
"Love, hei, kita sudah sampai."
Aku tersentak saat Paul mengguncang bahuku agak keras. Aku mengerjap beberapa kali sambil meluruskan punggung dan menyadari kami sudah tiba di halaman rumah ibunya. Saat menatapnya, secara otomatis sudut bibirku terangkat tinggi. Wajahnya merupakan pemandangan terbaik yang ingin selalu kulihat setiap kali aku terbangun dari tidur. Ya Tuhan, dia seperti malaikat.
Kemudian, seringai nakal andalannya dengan genit memanggilku. Aku menaikkan kedua tangan ke lehernya dan menariknya mendekat untuk satu ciuman panas. Paul menggeram sementara aku mendesah. "Terima kasih sudah membiarkanku tidur, Sayang." gumamku di mulutnya.
Dia tersenyum, menciumku sekali lagi seraya mengusap-usap pipiku. "Dengan senang hati, Rapunzel."
Gelak tawa bahagia keluar dari mulutku ketika mendengar julukan bodohnya untukku. Entah kenapa dia senang sekali memberiku julukan itu, tapi bukan berarti aku keberatan ya, itu malah membuatku semakin merasa dipuja.
Kami turun dari mobil, Paul meraih koper kami dari dalam mobil sementara aku melangkah lebih dulu ke pintu dan menekan bel. Beberapa detik kemudian kudengar derap kaki dari dalam rumah dan Anne muncul dengan ekspresi terkejut. Kami sengaja tidak memberitahunya soal kunjungan ini.
"Oh, My God! Lihat siapa yang datang!" katanya, lalu memberiku satu pelukan hangat yang kusukai darinya. "Apa kabar, Sayang. Kau dan cucuku baik-baik saja, bukan?" Wajahnya dipenuhi kegembiraan selagi dia mengusap perutku.
"Sangat baik." jawabku. Dia mencium keningku sebelum menarikku ke dalam rumah, mengabaikan kehadiran anaknya sendiri.
Paul menggerutu di belakang kami. "Aku juga anakmu, Mom. Kuharap kau tidak melupakanku." cetusnya dengan wajah masam, tapi kami tahu dia hanya menggoda ibunya.
Anne dan aku tertawa. "Kau sudah terlalu tua untuk cemburu, Paul. Aku minta maaf, tapi menantu dan calon cucuku sudah merebut posisimu di rumah ini." balasnya cuek, namun kemudian tetap memeluk dan mencium anaknya.
Kenapa aku tidak pernah mendapat perhatian semacam ini dari ibuku? Pikirku dalam hati.
"Apakah Ellie disini?" Aku mencoba berbicara dengan santai, tapi getaran halus dalam suaraku dan mataku yang basah tertangkap oleh ibunya.
"Bianka, Sweetheart... Apa kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Dia tampak cemas.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya senang melihat interaksi kalian." sahutku jujur.
Paul dan Anne memandangku dengan tatapan iba. Aku tidak suka ini, mereka seolah memberi kesan kalau kehidupanku amat menyedihkan. Dan yang lebih membuatku membenci itu adalah karena mereka benar. Hidupku memang menyedihkan.
"Oh, Sayang, kami disini untukmu." kata Anne sambil tersenyum saat kami duduk di ruang keluarga. "Well, Ellie sedang keluar bersama Thomas. Kurasa sebentar lagi mereka akan pulang. Kau sudah makan?"
Aku menggeleng lemah. "Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutku."
"Astaga... Paul, apa saja yang kau lakukan? Kau membiarkannya kelaparan?"
"Anne..."
"Mom..."
"Tidak." bantah Anne keras, melayangkan tatapan mengancam pada anaknya. "Kau harus lebih gesit. Aku pernah mengalami ini, dan ayahmu selalu berhasil menemukan sesuatu untuk kumakan. Sebaiknya kau mulai belajar, Paul, sebelum aku menahan Bianka disini." gerutunya panjang mengomeli anaknya sebelum pandangannya kembali mengarah padaku. "Ayo, aku akan membuatkan makanan yang bisa diterima cucuku."
Aku tergelak menahan tawa melihat ekspresi Paul yang meringis merespon ancaman ibunya. Lalu, dia mencium keningku dan bangkit untuk mengantarkan koper kami ke dalam kamar sementara Anne menarikku ke dapur.
Anne dan aku mengobrol di ruang dapur, mulai membahas masalah kehamilan sampai urusan melahirkan dan membesarkan anak sambil menyaksikan dia berjuang dengan bahan-bahan masakan.
"Bianka, menjadi seorang ibu bukan pekerjaan yang mudah. Tidak ada gaji, tidak ada waktu istirahat, banyak masa sulit yang akan kau alami, tapi... kau akan bertemu perasaan bahagia yang baru. Tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama. Namun, ketika kau mendengar tangisannya untuk pertama kali, kau akan paham maksudku. Aku sudah mengalaminya. Itu luar biasa, Sayang." katanya dengan raut bersungguh-sungguh, sehingga sulit bagiku untuk tidak mempercayai ucapannya.
"Entahlah, Anne... Aku hanya takut akan mengecewakan anakku sendiri." Aku melempar pandangan sekilas ke arah tangga, merasa lega karena Paul belum turun. Kurasa dia sengaja memberiku waktu mengobrol berdua dengan ibunya. "Aku takut mengecewakan Paul. Dia sangat menginginkan anak ini. Maaf, bukan berarti aku tidak menginginkannya, hanya saja... ini tidak mudah bagiku, Anne. Kuharap kau paham maksudku."
