
"Bianka, apa kau mau ikut bertemu teman-temanku?"
Aku dan Anne baru saja keluar dari dapur, kami sedang tertawa seperti dua remaja yang bahagia, dan aku buru-buru menghentikan tawa saat Paul tiba di depan kami.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku, menoleh untuk mencari jam dinding.
"Jam sembilan. Mereka sedang berada di bar, tak jauh dari sini." sahut Paul.
"Oh, well, kurasa..."
"Mereka sangat ingin melihatmu. Kami sudah berteman sejak TK." cetus Paul. "Dan aku sangat ingin kau mengenal mereka." Dia tersenyum, mencoba membujukku.
"Baiklah, aku ikut." Aku membalas senyum Paul, lalu melepaskan pegangan tanganku di lengan ibunya yang sedang menguap dan kini memelukku.
"Bagus! Aku akan mengabari mereka..." suaranya menghilang saat dia menjauh sambil memainkan ponsel.
Aku menikmati momen berada di pelukan Anne yang hangat dan menenangkan, sejenak membayangkan bagaimana jika aku merasakan pelukan semacam itu dari itu setiap hari. Pasti bahagia sekali rasanya. Jika mengingat ibuku, hampir tidak ada kenangan baik yang kualami saat bersamanya. Sejak aku kecil selalu ayahku yang berperan melakukan tugasnya sebagai orang tua, ibuku tidak pernah melakukan apapun selain mabuk dan marah-marah tak jelas apa sebabnya, hingga dia memutuskan pergi meninggalkan kami.
Aku bersyukur Anne bisa menerimaku menjadi bagian dari hidup anaknya, dan semoga suatu hari nanti benar-benar menjadi bagian dari keluarganya juga.
"Kau gadis yang luar biasa, Bianka." gumamnya lembut, suaranya penuh emosi. Kami menarik diri, lalu aku mengernyit begitu mendapati air mata menetes di pipinya. Namun, dia tetap tersenyum. "Jangan khawatir, itu air mata bahagia." katanya, mengusir kecanggungan itu dengan tawa kecil. "Aku sangat bersyukur Paul bertemu denganmu."
"Terima kasih, Anne. Kau sangat baik... Sekarang kurasa aku juga ingin menangis."
Dia tertawa dan memelukku lagi.
***
Setelah mengganti pakaian dan bersiap-siap, aku memastikan Frosty sudah mendapatkan semua yang dia butuhkan. Lalu kuputuskan menunggu di dalam mobil sementara Paul minta waktu sebentar untuk mengobrol secara pribadi dengan ibunya.
"Berapa lama kita berada disana?" tanyaku sambil memoles bibir dengan lipstik saat Paul masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman.
Tadi dia sempat mengatakan perjalanan ke bar untuk bertemu teman-temannya hanya beberapa menit karena jaraknya tak terlalu jauh.
"Selama yang kau mau. Kita mengobrol sebentar sambil minum-minum, lalu pulang kalau kau bosan." sahutnya. "Lagi pula, masih ada hal lain yang harus kita bicarakan."
"Memang apa lagi yang perlu dibicarakan?" tanyaku gugup.
Paul terkekeh, menolehku sekilas. "Bukan hal buruk, love. Aku ingin membahas masa depan kita."
Aku mengernyit bingung padanya. "Jangan bilang kau mau meninggalkanku lagi."
"Tidak. Sama sekali tidak." gumamnya, terlihat sangat yakin sambil meletakkan tangannya di pahaku. "Aku ingin kita bicara soal rencana kepindahanmu, dan juga beberapa hal lain yang kurasa perlu. Sungguh, aku ingin lebih sering menghabiskan waktu bersamamu."
Mulutku tersenyum cerah sementara bersandar ke kursi. "Menghabiskan waktu, bisa kau jelaskan maksudnya?" tanyaku dengan nada menggoda.
Paul dengan santai mengedikkan bahu. "Kau dan aku. Di atas ranjang." cetusnya. "Menyaksikanmu tanpa mengenakan pakaian sambil bilang kalau mencintaiku, lalu mendesah..."
"Paul!" Dengan mata melotot, aku memukul lengannya, kemudian tertawa sementara jantungku mendadak bekerja lebih keras. "Otakmu itu, ya... benar-benar tak bisa jauh dari sana."
