My Love Journey's

My Love Journey's
Elliot Birthday Party



Jadi, Paul benar-benar menghilang selama seminggu ini. Tidak ada telepon, tidak ada pesan... Tidak ada kabar sama sekali. Hampir empat berlalu sejak dia ke Spanyol. Well, sebenarnya aku sudah tahu hal seperti ini akan terjadi suatu saat.


Alih-alih merasa kesepian yang mendalam, aku bersyukur jadwal kerja dan studiku yang semakin sibuk sedikit bisa mengalihkan pikiranku dari Paul. Hingga tadi pagi, kuputuskan mengirim pesan padanya lebih dulu.


To: Paul: Frosty merindukanmu x


Namun bahkan sampai saat ini, aku sudah pulang dan sedang menyelesaikan dekorasi untuk kejutan kecil ulang tahun Elliot bersama Stacey, dia belum membalas pesanku. Karena berusaha mati-matian menutup akses terhadap semua platform media, aku tidak mengetahui berita apapun tentang Paul.


"Sampanye dan kawan-kawannya sudah siap," kataku sambil memeriksa daftar persiapan di ponsel.


"Bagus!" sahut Linda dari arah ruang keluarga. "Aku sedang menyiapkan lampu..."


Aku duduk di kursi meja dapur sembari memeriksa folder pesan masuk. Kemudian alisku mengernyit bingung saat menyadari dia sudah membaca pesanku, tapi tidak ada balasan. Aku berpikir selama beberapa menit, mempertimbangkan apakah aku perlu mengirim pesan lagi, atau mungkin meneleponnya sebelum teman-temanku yang lain berdatangan, tapi kuputuskan tidak melakukan itu.


Sebenarnya dari awal aku tidak yakin Paul dan aku sanggup melewati ini, tapi sekarang keraguanku bertambah besar seiring tidak adanya komusikasi di antara kami. Seharusnya aku langsung bertanya saat berita tentang hubungannya dengan model itu mulai menyebar, karena sekarang aku merasa sepertinya dia sudah menemukan wanita lain disana.


"Hei, kau baik-baik saja?" Stacey melintasi pintu dapur, terlihat sangat cantik dalam balutan gaun hitam ketat.


Aku melemparkan senyum padanya dan baru saja hendak menjawab pertanyaannya, namun kudengar bel pintu berdering. "Ya, aku baik-baik saja." sahutku sebelum buru-buru melewatinya menuju pintu depan.


Dua jam berikutnya satu per satu temanku datang, hingga Elliot yang merupakan pusat dari kegiatan malam ini muncul terakhir. Seharian ini Stacey dan aku sengaja mengabaikannya di rumah sakit agar dia tidak mengetahui rencana kami.


"Ini akan menjadi malam paling menyenangkan!" gumamku pada Elliot sambil tersenyum selagi kami berjalan ke pintu rumahku.


Stacey dan yang lainnya sudah menunggu di dalam rumah, dengan sengaja mematikan lampu untuk menambah kesan seolah-olah aku hanya sendiri. Aku mengenakan jaket jins untuk menutupi blouse warna-warni dan berkilau yang kukenakan, berpadu dengan celana jins hitam.


Ketidaktahuan Elliot akan rencana kami membuatku semakin bersemangat hingga tanpa sadar pikiranku teralihkan dari Paul.


"Aku suka tatanan rambutmu," katanya gugup.


Aku tersenyum ke balik bahu. "Aku hanya mengeritingnya sedikit." balasku santai.


"Yah, kau terlihat lebih cantik." Nadanya sangat tulus, tapi entah kenapa aku merasa tak nyaman dengan pujiannya.


"Terima kasih." Aku mencoba tersenyum, memelankan langkah saat mendekati pintu rumah.


Kemudian kurogoh saku jaket lalu mengeluarkan kunci rumah dari sana sementara Elliot menunggu di sampingku. Dari sudut mataku bisa kulihat dia sedang tersenyum memandangiku dengan gugup.


