
Aku sedang berada di dapur rumahku, baru saja selesai menyiapkan ayam panggang untuk makan siang Paul dan aku. Aku juga sudah menata meja dan berusaha menenangkan diri sebelum bertemu Paul. Begitu banyak hal yang terlintas di pikiranku soal pertemuan kami hari ini.
Aku tengah mengirim pesan pada Stacey sebagai upaya pengalihan dari pikiranku yang berkecamuk, namun beberapa menit kemudian kudengar bel pintu rumahku berdering.
"Tenanglah, Bianka. Kau pasti bisa melewati hari ini dengan baik." kataku menyemangati diri sendiri selagi berjalan keluar dari dapur. "Paul yang seharusnya khawatir sekarang, bukan kau." cetusku lagi.
Aku merapikan bagian depan blouse yang kukenakan sebelum membuka pintu.
Paul berdiri disana, memberiku satu senyum paling lembut yang pernah kulihat. Dia tampak sangat tampan, sama seperti biasanya, tapi ada juga raut lelah yang bisa kutangkap dengan jelas pada wajahnya. Aku penasaran bagaimana jadwal istirahatnya belakangan ini.
"Hai," sapanya dengan suara serak yang begitu kurindukan.
Dia mengenakan sepasang celana jins hitam dan kaus putih, sangat santai namun rapi. Aku menyadari kalau dia juga memakai kalung yang kubeli untuknya.
"Hei," Aku terkesiap memandan sebuket kecil bunga mawar merah di tangannya. "Wow."
"Ini untukmu," Dia tergelak lalu memyerahkan bunga itu padaku. Aku menerimanya sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih. Ayo, masuklah..." Aku bergeser sedikit agar dia bisa melangkah ke dalam rumahku.
Kemudian aku melihat Frosty muncul di ruang tamu. Alih-ali menyerang Paul atau menjauh, dia malah maju dan meringkuk di kakinya. Paul menolehku ketika aku sedang menutup pintu, dan seketika tersenyum padanya.
"Frosty merindukanmu," aku menatapnya, sebuah maksud tersembunyi menyelip dalam kata-kataku.
"Bukankah dia membenciku?" balasnya, jelas mengerti maksudku.
"Benci merupakan sebuah kata yang kuat. Dia tidak akan bisa benar-benar membencimu." Aku menggeleng pelan, melangkah mendekatinya. "Dia hanya bingung dan sedikit marah."
"Well, aku tidak mau dia merasa begitu."
Aku terdiam sejenak melihat ke dalam matanya, sebelum menyadari kamiadih berdiri di depan pintu masuk. Aku berdeham lalu melangkah sambil berbicara. "Aku sudah menyiapkan makan siang. Ayo..."
***
"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Paul.
Aku memandang sebuket bunga mawar dari Paul yang sudah kumasukkan ke dalam vas dan sekarang bergabung bersama kami di meja makan. "Karena aku memang harus pergi."
"Kau berusaha kabur dariku? Kalau kau marah setelah aku menjelaskan semuanya padamu, lantas kenapa kau mau bercinta denganku malam itu?" Dia menaikkan alisnya, membuatku menarik nafas setelah menelan sepotong brokoli.
"Aku tidak ingin kau tahu kalau aku sedang marah padamu. Itu pasti akan mempengaruhi permainanmu di final, dan aku... aku tidak mau menjadikan diriku sebagai alasan atas kekalahanmu." gumamku, mencoba menjelaskan. "Rasanya tidak adil bagimu, Paul. Meskipun saat itu aku marah padamu, aku tidak mau menghancurkan mimpimu."
Dia terdiam selama beberapa saat, memandangku lekat-lekat. "Andai saja kau tahu, setelah kita berkencan, kalau memang aku tidur dengan wanita lain, tidak mungkin ada kata 'kita' sekarang..." katanya menyimpulkan, lalu memotong ayam di piringnya.
"Aku tahu, kok. Hanya saja, aku merasa lucu mengetahui reaksimu ketika aku menghabiskan waktu bersama Travis, sementara kau sendiri tidur dengan wanita lain, kan? Yah, meskipun saat itu hubungan kita hanya sebatas kencan biasa, maksudku tidak ada keseriusan sama sekali."
Paul menghela nafas dan mengangguk. "Itu tak adil untukmu. Aku sadar seharusnya aku menceritakan soal itu padamu, namun pada saat yang bersamaan aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak mau kedekatan kita berakhir."
"Itulah sifatmu, Paul. Kau egois."
"Ya, aku tahu. Aku hanya... aku merasa menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Dan aku membutuhkanmu."
"Terkadang, aku tidak menjadi diriku sendiri saat bersamamu." balasku. "Aku terlalu lembut padamu, sementara kau selalu menguasaiku. Kau tahu, aku hampir saja menyakiti Carmen pada hari ketika aku hendak kembali ke Jerman. Itu sama sekali bukan diriku, Paul..."
"Kau hampir menyakiti Carmen?" Perhatiannya meningkat, aku menangkap nada geli pada suaranya.
"Wow."
"Kau sendiri tahu itu bukan diriku, kan? Aku tidak akan pernah menyakiti orang lain, Paul." kataku, mengerutkan kening.
