
"Hei, Bianka!" seruan Valerie memecah keheningan antara Paul dan aku yang berdiri di depan lobi hotel. Kami sedang menunggu Alfred memberi kabar kalau dia sudah berada di depan.
Aku tahu ini terdengar konyol, tapi detelah seminggu terpisah, sekarang hubungan kami tumbuh menjadi lebih serius dan nyata, yang mengakibatkan kami hampir tidak mampu menjaga tangan satu sama lain. Bahkan sekarang, di tempat umum, Paul mendekap pinggulku lebih dekat dari yang seharusnya sambil menggodaku dengan rayuan kecil dan lelucon kotor padahal baru tiga jam yang kami bertemu.
"Hei," Aku melambaikan tangan selagi Valerie dan Carl menghampiri kami dari arah lift, diikuti Red dan Felix di belakang mereka.
Paul berdiri disampingku, dengan santai merangkul pundakku sementara Carl memelukku sejenak. "Senang berjumpa denganmu lagi, Bianka."
"Bianka, kau sudah pernah bertemu Felix, kan?" tanya Red sambil tersenyum.
Aku memang pernah bertemu dengan Felix sebelumnya, di rumah sakit ketika aku membantu Paul untuk pertama kalinya, dan saat aku menonton sesi latihan mereka. Tapi, kami belum pernah mengobrol. "Hai, Felix. Senang berjumpa denganmu." kataku sambil menjabat tangannya.
"Aku juga. Kau tahu, Paul tidak pernah berhenti membicarakanmu," cetusnya ringan, sengaja menggoda Paul, membuatku tertawa seraya mengusap punggung tangan Paul di bahuku.
Valerie berdeham. "Kalian mau kemana?"
"Belanja sebentar." balas Paul. "Kalian?"
"Mau makan siang." Berikutnya, perhatian kami beralih pada Felix dan Red. Baru kali ini aku melihat semacam ikatan yang kuat di antara mereka yang terlihat saling mencintai.
"Sebenarnya aku ingin melihat-lihat pusat kota, tapi dari yang kudengar orang Rusia tidak begitu mendukung hubungan sejenis." gumam Red, menautkan jemarinya pada Felix.
Aku melirik Paul yang sedang memainkan ponsel. Sikap yang menurutku kurang pantas untuk dilakukan di tengah-tengah obrolan seperti ini, tapi itu pilihannya...
"Ya, aku juga mendengar soal itu. Menyedihkan, ya?" kataku.
Felix mengangkat bahu. "Well, ini bukan negara kita. Ada kolam renang dan spa bawah, kurasa kami akan menghabiskan waktu disana."
"Ah, itu pasti menyenangkan." Senyum Valerie mengembang sempurna.
Kemudian, tanpa peringatan, Paul menarik tangannya dari bahuku dan memutar tubuhku menghadapnya dengan satu sentakan cepat. Aku mengernyit. "Apa-apaan kau?" tanyaku, bingung dengan gerakannya yang mendadak.
Dia hanya menyeringai genit.
"Oh, ya ampun... Dia akan menggila..."
Meski samar-samar, aku bisa mendengar bisikan Carl dari arah belakangku.
"Ada apa, sih?" Tanyaku, dan tepat saat menoleh ke belakang, aku melihatnya. Cristiano Ronaldo berdiri disana, tersenyum padaku.
Aku menelan ludah sementara merasakan jantungku sejenak berhenti berdetak. Seperti orang linglung, tanpa sadar aku mundur selangkah hingga punggungku menempel di dada Paul. Aku bisa merasakan tangan Paul menahan pinggangku agar tidak terjatuh.
"Bianka, seperti yang kau mau, Cristiano disini." Aku bisa mendengar senyum genit dari nada bicaranya. Paul mencium pipiku dari belakang sementara aku melongo seperti orang bodoh memandang pria di hadapanku.
"Hello, Bianka, aku tak menyangka akan bertemu denganmu."
Oh, ya ampun. Kurasa aku akan pingsan saat tiba-tiba dia memelukku. Aku balas memeluk, mengucapkan sesuatu tergagap-gagap. Tak jelas.
