My Love Journey's

My Love Journey's
Explanation



"Singkirkan tangan kotormu dariku!" Dia menyembur salah satu perawat kami, Henry, yang mencoba membalut pergelangan kakinya dengan perban, untuk menambah tekanan dan mengurangi pembengkakan.


"Bianka," Dr. Grey, yang pertama kali melihatku, menyapa.


Paul mengumpat Henry sebelum mendengar namaku, kemudian memutar kepalanya menolehku yang berdiri di ambang pintu ruang perawatan. Dia berdeham, "Bianka," Matanya yang gelap menatapku lekat-lekat. Aku tidak tahu harus melakukan apa. "Sialan!" Dia mendesis dan mengalihkan pandangan saat Henry mencoba membalut pergelangan kakinya lagi. "Sudah kubilang jangan sentuh..."


"Kalau kau tidak bisa tenang, aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini." kataku tegas, membuat yang lainnya melongo, termasuk Dr. Grey yang kemudian mengangguk setuju padaku.


Aku bersorak gembira dalam hati saat melihat tatapan Dr. Grey yang menyiratkan 'terima kasih' yang sekilas berhasil kutangkap. Tapi itu hanya beberapa detik, sebelum dia bersuara. "Bianka, kau yang mengambil alih, Henry, kau ikut denganku memeriksa Mrs. Hansen. Dia mengalami debaran jantung berlebihan dan nyeri dada." katanya, memberi isyarat pada Henry dengan gerakan tangan agar mengikutinya.


"Tapi, aku..." Kenyataan menghantamku dan dengan segera bermaksud protes.


"Ini bukan terkilir tingkat dua," Dia berhenti di hadapanku dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Aku tidak harus diam disini untuk memastikan kau membalut pergelangan kakinya dengan baik. Temui aku begitu kau selesai, kita akan berkeliling untuk check up malam setelahnya."


"Dok, kau tidak mengerti..." Jika aku memberitahunya soal hubunganku dan Paul, dia pasti berubah pikiran.


"Aku mengerti, percayalah. Para wanita bergosip dimana-mana saat ini." Dia memutar bola mata jengah. "Dia sedang kesal, aku ingin kau menenangkannya. Bersikap profesional dan lakukan pekerjaanmu di sini."


Sebelum aku sempat melayangkan protes lagi, Dr. Grey melangkah melewatiku. Henry tersenyum kaku dan dengan pelan menggumam 'selamat berjuang' padaku, sebelum menyusul Dr. Grey yang sudah menghilang di balik pintu.


Aku menarik napas putus asa sambil mengendalikan pikiranku, lalu menatap Paul dan berjalan mendekatinya. Dia masih mengenakan celana dan baju yang dikenakannya saat pertandingan tadi.


Aku mengamati pergelangan kakinya yang memar, tahu kalau itu tidak terlalu parah. Aku yakin dia tetap bisa berjalan tanpa perlu menggunakan kruk atau semacamnya.


"Ini hanya terkilir biasa, Mr. Klug." Aku memusatkan perhatian pada apa saja selain matanya, berusaha bersikap profesional.


Dia tertawa meledekku. "Kau pasti bercanda. Hanya ada kita disini, kau tidak perlu bersikap sopan."


"Ini perban ACE," Aku meraih perban. "Untuk membantu mengurangi pembengkakan di pergelangan kakimu."


Dia benar-benar terdiam kali ini, membiarkanku membalut pergelangan kakinya yang memar dengan pelan dan hati-hati. Aku bisa merasakan dia sedang memperhatikanku, tapi aku tidak berani memandangnya. Sial, jantungku berdegup kencang!


Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat hingga aku selesai melilitkan perban ACE di pergelangan kakinya. "Kenapa kakimu bisa terkilir?" tanyaku, menegakkan tubuh dan menatapnya.


"Salah satu pemain Kolombia menjegalku. Tapi sakitku sudah terbayar karena dia tidak boleh bermain lagi untuk Piala Dunia tahun ini." katanya menjelaskan, senyum tipis tertarik di sudut bibirnya.


"Oh. Kalau begitu, kau harus mengompres pergelangan kakimu setiap hari, itu akan membantu mengatasi pembengkakan, dan kalau bisa hindari tekanan disana." Aku berdeham sekali, menyadari dia tidak akan senang dengan apa yang kukatakan berikutnya. "Kau bisa kembali bermain sepak bola setelah seminggu mengistirahatkan kakimu."


