalamku. Aku tidak memiliki kesempatan untuk membalas ucapannya, karena yang berikutnya keluar dari mulutku adalah hembusan nafas lega saat merasakan dua jarinya menghujamku.
"Sangat basah, love." Aku mendengar Paul terkekeh. "Apa kau selalu begini setiap berciuman, Bianka?"
"Oh, Lord..." desahku ketika Paul berhasil menyentak titik sensitif di bawah sana.
"Hm?" desis Paul, menuntut jawaban dariku. Aku merasakan sebelah tangannya yang bebas menyentuh punggungku, dengan lembut menekanku ke bawah. Kemudian kuraih bantal dan membenamkan separuh wajahku disana.
"Kau, Paul... Kau yang membuatku bergairah..." dengkurku pelan, nyaris berbisik. Mataku terpejam selagi perasaan nikmat dan lega menjalar di sekujur tubuhku.
"Hanya aku? Sial, itu sangat seksi, Bianka..." Dia menahan geraman, tidak ingin membangunkan penghuni rumah yang lain.
Sebesar apapun kenikmatan yang kurasakan pada sentuhan jarinya, aku lebih menginginkan dia mendesakku dengan kejantanannya. "Paul, jangan menyiksaku. Kumohon..."
Dengan senang hati Paul menuruti kemauanku, dia menarik jarinya dariku dan menggantikannya dengan suatu kenikmatan yang lebih menjanjikan. "Ah, shiiitt!" geramnya saat berhasil membenamkan diri sepenuhnya. "Apa kau merasakan sakit, love?"
"No, no." sahutku cepat, posisi ini justru membuatku merasakan nikmat yang baru. "So good..."
Paul mengerang lalu mulai menggerakkan pinggulnya sementara pinggulku langsung mengikuti irama desakannya. Aku mendesah saat Paul mencengkeram leherku, menahan kepalaku lebih rendah. Kemudian sentuhannya berpindah ke tengah-tengah punggungku, juga menekannya ke bawah sementara tangannya yang lain meremas pinggulku.
"Bianka..." desis Paul di sela-sela hentakannya. "Kau nikmat, Bianka. Amat sangat nikmat..." Desakannya menjadi lebih keras lagi, sampai aku merasa itu merupakan sebuah hukuman dan membuatku tak sanggup menahan diri untuk terus membungkuk.
Aku menegakkan punggungku, mengulurkan tanganku ke belakang untuk meraih wajahnya lalu menciumnya dengan serakah. "Ahh, Paul..." Aku mendesah di mulutnya.
Kenikmatan yang diberikannya terlalu besar, sampai-sampai aku merasa akan pingsan menerima semua pemberiannya yang tegas dan teratur. "Kau suka, love?" Dia bertanya sambil meremas dadaku, yang kemudian membuatku semakin menggila.
"Paul, aku..."
"Aku tahu, love." Paul menggeram memotong kalimatku. "Lepaskan, sayang... Rasakan puncakmu, aku memberinya untukmu."
Beberapa detik kemudian, aku merunduk, kembali membenamkan wajah ke bantal saat kurasaan tubuhku hendak meledak. Pahaku gemetar hebat sementara punggungku melengkung tinggi, aku pasti terbaring jika Paul tidak menahan pinggulku saat ini.
"I love you, Paul... so much." bisikku tersengal-sengal, membuat Paul mengumpat pelan dan ikut menyemburkan gairahnya yang panas di dalam tubuhku.
"Ah, Bianka...."
Paul dan aku masih bertahan pada posisi yang sama, menikmati aliran hangat yang menjalar di sekujur tubuh kami hingga benar-benar reda. Mataku terpejam, merasa begitu puas, lega, dan lelah pada saat yang bersamaan.
Dengan lembut dia mengusap pipiku, memberiku rasa hangat dan membuatku merasa begitu dicintai melalui sentuhannya. Lalu, Paul menarik diri dan merunduk untuk menciumku sekilas. "Jangan tidur dulu, love. Tunggu aku selesai membersihkan diri."
