My Love Journey's

My Love Journey's
He is not Paul



Keesokan paginya, aku menemukan sebuket bunga mawar merah segar beserta selembar kartu ucapan di depan pintu saat hendak pergi bekerja. Aku merunduk untuk meraihnya, lalu membuka kartu itu dan membaca tulisannya.


'Aku minta maaf karena telah membuatmu menderita, Bianka. Kuharap harimu menyenangkan. Aku mencintaimu. ~Paul'


Pada detik itu, aku tak dapat menahan senyum yang secara spontan tertarik di sudut bibirku sambil membaca tulisannya lagi dan lagi, sampai aku tersadar bahwa aku akan terlambat jika terus berdiri memandangi kartu itu seperti orang gila. Aku masuk ke mobil dan meletakkan buket bunga itu di kursi penumpang. Kapan dia meninggalkannya? Apa mungkin tadi malam? Tidak mungkin dia menyetir pagi-pagi untuk menaruhnya di depan rumahku. Lagi pula, tidak ada toko bunga yang buka sepagi ini.


Rasanya luar biasa menggetarkan mengetahui Paul memiliki kemampuan untuk membangkitkan sesuatu yang lain dalam diriku hanya dengan sebuah perlakuan kecil. Ya Tuhan, aku sangat mencintainya hingga terasa menyakitkan. Perasaan ini membuatku rapuh, dan aku menyadari bahwa aku tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak melompat ke pelukannya untuk waktu yang lama. Hatiku sudah menjadi milik Paul sepenuhnya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk membantah itu.


Aku mampir di sebuah kedai kopi tak jauh dari rumah sakit untuk membeli asupan yang akan membantuku hari ini. Beruntung ini hari sabtu, jadi lalu lintas tidak terlalu padat. Aku mencintai Jakarta tapi tidak dengan jalanannya. Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah jika sedang santai seperti ini, tapi lain hal saat aku menerima panggilan darurat dari rumah sakit. Kemacetan bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa yang seharusnya bisa di selamatkan.


Aku menyapa Lulu, salah satu rekanku saat kami berpapasan di depan pintu ruang ganti. Di sini aku bekerja lebih profesional di banding ketika di Jerman. Aku berupaya menjaga urusan pribadi untuk diriku sendiri dan menjauhkannya dari obrolan dengan rekan-rekanku. Terlalu dekat dengan rekan kerja terkadang bukan hal yang bagus.


Lagi pula, aku punya Yola, Theo, dan Panda, kakakku, yang selalu siap menerima segala sampah perasaan yang kutumpahkan. Sejak kemarin, mereka menggangguku di grup chat, bertanya ini itu tentang Paul. Aku membiarkan mereka ribut, merasa terhibur oleh kekesalan mereka saat aku tidak mengatakan apa pun. Hari ini, aku baru bergabung saat jam makan siang.


Minggu depan merupakan hari ulang tahun Panda, dan dia sudah memiliki rencana untuk merayakannya bersama kami. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Dia dan suaminya akan membuat sejenis pesta api unggun di daerah puncak.


Panda: Aku mengundang Paul.


Aku memutar bola mata. Tentu saja. Balasku.


Panda: #teamPaul


Yola: #teamPaul all the way baby😘


Theo: Buanglah sampah pada tempatnya. Selamat tinggal, sampah! #teamSebastian


Mia: I love you, Theo💋 Selamat tinggal, sampah! #teamSebastian


Cuitan mereka membuatku tertawa dan merona sekaligus. Tapi omong-omong, apa yang membuat Panda menentang Sebastian? Kurasa aku perlu menanyakannya nanti.


Aku senang ditempatkan di klinik pediatri karena tidak terlalu repot. Namun, pada banyak kesempatan aku harus membayar ketenangan itu dengan menelan pil pahit jika melihat seorang anak yang usianya sama dengan anakku andai aku berhasil melahirkannya. Andai saja...


Saat akan masuk ke ruang ganti untuk menaruh dompet setelah makan siang, aku melihat Sebastian berjalan ke arahku sambil memegang tangan Kevin. Aku tersenyum sekaligus merasa bersalah pada saat yang bersamaan. Rasanya seperti aku baru saja mengkhianatinya meski sebenarnya hubungan kami belum serius dan tidak Paul dan aku juga tidak melakukan sesuatu.