"Seminggu? Tolong bilang kalau kau hanya bercanda." Paul menghela napas, menjepit pangkal hidungnya.


"Aku tidak bercanda. Seminggu tidak selama yang kau pikirkan, cukup istirahat dan..."


"Love, kau tidak akan paham. Kalau aku harus istirahat selama seminggu, itu artinya aku hanya bermain pada minggu terakhir Piala Dunia. Tuhan tahu kita bahkan tidak mungkin mencapai babak penyisihan..."


Kemudian dia terdiam saat menyadari aku tidak paham soal sepak bola, dan mulai menjelaskan apa itu babak penyisihan. Aku beruntung, Travis sudah memberitahuku lebih dulu. "Babak penyisihan..."


"Saat beberapa negara mulai tersingkir. Aku tahu." Aku mengangguk, dan dia menaikkan alis terkejut. "Jerman berada di puncak grup, kan? Kita punya skor tertinggi?"


"Ya. Dari mana kau tiba-tiba tahu soal sepak bola?" Dia terkekeh, jelas bingung. Aku hanya mengedikkan bahu. "Kepalaku pusing, Bianka." katanya tepat saat aku akan berbalik.


"Aku akan menyiapkan obat untuk itu dan untuk kakimu." kataku sambil tersenyum kaku, lalu berjalan keluar dari ruangannya dengan perasaan lega. Setidaknya aku bisa terhindar darinya selama beberapa menit.


"Kau baik-baik saja?" tanya Stacey begitu aku berdiri di depannya. "Kau terlihat berbeda."


Aku menganggukkan kepala. "Ya, aku baik-baik saja." Aku mengabaikan tatapannya yang penuh pertanyaan. "Aku butuh parasetamol untuk Paul." Stacey mengangguk dan mengambil obat.


"Apa dia sedang kesal?" Dia bertanya sewaktu aku menyandarkan lenganku di konter.


Aku menghembuskan nafas berat, menutup mata sejenak untuk menjernihkan pikiranku. Aku tidak bisa menghalau segala macam hal yang berputar di kepalaku saat ini. "Tolong siapkan untukku juga, ya." kataku menambahkan. "Dan, ya, dia sedang kesal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi dirinya saat ini."


"Oke, babe." balas Stacey. "Aku melihat fotonya bersama Stefanie Giesinger. Apa-apaan itu?" Dia kembali dan menyerahkan sebotol air padaku. Aku langsung meminum obat sebelum menjawabnya dan meraih obat serta air mineral untuk Paul.


"Aku juga tidak tahu," Aku menggeleng. "Kita akan mengobrol lagi nanti. Terima kasih, Stacey."


Aku memberinya senyuman untuk menyatakan terima kasih, yang kemudian dibalasnya sebelum aku memutar arah dan berjalan ke lorong rumah sakit.


"Terima kasih, love."


Aku berdiri disana, mengamatinya, tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apa. Aku sangat membutuhkan penjelasan soal hubungannya dengan super model itu. Aku merasa cemburu dan sakit hati karena hubungan kami hanya sebatas teman, namun ada sisi lain dalam dirimu yang terus mencoba meyakinkanku bahwa Paul tidak mungkin melakukan itu padaku meskipun kami hanya berteman.


Sungguh, aku tidak percaya pada media karena mungkin Paul memang belum sempat bercerita tentang Stefanie Giesinger dan kurasa dia berpikir aku marah padanya soal foto itu. Tapi bukan itu poin pentingnya, seharusnya dia paham kalau aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir berlebihan dan itu membuatku tersiksa.


"Aku akan pergi sekarang. Semoga obat itu bisa sedikit meringankan sakit kepalamu." cetusku dengan canggung, mencoba tersenyum ramah begitu dia selesai meminum obatnya.


Paul menatapku. "Bisakah kau menemaniku sebentar?"


Aku menggeleng cepat, terlalu cepat. "Aku harus segera menemui Dr. Grey. Masih banyak pasien yang harus kami periksa..."


"Kumohon, hanya beberapa menit. Bilang padanya kalau aku mengamuk dan kau harus mencegahku menghancurkan ruang perawatan." dengkurnya riang lalu menyeringai lebar, dan satu tawa kecil tak terduga keluar dari mulutku.


"Apa kau sudah gila? Dia tidak akan percaya."


