My Love Journey's

My Love Journey's
Fallen



...Paul Klug POV....


Aku berdiri di ruang tamu rumah orang tua Bianka, mengikuti Bianka yang berjalan mendekati ayahnya. Dia sudah panik dan gemetar sejak ibunya menelepon dan sepanjang perjalanan kemari aku berupaya untuk menenangkannya. Aku bahkan tak mengijinkannya menyetir, jadi kami kesini menggunakan taksi karena aku sendiri belum terbiasa menyetir di sini.


Bianka mencoba memeluk ayahnya, tapi hanya mendapatkan penolakan. "Dad," katanya, menatap ayahnya.


"Senang bertemu denganmu, Sir." Aku mengulurkan tangan, dan diabaikan.


Daniel terdiam, memandang kami bergantian. Aku tidak bisa menebak kalimat makian semacam apa yang akan keluar dari mulutnya, tapi aku siap menerima semuanya.


"Dad..."


Tanpa memberi kesempatan pada Bianka untuk menyelesaikan kata-katanya, dia berbalik dan masuk ke ruang kerjanya. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Yang kuketahui adalah bahwa Bianka berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar, aku pun melihatnya dengan tangan terkepal.


Sementara itu, Bianka beradu pandang dengan ibunya. Mereka seolah sedang berbicara satu sama lain melalui tatapan mata. Bianka menggenggam tanganku sejenak sebelum kembali melepaskannya dan berjalan bersama ibunya ke arah yang sama dengan ayahnya. Aku tidak menyadari kehadiran Louis hingga dia berdiri di belakangku, menepuk pundakku, dan mengajakku duduk di sofa.


Louis mencoba memecah kebisuan dengan bertanya tentang seputar sepak bola dan pekerjaanku yang baru, tapi aku tidak tertarik. Yang ada di kepalaku saat ini hanya Bianka. Jelas sekali bahwa ayahnya tidak lagi menyukaiku, dan aku berharap dia tidak melampiaskannya kepada Bianka.


Bianka wanita yang kuat, sudah pasti, tapi aku tahu jika masalah ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ini akan menjadi akhir dari hubungan kami. Aku tidak percaya rasa cinta Bianka padaku sanggup mengalahkan rasa hormat pada kedua orang tuanya, bukan berarti aku berharap begitu. Tapi, tetap saja, aku khawatir. Aku tidak bisa kehilangannya ketika aku baru saja mendapatnya kembali.


Setelah beberapa menit, aku mendengar derap langkah cepat mendekat, aku tau itu Bianka. Ketika menoleh, jantungku nyaris berhenti berdetak. Dia terlihat begitu putus asa, matanya merah padam, seakan dia baru saja menangis atau sedang menahan tangis. Kedua tangannya gemetar. Aku tidak pernah menyaksikan pemandangan semengerikan ini dari Bianka, tidak saat dia marah, tidak pula saat kami bertengkar. Saat ini dia tampak seperti anak kecil yang baru saja kehilangan orang tua.


Aku berdiri, menghampirinya dan mencoba meraih tangannya tapi dia menghindar. Dia memandang Louis dan berbicara dengan suara serak. "Lou, bisakah kau mengantar kami pulang?" Setelah itu, dia langsung melangkah keluar tanpa menolehku sedikitpun.


Ya Tuhan, kumohon jangan biarkan ini berakhir.


Bianka tidak mengatakan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan rumah orang tuanya. Dia menolak bersuara dan mengurung diri di kamar mandi. Aku tahu dia menangis, aku bisa mendengar isakannya di antara tetesan air. Aku memintanya keluar dan berbicara padaku, tapi tak ada jawaban. Wajahnya pucat, seolah tak ada kehidupan disana.


Kemudian dia keluar dari kamar mandi, mengenakan pakaian, lalu langsung berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Aku duduk di tepi ranjang, mengusap punggungnya dari balik selimut.


"Love..."


Tak ada jawaban.


"Bicaralah padaku, Bianka."


Masih tak ada jawaban.


"Kumohon, jangan diamkan aku."


Dia tetap diam. Setelah beberapa saat akhirnya aku mengalah, memilih ikut berbaring sambil terus mengusap punggungnya. Kemudian dia berbalik menghadapku, namun tak mau menatap wajahku. Bianka hanya mengulurkan tangan dan mengusap dadaku. Mencoba memberinya ketenangan, aku mendekapnya dengan erat, lalu kurasakan dia menarik napas dalam sambil meremas kaosku kuat-kuat.


"Aku tidak akan kemana-mana, Bianka. Aku mencintaimu." bisikku di telinganya.


...Bianka Becker POV....


Aku tak tidur semalaman. Ketika yakin Paul sudah terlelap, aku melepaskan diri darinya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Tidak mungkin mataku bisa terpejam setelah kejadian kemarin.


Aku memegang gagang pintu ruang kerja ayahku dengan ragu-ragu. Ibuku berdiri dibelakang, mencoba menenangkanku sejenak sebelum membantuku membuka pintu, lalu aku mengikutinya ke dalam dengan kepala tertunduk. Aku berhenti di tengah-tengah ruangan, menghadap ayahku.