Seharusnya ada alasan baginya untuk gugup, bukan? Aku hanya mengundangnya untuk menonton Netflix di rumahku. Hanya dia dan aku... Oh, tidak, tidak! Senyumku perlahan menghilang saat pikiranku menebak kenapa dia bisa segugup ini. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.


Aku membuka pintu lalu melangkah lebih dulu, bersiap menekan saklar ketika Elliot mengikutiku masuk ke dalam rumah.


"Uhm, Bianka, dengar... Aku tahu kau berhubungan dengan Paul Klug, tapi aku tidak bisa..." gumamnya pelan. Seketika tubuhku membeku menebak kemana arah pembicaraannya.


Kemudian sebelum Elliot sempat melanjutkan kalimatnya, dengan satu gerakan cepat aku menekan saklar, dan teriakan 'SURPRISE!' dari teman-temanku yang berdiri di ruang keluarga terdengar menggema di seluruh ruangan.


Sambil tersenyum, kututup pintu rumah dan memandang raut Elliot yang terkejut. "Holy cow!" cetusnya dengan syok yang alami, lalu satu tawa halus terdengar darinya. "Ba... Apa-apan ini?"


"Selamat ulang tahun!" Mickey, salah satu teman dekatnya, yang pertama kali maju dan memeluknya.


***


"Astaga, aku benar-benar tak menyangka kau menyiapkan ini untukku." Elliot tersenyum lebar, berbicara dengan suara yang lebih keras untuk mengatasi suara musik. "Bahkan kau juga mengundang teman-temanku."


Aku menyesap minuman sembari mengangkat bahu. "Kau harus tahu kalau Stacey paling jago soal menyelidiki sesuatu. Entah dari mana dia mengenal Mickey dan mengajaknya bergabung dalam rencana hari ini."


"That's incredible!"


"Kau pantas mendapatkannya. Kami tahu bagaimana sulitnya menghadapi Dr. Grey pada minggu-minggu pertamamu di rumah sakit, dan kami ingin menunjukkan sedikit dukungan." kataku seraya tersenyum.


"Kau luar biasa, Bianka. Terima kasih." Mendadak aku merasa canggung karena kami hanya berdua di dapur.


"Ah, santai... Aku hanya menyiapkan tempat dan minuman, sisanya mereka yang mengatur."


"Well, aku menghargai upayamu. Aku, uhm... Bisa kita mengobrol sebentar?" Dia bertanya sembari maju mendekatiku.


Aku berdeham sekali untuk mengatasi perasaan tak nyaman yang kurasakan. "Kupikir lebih baik kita bergabung dengan yang lain."


Buru-buru kuraih gelasku dari atas meja lalu langsung melangkah ke ruang keluarga, dimana teman-temanku dan juga teman Elliot sibuk menari sambil mengobrol. Kuarahkan pandangan ke sekeliling ruangan dan mendapati Stacey duduk di sofa bersama Elise, Camille, dan Valerie.


"Hei," sapaku selagi menghempaskan bokong di tengah-tengah antara Camille dan Stacey. Kutarik nafas sebelum menyesap minumanku.


"Ya, tentu saja." gumamku gugup.


Mendadak Stacey menyikut lenganku. "Ada apa?"


Aku menggelengkan kepala. "Nanti kuceritakan, aku hanya..."


"Bianka!" Kepalaku berputar saat mendengar seruan semangat dari Red. "Ayo, temani aku menari..."


Dia mengulurkan tangan padaku, dan aku menaikkan alis terkejut. "Hah?"


"Ayolah, cantik." Dia tertawa lalu menarikku.


***


Kondisiku sudah sangat berantakan pada saat waktu menunjukkan lewat tengah malam, hampir jam 3 pagi.


"No, no. Jangan pulang dulu." Aku menggeleng lemah pada Stacey dan Elise yang hendak pulang. Aku sudah menawarkan agar menginap karena tampaknya mereka benar-benar mabuk. Tapi, yah... tentu saja mereka menolak.


"Ini sudah pagi, Bee. Sampai jumpa hari senin," Elise berbicara sambil memelukku. "Aku akan bergabung dengan kalian pada jam makan siang."


