
"Happy birthday!!!"
Aku terlonjak begitu masuk ke dalam apartemen Yola, tidak menyangka akan mendapat kejutan sama sekali. "Ya ampun. Kalian hampir membuatku terkena serangan jantung." kataku. "Tapi, terima kasih, terima kasih."
"Aku yang merencanakan semuanya. Apa kau terpesona padaku sekarang?" Aku beralih menatap Dean, dia menyeringai genit.
"Ah, benarkah? Maaf, aku kurang terpikat, Playboy!" balasku bergurau.
Dia meringis. "Lihatlah. Aku sudah berjuang mati-matian saja dia masih belum menerimaku. Apa lagi yang harus kulakukan untuk mendapatkanmu, Karen?" katanya, dengan raut putus asa.
"Diamlah, Patrick!" sembur Yola.
"Apa yang kau maksud berjuang mati-matian itu adalah menghabiskan makanan sementara Yola dan aku sibuk mendekorasi ruangan?" Theo menimpali dengan sinis, lalu menarikku ke dalam. "Dia kebanyakan menonton film romantis sad-ending, jadi jiwanya ikut-ikutan berubah melankolis."
Aku tertawa. "Kenapa kau yang kesal, he?" godaku.
Kami duduk di ruang tengah apartemen. Aku tersenyum memandang ruangan yang kini terlihat meriah, hidup, dan penuh warna seperti dinding bangunan TK. Biasanya ruangan ini seperti tak berpenghuni, Yola tidak pernah peduli apa yang terjadi dengan apartemennya. Dia hanya tinggal untuk istirahat dan mengganti pakaian, selebihnya dihabiskan di kantornya.
"Aku punya kado untukmu," kata Dean, menjulurkan sebuah kotak hitam berpita putih. "Bukalah saat kau di rumah."
Aku menyipitkan mata menatapnya. "Aku jadi curiga. Jangan bilang kau membelikan sesuatu yang mahal, karena aku..." tanyaku, menerima kotak itu.
"Aku tahu." sambarnya. "Itu bukan apa-apa, Bianka. Lagi pula, aku takkan menguras tabunganku untuk membuatmu terpikat." Dia menggelengkan kepala beberapa kali, mungkin putus asa menghadapi sikap kerasku.
Theo, Yola, dan aku serentak mengeluarkan gelak tawa. "Malang sekali nasibmu, Dean." cetus Yola, lalu meraih gelas wine miliknya dan menenggak isinya sedikit sebelum menolehku. "Bagaimana kabar ibumu?"
"Baik. Perkembangannya luar biasa. Aku mampir ke rumah sakit sebelum kemari, dan dokter bilang dia jauh lebih sehat dari sebelumnya." jawabku.
Sangat banyak peristiwa yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Tapi, yang paling mengejutkan adalah pertemuanku dengan ibu kandungku yang telah meninggalkan kami karena takut kehadirannya akan menjadi pengaruh yang buruk untukku dan Louis. Aku baru mengetahui semuanya saat bertemu dengannya di rumah sakit.
Franda, kakak sepupuku, dia yang mengurus ibuku selama beberapa tahun. Ketika dia dan suaminya mengetahui keberadaan ibuku yang saat itu ternyata masih di Jerman, mereka memutuskan membawanya ke Jakarta dan membantunya mengatasi kecanduan alkoholnya.
Pada awalnya, aku menolak dengan keras untuk menemui ibu kandungku. Hatiku masih terlalu sakit mengingat kepergiannya, dan sikapnya yang mementingkan diri sendiri tanpa peduli perasaan anak-anak dan suaminya. Tapi, kemudian ayahku, yang entah karena terlalu mencintai istrinya hingga menutup mata atas kesalahannya, atau karena dia memang memiliki hati seluas samudra, dia memohon padaku agar memaafkan dan menemui ibuku.
Tidak mudah untuk melupakan kesalahannya, namun aku mencoba memaafkan setelah melihat kondisinya yang memilukan. Dia menderita. Tak ada sedikit pun cahaya di matanya saat aku menatapnya. Yang kulihat hanya perasaan bersalah dan penyesalan yang dalam. Jadi, setelah mendengar setitik naluri kemanusiaan sebagai anak, aku mencoba memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya meski aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Tepukan di lengan membuatku tersadar dari lamunan. Aku mengerjap, menoleh Theo. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya, mengulurkan segelas wine untukku.