"Bukan salahku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Rapunzel. Kau terlalu seksi." gumamnya dengan ekspresi tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Aku membiarkannya, mengalihkan pandangan pada jalanan yang kami lewati. Cukup mengejutkan bagiku karena tampaknya tempat di tempat sekecil ini masih banyak orang yang berkeliaran pada jam malam. Beberapa pria mabuk terlihat berhenti, nyaris mencelakai diri mereka sendiri saat mencoba mengambil foto mobil Paul. Aku bersyukur kaca mobil cukup pekat, jadi mereka tidak akan melihat kami.
"Kita sudah sampai." Suara Paul menarik perhatianku dan menyadari mobil kami sudah berhenti di depan sebuah bar kecil. "Sudah siap, love?" Dia mematikan mobil lalu membuka sabuk pengaman.
Aku tersenyum. "Yep. Let's go!"
***
Teman-teman Paul sungguh menyenangkan. Aku berkenalan dengan Harry, yang bekerja di perpustakaan daerah. Lalu, Johnny, merupakan aktor yang sedang berjuang di debut film pertamanya. Kemudian Debby, seorang fotografer paruh waktu.
Perkenalannya cukup singkat dan tak terlalu rumit. Aku senang karena mereka semua begitu ramah dan sepertinya bisa menerimaku masuk dalam lingkaran pertemanan mereka. Aku merasa baru mengenal sisi lain Paul hari ini, karena dengan sikapnya yang acuh dan seakan tak peduli pada orang lain, pada kenyataannya cukup mengejutkan bahwa dia masih menjalin hubungan yang baik dengan teman masa kecilnya. Aku yakin Harry, Johnny, dan Debby pasti orang yang selalu dicarinya saat dia ingin melarikan diri dari kehidupannya yang penuh drama.
Mereka dengan senang hati menceritakan padaku beberapa hal lucu yang pernah mereka lakukan saat remaja. Sepanjang Harry bercerita, aku tidak bisa menahan diri untuk melirik Paul berkali-kali. Hatiku diliputi kebahagiaan ketika melihat dia begitu tenang.
"Ingat saat kau..." Johnny, salah satu yang paling lucu di antara mereka sedang melancarkan aksi pembunuhan karakter dan mencoba melontarakan sesuatu yang memalukan, namun Paul dengan cepat memotong ucapannya.
"Sudah cukup!" katanya sambil tertawa. "Ibuku sudah mengatakan hampir semua aib masa kecilku yang dia ketahui pada Bianka. Jadi, jangan menambah lagi."
Aku tertawa, bersandar di lengannya. "Aku sangat menikmatinya Paul. Maksudku, siapa yang mengira menjilat leher..."
"Ya Tuhan, Bianka... Hentikan!" Dia mengerang, memancing gelak tawa menggema di meja kami. Aku memeluk lengannya.
"Kenapa semua orang ingin sekali membuatku malu hari ini?" kata Paul seraya menggelengkan kepala.
"Ah, omong kosong! Bilang saja kalau kau juga menikmatinya." cetus Debby, kemudian memandangku. "Bagaimana perasaanmu saat bertemu keluarganya?"
"Uhm, kurasa lumayan bagus. Maksudku, Anne wanita yang ramah, begitu juga dengan Thomas dan Ellie. Kami melewatinya dengan baik."
"Oh, ya ampun, aku hampir melupakan Ellie, berapa umurnya sekarang?" tanya Debby, menyesap minumannya.
"Empat tahun. Dia terobsesi dengan Bianka..." Mendadak Paul menoleh ke arahku, nyaris menabrakkan wajahnya ke wajahku. "Thomas bilang Ellie ingin tidur denganmu."
Satu tawa kecil lolos dari sela-sela bibirku. "That's so cute."
"Aku setuju. Ellie anak yang berbeda. Aku masih ingat saat kami berkunjung, kebetulan dia dan Tomas juga berada disana, lalu dia menghabiskan waktu selama dua jam menceritakan semua hal tentang mobil yang tidak kutahu sama sekali." kata Harry dengan ekspresi kagum. "Bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa menguasai segala hal tentang mobil?"
Hingga waktu menunjukkan angka tengah malam lewat sedikit, Paul dan aku memutuskan pulang. Sebelum benar-benar keluar dari dalam bar, beberapa orang berhasil mengenalinya dan langsung mendekati kami untuk minta foto.