Dia berdiri dengan gagah, bahunya bidang dan tegang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tanpa emosi, menatapku seolah aku adalah orang asing yang menyusup masuk ke rumahnya. Pada saat ini, dia terlihat seperti jendral yang siap bertempur di medan berperang.


Kemudian, dia maju selangkah dan seketika aku langsung menurunkan pandangan. Kehangatan yang memancar dari matanya setiap kali kami bertatapan kini sudah lenyap. Dia hanya berdiri dalam diam untuk waktu yang terasa seakan selamanya.


Lalu tiba-tiba, entah dari mana, aku merasakan rasa panas yang amat dahsyat di pipi dan keningku. Tanganku secara spontan menyentuh pipi sementara air mataku mulai mengucur.


Ini yang pertama kali. Tak pernah sekalipun seumur hidupku kurasakan tamparan keras dari ayahku.


Aku menangkap suara ibuku terkesiap dan berteriak pada ayahku. Tapi aku tahu tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Dengan rasa sakit yang semakin tajam di wajahku, aku mengumpulkan keberanian dan kembali menoleh ayahku. Ekspresinya tetap datar.


"Dad," gumamku dengan suara bergetar. "Maaf karena tidak menceritakannya padamu, tapi aku bisa menjelaskan..."


"Menjelaskan?!" desaknya dengan murka. "Apa yang ingin kau jelaskan? Sudah cukup jelas bagiku bahwa kau melindungi laki-laki yang telah membunuh cucuku. Dan kau menerimanya lagi seperti wanita murahan yang tak punya harga diri!"


"Daniel, cukup!" teriak ibuku. Aku mulai cemas karena kulihat dia menyentuh dadanya.


"Aku tidak akan menerima perlakuan seperti ini di keluargaku, Lucy. Kupikir aku sudah membesarkannya dengan baik." katanya, lalu kembali menatapku.


Aku mundur selangkah, nyaliku menciut saat menyadari dia siap menelanku hidup-hidup. "Dad," aku mencoba sekali lagi. "Kumohon..."


"Diam!" bentaknya. "Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku membesarkanmu, mendidikmu dengan baik, berjuang setengah mati untuk memenuhi semua yang kau butuhkan. Dan inikah caramu berterima kasih? Dasar anak tidak tahu bersyukur! Seharusnya kau lebih tahu untuk tidak membawa bajingan busuk itu ke rumahku. Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Bianka. Kuminta kau menyuruhnya keluar dari sini dan menjauh dari hidupmu."


"Aku tidak bisa melakukannya," gumamku, mirip seperti bisikan.


"Apa?" Dia mendengus.


"Maaf, Dad. Aku mencintainya, dan berita yang kau dengar itu tidak sepenuhnya benar. Bukan Paul yang membuatku kehilangan anak kami, tapi aku. Aku tidak bisa kehilangannya. Tidak untuk kedua kali. Dia pria yang baik, kau sendiri mengenalnya, Dad."


"Apa aku terlihat peduli sebaik apa dia? Pilihannya hanya dia atau kami."


Aku berlutut, memeluk kaki ayahku sambil menangis hebat. "Kumohon, jangan paksa aku memilih." Dia mendorong kakinya dengan keras hingga membuatku tersungkur. Dengan perasaan hancur lebur, aku mencoba lagi.


"Dad, kumohon. Dia membuatku bahagia, Dad. Bukankah pria seperti itu yang selalu kau harapkan menjadi pasanganku? Pria yang bisa membahagiakan dan menghargaiku? Kau menyaksikan sendiri bahwa Paul pria yang baik. Aku tidak akan meninggalkannya, tidak ketika kami baru saja kembali bersama-sama. Jadi, kumohon jangan pisahkan kami. Beri Paul kesempatan untuk membuktikan dia tidak bersalah."


"Hanya pria bajingan yang meninggalkan wanitanya saat dia membutuhkan dukungan. Dan dia melakukannya padamu. Dia meninggalkanmu, mencampakkanmu seperti sampah. Di saat kau baru saja kehilangan anak, di saat kau menahan sakit, di saat kau menderita, kemana dia? Aku dan Louis yang mengurusmu, Bianka. Dan dengan bodohnya aku masih menganggap dia menantu yang baik, sampai tadi pagi aku mendengar semuanya. Aku baru tahu kejadian sebenarnya. Dan kau masih ingin kembali padanya?"


"Kau melakukan kesalahan. Okay, aku bisa mengerti. Namun, memilih bersamanya merupakan penghinaan bagiku, penghinaan terhadap keluarga ini. Kau ingin pria itu? Baiklah. Anggap saja ayahmu sudah mati, karena anak perempuanku juga sudah mati bagiku."


Tanpa mengatakan apapun lagi, dia keluar dari ruangan dengan langkah tergesa-gesa.


Duniaku baru saja hancur. Semuanya hancur berkeping-keping. Aku kehilangan ayahku. Sebelumnya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan ini, tapi jelas bukan ini akhir yang kuharapkan.


Aku ingin marah, mengumpat, memaki, dan memukul siapapun yang mengatakannya pada ayahku. Tapi percuma, karena semuanya sudah terjadi. Entah bagaimana selanjutnya, namun aku tahu keadaan tidak akan sama lagi.