Paul mengedikkan bahu cuek. "Itu benar. Aku terlalu menggemaskan untuk melakukan itu, kan?"


Aku tersenyum geli. Mendadak merasa nyaman dan hangat walau hanya berbicara sebentar dengannya.


"Duduklah, Bianka." gumam Paul saat aku tidak membalas ucapannya. Aku memperhatikannya selagi dia menggeser tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang, memberi tempat untukku. Aku menyerah, mendaratkan bokongku di depannya dan menunggunya mengatakan sesuatu.


"Kenapa kau mendiamkanku? Kupikir aku tidak melakukan kesalahan apapun, hm?" Well, sepertinya dia benar-bebar penasaran.


Aku menarik napas dan menundukkan kepala. "Karena fotomu dengan Stefanie Giesinger."


Ketika beberapa saat berlalu tanpa dia mengatakan apa-apa tentang hal itu, dan hanya tetap diam, aku mendongak untuk melihat tatapan gelapnya yang berbahaya. "Aku tahu kita hanya berkencan dan tidak ada yang serius, tapi kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Kalau kau memiliki hubungan dengan wanita lain, setidaknya kau bisa sedikit menghargaiku dan menceritakannya padaku." sambungku, mengangkat alis menunjukkan bahwa aku tidak main-main.


"Hubungan kita serius, Bianka" balasnya, meniru ekspresiku. "Aku berteman dengan Stefanie. Sudah kubilang jangan percaya pada media. Lagi pula, seharusnya itu bukan masalah karena memang itu yang kau mau, bukan?"


"Aku tidak percaya pada media, Paul. Aku hanya berpikir terlalu jauh, terutama karena kau mengatakan kalau kau terlalu lelah untuk bertemu denganku meskipun kau sangat menginginkannya. Dan sebagai gantinya, kau malah pergi bersenang-senang dengannya." cetusku, mengulang kalimatnya malam itu. "Dan apa maksudmu mengatakan kalau itu yang kumau?"


"Orang-orang akan mengira hubungan kita sudah berakhir dan sekarang aku berkencan dengan Stefanie. Bukankah itu artinya kita mendapat privasi? Seperti yang kulakukan pada Carl dan Valerie..."


Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha tidak terlalu menanggapi perkataannya karena aku tahu ini akan menjadi buruk pada akhirnya.


"Di foto itu kami terlihat keluar dari klub, love." lanjutnya, tiba-tiba tersenyum lebar. "Kau paham maksudku?"


"Well, no. Kalian masuk ke dalam mobil..."


"Ya, memang. Kami masuk ke dalam mobil, Alfred mengantar kami ke klub lain dan kami bergabung dengan teman-temanku. Apa kau kira aku punya waktu untuk clubbing sementara kami sibuk bertanding di Piala Dunia?"


Aku mengerang dan mengumpat dalam hati saat berhasil menangkap maksudnya. Bianka Becker, kau benar-benar bodoh!


"Kalau begitu, itu foto..."


"Foto lama, ya. Sekitar setengah tahun yang lalu. Kami bahkan tidak di Berlin saat itu, foto itu di ambil di Paris, love." potongnya menjelaskan, dan aku benar-benar malu karena sudah menuduhnya. "Lain kali, kalau melihat fotoku bersama wanita, tanyakan padaku lebih dulu sebelum kau mendiamkanku."


Aku tertawa sambil menggoyangkan kepala. "Atau kau kau bisa memberitahuku lebih dulu sebelum aku mendiamkanmu."


"Boleh juga." Dia mengedikkan bahu, lalu menyeringai senang.


"Omong-omong, aku harus segera pergi sekarang..." Aku berdiri dan merapikan seragamku sejenak. "Biarkan kakimu istirahat sebentar."


Dia mengangguk patuh. "Okay."


Aku mundur selangkah, mendadak merasa berat meninggalkannya. Dorongan untuk mendekatinya lebih kuat dari apapun, namun aku benar-benar harus bekerja sekarang, atau Dr. Grey akan mengomeliku habis-habisan.


"Tunggu disini, aku akan meminta seseorang membantumu keluar melalui pintu belakang. Well, kau tahu, pintu depan sudah pasti dipenuhi wartawan dan paparazi. Hubungi Alfred dan bilang padanya agar menjemputmu disana."


Paul masih menatapku. "Okay. Hm... Bianka, maukah kau membantuku malam ini?"