My Love Journey's

My Love Journey's
Officially Together



Malam tadi, aku tertidur di dada Paul setelah kami berulang kali berciuman dan mengobrol serius di ruang keluarga rumahnya. Sungguh, kami tidak melakukan kegiatan lain selain berciuman, kurasa kami berdua sama-sama kelelahan kemarin. Semalam aku berusaha keras untuk memenangkannya, dan mengatakan kalau dia masih bisa ikut membantu tim-nya dan bermain di Piala Dunia setelah cederanya sembuh, namun aku tahu Paul masih terganggu dengan itu.


Kemudian pagi ini, dia harus pergi menghadiri konferensi pers yang sudah di atur oleh manajer dan pelatih tim nasional Jerman. "Sepertinya tidak akan lama, mungkin sekitar dua jam. Maukah kau menungguku disini?" Dia bertanya sambil menegakkan tubuhnya di kursi meja makan, memegang segelas kopi dengan satu tangan sementara tangan yang lain mengirim pesan kepada Alfred.


"Aku ada kelas perawat sore ini, dan aku belum membuka buku sejak kemarin. Dr. Grey akan menendangku kalau aku melongo di kelasnya." kataku, membawa piring kotor ke wastafel, lalu menyalakan air untuk mencucinya.


"Tinggalkan saja, sejam lagi akan ada pekerja yang datang membereskannya." Aku menoleh dari bahuku, melihat Paul berjalan ke ke arah pintu dapur.


Langkahnya masih agak pincang, terlihat hati-hati agal tidak terlalu menekan pergelangan kakinya yang cedera. Meskipun dia sanggup menahan rasa sakitnya, dia tahu aku selalu siap menyemburnya jika dia tidak membiarkan kakinya beristirahat dengan baik.


"Benarkah?" tanyaku penasaran, aku tidak terbiasa dengan asisten rumah tangga atau semacamnya.


Aku mematikan keran dan membiarkan piring kotor disana, lalu berbalik mengikuti langkahnya. "Belajarlah disini." Paul menghadapku setelah memasukkan ponsel ke saku celananya.


Dia mengenakan setelan celana panjang hitam dan kemeja putih, yang dengan anggun membalut tubuh seksinya, menunjukkan otot-otot dada dan lengannya yang keras. Sementara aku, karena tidak membawa pakaian ganti semalam, aku mengenakan sepasang celana pendek dan kaos miliknya. Terasa nyaman meskipun kebesaran di tubuhku.


"Aku perlu buku..."


"Alfred akan mengantarmu untuk mengambil semua barang yang kau perlukan, lalu kau kembali dan belajar disini." gumamnya tersenyum.


Hm, terdengar seakan aku menjalani kehidupan yang normal. Semalam kami bersama dan sekarang akan menghabiskan waktu seharian, bersama lagi. Aku suka gagasan itu. "Okay. Tapi kau tidak boleh menggangguku. Apa kau bisa mengendalikan gairahmu?"


Dia menyeringai, maju selangkah. "Aku tidak berjanji karena sulit menahan diri ketika berdekatan denganmu, love."


Aku menggeleng sambil terkekeh. "Tahan dirimu, Paul. Atau kau akan segera kehilangan semangatmu itu beberapa tahun lagi." Aku sengaja menggodanya agar dia melupakan sejenak soal konferensi pers itu.


"Itu tidak mungkin. Aku pria paling perkasa di muka bumi." gumamnya seraya mengedikkan bahu, menjulurkan tangannya ke pinggulku. "Kau sangat cantik, kuharap aku bisa menemanimu disini."


Aku tersenyum menikmati kehangatan yang menjalar dari tanyannya. Semalam dia sudah mengatakan kalau dia menyukaiku, yang kusimpulkan sebagai ungkapan cinta, dan sekarang aku sadar bahwa tidak ada kesempatan untukku berbalik dari hubungan kami.