"Hi," pekikku begitu pelukan kami terlepas, masih tidak mampu menemukan kata-kata yang pantas karena terserang startruck dan membeku dibtempat.
"Kau lebih cantik dari yang sering dibicarakan Paul." katanya dengan lembut, aksennya yang kentara membuatnya lebih menarik lagi. Aku memandanginya seperti orang tolol.
"Hati-hati, Bung." Paul tergelak di belakangku, membuat Cristiano menaikkan kedua tangan tanda menyerah. Seulas senyum terbersit di bibirnya.
"Aku sudah menunggu saat ini datang untuk menanyakan sesuatu yang serius padamu," gumam Cristiano seraya menatapku lekat-lekat. Aku mengangguk, memintanya melanjutkan kalimatnya. "Kau mendukung Portugal, kan?"
"Seluruh dukungannya sudah masuk ke tim Jerman." kata Paul, dengan bangga merangkul bahuku. "Bukan begitu, love?"
"Aku, eh... tentu!" sahutku gugup.
Cristiano 'Freaking' Ronaldo itu tertawa riang, nadanya begitu ceria dan ramah.
***
"Apa-apaan tadi itu?" Jantungku masih berdegup kencang ketika aku memasang sabuk pengaman di kursi penumpang bersama Paul.
Paul mengedikkan bahu sambil tersenyum. "Menarik sekali bisa melihatmu kehilangan kata-kata seperti itu."
Aku membayangkan kembali momen mendebarkan yang baru saja terjadi hingga akhirnya aku bisa mengobrol secara pantas dengan seorang Cristiano Ronaldo, tapi percayalah... aku masih linglung sekarang.
Aku baru tahu kalau Paul yang mengatur semuanya, karena sepertinya hubungan mereka cukup dekat. Itu kenapa dia memainkan ponsel ketika kami mengonbrol dengan Valerie, Carl, Felix, dan Red.
"Aku tak percaya kau melakukan itu untukku." Aku mengerang lalu menangkup wajahku. "Aku baru saja mempermalukan diriku sendiri, Paul. Oh, Ya Tuhan... ini momen paling gila dalam hidupku!"
"Love, jangan khawatir. Dia pria yang baik, dia tahu kau penggemarnya dan pasti paham kenapa reaksimu seperti itu. Kau tahu, aku justru takut dia meminta nomor ponselmu saat kalian hanyut dalam obrolan..."
Aku tertawa sembari mendorong pelan lengan Paul. Aku merapikan lengan gaunku sementara Alfred menutup kaca pembatas dalam mobil, membiarkan Paul dan aku berdua.
"Itu bukan masalah, love." katanya seraya menyunggingkan senyum paling manis yang pernah kusaksikan. "Kau bahagia bertemu dengannya, kan?"
"Ya, tapi aku masih belum bisa percaya ini..." cetusku, membuat senyum Paul semakin mengembang. "Ya Tuhan, dia bilang aku cantik!"
Gelak tawa Paul terdengar memenuhi ruang kecil di dalam mobil. "Kau memang cantik, kok. Reaksimu tidak segila ini saat aku mengatakan kau cantik, kenapa? Hm?"
"Siapa bilang? Aku hanya... uhm, kurasa itu naluri manusia normal. Siapa yang tidak mengaguminya? It's Cristiano 'Fvcking' Ronaldo!"
"Ahh, sepertinya masuk akal."
Tak mau menyia-nyiakan waktu, aku maju untuk menciumnya, berusaha mengungkapkan betapa aku bersyukur atas kemurahan hatinya, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk semua hari yang sudah kulalui sejak kami bertemu.
***
"Aku ragu kita bisa menemukan sesuatu di tempat ini," kataku, ragu memandang sekeliling toko yang kami masuki.
Mereka menjual gaun dengan harga selangit, aku tahu aku tak mungkin sanggup membeli sesuatu dari toko ini. Lupakan soal gaun malam, Bianka!
