My Love Journey's

My Love Journey's
Another Gossip



"Apa kau sudah melihat koran hari ini?" Camille bertanya padaku selagi aku duduk di salah satu kursi kafe sekitar rumah sakit. Camille, Elise, Stacey dan aku meluangkan waktu untuk makan bersama siang ini.


"Tidak. Bahkan aku tidak sempat minum kopi tadi pagi." balasku sambil tertawa dan menggelengkan kepala, lalu menggantungkan jaketku pada sandaran kursi.


Tatapan mata Stacey tertuju pada meja di depannya, sementara Elise nyaris tampak gelisah.


"Paul dan kau masuk koran lagi." kata Camille menjelaskan, dan suasana hatiku yang bahagia lenyap saat aku membeku untuk menatapnya.


"Excuse me?" tanyaku bingung setelah beberapa detik. Aku merasa semua orang beralih menatapku, bukan hanya ketiga temanku.


Tepat saat itu pelayan datang dengan membawa menu dan Camille meminta koran hari ini padanya. Aku gugup melihat apa yang ada di koran hari ini, dan tidak sempat memikirkan makanan apapun sekarang.


Tak berapa lama, pelayan itu kembali. Dengan cepat aku merebut koran dari tangannya dan buru-buru menggumamkan terimakasih. Alisku berkerut begitu mendapati berita yang dimaksud oleh Camille. Foto Paul dan aku memang ada disana, tapi bukan seperti foto sebelumnya.


Itu semacam artikel pendek dengan dua foto terlampir disana. Salah satunya merupakan foto Travis dan aku saat makan siang dua hari lalu, foto yang diambil oleh tiga remaja laki-laki waktu itu. Sementara foto lainnya adalah Paul dan seorang gadis cantik berambut pirang dengan kaki jenjang. Paul memeluk pinggang gadis itu dan keduanya tampak bersemangat hendak memasuki sebuah klub.


..."Tak Ada Lagi Gadis Misterius Paul Klug, Hubungan Keduanya Sudah Berakhir."...


Aku mengerang membaca judul artikel itu. Bahkan aku tidak ingin repot-repot membaca isinya, dan malah memperhatikan foto Paul dan gadis itu.


Kukira mereka sedang berjalan menuju mobil, Paul tampak sedang mengatakan sesuatu pada gadis itu, yang membuatnya tertawa. Gaun merah pendek berenda yang dikenakannya berhasil memamerkan lekuk tubuhnya yang terlihat seperti model. Ketika aku membaca tulisan kecil di bawah foto mereka, aku mengerutkan kening, tidak tahu kenapa.


Berdasarkan artikel, gadis itu merupakan seorang model Amerika yang rela terbang jauh-jauh untuk menemui Paul di kota kecil, yang entah dimana, tempat dia berlatih bersama timnya. Fotonya diambil kemarin malam, pada saat dia libur dan ingin bertemu denganku, tetapi saat itu jadwalku di rumah sakit memang sangat padat.


Cara Paul yang memeluknya erat seakan menunjukkan hubungan di antara mereka lebih dari sekadar teman. Well, aku punya Travis, jadi kenapa aku harus merasa cemburu?


Paul sangat ingin bertemu denganku kemarin, namun ketika aku menolak, dia langsunh menemukan orang dan menghabiskan malam bersamanya. Aku tidak ingin menjadi orang yang munafik, kurasa aku mulai menyukainya.


Aku berdeham. "Akan lebih baik jika seperti ini." kataku seraya meletakkan koran di atas meja. "Paul dan aku tidak cocok. Kehidupannya terlalu mengerikan untuk seseorang sepertiku yang tidak menyukai perhatian."


"He? Kau terlihat sangat bahagia hari itu... setelah kalian menghabiskan malam bersama." gumam Elise menyindirku sambil tersenyum mengejek.


Aku tertawa pelan, berjuang menyembunyikan kesedihan di wajahku. Entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan Paul. "Kumohon, jangan bahas itu lagi. Kami hanya bercinta sekali, itu saja."


Kami memesan makanan dan makan dengan tenang tanpa membahas apapun yang berhubungan dengan Paul, walaupun sepertinya pikiran kami semua dipenuhi oleh rasa penasaran tentang hubungan antara Paul dan gadis itu.