"Sempurna!" sahutku seraya tersenyum begitu pelukan kami terlepas.


"Kau tidak apa-apa kami tinggal, kan?" tanya Stacey dengan alis terangkat sedikit.


Aku mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja."


Kututup pintu rumah setelah Stacey dan Elise menghilang dari jangkauan mataku, dan ketika berbalik, aku tersentak mendapati Elliot berdiri di belakangku.


"Apa aku boleh menginap?" tanyanya. Dengan kadar alkohol yang cukup meracuni pikiran, kecanggungan yang sebelumnya terasa di antara kamo kini sedikit berkurang.


Aku tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Tentu. Tapi, kau dan Valerie harus membantuku membersihkan kekacauan ini besok pagi."


"Tidak masalah," sahutnya. "Aku masih tidak percaya kau mau repot-repot melakukan ini untukku."


"Sebenarnya Stacey dan Mickey yang memiliki bagian paling banyak. Dan, ini bukan kompetisi memberi kejutan atau semacamnya..." kataku sambil mengibaskan tangan ke udara.


Dengan tubuh sedikit limpung akibat lelah bercampur mabuk, kulepaskan hak tinggiku dan menendangnya ke sudut ruangan di dekat pintu.


"Terima kasih." Aku tersentak ketika dia tiba-tiba menarikku ke dalam dekapannya.


"Oh, ya, sama-sama." sahutku, lalu berdeham dan ragu-ragu membalas pelukannya. "Aku senang kalau kau menikmatinya."


Elliot memandangku dengan tatapan yang membuatku gelisah, bukan karena menyukainya, tapi lebih karena tak nyaman. Sambil berupaya menghindari kontak mata, aku berdeham dan lanjut berbicara. "Aku akan naik mengambil bantal dan dan selimut untukmu, okay?"


Dengan langkah tergesa-gesa, aku meninggalkannya di bawah. Elliot pria yang baik, tapi tidak cukup baik untuk menggantikan Paul. Aku menghormati Paul sebagai pasanganku saat ini dan tidak mau Elliot salah paham padaku karena membuat pesta kejutan untuknya di rumahku.


Ketika aku tiba di anak tangga terakhir sambil membawa bantal dan selimut, suara teriakan Valerie terdengar dari atas. "Bianka! Aku sudah mengantuk!"


"Tunggu sebentar!" balasku berteriak.


"Tidurlah," kata Elliot selagi meraih bantal dan selimut dari tanganku. "Sekali lagi, terima kasih."


"Uhm, Elliot..." gumamku gugup. "Aku bersedia menjadikan rumahku sebagai tempat untuk merayakan ulang tahunmu bukan berarti aku... Uhm, kau temanku, okay? Tidak lebih. Jadi, tolong jangan salah paham."


Dia terdiam sambil memandangku selama beberapa saat sebelum berbicara. "Ya, ya, aku tahu maksudmu."


Kelegaan memancar di hatiku. "Bagus. Selamat malam, Elliot."


"Selamat malam." Tadinya kupikir dia benar-benar paham maksudku, tapi ternyata aku salah. Mendadak Elliot maju dan mencium pipiku lalu berbalik dan melangkah ke ruang keluarga tanpa mengatakan apapun lagi.


Dengan perasaan agak kesal merespon sikap Elliit yang kelewatan, kulangkahkan kaki kembali ke kamar. Aku mengganti pakaian, membersihkan riasan, dan naik ke ranjang. Kupeluk Valerie sambil menggumamkan 'selamat malam' padanya.


Begitu posisi tubuhku nyaman dan sudah siap masuk ke alam mimpi, kudengar getaran ponsel di nakas. Aku mengulurkan tangan dan mendapati pesan dari Paul.


From: Paul: Ah, aku juga merindukannya xx


Karena tenaga dan mentalku benar-benar sekarat, aku tak mampu lagi membalas pesannya karena tahu itu akan berlanjut sampai besok sementara yang kubutuhkan saat ini adalah tidur secepatnya.