"Aku lelah, Paul." balasku lemah.
"Aku tahu. Lima menit, dan kau bisa tidur setelahnya."
Paul beranjak ke kamar mandi lalu kembali beberapa saat kemudian dan bergabung denganku di balik selimut. Tanpa menunggu lama, aku merapatkan tubuhku dan meringkuk dalam dekapannya.
"Hei," bisikku, tersenyum lagi.
"Hai. Love, aku tahu terlalu cepat jika aku memintamu pindah ke rumahku," gumamnya memulai, "Dan, aku juga tahu orang yang waras pasti menolaknya, tapi aku akan mendesakmu sampai kau mengatakan 'Ya'."
Aku terdiam sejenak mempertimbangkan ucapannya. "Bagaimana jika hubungan kita berakhir, Paul?" tanyaku, merasa perlu melihat arah hubungan kami ke depannya. Aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan dan berakhir mengacaulan hidupku sendiri. "Apa yang harus kulakukan andai itu terjadi? Anggap kau mengusirku dari rumahmu, kemana aku harus pergi? Kepercayaan di antara kita belum sebesar itu sampai aku rela menyerahkan diri sepenuhnya padamu..."
"Aku tidak mungkin mengusirmu, Bianka."
"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah hingga kau ingin menendangku jauh-jauh dari hidupmu?" tanyaku sambil menguap.
"Itu tidak akan terjadi, love..." Dia menggeleng keras, tangannya menarikku lebih dekat, membuat dadaku menempel di dadanya. "Kau bisa mempertahankan rumahmu yang sekarang kalau memang kau takut aku mengusirmu. Kita akan membersihkannya seminggu sekali, dan kau bisa kembali kesana jika yang kau takutkan benar-benar terjadi."
Aku tidak mengatakan apapun, jadi Paul lanjut berbicara. "Di rumahku, kau tak perlu mengeluarkan uang untuk keperluan sehari-hari, aku yang akan menanggung semuanya, dan juga..."
"Paul, jangan membahas uang denganku. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana saat menerimamu."
"Okay, maaf..." Dia mengikik geli. "Itu hanya contoh kecil. Kita bisa mandi bersama setiap pagi, rasanya menyenangkan, bukan? Dan, secara tidak langsung kita mendukung gagasan pemerintah untuk menghemat air."
Aku mendengus, sangat mengerti ke mana arah pembicaraannya. Hemat air hanya alasan klasik. "Hemat air, ya? Hm, tentu saja..." cetusku dengan nada menyindir.
Paul tertawa. "Maksudku adalah, akan lebih menyenangkan jika kita tinggal bersama."
"Oke, mungkin aku bisa lega karena setidaknya masih punya rumah sendiri meski tinggal di rumahmu," kataku. "Lalu, bagaimana dengan Frosty? Apa kau juga mengijinkannya tinggal bersama kita?"
"Tidak masalah. Lagi pula, kurasa dia tidak seburuk itu." Paul tersenyum, mengusap rambutku dengan lembut.
Aku terkekeh halus. "Itu karena dia sudah melunak padamu. Sejujurnya aku gak khawatir dia akan merebutmu dariku..."
"Bukan salahku karena memiliki semacam bulu yang disukainya..." katanya santai, membuat gelak tawaku semakin lepas, namun buru-buru kututup mulut dengan tangan.
"Kau benar-benar konyol. Apa kau serius, Paul?"
"Tentu saja. Aku ingin melihatmu dan berbicara denganmu setiap hari. Mandi bersama hanya bonus kecil..." dengkurnya, dan aku mengangguk.
"Okay. Tapi, jangan terburu-buru, ya? Kita baru saja berbaikan..."
"Ya, love. Aku akan menyesuaikan diri, lakukan apapun yang membuatmu merasa nyaman." Dia mencium keningku.