Dengan santai, Paul menarikku lebih ke dalam seakan paham maksud ucapanku, dia pun berucap, "Jangan terlalu memikirkannya, love. Semakin cepat kau menemukan gaunmu, semakin cepat kita bisa melanjutkan acara berikutnya."
Aku melihat sebuah gaun mengagumkan yang terpajang di manekin. Gaun berwarna semerah darah yang sangat indah. Kulangkahkan kaki mendekati gaun itu dan terganga melihat harga yang tertera disana. Jika mata uang Rusia diubah ke Euro, hasilnya mendekati angka €4000! What the fvck!
"Itu bagus, love. Kau menyukainya?" dengkur Paul.
Aku menggeleng. "Ini, eh... Kurasa mereka tidak punya ukuran yang pas untukku."
"Kuyakin pasti ada, tenang saja." Tatapannya memberiku harapan.
"Paul, dengar..." Aku berbalik memandangnya sambil menghela nafas. "Harganya diluar jangkauan. Aku tidak akan membelinya meskipun aku mampu. Menghabiskan uang hanya untuk makan malam?..."
"Hello," Seorang wanita dengan aksen Rusia yang tebal tiba di samping manekin, dia tersenyum manis. "Ada yang bisa kubantu?"
"Aku..."
"Dia mau mencoba ini," kata Paul mewakiliku.
Dengan perasaan ragu, aku terpaksa mencoba gaun itu. Membawanya ke ruang ganti sambil berharap semoga barang itu tidak muat di tubuhku semantara Paul mengekor di belakang.
"Aku tidak terlalu menyukainya, Paul."
"Aku tahu hatimu mengatakan sebaliknya, love. Dengar, jangan pikirkan soal harga dan lihat betapa cantiknya kau saat ini." sahutnya, mengamatiku dari sofa di dalam ruang ganti.
Aku menuruti saran Paul, seketika benci karena gaun sialan itu benar-benar indah membungkus tubuhku. Belahan dadaku terlihat sempurna dengan seutas tali kecil pada kedua bahu. Secara keseluruhan, lekuk tubuhku tampak begitu menggiurkan bahkan untuk diriku sendiri.
"Jangan bilang kau tidak menyukainya sekarang." dengkur Paul, seakan dia tahu isi pikiranku.
"Aku suka..."
"Kalau begitu kau mau, kan?"
"Apa? Tidak, Paul. Aku..."
"Aku akan membelikannya untukmu."
Aku berbalik, menurunkan pandangan padanya. "Tidak, aku tidak mau. Kita sudah pernah membahas ini, aku tidak suka kau menggunakan uangmu untukku."
"Love, aku ingin memberimu hadiah."
"Belum saatnya, ini bukan Hari Natal atau hari ulang tahunku. Aku tidak bisa menerimanya." kataku serius. Sudah cukup dia memintaku menemuinya disini dengan private jet, tidak ada lagi yang kubutuhkan sekarang.
"Kau bekerja sangat keras, Bianka. Terutama minggu lalu, dan kau melakukan itu agar mendapatkan libur di akhir pekan untuk mendatangiku. Kau wanita yang luar biasa, kau pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang bisa kuberikan. Biarkan aku membelikan ini untukmu sebagai ungkapan terima kasih karena kau sudah memberiku begitu banyak hal."
"Memberimu begitu banyak hal?" Aku membeku. "Kau yang membawaku bertemu Cristiano Ronaldo, bagaimana mungkin itu setimpal dengan ******* yang..."
"Berhenti bersikap kepala batu," Dia menyeringai. "Oh, itu ******* yang luar biasa."
Aku menarik nafas putus asa lalu menghempaskan bokong di sebelahnya. Paul tidak mungkin menyerah dengan mudah.
"Kau tidak tahu betapa aku bahagia saat bersamamu, love. Tanpa kau sadari, kau memberiku kebahagiaan. Aku akan membeli gaun ini untukmu. Titik." Matanya menatapku serius.
"Aku pasti mengganti uangmu."
"Tidak perlu. Kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup."
Dengan satu hembusan napas berat, sangat berat, aku terpaksa menyerah dan menganggukkan kepala.