"Hei," katanya saat sudah berdiri di depanku.


Aku tersenyum. "Hei, apa kabar?"


"Baik," Dia mengarahkan pandangan ke sekitar dengan gugup dan aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya bahkan sebelum dia berbicara. "Mau makan malam denganku nanti? Kakakku pulang lebih awal hari ini dan dia ingin menghabiskan waktu bersama Kevin, jadi hanya ada kita berdua kali ini." gumamnya lembut agar tidak terdengar oleh Kevin.


Aku menatap Kevin yang sedang memandang ke sudut tempat bemain anak di klinik pediatri. "Okay,"


"Bagus," Sebastian menyeringai. "Aku akan menjemputmu jam tujuh, bagaimana?"


Aku mengangguk. "Sounds good."


"Baiklah. Sampai jumpa." Dia tersenyum sebelum berbalik. "Come on buddy," katanya pada Kevin.


"Bye, Miss." Kevin melambaikan tangan padaku.


"Bye, Kevin."


Aku mengamati sejenak dua orang yang berjalan saling bergandengan tangan itu. Sekeren apa pun kedengarannya mengencani dua pria sekaligus, aku tahu bahwa aku tak bisa melakukan itu pada Sebastian. Aku harus jujur padanya. Kenyataannya adalah bahwa aku masih mencintai Paul, dan jauh di lubuk hatiku yang terdalam aku ingin hubungan kami kembali seperti dulu. Aku tak boleh egois karena bukan hanya diriku dan Paul yang terlibat. Sebastian benar-benar pria yang baik. Dia pantas mendapatkan wanita yang baik dari pada menunggu seseorang yang sudah menambatkan hatinya pada orang lain.


Setelah jam kerjaku berakhir, aku mampir ke rumah Panda dengan membawa dua kotak pizza dan sekotak donat untuk anak-anak. Aku mendapati dia sedang duduk di ruang keluarga bersama Mia dan Jason. "Star Wars never died, huh?" kataku, mengomentari layar TV yang menayangkan Star Wars.


Aku meletakkan kotak-kota pizza dan donat sementara Jason menjawab. "Nope. Legend live forever." Dia membuka kotak lalu mengambil sepotong pizza. "Lihatlah, love, Bianka tahu kapan harus datang." katanya sambil mengedipkan mata padaku. "Thank's."


"Aku ahlinya membaca keadaan," balasku, menyeringai.


Mia mendengus. "Jika menyangkut orang lain, ya. Akui saja bahwa kau bodoh terkait dirimu sendiri." Dia dan komentar pedasnya takkan bisa membiarkan seseorang hidup dalam ketenangan.


Panda meringis. "Jangan dengarkan dia," katanya, lalu melanjutkan saat aku duduk di sebelahnya. "Jadi, bagaimana kelanjutan drama percintaan yang sepertinya tak akan berakhir itu?" Dia bertanya sambil mengambil sepotong pizza.


"Paul memintaku memberinya kesempatan," jawabku.


"Dan?" desak mereka serentak.


Aku menghela napas. "Aku mencintainya. Dia menyakitiku dan aku masih mencintainya. Sial sekali hidupku, ya?"


"Itulah saat kau menyadari bahwa perasaanmu memang tidak main-main," kata Panda, mengangkat bahu.


"Tapi, aku takut merasakan sakit untuk kedua kalinya. Kalian sendiri tahu bagaimana kondisiku pada tahun pertama kami berpisah."


"Yup! You got a point." Mia menyetujui.


"Tapi," kata Panda. "Ada sesuatu yang memaksanya melakukan itu padamu, kan? Kejadiannya tidak seperti dia sengaja ingin membuangmu dari hidupnya."


Aku mengernyit memandangnya. "Kenapa kau sangat ingin aku kembali padanya? Last time I checked, you really hate him."


Dia mengangkat bahu, berbicara sambil mengunyah. "Aku sudah melihat seburuk apa keadaanmu saat kalian berpisah, Sist, dan aku tahu dia yang menyebabkan itu, tapi dia juga pria yang tepat untukmu. Aku bisa melihat letupan bahagia di matamu ketika kau menatapnya."


Aku memandang TV sambil berpikir. "Ironis sekali. Seseorang yang berpotensi menyakitiku seakan tidak ada orang lain yang bisa melakukannya, dan dia juga seseorang yang bisa membuatku bahagia."


