
...Author's POV....
Duduk di berpegangan pada besi pengaman jendela kamarnya, Bianka benar-benar tersesat dalam pikirannya hingga dia tidak menyadari betapa indah pemandangan langit malam itu. Matanya sembab dan merah karena terlalu banyak menangis dan kurang tidur. Bianka tidak dapat mengingat kapan terakhir kali dia merasakan tidur yang lelap, tapi dia tak peduli.
Dia menghabiskan sebulan terakhir dengan merenungkan segala yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini. Hari pertama setelah Paul melangkah keluar dari rumahnya, Bianka nyaris tak memiliki kekuatan untuk turun dari ranjang. Dia meringkuk disana sepanjang hari, tak bergerak meski langit menggelap, dan terus begitu hingga berhari-hari lamanya.
Dia tidak peduli pada apapun. Tidak pada keluarganya, pada teman-temannya, pada pekerjaan yang begitu dia cintai, bahkan pada dirinya sendiri.
Bianka sangat merindukan kekasihnya. Matanya, tawanya, sentuhannya, kehadirannya, dan segalanya yang berhubungan dengan Paul Klug.
Bianka ingin percaya bahwa hubungan mereka bisa berhasil. Dia mencoba menelepon Paul, mengirim puluhan pesan, dan email. Dia sungguh berharap Paul memiliki sedikit kekuatan untuk memaafkan dan memberinya satu kesempatan lagi. Tapi Paul tidak pernah merespon. Hingga pada minggu kelima yang benar-benar menyiksa dan dilaluinya dengan penderitaan akibat rasa bersalah dan perasaan merindu, Bianka menyerah dan menyadari dia benar-benar telah kehilangan kekasihnya. Bianka yakin tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya akan membawa Paul kembali padanya.
Hatinya hancur berkeping-keping, yang mungkin kini telah menjadi lapisan debu. Dia tidak pernah merasa sehancur ini, tidak separah ini bahkan saat Paul meninggalkannya dulu. Kepergian Paul tak menyisakan apapun baginya, pria itu seolah pergi sambil merampok setiap hal yang ada pada Bianka. Dia merasa tidak berdaya. Menghabiskan hari dari tidur terlalu banyak hingga tidak tidur sama sekali. Malam-malamnya dilalui dengan rasa bersalah dan merutuki diri sendiri, sementara hari-harinya penuh dengan gelimang air mata.
Pada saat ini, dia merasa kekuatannya sudah berada di ujung perjalanan. Dia hanya ingin tidur dan tidak terbangun lagi.
Tidur untuk selamanya.
Matanya mengarah pada sebotol obat tidur yang tergeletak di meja kamar, di samping kepala ranjang. Sebelumnya dia telah meminum pil itu sebutir setiap malam sebelum tidur, kemudian karena tidak adanya efek kantuk yang nyata dirasakannya, dosisnya naik menjadi dua butir dalam dua hari terakhir. Namun, entah bagaimana, dia tetap tak bisa tidur lebih dari dua jam, dan kondisi ini membuatnya semakin frustasi.
Dengan perlahan-lahan, mengerahkan segenap tenaga yang tersisa, dia berderap ke ranjang. Merasa seolah-olah botol pil itu melambai memanggilnya.
Mungkin aku hanya perlu meminum tiga atau empat butir. Atau, lima akan memberi efek yang kuinginkan... pikir Bianka.
Tidur untuk selamanya...
Tangannya dengan gemetar meraih botol pil itu, membuka tutupnya, lalu mengintip isinya sejenak, lalu tersenyum getir.
Yeah! Lima pasti akan berhasil...
Secara mendadak dan tiba-tiba, ponselnya berdering di meja yang sama tempat botol pil tidur tadi terletak. Bianka melirik layar ponsel; Panda. Franda warner adalah satu-satunya orang yang paling tidak ingin dia temui saat ini. Wanita itu menelepon beberapa hari lalu dan mengundangnya untuk makan di rumahnya sebelum dia dan keluarganya terbang ke Australia. Meskipun Bianka sangat membutuhkan sedikit pengalihan, tapi dia berpikir keramaian keluarga mereka akan terasa berlebihan.
Bianka terus memandang ponselnya sampai benda itu berhenti menjerit. Lalu, kembali menoleh botol pil di tangannya, tapi ponselnya berdering sekali lagi, mengusik kedamaiannya. Panda tidak akan berhenti menelepon, Bianka tahu itu. Bianka hanya perlu bicara dengannya, maka urusan beres. Kemudian, dia bisa tidur dengan tenang.
"Hai, Kak. Apa kabar?" sapa Bianka, mencoba terdengar riang.
"Hai, Sayang. Aku baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik."
"Mantap. Kusarankan sebaiknya kau datang ke rumah hari ini. Aku perlu berbicara denganmu."
Bianka menghela napas, tahu kemana tujuan obrolan mereka. "Oh, kurasa tidak..."
"Datang saja, Bianka. Kau adikku, keluargaku. Jangan pikir aku tidak tahu bagaimana keadaanmu saat ini. Aku merasa kita benar-benar harus bertemu. Atau, apa aku yang ke rumahmu?" cetus Franda, memotong ucapannya.
Bianka terdiam, memejamkan matanya yang terasa begitu pedih. Membayangkan kakak sepupunya datang dan mendapati rumahnya yang tak terurus, mampu membangkitkan bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya.
"Bianka? Apa kau masih disana?"
"Ya, ya, uhh... Okay. Aku akan bersiap-siap dan langsung kesana."
***
"Oh, aku senang akhirnya kau benar-benar muncul. Aku sangat mengkhawatirkanmu." kata Franda, kelegaan memancar dari senyumnya saat dia memeluk Bianka.