Aku membuka mata dan memajukan kepala untuk balas menciumnya. "Apa kau menyadari kau baru saja membuat dirimu seperti sugar daddy?"
"Apa? Dari mana datangnya pikiran itu, love?"
"Well, kau memberiku kalung, lalu kita bercinta."
"Ya Tuhan, Bianka! Aku membeli kalung itu di Rusia. Satu bulan yang lalu. Apa kau benar-benar berpikir aku menyusun rencana selama sebulan untuk bercinta denganmu?"
Aku mengangkat bahu, sengaja menggodanya. "Mungkin..."
Paul terkekeh, menggelengkan kepala padaku. "Apa yang kau lakukan saat itu? Ketika kita bertengkar." desisnya kemudian. "Ceritakan padaku."
Aku menyandarkan punggung di lengannya sambil menutup mata. "Tidak banyak. Sebentar lagi pendidikan tingkat pertamaku akan selesai, dan aku akan lanjut untuk meraih gelar master." kataku dengan suara lebih pelan karena tubuhku benar-benar remuk. "Stacey dan Elise meresmikan hubungan mereka. Ah, aku sangat bahagia mengetahui itu..."
"Loh, kupikir mereka saling membenci."
"Well, kau salah. Kami tidak pernah membenci satu sama lain, tapi ya, mereka memang lebih sering cekcok. Menurut Stacey, Elise terlalu berlebihan menanggapi apapun."
"Oh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aktivitas seksual terjadi di antara mereka."
"Paul!" Aku menghardiknya sambil menepuk pelan dadanya. "Jangan konyol, mereka temanku..."
"Baiklah, aku minta maaf." balasnya, terkikik geli. "Jurusan apa yang akan kau ambil untuk gelar mastermu?"
"Ilmu keperawatan, dan aku juga masih bekerja di rumah sakit yang sama." sahutku, "Bagaimana denganmu? Apa saja yang kau lakukan sebulan ini?"
"Aku kembali ke klub lamaku, dan sekarang kami sedang mempersiapkan diri untuk pertandingan musim ini."
"Oh, apa itu masalah besar?"
Paul tertawa. "Ya. Klubku merupakan satu-satunya klub terbaik sepanjang sejarah sepak bola Jerman, dan kami berada di peringkat pertama selama lima tahun berturut-turut."
"Wow, okay. Kalau begitu, bisa di pastikan kalian menang lagi tahun ini, hm?"
"Kemenangan bukan hal terpenting, love." koreksinya. "Tapi, ya, kami pasti menang."
Aku mendengus dan mencium dadanya. "Aku akan berteriak mendukungmu."
Paul tertawa lagi. "Oh, satu lagi... Cristiano Ronaldo, idolamu itu tersingkir dari papan peringkat Fifa. Aku berhasil mendepaknya, love." kata Paul, menyombongkan diri. Well, dia pantas sombong atas kerja kerasnya. "Kau beruntung memiliki kekasih yang keren sepertiku, Bianka."
Sekarang giliran aku yang tertawa. "Selamat, ya. Malang bagi Ronaldo..."
"Ah, dia baik-baik saja. Peringkat kedua tidak seburuk yang kau pikirkan, itu bisa menjadi semacam dorongan agar lebih baik untuk pemain sekelas Ronaldo." katanya menjelaskan.
"Maafkan kesalahanku, Bianka. Aku bena-benar tidak mau kehilanganmu. Kau tidak akan tahu betapa tersiksa rasanya saat aku ingin menjauh darimu sementara wajahmu terus berlarian di kepalaku."
Aku mengernyit, mendongak menatapnya. Perubahan topiknya yang tiba-tiba sungguh membuatku terkejut. "Paul, sayang..." Kuusap wajahnya dengan lembut. "Jangan membahas itu lagi, aku sudah memaafkanmu. Lupakan, okay? Aku mencintaimu, Paul."
"Aku lebih mencintaimu, Bianka." Dia mencium keningku dan memelukku lebih erat.