"Itulah cinta," kata Jason.


"Omong kosong," gerutu Mia. "Aku tidak percaya cinta, karena perasaan itu hanya akan membuatmu lemah."


Jason mengerang. "Jadi, kau tidak mencintaiku selama ini?"


Mia menggeleng, sementara Panda dan aku terkikik melihat reaksi terkejut di wajah Jason. "Aku menikah denganmu karena Panda yang memaksaku. Berterima kasihlah padanya"


"Mia,"


"Apa?" sahut Mia ketus, yang membuat Jason menciut. Dia bisa saja mengatakan tidak percaya cinta, tapi aku dan siapapun yang melihat interaksi mereka berdua akan mengatakan hal sebaliknya, bahwa Mia sangat, amat sangat, mencintai Jason.


"Tidak." sahut Jason ragu-ragu, kemudian tersenyum pada istrinya. "Yang penting aku mencintaimu," Dia mencium kening Mia.


"Dimana suamiku? Astaga, aku merindukannya." Panda pura-pura memasang raut sendu.


Tepat pada saat itu, terdengar suara serak dan dalam. "Aku disini, Sayangku." kata Sean, berjalan cepat mendekati Panda dan melabuhkan ciuman singkat di bibirnya. Dia baru saja pulang dari kantor.


Mereka tertawa. "Bagus kalau kau sadar," cetus Mia, bersandar di pundak Jason. "Aku mendukung Sebastian. Tapi, aku akan tetap menghargai apa pun keputusanmu. Jadi, cepat tentukan siapa yang akan menjadi bagian dari keluarga ini sebelum ubanmu terlihat."


Aku memutar bola mata. "Bijaksana sekali," balasku sinis. Aku menatap Panda. "Aku akan ke kamar anak-anak dan bermain dengan mereka sebelum pulang."


"Go #teamSebastian," kata Mia.


"No. #teamPaul forever." balas Panda.


Aku hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.


Setengah jam kemudian, setelah bermain dengan Ben, Lily, dan Karen, aku pulang ke rumah dan langsung bersiap-siap sebelum Sebastian datang. Aku mengenakan celana jins biru yang berpadu dengan blus putih dan sandal strappy putih. Aku masih bingung bagaimana cara mengatakan pada Sebastian tentang Paul, tapi sekali lagi, aku harus jujur padanya.


Aku masih menunggu Sebastian saat ponselku berdering. "Halo?" kataku.


"Hei, Rapunzel," balas Paul dari ujung sambungan.


"Yes, how are you?"


"Better now since I hear your voice," sahutnya, membuatku tersenyum.


"Terima kasih untuk bunga tadi pagi." Aku memandang mawar merah darinya yang sudah kumasukkan ke dalam vas dan berdiri di atas meja ruang tengah.


Dia terkekeh. "Syukurlah tidak ada yang mencurinya." Aku ikut tertawa. "Bianka, dengar... waktuku tidak banyak tapi aku ingin mendengar kau mau menghabiskan waktu denganku besok?"


Aku melihat kalender jadwalku, dan beruntung besok aku libur. "Uhm, okay."


"Great. I can't wait to see you," Aku menangkap suara berisik di belakangnya. Apa yang dilakukannya? "Maaf, aku harus melakukan sesuatu. Sampai jumpa besok, love."


"Alright. Bye, Paul." Aku baru akan menutup panggilan saat dia kembali memanggilku.


"Oh, Bianka?"


"Yes?"


"Jangan lupa bahwa aku selalu mencintaimu," katanya. "Bye."


Aku tidak tahu kenapa kata-katanya membuatku merasa emosional, tapi saat ini mataku berair. Aku menyukai kenyataan bahwa Paul tak pernah takut mengungkapkan perasaannya padaku. Salah satu kelebihannya adalah dia selalu memegang teguh ucapannya, dan seharusnya itu cukup menjadi alasan untukku menerimanya. Tapi, aku masih harus memastikan kalau dia memang bersungguh-sungguh.


Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan di pintu rumahku. "Sudah siap?" tanya Sebastian saat aku membuka pintu.


"Ya," aku tersenyum. "Apa kau keberatan jika kita makan di dekat sini?"


"Sama sekali tidak. Kalau tidak salah ada restoran jepang tak jauh dari sini, bukan?"


