My Love Journey's

My Love Journey's
Hell on earth



Aku terbangun sendiri di atas ranjang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Bianka di manapun. Aku tahu seharusnya aku khawatir, tapi sebagian dalam diriku merasa sedikit lega. Aku belum siap menghadapinya karena tidak tahu bagaimana suasana hatinya pagi ini. Apapun yang terjadi pada ayahnya kemarin, tak di ragukan lagi merupakan sesuatu yang buruk hingga membuat Bianka bungkam semalaman. Dan rasa takut akan kehilangannya akibat drama ini semakin kuat.


Aku beringsut turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Ketika selesai, Bianka sudah kembali dan berdiri di depan jendela dengan memegang segelas air di tangannya. Dia berbalik melihatku, lalu tersenyum tipis.


"Hey, love." sapaku, berjalan mendekatinya.


"Selamat pagi, Paul. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Bianka, memelukku sekilas sebelum berderap dan duduk di tepi ranjang.


"Ya." balasku. "Kau?" Aku mengenakan kaos yang kukenakan kemarin.


"Cukup baik karena kekasihku berada di sampingku. Bahkan meskipun dia mendengkur sepanjang malam."


Aku tahu dia menyembunyikan kesedihan di balik nadanya yang sengaja di buat terdengar baik-baik saja. Aku bisa melihat lingkaran hitam di bawah matanya, tangannya gemetar sementara menahan gelas, bahunya tegang, dan dia tak mau menatapku secara langsung.


Bianka sedang tertekan. Namun bersikeras tak mau memberitahuku apa yang terjadi. Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya, merebut gelas air, menghabiskan isinya dan meletakkan gelas kosong itu di lantai.


"Aku tidak mendengkur, Ms. Becker." gumamku selagi memposisikan diri di belakang Bianka. Dengan kedua kakiku berada di sisinya, aku mulai memijat bahunya.


"Apa kau sedang mencoba menyuapku dengan pijatan untuk mengabaikan dengkuranmu, Mr. Klug?" tanya Bianka sambil tersenyum.


"Well, apakah aku berhasil?"


"Mungkin," balasnya, memutar kepala.


Aku berhenti dan menggeser tubuhnya sehingga kami berhadapan. "Apa kau mau bercerita tentang kejadian kemarin?"


Bianka mengamatiku dengan ragu-ragu. Aku mengusap tangannya untuk memberikan dorongan agar dia percaya padaku, agar dia membuka diri dan berbagi denganku. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup mengangetkan.


"Tidak." cetusnya dengan kasar sambil menggelengkan kepala.


"Bianka, aku tidak bisa membantu jika kau membungkamku."


Bianka berdiri, menjauh beberapa langkah dariku sebelum menarik napas. "Aku tidak membungkammu. Kau bertanya apakah aku mau bercerita, dan jawabanku tidak. Aku tidak mau."


"Love..."


"Kenapa kau tidak bisa mendengarkanku sekali saja?" Suaranya tipis, nyaris tak terdengar. Aku tahu dia lelah, tapi ini berlebihan.


"Aku hanya ingin membantumu." gumamku, ikut berdiri. "Sangat jelas sekali bahwa ayahmu tidak menyukaiku."


"Oh, ya?" Dia mendengus sinis.


"Aku yakin dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. Tapi, bagaimana aku bisa membantu jika kau tidak memberiku kesempatan? Kumohon, katakan padaku apa yang terjadi, love. Apa yang diketahui ayahmu? Apa yang dia katakan padamu?"


"Kenapa segalanya harus tentangmu, Paul?" Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang kutahu dia terdengar murka.


Aku benar-benar terkejut dengan pertanyaan dan nada suaranya. "Apa?" tanyaku bingung.


Bianka menyipitkan mata, bibirnya mengatup keras. Dia terlihat gelisah dan... marah. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi tapi aku punya firasat bahwa sesuatu yang mengerikan akan datang. Aku mundur selangkah, memberinya jarak sementara dia melanjutkan.


"Bianka, apa kita bisa bicara tanpa berteriak?" gumamku, terkesiap.


"Tidak! Tidak bisa!" sambungnya dengan nada yang sama. "Karena sepertinya kau tidak akan pernah mengerti yang kukatakan."


"Love..." Aku memotong, tapi dia terus memaki.


"Aku tidak mau berbicara denganmu, Paul, tapi kau terus mendesakku. Kenapa kau tidak mau mendengarku? Ini semua salahmu. Kau tidak mendengarkan ucapanku. Semuanya harus dilakukan dengan caramu. Kenapa, Paul? Kenapa sulit sekali bagimu untuk mendengarkan? Ada saatnya telinga lebih dibutuhkan dibanding mulut."