Aku berjuang sekeras mungkin untuk mengendalikan sifatku yang berlebihan dalam memikirkan sesuatu, dan mencoba memusatkan semua perhatikan pada Paul dan pada perasaan yang kumiliki untuknya. Hubungan kami mungkin akan berakhir naas hingga menghancurkan kami berdua, namun dia mengatakan padaku kalau kami harus menikmati saat-saat yang menyenangkan, dan aku akan melakukannya.


"Alfred sudah menunggu, di depan, Bianka. Aku harus..."


"Hei, tenanglah." gumamku lembut, mengerutkan alis ketika kulihat kegugupannya muncul kembali.


Paul mengerdip pelan, menarik napas dalam-dalam sementara aku melanjutkan ucapanku. "Semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan apapun. Cedera yang kau alami bukan salahmu dan kau tidak punya kemampuan untuk mengendalikan itu." dengkurku berusaha meyakinkannya.


"Bukan itu yang membuatku cemas, love." balasnya setelah beberapa detik terdiam memangdang wajahku.


"Oh, kau begitu apa yang membuatmu cemas?"


"Apa kau mau membawa lebih banyak pakaian dan barang lain yang kau butuhkan sehari-hari kesini? Kurasa itu akan mudah untuk kita karena rumahku tidak terlalu jauh dari tempat kerjamu."


Aku terdiam mencerna ucapannya beberapa saat sambil memaksa menenangkan diri. Dia tidak memintaku untuk tinggal bersamanya, kan? Kurasa tidak ada salahnya membawa beberapa pakaian ganti kesini, lagi pula kami bisa menghabiskan waktu bersama tanpa perlu khawatir. Aku juga tidak harus bangun lebih pagi dan buru-buru pulang ke rumah setiap kali kami bertemu di rumahnya.


"Okay. Apa hanya itu yang kau cemaskan?" tanyaku, masih penasaran. Tidak mungkin Paul mencemaskan hal seremeh itu.


Dia menggeleng sambil tertawa halus. "Tidak." Dia menunduk sejenak sebelum mengangkat kepala menatapku lagi. "Aku tidak tahu apa kau mengira aku mendesakmu, aku tidak mau menganggapku begitu. Hm... aku ingin kita meresmikan hubungan kita. Untuk kita berdua?"


Dan sekarang, bagaimana mungkin aku tidak berpikir berlebihan soal ini? "Maksudmu..."


"Kau dan aku. Bersama. Sebagai pasangan kekasih. Ya..." Paul menyeringai senang, sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Aku yakin kalau dia tahu bagaimana isi kepalaku sekarang, namun aku juga menyukai ide itu. Eh?


"Siapa saja yang akan tahu soal ini?"


"Okay." sambarku sebelum dia selesai berbicara.


"Okay?"


"Yes, okay. Kita bisa mencobanya."


Senyum Paul melebar, lalu memajukan wajahnya dan menciumku sekilas. "Yes?"


"Yes. Sekarang berhenti mencemaskan apapun. Itu tidak cocok denganmu." gumamku genit.


Dia tertawa dan menarikku lebih dekat padanya. Hal berikutnya yang kutahu, aku menangkup wajahnya dan mencium bibirnya seakan aku baru saja bertemu dengannya setelah bertahun-tahun kami terpisah, sementara pada kenyatannya, kami hanya akan berpisah selama dua jam kedepan.


"Aku yakin para wartawan akan bertanya tentangmu padaku." kata Paul begitu kami kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Alfred akan mengantarku lebih dulu dan kembali menjemputku setelah dia mengantar Paul ke kantor manajernya.


"Tidak diragukan lagi."


Paul meraih lenganku, menatap ke dalam mataku. "Apa kau keberatan aku mengatakan kalau kita sudah meresmikan hubungan kita lagi?"


Pertanyaanya perlahan kembali membuatku ragu dan was-was. Mungkin orang-orang akan berhenti mengirimiku pesan yang berisi caci maki jika mereka mengetahui soal ini, atau bisa jadi mereka lebih membenciku. Ah, persetan dengan orang lain. Aku bersama Paul, itu poinnya.