Mereka duduk di ruang tengah griya tawang mewah keluarga Warner. Bianka berusaha menyembunyikan kedua tangannya yang gemetar di sisi tubuhnya. Dia sempat memoles wajah dengan riasan agar terlihat agak lebih hidup, namun jemarinya tak mau berhenti bergetar. Mungkin lebih baik dia bertahan di rumah dan mengabaikan permintaan kakak sepupunya itu.
"Maaf kalau aku menyinggungmu, tapi kau terlihat seperti mayat hidup. Oh, astaga... badanmu kurus dan wajahmu sangat pucat. Sissy, kau harus memikirkan dirimu. Kapan terakhir kali kau makan sesuatu?"
Bianka mengeluarkan tawa getir. "Kemarin?" Suaranya terdengar tak yakin.
"Jangan main-main denganku, Bianka! Kapan terakhir kali kau makan?" tanya kakaknya sekali lagi, dengan tegas.
"Dua hari lalu... Mungkin. Aku... aku tidak tahu, Panda."
"Oh, Tuhan! Apa yang kau pikirkan? Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu."
"Panda, no. Kau tidak perlu..."
Terlambat. Kakaknya sudah lebih dulu menghilang ke balik pintu dapur. Franda kembali beberapa menit kemudian dengan semangkuk sup dan memaksa Bianka memakan paling tidak setengahnya. Ketika Bianka dengan susah payah akhirnya menurut dan berhasil menelan setengah isi mangkuk seperti yang diperintahkan padanya, Franda menarik Bianka ke dalam kamarnya agar tak seorang pun mengganggu obrolan mereka.
"Disini tempat terbaik untukmu, Sissy. Aku tidak peduli pada masalahmu dan Paul, tapi aku tidak suka melihatmu menyiksa diri seperti ini. Kau bisa bicara padaku. Ada apa? Katakan padaku. Aku benci melihat saudariku begitu... begitu linglung." kata Franda dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan Bianka.
Bianka merasakan sesuatu yang pecah dan air matanya luruh di pipi. "Aku... Aku lelah, Panda. Aku hanya ingin tidur. Aku amat sangat lelah."
"Oh, Sayang..." Franda mendekap tubuh adiknya, mengusap rambutnya dengan lembut dan berulang-ulang. "Kau harus melepaskan semuanya."
"Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku telah merusak segalanya. Ini salahku, aku tahu. Aku yang menyebabkan ini terjadi. Aku benar-benar bodoh."
"Dengarkan aku, Bianka. Aku dan Sean pernah melalui hal yang persis seperti kau dan Paul, hanya saja dengan masalah yang berbeda."
Bianka menarik diri dari kakak sepupunya, lalu menatapnya dengan alis berkerut.
"Itu terjadi pada tahun kedua pernikahan kami, tepat sebelum Lily lahir. Sean menyembunyikan segala informasi tentang ibu kandungku, yang namanya sama denganmu. Saat itu aku benar-benar marah karena merasa telah di bodohi, atau setidaknya begitulah yang kukira. Singkat cerita, kau pasti pernah mendengar kalau dulu kondisi mentalku sangat mengkhawatirkan, dan setelah drama ibu kandungku terkuak, aku baru menyadari bahwa Sean melakukannya untuk melindungiku. Dia tidak mau memperburuk keadaan karena saat itu aku sedang hamil. Pria mana pun tidak akan tahan dengan tingkah lakuku saat itu, Bianka. Tapi Sean berbeda."
"Bagaimana...?"
"Bagaimana kami tetap bersama? Butuh proses. Suatu waktu, Sean mampu mengendalikan dirinya dan memaafkanku. Tapi, yang terpenting adalah bahwa aku mampu memaafkan diriku sendiri. Sissy, aku mengatakan ini padamu karena kau perlu melepaskan semua rasa bersalah yang menumpang di pundakmu. Karena tanpa kau sadari, beban itu akan membunuhmu secara perlahan."
"Aku tidak tahu bagaimana."
"Cari jalan keluarnya. Buat janji dengan terapis kalau memang harus."
Bianka menghela napas dalam dan bertanya, "Dengan segala yang telah kau dan Sean lewati, apa menurutmu cinta saja cukup?"
"Tidak." jawab Franda tanpa ragu. "Cinta saja tidak akan cukup. Kau harus menjaga hubunganmu. Tak ada yang namanya hubungan atau pun pernikahan yang sempurna. Pertengkaran itu hal biasa, tapi kau harus bersikap dewasa untuk memahami dan menerimanya. Kau harus tahu yang terbaik untukmu, untuk pasanganmu. Apapun itu."
Bianka menatap penuh pada kakak sepupunya. "Apa menurutmu Paul dan aku masih memiliki peluang?"
Franda terlihat gelisah, melepaskan genggaman tangan mereka dan memperbaiki posisi duduknya sebelum berdeham. "Aku tidak tahu. Aku tidak mungkin bisa menerawang isi kepalanya. Tapi, kau perlu memprioritaskan dirimu. Jangan biarkan apa pun menghancurkanmu. Sekalipun dia tak lagi mau melanjutkan hubungan kalian."
Bianka mengeryit, tak sepenuhnya paham ucapan kakaknya, tapi dia menangkap seolah wanita di hadapannya itu mengetahui sesuatu. Dari caranya duduk dengan gelisah, menolak bertatapan langsung dengannya, Bianka berpikir pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Ada apa?" tanyanya, waspada.
Franda menarik napas, terpejam sejenak. "Ya Tuhan, bagaimana caranya aku menyampaikan ini," katanya, yang entah pada siapa. "Sissy, Paul... dia..."
"Ada apa, Panda?! Kau menakutiku."
"Dia akan kembali ke jerman."