"Bianka..."


"Tidak. Diamlah, Paul! Untuk sekali saja dalam hidupmu, kumohon diam. Kau satu-satunya orang yang meninggalkanku, dan setelah hidupku berada dalam ketenangan, kau datang kembali. Membuat kekacauan yang kini membuatku hidup seperti di neraka. Kenapa kau mempermainkan hidupku seperti ini? Kau egois. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, brengsek!"


Aku terperangah dengan mulut menganga, tidak mengenali wanita yang berdiri dihadapanku saat ini. Apakah ini wanita yang sama dengan yang mengatakan bahwa dia mencintaiku? Aku ingin dia berhenti, tapi sepertinya itu tidak terjadi.


"Aku sudah muak, Sialan. Aku muak terus-menerus seperti ini. Setiap kali aku merasakan kebahagian, selalu ada masalah yang datang. Dan semuanya terjadi sejak aku mengenalmu. Aku tidak tahu apa yang salah denganku hingga alam semesta menghukumku seperti ini. Aku ingin hidup tenang seperti orang-orang, tapi tidak ada ketenangan setiap kali aku bersamamu. Masalah, masalah, dan masalah terus terjadi. Sedetik tertawa, satu jam berikutnya aku menangis. Aku muak, Paul. Benar-benar muak!"


Aku tidak sanggup lagi mendengar apapun yang akan dikatakannya. Bagaimana mungkin dia melemparkan semua kesalahan padaku? Apa hanya itu yang dia rasakan dari kebersamaan kami? Bahwa yang kuberikan hanyalah penderitaan?


Oh, Tuhan... Selamatkan aku.


Mungkin tidak seharusnya aku memaksa Bianka. Mungkin seperti yang dikatakannya, kali ini aku hanya perlu menggunakan telinga dan menutup mulut rapat-rapat. Aku mendekati Bianka yang kini menghadap pintu kamar.


Dia terlonjak saat aku memeluknya daris belakang. Aku ingin menyakinkannya bahwa kami akan baik-baik saja, meski aku sendiri tak terlalu yakin. Aku baru saja akan bersuara ketika dia mendorongku, melepaskan diri dari pelukanku.


"Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Paul." Dia berbisik, tak mau menatapku.


"Love, aku mengerti."


"Tidak. Kau tidak mengerti."


"Kau tidak mau berbicara denganku? Baiklah. Tapi, kita bisa menghadapinya bersama-sama."


"Aku lelah." Tak ada lagi semangat dalam nadanya. "Ini terlalu berat untukku. Maaf, aku butuh waktu." Dan dengan begitu, dia keluar dari kamar, meninggalkanku dalam keadaan bingung.


Dua jam berlalu sejak Bianka meninggalkanku sendirian di kamarnya. Satu jam pertama kuhabiskan dengan menatap kosong ke dinding, merasa bodoh dan tak berdaya. Enam puluh menit berikutnya terlewati dengan perasaan bingung: kenapa? Kenapa dia meninggalkanku disini? Untuk menghukumku? Apa dia benar-benar peduli? Aku berusaha membantunya, dan sekarang dia justru menghilang entah kemana.


Aku berharap tahu apa yang dikatakan Daniel padanya. Tapi, apapun itu, sudah jelas aku akan kehilangan karena kejadian itu. Keluarganya tidak menyukaiku, mereka tidak menginginkan Bianka bahagia bersamaku. Mereka tidak memberi kesempatan kepada kami. Atau paling tidak, ayahnya berpikir demikian.


Aku merasa seolah berusaha memadamkan api tak kasat mata, mencoba menutup luka yang aku sendiri tidak tahu letaknya. Dan, itu upaya sia-sia yang membuatmu merasa lebih tak berdaya.


Aku mempertimbangkan untuk menghubungi Bianka. Tidak, aku benar-benar melakukannya. Tapi, ponselnya berdering di atas kasur. Ini benar-benar menyiksa, membuatku terus berpikir bahwa aku sudah gagal menjadi sandaran baginya.


Haruskah aku menelepon Louis? Tapi, untuk apa? Mengatakan bahwa Bianka pergi dari rumahnya sendiri? Bahwa hubungan kami mulai hancur? Bahwa aku akan kehilangan kekasihku lagi? Bahwa aku tidak tahu bagaimana cara mempertahankannya? Ya ampun, memalukan sekali!


Aku berdiri di depan jendela, memandang kosong keluar saat kudengar pintu depan terbuka. Aku tidak berbalik untuk melihatnya. Tidak ketika aku percaya bahwa dia telah meninggalkanku. Aku tidak siap mengucapkan selamat tinggal, terlebih karena dia yang tanpa sadar mendorongku menjauh dari hidupnya.