"Tidak."


***


Seharusnya aku belajar saat ini, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk menonton konferensi pers yang berlangsung saat ini, dimana Paul sedang duduk bersama beberapa orang yang berperan penting dalam karir sepak bolanya, menghadap ke arah para wartawan di hadapan mereka. Tampak logo perusahaan yang menjadi sponsor tim mereka di belakang Paul, begitu juga dengan logo Piala Dunia tahun ini.


Omong-omong, ini ditayangkan live streaming, dan seluruh dunia bisa melihatnya. Jadi, kurasa sebagai warga negara yang baik aku harus menyaksikan ini. Terutama karena kekasihku yang berada disana?


Eh, kekasih? Aku tersenyum geli dalam hati, masih tidak percaya Paul dan aku benar-benar berhubungan secara resmi, bukan untuk menyenangkan orang lain, tetapi untuk kami sendiri.


Aku tidak terlalu paham pada awalnya ketika para wartawan bertanya seputar sepak bola. Kemudian aku menegakkan tubuh saat mendengar sesuatu yang menarik perhatianku.


"Saat pertandingan Jerman vs Kolombia, kau ditarik keluar dari lapangan karena terlalu agresif dalam bermain," Aku bisa mendengar kegugupan pada suara wartawan yang sedang bertanya pada Paul. Maksudku, aku juga pasti gemetar jika Paul menatapku seperti itu, seakan dia ingin menerkam wartawan itu. "Apakah ini berhubungan dengan Bianka Becker, gadis yang berkencan denganmu sebelumnya? Di Twitter orang ramai-ramai berspekulasi kalau kemarahanmu di lapangan berkaitan dengan skandal yang tercipta di antara Bianka dan seorang dokter dari rumah sakit yang sama dengan tempatnya bekerja?"


Manajer Paul tampak membisikkan sesuatu padanya sementara dia mendengarkan sebelum mengangguk sekali dan kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Aku tidak pernah membawa masalah pribadi ke lapangan." jawabnya santai. Aku bersumpah kalau aku mendengus saat ini. Kuharap aku mempunyai popcorn sekarang karena pertunjukan mulai menarik.


Semua orang tahu alasannya bersikap tidak profesional disebabkan oleh postinganku dan Travis yang ramai di Twitter, tapi aku bersyukur dia tidak membenarkan itu.


"Bianka dan aku memang bersama dan dia sangat mendukung karirku." gumamnya lagi, lalu mengangguk sekali menegaskan kalau dia sudah cukup menjawab pertanyaan itu.


Jawabannya ternyata mengundang rasa penasaran yang lebih tinggi di antara para wartawan.


"Kami akan menerima dua pertanyaan terakhir." kata seorang pria yang duduk di samping Paul, berbicara melalui mikrofon.


Paul mengedarkan pandangan ke depan, memainkan sebotol air mineral di atas meja sambil memilih seorang wartawan yang beruntung mendapat kesempatan untuk bertanya. "Jas merah, barisan ketiga."


Aku berjanji akan membuka buku setelah satu pertanyaan ini. Masih ada waktu untukku belajar sebelum mengikuti kelas Dr. Grey sore ini.


"Banyak yang mengatakan kalau Bianka Becker membuatmu tidak fokus. Apa tanggapanmu kepada mereka yang menganggap amarahmu selama pertandingan Jerman vs Kolombia berasal dari masalah yang terjadi di antara kalian berdua?"


Paul berdeham dan menghela nafas. "Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak membawa masalah pribadi ke lapangan. Dia tidak pernah mengusik karirku dan tidak pantas mendapatkan kebencian dari siapapun karena menjalin hubungan denganku. Kami baru saja ingin memulai sesuatu yang lebih serius, jadi kuharap kalian memberikan sedikit ruang untuk kami."


Aku tersenyum. Merasa tenang setelah mendengarkan jawabannya soalku, soal hubungan kami. Dengan begitu saja, aku menutup laptop, meraih buku dan kembali ke kenyataan. Belajar, Bianka!