"Kau tahu, tadi itu sangat menyenangkan. Aku benar-benar menikmati waktu bersama mereka." gumamku bersungguh-sungguh selagi Paul mulai mengendarai mobil.
Dia tersenyum dan mengangguk setuju. "Apa kau tahu hal yang membuatku lebih bahagia?"
"Apa itu?" Aku mengulurkan tangan untuk meraih sebelah tangannya.
"Kau bisa mendapatkan hati keluarga dan teman-temanku." katanya dengan mata fokus memperhatikan jalanan. "Lagi pula, tidak mungkin mereka tak menyukaimu. Tidak banyak orang punya kepribadian sepertimu, Bianka. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika aku tidak bertemu denganmu di rumah sakit hari itu."
"Paul..." kata-katanya berhasil membuatku tersentuh. Aku memutar kepala menghadapnya. "Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya, itu terlalu manis..."
Kadar alkohol yang masuk ke dalam darahku tak cukup membuatku merasa hangat seperti kata-kata pujian yang dilontarkannya. Aku benar-benar bahagia, Paul dan segala yang ada padanya membuatku rela jatuh tersungkur untuk menerima semua itu.
Paul terkekeh sambil meremas tanganku. "Aku minta maaf untuk kesalahanku, Bianka. Sungguh, aku takut kau meninggalkanku. Belum pernah aku merasakan sesuatu sekuat ini pada orang lain."
"Hentikan, kau akan membuatku menangis." Aku terisak, merasakan pemujaan yang begitu tulus darinya.
Dia menolehku sambil tertawa. "Okay, okay, tenanglah. Kau sensitif sekali hari ini..."
Aku mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku tidak pernah mengharapkan apapun selain tetap berada di sampingmu, tapi kemudian kau membawaku ke rumah orang tuamu dan juga bertemu teman-teman dekatmu. Itu sangat berarti untukku, Paul..."
"Aku senang melakukannya, love." balas Paul. "Omong-omong, aku punya kejutan untukmu. Kau akan melihatnya di rumah."
"Kejutan? Kejutan apa?" Alisku bertaut. "Paul, kumohon jangan bilang kalau itu barang ma..."
"Sshh, kau akan mengacaukan rencanaku jika menebaknya." Dia menyeringai disertai setitik raut angkuh yang bisa kutangkap. "Lima menit lagi kita sampai di rumah, sekarang aku mau kau mengatakan rahasiamu yang tak seorang pun tahu."
Aku melongo beberapa saat, lalu maju dan membisikkan sesuatu di telinganya. Detik berikutnya, aku melihat perubahan ekspresi Paul yang syok. "Bianka, kau benar-benar... Aku tak menyangka kau akan..."
Dengan cepat aku menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Yup. Kenapa kau terkejut?"
"Aku hanya tidak mengira kau melakukan itu." cetusnya sambil menggeleng tak percaya.
Saat Paul menghentikan mobil di depan rumah, kami langsung buru-buru turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. "Kau tahu, aku sering menyesalinya. Tapi, sekarang kurasa itu lucu." kataku sambil tersenyum malu-malu. "Ayo ke..."
Paul tidak bisa berpikir dengan jernih saat kami masuk ke dalam rumah. Aku meraih tangannya dan hendak menariknya menaiki tangga, tapi mendadak dia menangkup wajahku dan menekan bibirnya ke bibirku.
Seakan kekuatanku hilang begitu saja, aku membalas serangan bibirnya lebih keras. Sebelah tanganku memegang high heels, sementara tanganku yang lain berpegangan pada lehernya. Lalu sebelum aku sempat mengusai diri, Paul mendesakku ke dinding. Dalam sekejap ciuman kami berumah menjadi lebih panas dan intim, yang kuanggap sebagai ungkapan betapa bahagianya hati kami hari ini.
"Kau benar-benar menggairahkan..." gumamnya di bibirku, suaranya yang dalam membuatku menginginkan sesuatu yang lebih. "Aku tidak bisa berpikir jernih setiap kau tertawa atau saat matamu melakukan itu..."
Aku mengeluarkan tawa tanpa suara, detak jantungku berdegup lebih keras merespon godaannya. Tatapan matanya yang dalam dan berpadu dengan suara seraknya, sungguh berhasil mengirimkan denyutan halus di sela-sela pahaku. Dengan gerakan tangan yang liar, Paul menarik pinggulku hingga menempel di perutnya.