Paul menganggukkan kepala. "Ya, aku tahu itu. Maaf kalau tanpa kusadari aku telah merubahmu, aku tidak pernah berniat begitu..." sahut Paul, tampak seakan benar-benar memahami pengaruhnya terhadapku.
"Bukan kau yang merubahku, Paul. Tapi keadaan ketika kita menjalin hubungan. Hidupmu terlalu rumit sementara aku hanya wanita biasa..." cetusku, lalu menyesap wine.
"Aku memang bersalah, Bianka. Seharusnya aku mengatakannya lebih cepat, itu satu-satunya halyang benar untuk dilakukan. Well, semuanya sudah berakhir sekarang. Mereka sudah menandatangani kontak, menghapus video, dan menerima bayaran untuk itu." gumam Paul. "Lucy dan Carmen sudah menghilang dari kehidupan kita, dan juga kehidupan Louis."
Aku hanya diam mendengarkannya sambil menyesap wine di gelasku, hingga pertanyaan Paul berikutnya membuatku sedikit tersentak.
"Apa kau ingin mengakhiri hubungan kita?"
Aku mengerjap. "Bagaimana denganmu?" balasku bertanya. Aku ingin mendengar pendapatnya.
Paul menempelkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menyisir rambutnya dengan sebelah tangan. Aku tahu dia tidak senang membahas topik ini. "Aku ingin membuatmu bahagia, kau tentu tahu itu. Aku tak mau membiarkanmu terus-menerus merasa stres dan cemas saat bersamaku. Aku rela melepaskanmu jika itu membuatmu nyaman."
"Paul, aku..." Aku tidak dapat menyusun kata untuk menjawab kalimatnya yang seakan menamparku. Aku hanya memandangnya. Dia ingin mengakhiri hubungan kami hanya untuk membuatku merasa nyaman?
Aku tahu dia mencintaiku, dan ucapannya barusan cukup membuktikan itu. Tiba-tiba semua kesedihan dan kebingungan yang kurasakan, dan juga yang kutahu, berhasil menguasaiku, dan tanpa kusadari air mata kecil meluncur di pipiku.
"Bianka? Kumohon, jangan menangis..." Paul menjulurkan tangan untuk meraih tanganku. Alih-alih membiarkannya melakukan itu, aku justru menggelengkan kepala dan meraih serbet, lalu mengusapkannya ke wajahku sambil berusaha menenagkan diri.
"Maaf. Aku tidak tahu kenapa aku menangis." cetusku, mengeluarkan tawa canggung sementara membuang pandangan dari Paul. Kuyakin air mataku akan mengalir semakin deras jika menatapnya lebih lama.
Perlahan-lahan hatiku terasa hancur berkeping-keping, dan aku tidak tahu penyebabnya. Meskipun begitu, aku menyadari ucapan Paul memang benar. Hidupku pasti lebih tenang jika kami mengakhiri hubungan ini.
"Dengar, Bianka. Kau tidak perlu cemas ketika berada di depan publik, orang-orang takkan lagi membencimu, dan kau juga tidak harus memaksakan diri masuk ke dalam hidupku yang rumit." sambung Paul. "Kau bisa fokus pada kuliah dan pekerjaanmu, dan melanjutkan hidupmu dengan baik seperti sebelumnya. Sebelum kita bertemu."
Semua yang dikatakannya merupakan kebenaran. Tapi ada juga sesuatu yang keliru disitu; aku tidak bisa bersamanya.
Aku sudah jatuh cinta padanya, disamping semua masalah yang sudah terjadi. Aku benar-benar putus asa dan tak sanggup membayangkan bagaimana hidupku jika kami berpisah.
"Kau segalanya untuk..."
Aku berdiri, membuat Paul terdiam.
"Mau wine lagi?" tanyaku. "Aku akan mengambilnya. Uhm... tunggu sebentar..."
Tanpa bisa kucegah, air mataku meluncur lebih deras begitu aku berbalik dan melangkah menuju dapur. Ini merupakan hal paling menyakitkan yang pernah kualami setelah kepergian ibuku. Aku, entah bagaimana sulit melepaslan diri dari Paul. Dia begitu kuat mengikatku, dan semua itu tak disadarinya sedikitpun. Aku tidak mau menyalahkannya, tapi tetap saja aku merasa marah padanya.
Sebesar apapun keyakinanku pada Paul, ini hanya membuatku semakin tampak menyedihkan. Entah menjadi lebih baik atau buruk, Paul sudah berhasil merubah hidupku. Aku tidak mungkin sanggup kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.
Aku bersembunyi di dapur, berpegangan pada tepi konter sambil menikmati panasnya air mataku sendiri. Kemudian aku mengumpat dalam hati. Paul sudah menyakitiku dengan menyimpan rahasia tentang adikku, namun itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan besarnya perasaanku padanya.
Sampai akhirnya aku tiba pada satu kesimpulan. Aku ingin melupakan masalah ini, memperbaiki apa yang salah, dan kembali bersama Paul. Aku menegakkan tubuh, menyapu air mata di wajahku dan kembali berjalan ke ruang makan untuk mengatakan itu kepada Paul.
Aku membeku begitu menyadari dia tidak berada disana. "Paul?" panggilku, menelan ludah.
Lalu aku mulai berjalan ke pintu depan, membukanya dengan cepat. Tepat saat itu aku melihat mobilnya sudah melaju.