"Percayalah, aku paham." desisnya lembut. "Ketakutanmu sangat wajar, aku sendiri pernah merasakan hal yang sama saat mengandung Paul, tapi coba lihat sekarang, aku berhasil mendidiknya dengan baik, bukan?"
"Tidak perlu khawatir, Bianka. Aku akan selalu berada disampingmu, begitu pula dengan Paul. Percayalah, aku mendidiknya menjadi pria yang bertanggung jawab." Dia meremas tanganku untuk membuktikan kesungguhan dalam kalimatnya.
Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala. Setidaknya aku bisa memegang janji Anne walaupun sebenarnya aku tidak pernah meragukan Paul. Ini bukan tentang siapa yang menemaniku, tapi lebih kepada kepercayaan diriku sendiri. Aku meragukan diriku sendiri. Dibesarkan oleh seorang ayah secara praktis membuatku tidak mengetahui apapun tentang sifat keibuan. Meski benci mengatakannya, tapi aku berharap ibuku ada di sini saat ini.
Kenapa dia harus pergi meninggalkan kami?
Sekitar dua puluh menit berlalu dengan situasi yang lebih tenang bagiku, Anne menyodorkan semangkuk sup buttermilk panas ke hadapanku. Air liurku banjir seketika saat mencium aromanya yang menggugah selera.
"Guten appetit, Sweetheart." desisnya lembut.
Tanpa menunggu lebih lama, kuraih sendok dan menyuapkan sesuap penuh daging dan kentang tumbuk ke mulutku setelah menggumamkan ucapan terima kasih padanya. Aku nyaris mengerang begitu kehangatan dan cita rasa sup itu menari di dalam mulutku. Bisa kubilang ini merupakan makanan paling enak yang pernah kumakan seumur hidup karena dalam seminggu terakhir nyaris tidak ada makanan yang bisa kunikmati.
Anne membiarkanku makan dengan tenang dan pamit ke kamarnya sebentar. Semenit kemudian kudengar suara seseorang berlari dan ketika aku menoleh, Ellie buru-buru menghampiriku. "Bianka! Aku merindukanmu." katanya berseru lalu menghantamkan tubuhnya ke arahku, membuatku nyaris terjatuh.
"Hei, hei, pelan-pelan, Sayang." Aku tertawa, mencium keningnya sekali dan mengusap wajahnya. "Kau dari mana saja, hm? Aku sudah menunggumu."
Rautnya mendadak berubah murung. "Daddy berjanji akan membawaku jalan-jalan bersama Camille, tapi dia membatalkannya karena harus pergi bekerja." Kekecewaan tampak menghiasi wajahnya.
"Oh?" Aku terkesiap. Thomas benar-benar serius mengenai ucapannya soal Camille. Aku bahkan belum mengenalkan mereka secara resmi. Kuraih tubuh mungil Ellie dan mendudukkanya di kursi. "Tidak apa-apa, masih banyak kesempatan untuk bertemu Camille. Aku bisa menemanimu kalau ayahmu sedang sibuk." usulku, seketika semangatnya mencuat.
"Benarkah?" tanyanya antusias.
Aku mengangguk penuh. "M-hm. Tapi, tidak sekarang. Adikmu sedang merajuk di dalam sana." kataku sambil menunjuk perutku.
Kening Ellie berkerut bingung. "Bagaimana kau tahu kalau dia sedang merajuk?" cetusnya dengan ekspresi penasaran yang berlebihan.
Aku tergelak. "Well, dia menolak semua makanan yang kuberikan."
"Kenapa begitu?"
Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjawab pertanyaannya. Dan, beruntung Paul muncul tepat di saat aku membutuhkan pertolongan. Yah, malaikatku itu selalu siap sedia kapanpun aku mengharapkan kehadirannya.
"Karena dia menunggumu datang untuk menemaninya makan, Ellie." gumamnya selagi berjalan mendekati kami.
Ellie dan aku menoleh. "Benarkah? Apakah itu berarti dia menyukaiku?" Ellie bertanya, matanya semakin berbinar-binar.
"Tentu saja." jawab Paul. "Siapa yang tidak menyukai gadis secantik dan sepintar dirimu?" Dia mengusap kepala keponakannya, sebelah tangannya menangkup pinggulku.
"Kurasa aku akan lebih menyukainya." Ellie, dengan suaranya yang mungil membuatku tersenyum.
Rasanya benar-benar bisa menyenangkan terlibat dalam obrolan riang dan hangat seperti ini, dan aku yakin suasana ini akan hadir dalam kehidupanku dan Paul di masa depan.
Paul mengarahkan pandangan kepada sup yang baru setengahnya kumakan, lalu melirikku sekilas sebelum berbicara pada keponakannya. "Ellie, bagaimana kalau kau menunjukkan koleksi mobil terbarumu padaku sementara Bianka makan?" usulnya, yang sudah pasti di sambut Ellie dengan wajah sumringah. Dia mengangguk dan berlari ke ruang keluarga.
"Thank you, Husband." kataku sambil mencium pipinya.
"My pleasure, Wife."