
"Paul..."
"Setelah kita selesai makan, Bianka." sambar Paul, namun dengan cepat aku menggelengkan kepala.
"Tidak. Jangan mengalihkanku lagi. Sekarang katakan padaku, ada apa?" kataku tegas dan tajam, menatap ke dalam matanya.
Mobil sudah berhenti di depan restoran, tapi aku tidak mau turun sebelum Paul membuka semuanya. "Aku serius, Paul. Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku," kataku melanjutkan, mulai putus asa. "Kalau kau benar-benar menginginkan hubungan kita berlanjut ke arah yang lebih jelas, kau tau bisa menyimpan rahasia seperti ini. Apa hubunganmu dengan wanita itu? Namanya Carmen, kan?"
Seketika Paul menatapku, kebingungan tergambar di wajahnya. "Dari mana kau tahu namanya?"
"Dia salah satu wanita yang menghinaku saat aku menontonmu latihan di stadion, hanya karena aku menjalin hubungan denganmu. Doa juga yang bilang kalau dia sudah mengejarmu selama bertahun-tahun." Aku menaikkan alis tinggi-tinggi padanya, kami sama-sama tahu tidak ada jalan keluar untuk masalah ini selain penjelasan yang masuk akal darinya.
Paul menghela napas seraya menyisir rambutnya dengan gusar, semua kendali yang selama ini melekat padanya seakan hilang ditelan malam. "Apa dia berbicara padamu?" tanyanya.
"Tentu saja... Dia meperlakukanku seperti sampah, bukankah aku sudah mengatakannya padamu?"
Paul menggoyangkan kepala. "Dia tak berhak mengatakan itu padamu. Sialan, aku tak percaya dia senekat itu."
"Apa? Kenapa, Paul? Sebenarnya ada apa di antara kalian?" Aku mencoba meraih kembali perhatiannya.
Aku merasa seperti orang bodoh mengenakan gaun yang dia belikan untukku. Paul terlalu menguasaiku, dan kenyataan aku mengenakan sesuatu darinya membuatku merasa bahwa aku hanya bagian dari propertinya. Aku tidak suka ini, terutama setelah dia menyimpan rahasia yang kuanggap penting.
"Kami pernah berhubungan, Bianka. Saat ini, aku tidak berhubungan lagi dengannya. Aku sudah terikat padamu, kau tahu itu, kan?" katanya, berusaha meyakinkanku.
"Aku tidak tahu lagi, Paul." balasku, lalu melempar pandangan keluar. "Kurasa sebaiknya kita kembali ke hotel."
"Tidak, love." Hembusan nafas frustasi terdengar darinya. Aku tidak lagi tertarik dengan segala omong kosong dan bujuk rayunya, dan dia tahu kendalinya sudah mulai lepas dariku. "Aku akan mengatakannya padamu. Semuanya. Tapi setelah kita selesai makan malam. Tentang Lucy, Carmen, adikmu... Aku.."
"Tunggu, adikku? Apa maksudmu?" kataku, mulai waspada.
Paul bertahan dengan kegigihannya. "Kita makan dulu, setelah itu aku akan mengatakan apapun yang ingin kau ketahui."
"Paul..." Aku menyadari dia akan berjuang mengalihkan pembicaraan sekarang, dan aku takut kehilangan kesempatan mengetahui rahasianya.
"Kau berhak mengetahuinya, Bianka. Aku berjanji akan mengatakannya malam ini. Aku hanya ingin makan dengan tenang bersamamu." dengkurnya seraya tersenyum sementara aku menarik nafas dalam-dalam. "Kau terlihat luar biasa dalam balutan gaun itu, aku senang kau membiarkanku membelinya untukmu."
Kalung untuk yang sempat kubeli tiba-tiba melintas di benakku. Aku berencana akan memberikannya pada Paul ketika makan malam, tapi kurasa aku harus menundanya, tergantung bagaimana suasana hatiku setelah dia menjelaskan semuanya.
