
"Paul, please..." Aku mendesah. Kedua mataku terpejam erat, sekujur tubuhku berdesir sementara memohon agar dia berhenti menyiksaku.
Paul menggeram. "Apa yang kau inginkan, love? Katakan supaya aku mengerti." Dia menjepit salah satu puncak dadaku dengan dua jarinya.
"Oh, **!*... Kau... aku menginginkanmu." desisku sambil mengangkat kepala memandangnya.
Dia menyeringai senang, lalu menciumku dengan ganas sampai napasku tersengal-sengal. Tiga tahun. Tiga tahun lamanya aku menunggu hari ini datang, dan tak bisa kujelaskan bagaimana penuhnya perasaanku hari ini. Oleh rasa lega, rasa bahagia, dan rasa cinta yang sebenarnya tak pernah berkurang sedikitpun padanya. Tidak peduli berapapun banyak waktu yang kami lewati terpisah satu sama lain, hatiku tidak akan beranjak darinya.
Paul menggoda bagian di antara pahaku dengan lembut, memberi sensasi nikmat yang begitu kurindukan. Kemudian dengan satu sentakan cepat dan kuat, dia telah masuk ke dalam diriku sepenuhnya. Aku harus mengeluarkan pekikan kecil karena terkejut dan merasa agak sakit oleh serangannya yang tiba-tiba.
"You okay?" tanya Paul.
Aku menelan ludah dengan gemetar, meremas lengannya. "Yeah, just... you're so big. Ya Tuhan, kenapa kau besar sekali?" jawabku, agak histeris. Sepertinya kalimat itu cukup menghibur baginya karena kemudian dia menyeringai, lalu mundur sebelum mendesakku lagi hingga kembali tenggelam di dalam diriku. Rasanya aku seperti tersedak oleh desakannya.
Dia menyeringai sebelum menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku dan menggigit kulitku. "I'm sorry, love. I miss you, so, so much..." Kedua tangannya menangkup wajahku.
Kami hanya saling menatap selama beberapa saat. Aku melihat berbagai macam emosi berkelebat di matanya. Ada bahagia, lega, sedih, dan terutama perasaan bersalah. Sejujurnya, aku sendiri masih merasa sulit memaafkan kesalahan Paul, tapi apa gunanya menyimpan dendam terlalu lama pada orang yang tidak akan pernah bisa kau lupakan? Itu tidak akan menghasilkan apa pun, kau justru hanya menyiksa dirimu. Aku percaya memulai sesuatu yang baru lebih baik daripada mengingat-ingat masa lalu. Itu berlaku bagi siapapun.
Perlahan aku menyadari bahwa terkadang kita harus pasrah dan menerima keadaan meski itu menyakitkan. Tapi, percayalah, selalu ada hal baik di balik setiap kejadian buruk yang menimpamu. Kau hanya perlu mengatasinya dengan baik, lalu bangkit dari keterpurukan. Tak ada yang salah dengan berjuang sekali lagi.
"Move," perintahku dengan berbisik sembari menatap matanya yang segelap malam. Paul menurut, menggerakkan pinggulnya secara perlahan. "Oh, Lord..."
Setelah beberapa dorongan, rasa sakit yang kurasakan mulai berkurang, berubah menjadi sensasi yang memabukkan. Aku mendesah tepat di telinganya sementara Paul mempercepat gerakan pinggulnya. Aku merengkuh pinggulnya dengan kedua kaki, agak menaikkan bokongku untuk menerima dorongannya, membuat Paul semakin jauh tenggelam di dalamku. Dia membisikkan kata-kata vulgar sambil melambungkan setinggi-tingginya, memberiku kesenangan yang kukira takkan pernah kudapatkan lagi darinya.
"Aku mencintaimu, Bianka. Selamanya mencintaimu." katanya. Hanya itu yang ingin kudengar saat ini, dan sampai akhir hidupku.
Malam ini, kami menyatu seperti yang seharusnya. Bersama-sama melewati malam penuh gairah, melepaskan hasrat yang terkurung selama bertahun-tahun, bernostalgia dengan kenangan mesra di masa lalu. Dalam sekejap, waktu yang terlewat seakan menguap begitu saja. Seolah kami tidak pernah terpisah, seolah aku hanya tertidur untuk waktu yang lama dan terbangun dengan Paul di sisiku. Segala kebencian, sakit hati, dan amarah tergantikan oleh perasaan cinta yang menancap begitu dalam di hatiku.
Paul menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Memberiku desakan dalam dan panjang sementara eranganku tertahan di mulutnya. "God, you're so good..." desisnya.
"Don't stop," desahku memohon. Kenikmatan yang kurasakan bergejolak dari kepala hingga ke ujung kaki, dan berpusat di antara kedua pahaku. "Please, Paul... please..."
"Come for me, love." Dia menghujamku lebih keras, nyaris seperti desakan untuk menghukum yang kemudian kusambut dengan suka cita dan pelepasan paling menggelora yang pernah kurasakan seumur hidupku.
"Ahhh..."
"Kau sangat nikmat, Bianka." kata Paul sambil menggeram saat merasakan kewanitaanku yang berdenyut keras meremas kejantanannya. "Oh, fu¢k, I'm coming..."