Diam-diam aku melirik sekilas pada isi artikel dan membaca kalau Paul membawa gadis itu menginap di kamar hotelnya. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi kurasa aku tidak berhak mencampuri urusannya. Lagi pula, hubunganku dan Paul hanya sebatas teman kencan semalam.


"Bee, dengar... hari senin depan merupakan hari istimewa untukmu." Elise mengedipkan mata padaku.


Kami sudah selesai makan siang dan sekarang masih duduk di meja yang sama, memutuskan untuk meminum kopi sebelum kembali ke rumah sakit. Sejak tadi dia fokus membaca halaman ramalan zodiak di koran.


Aku mengangkat alis seraya menyeringai tipis. "Oh, kau tahu aku tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu, babe."


"Kalau begitu, kapan hari istimewaku datang?" tanya Stacey, sindiran tajam jelas terdengar di nadanya.


Elise tampak tidak tersinggung dan malah membaca ramalan zodiak Stacey. "Hm... hari ini." katanya dengan senyum penuh arti, lalu meletakkan koran di atas meja dan menyesap kopinya.


"Well, kurasa kau benar, aku sangat beruntung karena bisa makan siang bersama tiga sahabatku." Sebuah senyum lebar yang berlebihan tertarik di bibir Stacey dan kami tertawa.


"Masih ada beberapa jam tersisa untuk hari ini, say. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?" kata Elise sambil mengedikkan bahu. "Alam bekerja dengan cara yang ajaib, bahkan untuk seorang bitches sepertimu sekalipun."


Stacey terkekeh dan Elise menyeringai senang.


***


Setelah makan siang, Stacey dan aku berjalan bergandengan tangan kembali ke rumah sakit.


"Apa kau tidak merasa terganggu dengan si Paul ini? Maksudku, berita-berita yang tersebar tentangnya nyaris memuakkan secara keseluruhan." kata Stacey, hanya dia yang bisa mengetahui isi kepalaku setiap saat.


Aku menghela napas. "Entahlah. Lagi pula, aku tidak punya hak mengomentari kehidupan pribadinya, aku hanya... aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi Paul mengajakku berkencan lagi saat dia kembali dari luar kota... "


"Aku tahu maksudmu, Bee. Kau pasti menginginkan..."


"Tidak. Kami hanya berkencan, oke?" sambarku cepat, berusaha tidak terdengar putus asa. "Kehidupan Paul terlalu rumit. Aku hanya berkencan satu kali dengannya dan lihat apa yang terjadi, aku dicap sebagai 'gadis misterius' di semua media berita. Kami tidak bisa bersama, Stacey."


"Ya, aku tidak pernah membayangkan kau akan bersama seorang yang terkenal seperti dia... selain itu, meskipun dia adalah orang yang baik dan kau menyukainya, kurasa tidak ada gunanya terlibat dengan seseorang yang bisa bercinta dengan wanita mana saja." gumamnya tegas, membuatku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membela Paul.


Aku yakin dia bukan tipikal pria yang akan bercinta dengan wanita mana saja, dan aku jelas mengetahui itu.


"Oh, don't give me that face!" Stavey tertawa, merangkul pundakku. "Dengar, aku tidak ingin bermaksud jahat dengan mengatakan dia seorang 'penjahat kelamin', hanya saja... apa kau bisa percaya padanya?"


Aku tersenyum dan mengangguk pelan, kupikir aku perlu mempertimbangkan ini sekali lagi.


Tepat saat kami berjalan ke pintu depan rumah sakit, Stacey memekik dan melepaskan tangannya dari bahuku. Aku memandangnya dengan bingung sementara dia berlari ke depan lalu berjongkok.


"Sepuluh Euro!" Dia berdiri dan berbalik menghadapku sambil menyeringai riang, memegang selembar uang sepuluh Euro. "Ini benar-benar hari istimewa untukku, apa kau percaya itu?!"


Kami tertawa terbahak-bahak lalu Stacey memberika uang itu kepada seorang anak kecil yang menggunakan kursi roda, hendak keluar dari rumah sakit.


Kami langsung menuju ke ruang ganti untuk mengenakan seragam, bersiap-siap membantu Dr. Grey melakukan operasi. Aku menyempatkan diri mengecek pesan masuk di ponselku sejenak.


From: Paul: Apa kau sudah melihatnya?


Aku tidak membalas pesannya. Banyak hal yang untuk dipikirkan selain gosip tentang Paul dan semacamnya.