Aku mengangguk. "Sekitar seratus meter dari gerbang depan. Mau jalan kaki?"


Sekarang giliran Sebastian yang mengangguk. Dia mengunci mobilnya lalu kami mulai berjalan. "Bagaimana harimu?"


"Sama seperti biasanya," sahutku, memandang lurus ke depan. "Kau?" Aku balik bertanya.


"Aku berhasil menjual rumah hari ini, jadi cukup bagus."


Kami berjalan dalam keheningan selama beberapa saat sebelum aku berbicara. "Sebastian, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." gumamku pelan.


Dia menolehku. "Apa?"


"Mantan suamiku datang kemarin sebelum kita pergi," Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup. Rasanya aneh mengatakan Paul sebagai mantan suami.


"Ah," dia mengangguk lemah. "Itu kenapa kau lebih banyak diam kemarin."


"Ya, aku minta maaf. Aku tak bermaksud begitu."


"Jadi?" tanya Sebastian. "Apa kau akan kembali padanya?"


"Aku belum tahu," sahutku. "Paul dan aku..." Aku mengalihkan pandangan ke depan sambil memikirkan apa yang harus kukatakan. "Hubungan kami rumit. Dia meninggalkanku saat aku keguguran. Awalnya kukira dia memang ingin kami berpisah, tapi belakangan aku baru tahu bahwa dia mengalami kecelakaan setelah kami bertengkar dan dia menutupinya dariku." Aku melirik Sebastian untuk melihat perubahan ekspresinya. Dia tampak mengerti.


"Hmm, okay."


"Ya, aku tidak tahu kemana arah hubungan kami selanjutnya."


"Dan, kau masih mencintainya." katanya tegas.


"Aku tidak mau membohongimu, Sebastian," gumamku pelan. "Ya, aku masih mencintainya. Sepertinya akan terus begitu sampai aku mati, tapi dia menyakitiku, itulah kenapa aku belum bisa menerimanya. Well, dia meminta kesempatan kedua, dan kupikir tidak ada salahnya untuk itu."


"Apa kau menerima tawaranku malam ini karena kasihan?" tanyanya.


"Oh, no. Not at all." sahutku cepat. "Yang benar adalah, aku tidak tahu harus melakukan apa. Sebelum dia datang, aku benar-benar ingin mencoba hubungan yang serius denganmu dan sekarang aku... aku bingung." Dan frustasi pada diriku sendiri. Dan takut. Dan masih sangat mencintai Paul.


"Aku tahu kau mencintai seseorang, Bianka." kata Sebastian setelah beberapa detik terdiam. "Berarti dia sainganku sekarang?"


"Sebastian, aku tidak mau kau membuang waktu untuk..."


"Bagaimana kalau kita mencoba sebentar lagi dan melihat hasilnya nanti?" Dia tersenyum padaku. "Aku benar-benar menyukaimu dan jika kau mau, kita bisa menghabiskan waktu berdua agar kau mengetahui siapa yang lebih kau inginkan berada di sisimu. Dan, katakan padaku setelah kau menemukan jawabannya."


"Apa kau tidak keberatan jika aku juga mengencani mantan suamiku?"


"Kita sudah dewasa, Bianka." katanya. "Lagi pula, hubungan kita masih samar-samar. Tapi aku ingin bertemu dengannya. Kau tahu, untuk melihat sebaik apa persiapan musuhku." Dia terkekeh, dan aku tahu itu hanya gurauan.


Aku mengeluarkan tawa gugup. "Kupikir kalian berdua akan akrab."


"Well, kami memiliki selera yang sama," Dia menyeringai sambil menyenggol bahuku dengan bahunya.


Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Aku pasti sudah gila!"


Kami tiba di restoran jepang dan mengobrol ringan sambil menikmati sushi. Sebastian tidak menanyakan apa pun lagi tentang Paul, alih-alih dia ingin tahu tentang keluargaku, jadi aku menceritakan padanya soal ayah, ibu, dan Louis. Aku merasa jadi lebih sungkan padanya karena dia begitu baik, bijaksana, dan memberiku perhatian selama kami mengobrol.


Sepanjang sisa malam itu sampai tertidur, aku terus berusaha memikirkan kebaikan Sebastian. Tapi pada akhirnya kesimpulan yang kudapatkan tetap sama, dia bukan Paul.


He is not Paul! Never. Ever.