Kami terdiam, masih di posisi yang sama, berusaha menenangkan detak jantung yang memburu serta napas yang tersengal-sengal setelah pelepasan luar biasa memabukkan itu.
"Kenapa kau tidak bilang bahwa kau tak pernah melakukannya selama ini?" Paul bertanya setelah dia berguling ke samping dan menarikku ke pelukannya.
Aku memejamkan mata selagi menjawab. "Aku tidak berhasrat pada siapapun sejak berpisah denganmu." jawabku dengan jujur.
Alisnya bertaut. "Kenapa bisa?"
Sekarang giliranku yang mengernyit. "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja karena aku terlalu mencintaimu, sampai-sampai tak bisa melirik pria lain. Itu kelemahanku." Aku bergeser untuk meraih kemeja Paul dari lantai di sebelahku, mengenakannya, lalu kembali ke pelukannya sambil menarik selimut.
"I love you, Bianka." katanya bersungguh-sungguh.
"I hate you, Paul." Aku tersenyum ketika dia terkekeh geli mendengar gerutuan main-main dariku.
Keesokan paginya aku terbangun dengan perasaan bingung. Pada awalnya tak menyadari beban yang terasa di perutku hingga aku membuka mata, menoleh ke samping, dan mendapati Paul masih terlelap di sampingku. Sebelah kakinya menindih kakiku sementara wajahnya terlihat begitu damai. Aku berdeham dengan keras, mencoba membangunkannya, tapi dia terus mendengkur. Perlahan kutepuk-tepuk pipinya sampai dia mengerang lalu membuka mata.
"Bangun," cetusku, tak bisa bergerak karena dia masih memelukku.
"Ah, selamat pagi juga, sayang." balasnya sinis. Dia menggeram sebelum menggerakkan kepalanya, membuka kemejaku dan menghisap puncak dadaku. Aku terkesiap merasa nikmat sekaligus terkejut, lalu mendorongnya dengan pelan.
Untuk sesaat, kukira itu berhasil sebelum aku menyadari wajahnya turun ke perutku. Aku mencoba merapatkan paha, tapi Paul lebih dulu meletakkan sebelah tangannya disana. Menyentuh area pribadiku. Aku mendesah terpejam. Sebelah tanganku mencengkeram selimut sementara sebelah yang lain meremas rambutnya. Paul menggerakkan jemarinya dengan liar, mengumpat sambil menggigit salah satu puncak dadaku.
"Ahh, Paul..."
"Ya, love. Nikmati pagimu yang menyenangkan," desisnya dengan suara serak, membuatku semakin menggila. Aku merasakan tekanan di perut sebelum sekujur tubuhku bergetar hebat.
"God, you're unbelievable." gumamku tersengal-sengal.
Paul terkekeh. "Kau terlalu seksi saat mengenakan kemejaku." Dia mencium keningku sebelum beringsut turun dari ranjang, hendak berjalan ke kamar mandi.
"Hei," Aku berseru. "Setidaknya bantu aku ke kamar mandi!" dengusku bersungut-sungut.
Senyum puas terkembang di sudut mulutnya saat dia mengulurkan kedua tangan, mengangkatku ke dadanya, lalu mulai melangkah ke kamar mandi. "Aku tidak keberatan melakukannya setiap pagi jika itu yang kau inginkan," Paul mencium keningku lagi.
"Selama kau tidak meninggalkanku lagi, tentu saja." balasku menyindir.
Paul meringis. "Love..."
"Apa?"
Dia menggeleng cepat, menyadari kalau aku tidak main-main. Melupakan perbuatannya tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan aku tidak akan memberinya kesempatan untuk melakukan itu lagi.
Setelah mandi, paul mengeringkan tubuh rambutku dengan handuk lalu kembali menggendongku hingga ke tepi ranjang dan mendudukkanku disana sementara dia mengambil kausnya dan memakaikannya padaku. "Aku lapar." kataku setelah dia selesai, dan kini menyalakan tv.
"Hah?" tanyanya seperti orang bodoh, memutar kepala menatapku.
"Pergi ambilkan makanan."
"Love, ini bukan rumahku. Sebagai tamu aku tidak mungkin berkeliaran dengan bebas disini." Ekspresinya terlihat begitu menggemaskan, tapi aku tidak mau kalah.
Aku mengerutkan hidung. "Semua orang sudah mengenalmu, Mr. Klug. Lagi pula, aku kelelahan setelah kau mengerjaiku semalaman, jadi, keluarlah dan bawakan aku sesuatu untuk di makan sebelum aku menggigit kejantananmu." kataku mengancam, memperhatikan keningnya berkerut sebelum dia melempar remot ke ranjang lalu mengenakan pakaian dan buru-buru keluar dari kamar.
Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan aroma makanan menyeruak masuk, membuat perutku berbunyi. Paul meletakkan makanan dua piring penuh omelet kacang-kacangan. "Kau membuat ini?" tanyaku setelah membuat satu gigitan besar pada omelet sementara menatap ke layar televisi.
Dia menggeleng, melakukan hal yang sama. "Marissa yang membuatnya. Dia muncul begitu aku akan menghancurkan dapur."
"Dimana yg lain?"
Paul mengangkat bahu. "Aku hanya bertemu Marissa." katanya.
Aku mengangguk, melanjutkan makan sambil menonton tv sementara Paul sesekali mencuri gigitan di omeletku.