"Okay, jangan memujiku. Aku sedang marah sekarang."
***
"Begini? Bagaimana caramu melakukannya?" tanyaku, mencoba tersenyum.
"Seperti ini, love." Paul mengarahkan tangannya ke depan dada.
"Begini?" ulangku, mengikuti gerakannya. Tapi posisi tanganku terlalu tinggi.
"Agak ke bawah." katanya menginstruksikan dengan raut senang.
Aku menurunkan tangan hingga berada dibawah dagu. Dia sedang menunjukkan padaku gerakan selebrasi yang menjadi ciri khasnya, sesuatu yang dilakukan oleh setiap pemain bola saat mereka berhasil mencetak gol.
Paul tertawa melihat ekspresiku. "Love, putar tanganmu..."
Aku mengikuti perintahnya, yang membuat gelak tawanya semakin kencang. Melihat Paul setenang itu, aku tersenyum merasakan kelegaan walau hanya untuk beberapa menit. "Aku pasti salah, ya?" tanyaku seraya tertawa halus.
"Tidak juga, hanya terlalu tinggi dan juga kau memutar tangan ke arah sebaliknya." kata Paul, satu seringai nakal terlukis di wajahnya.
Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja selagi mendengar Paul berbicara. "Kau sangat cantik, Bianka." gumamnya dengan sungguh-sungguh sambil mengeluarkan ponsel dari saku. "Boleh aku minta fotomu?"
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin menyimpan fotomu." sahutnya. Nadanya yang berat jelas seakan menyiratkan seakan dia sedang menahan diri. Setelah kami mengobrol di mobil tadi, tingkah Paul mendadak berubah seakan dia sedang mengulang semua kenangan kami, dan entah kenapa aku merasa dia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah perpisahan.
Aku memilin bibir lalu tersenyum dan mengangguk. Aku menundukkan pandangan sekilas untuk memastikan gaunku terlihat rapi. Tepat saat aku mengangkat kepala sambil tersenyum, Paul langsung memotret. Aku memandangnya sejenak ketika dia melihat hasil jepretannya.
"Coba kulihat..." cetusku dengan lembut, menyadari pikiran kami sedang berlarian kemana-mana.
"Aku belum pernah menyaksikan pemandangan seindah ini," lirihnya pelan, menautkan kedua matanya padaku. "Lady in red." Dia mengutip lirik lagu Chris De Burgh, membuat dadaku mengencang.
Aku memberi anggukan setuju untuk foto bagus yang diambilnya lalu menyesap wine milikku dan mengabaikan ucapan manisnya.
Paul menyelipkan ponselnya ke dalam saku jas selagi berbicara, "Apa kau minum sesuatu selain wine?"
Aku mengernyit. "Apa maksudmu? Wine satu-satunya yang kusukai."
Dia terkekeh, lalu seakan paham isi hati masing-masing yang sedang murung, obrolan kami perlahan-lahan bisa kubilang mati. Ada hal penting yang harus kami bahas setelah ini, tak ada tempat untuk rayuan atau godaan seperti biasanya.
Dengan canggung Paul menyusupkan soal pertandingan Prancis melawan Portugal malam ini, dimana pemenangnya akan masuk ke babak final dan berhadapan dengan tim Jerman.
Kami juga membicarakan beberapa hal lain, namun sulit bagiku merasa tenang apalagi hanyut dalam obrolan. Aku masih sibuk menebak apa yang mungkin akan keluar dari mulutnya sebagai penjelasan atas semua kecurigaanku, tentang Lucy, Carmen, dan adikku. Mau tak mau dia harus menjelaskan semuanya setelah ini.
"Terima kasih, Paul." gumamku saat dia membayar tagihan.
"Sama-sama, love."
Dalam sapuan cahaya lampu ruangan restoran, Paul menuntunku keluar dari sana menuju ke pintu depan.