Sambil menerima pemberiannya, aku berbicara, "Bukan apa-apa." kataku, beralih memandang Dean yang menari di depan kami mengikuti irama musik. "Woohoo! Ke kiri." seruku.
Dia menurut, memutar tubuhnya ke kiri lalu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, membuat kami tertawa. "Tak ada yang mau bergabung?"
"Uuuh, buruk sekali." Yola meringis. "Lebih baik kau berhenti sebelum mematahkan pinggulmu." katanya lalu terpingkal-pingkal.
"Hei, aku berpengalaman, ya." protes Theo. "Kuharap kau tidak melupakan peristiwa Hard Rock." Dia menyeringai penuh arti sementara Yola mendengus kesal.
"Peristiwa apa?" tanyaku penasaran.
"Kami bertaruh siapa yang lebih dulu berhasil mendekati seorang pria di Hard Rock, dan dia menang." sahutnya, lalu tersenyum licik. "Tapi, dua minggu kemudian pria itu menendangnya. Well, itu diluar dugaan karena sepertinya dia pria baik-baik." Dia berbicara dengan suara lebih pelan agar Theo tidak mendengarnya.
"Tidak ada pria baik-baik yang mencampakkan wanita, Yola."
"Aku tahu. Aku hanya bilang 'sepertinya'," Dia menatapku dengan serius, tampak ragu sejenak lalu bersuara. "Apa kau masih mengharapkannya?"
Perubahan topiknya yang mendadak membuat perutku mual. Aku tahu yang dia maksud adalah Paul, dan meskipun mereka tidak saling mengenal, tapi Yola mengetahui cukup banyak tentang Paul. Dia satu-satunya orang yang kupercaya untuk berbagi banyak hal dan menampung segala keluh kesahku.
Aku menelan ludah, menatap gelas di tanganku. "Aku tidak tahu." jawabku dengan jujur. "Bisakah kita membahasnya lain kali? Aku tidak mau menangis hari ini."
Dia tersenyum, lalu mengangguk dan memelukku. "Aku akan selalu di sini kapanpun kau butuh, okay? Jangan pendam semuanya sendiri, kau bisa gila." gumamnya lembut sambil mengusap punggungku.
"Terima kasih." Aku menarik diri. "Ayo, aku mau minum sampai tak sadarkan diri."
Dia memukul lenganku. "Terakhir kali kau bilang begitu, pagi harinya kamarku tenggelam oleh muntahan." gerutunya kesal. "Sial, aku bahkan harus rela libur karena mengurusmu."
Aku mengangkat bahu. "Itulah gunanya teman yang bisa merangkap sebagai ibu," kataku sembari melangkah mendekati Theo dan Dean, lalu menari bersama mereka.
Kami makan, minum, menari dan mengobrol hingga lewat tengah malam, lalu Yola dan aku memutuskan istirahat setelah Dean dan Theo pulang. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Terkadang, ada saat-saat dimana aku membutuhkan suasana seperti ini untuk mengalihkan pikiran sejenak dari rutinitas yang membosankan dan tanpa tujuan jelas.
Setiap hari aku hanya bekerja. Itu satu-satunya hal yang bisa membuatku bersemangat, karena setelah berada di rumah, kesepian yang terasa seolah selamanya akan menghantui, membuatku teringat pada seseorang yang sangat ingin kulupakan, namun tidak pernah berhasil meskipun sudah tiga tahun berlalu.
Ya, aku tahu aku lemah, atau bodoh, atau tak punya pendirian, tapi aku tidak sanggup menipu diri sendiri dengan mengatakan aku baik-baik saja. Tidak. Kehidupanku memburuk sejak peristiwa mencekam itu.
"No, please, no... Paul, please, don't leave me." Aku memohon dengan berlutut di kakinya, melupakan harga diri dan menjatuhkan diriku serendah-rendahnya.
"Kau membunuh anakku, Bianka. Aku tidak akan memaafkanmu." Wajahnya memerah sementara matanya berkaca-kaca.
Aku menangis, memeluk kakinya sambil menahan sakit di perutku. "Kumohon, Paul. Maafkan aku."
"Menghilanglah dari kehidupanku untuk selamanya."
"Tidak, tidak, tidak. Kumohon, beri aku kesempatan. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak mau. Please, please, please, please... PLEASE!!!"