"Memangnya apa yang dilakukan mataku, Paul?" bisikku bertanya. Satu hembusan nafas penuh gairah lolos dari mulutku ketika Paul menjalarkan bibirnya di sepanjang garis wajahku lalu turun ke leher. Aku mendesah seraya menutup mata.
"Matamu genit, love. Kau pasti tidak menyadari itu, kan?" dia terkekeh, masih mencium leherku. "Kau membuatku bergairah setiap kali aku bertatapan dengan matamu..."
Aku merasakan tangannya menyusup ke balik blouse yang kukenakan, lalu perlahan naik hingga menyentuh dadaku sementara bibirnya kembali menerjang bibirku. "You're fvcking irresistible, Bianka... (Kau sungguh membuatku merasa gila, Bianka)"
"Why are you fvcking touching her titty? (kenapa kau memegang dadanya?" satu suara mungil dan lembut seketika membuat kami membeku.
Dalam keremangan ruangan yang lampunya sudah dipadamkan, kami menoleh dan mendapati Ellie berdiri di anak tangga sambil memegang boneka teddy bear, hendak turun dari lantai atas.
Paul berdeham, lalu diam-diam menarik tangan dariku. Setelah menciumku sekilas, dia berbalik dan melangkah menghampiri keponakannya. Namun, alih-alih menyambut Paul, Ellie justru turun mendekatiku. "Apa dia menyakitimu, Bianka?"
Aku masih bersandar di dinding, mencoba menenangkan diri. Perasaan malu tak bisa kuabaikan begitu saja karena, Ya Tuhan... kami baru saja tertangkap basah oleh anak kecil! Merasa sedikit lebih tenang, aku menjawab Ellie. "Tidak. Sama sekali tidak." Aku merunduk ke arahnya. "Dari mana... dari mana kau tahu soal kata-kata buruk seperti itu, Ellie?" tanyaku pelan, tak mau membangunkan penghuni rumah yang lain.
"Paul baru saja mengatakannya." Ellie memutar kepala menoleh Paul yang kini mendekati kami.
Aku mengernyit padanya dan dia mengangkat bahu. "Tidak seharusnya kau mengumpat, itu tidak baik..." Aku menghela nafas.
"Kenapa? Dia juga melakukannya, kok." Ellie mengerutkan kening melirik Paul.
"Dia selalu sial setiap kali habis mengumpat, ya kan?" aku membulatkan mata saat melihat Paul, mengisyaratkan agar dia menjelaskan sesuatu yang masuk akal.
"Ya, ya. Bianka benar..." Paul menunduk sejenak, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian dia menatap Ellie. "Mengumpat sama sekali bukan hal baik. Kau tahu, peri gigi tak mau memberiku uang kalau aku mengucapkan kata-kata kasar."
Wajah Ellie mendadak berubah takut merespon ucapan Paul, sekarang aku yakin dia tidak akan mengumpat hingga beberapa tahun kemudian.
"Kenapa kau masih bangun, sweetie? Ini sudah lewat tengah malam." Aku menarik perhatiannya kembali, mengganti topik pembicaraan.
"Aku mengalami mimpi buruk, dan ingin mencarimu." sahutnya pelan, membuat hatiku tersentuh. "Tapi, kau tidak ada di kamar, jadi aku turun untuk minum susu."
Aku menoleh Paul yang sedang menyusurkan jemari ke rambutnya. "El, aku akan membuatkan susumu, lalu mengantarmu kembali ke kamar, oke? Bianka akan tidur denganku malam ini."
Kening Ellie berkerut, dan aku merasa bersalah karena tak bisa menemaninya tidur meski sebenarnya aku senang memikirkan ide itu, tapi sepertinya tidak untuk Paul.
"Aku janji akan menemanimu tidur lain kali, bagaimana?" usulku bersungguh-sungguh.
Ellie tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Okay."
Kemudian dia mulai berjalan ke arah dapur. Sebelum mengikuti Ellie, Paul berhenti sejenak di depanku. "Kita akan melanjutkannya di kamar." bisiknya sambil menggoda telingaku dengan lidahnya.
Aku mendesah. "Okay."