"Paul!" suara seorang pria menghentikan langkah kami saat melewati salah satu meja. Dengan serentak kami berbalik dan Paul langsung mengangkat tangannya pada seorang pria seumuran dengannya. Aku ingat pernah melihatnya ketika Paul mengenalkanku kepada seluruh tim sepak bolanya.
"Hei, bung!" sapa Paul sambil tersenyum. "Apa yang kau lakukan disini? Menumpuk lemak menjelang final?"
Pria itu tertawa, sementara wanita dengan penampilan sangat menggoda memandang bahwa seolah-olah dia adalah setumpuk daging yang menggugah selera.
"Lalu, kau sendiri?" balas pria itu. Kalau tak salah, dia merupakan penjaga gawang mereka. "Oh, kenalkan, ini Bendela." Paul melirikku sekilas tersenyum penuh pada wanita itu.
"Senang berjumpa denganmu lagi, sweetie."
Aku nyaris tercekik mendengar nadanya yang begitu lembut, di tambah penampakan belahan dada wanita itu menyembul dengan cara yang amat menggiurkan.
Kemudian Paul berdeham. "Jay, kau sudah kenal kekasihku, kan? Bianka..."
Aku menghela nafas. "Hai, Jay." kataku seraya tersenyum ramah. "Permainan kalian luar biasa, lho."
Dia membalas senyumku sementara kurasakan tangan Paul mengusap punggungku. "Ah, terima kasih. Aku senang berpartisipasi untuk membantu negara."
Aku terkekeh, lalu Paul kembali bersuara. "Ya, partisipasimu hanya jalan-jalan di gawang sementara kami berlarian mencetak gol."
Jay tertawa senang. Tatapanku mengarah kepada Bendela, wanita disamping Jay seraya menyunggingkan senyum manis. Alih-alih membalas senyumku, dia malah melirik sekilas lalu membuang muka seolah-olah aku tidak berada di sana.
"Sampai jumpa besok, Jay. Nikmati makan malammu." kata Paul, sebelah tangannya menepuk pundak Jay.
"Terima kasih, bung."
Sebelum aku mendapat kesempatan untuk menanyakan tentang wanita yang bersama Jay kepada Paul, kilatan flash kamera memaksaku menoleh ke arah beberapa wartawan yang sedang mengambil foto kami. Entah bagaimana mereka mengetahui keberadaan kami.
Aku hendak mempercepat langkahku menuju mobil di mana Alfred sudah menunggu kami, namun sepertinya Paul memiliki rencana lain Dengan sekonyong-konyong dia berbalik menghadap para wartawan untuk melakukan gerakan selebrasi andalannya, membuat tawaku seketika meledak.
Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang kekanakan namun bersemangat, lalu dengan perasaan gembira yang sama seperti Paul, aku pun berbalik dan menirukan gerakan selebrasinya.
***
"Siapa wanita itu?" tanyaku begitu kami masuk ke dalam mobil. Suasana hatiku langsung berubah murung, menyadari jawaban yang akan keluar dari mulut Paul mungkin bisa membuatku marah.
"Bukan siapa-siapa. Jersey Chaser. Salah satu wanita yang mengejar atlet sepak bola top."
Aku menghela nafas berat dan dalam. "Siapa dia bagimu, Paul?" tanyaku lebih tegas. "Mulai hari ini, kau harus jujur padaku."
"Kami pernah bercinta. Satu atau dua kali di masa lalu. Dia bukan siapa-siapa bagiku, love."
"Mereka terlalu berlebihan. Sebagian temanku mungkin menyukai mereka, tapi mereka sama sekali bukan tipeku. Jangan terlalu memikirkan apa yang mereka katakan, itu tidak penting." Aku teringat pada kata-katanya saat dia mencoba menenangkanku di bioskop waktu itu.
Sekarang aku merasakan semua yang dikatakan Paul merupakan kebohongan. Dia bilang para wanita yang mengejar mereka terlalu berlebihan dan dia tidak menyukai itu, tapi kini dia mengaku pernah bercinta dengan Bendela satu atau dua kali? Dasar pria brengsek!