
Aku dan teman-temanku masih bertahan di klub dan sedang aku sedang berdiri di depan pintu toilet, menunggu Camille.
Ini sudah lewat tengah malam. Setelah tadi sempat berbicara sebentar dengan Paul, aku benar-benar kehilangan minatku terhadap minuman apapun. Bahkan cocktail milikku kuberikan kepada Red yang dengan senang hati menerimanya.
Kesadaranku perlahan-lahan kembali meski aku masih merasa sedikit pusing. Aku mencoba bersantai menikmati alunan musik yang terdengar hingga ke lorong tempatku berdiri saat ini, sementara pikiranku masih dipenuhi sosok Paul. Aku yakin dia juga sedang tersiksa menghadapi masalah yang terjadi kami. Dampaknya jelas terlihat pada wajahnya yang lesu dan tak bersemangat, serta kantung mata yang menebal. Aku ragu dia benar-benar bisa istirahat dengan baik.
Aku memutar kepala saat mendengar bunyi suara pintu terbuka. Awalnya kukira Camille yang keluar dari sana, namun yang kulihat justru wajah Paul muncul dari pintu toilet pria. "Hei," sapaku ringan sambil menegakkan tubuh ketika dia berhenti di depanku. "Aku sedang menunggu Camille." dengan cepat aku lanjut berbicara, menunjuk ke pintu toilet wanita.
"Oh, okay." Dia berdeham, tak menyiratkan kalau dia akan segera kembali ke dalam klub.
Aku bisa melihat perdebatan dalam matanya saat dia menatapku. Aku ingin dia menyerah dan berbicara padaku, alih-alih melangkah dan meninggalkanku lagi. "Bagaimana malammu? Menyenangkan?" tanyaku lembut, berharap dia mau meluangkan waktunya sebentar.
Paul berpaling sejenak, rahangnya mengeras. Kemudian dia maju untuk menepis jarak di antara kami. "Aku tidak tahu kau akan kesini malam ini," katanya mengakui dengan mata segelap malam terus mengamatiku. Ketegangan di antara kami nyaris tak tertahankan.
Aku mencoba menepis kecanggungan yang ada dengan menyunggingkan satu senyum tulus untuknya. "Aku juga tidak mengira akan berjumpa denganmu." balasku.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya pelan.
Bukan bermaksud sombong, tapi aku tahu dia masih mencintaiku, tak diragukan lagi. Aku juga merasa dia sedang bertanya bagaimana perasaanku terhadapnya sekarang melalui kalimatnya. Aku menempelkan punggungku pada dinding dan melipat kedua tangan di dada. "Boleh aku jujur padamu?" kataku sambil tergelak.
"Silahkan."
"Kurasa... aku baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi andai aku tidak memiliki teman yang loyal." gumamku tanpa menatap matanya. "Kau sudah menyakitiku, Paul. Kau pergi begitu saja meninggalkanku. Kenapa kau melakukan itu padaku?"
Dengan kepala menunduk, dia menarik nafas dalam-dalam. "Kau juga meninggalkanku, Bianka. Di Rusia."
"Oh, kumohon jangan samakan itu dengan kepergianmu. Aku pergi karena membutuhkan ruang untuk berpikir, mencerna semua yang telah terjadi, sementara kau benar-benar meninggalkanku. Kau pikir apa yang kurasakan saat ini Paul? Kau tahu, saat kau datang ke rumahku hari itu, aku sudah berniat memaafkanmu dan melupakan semuanya." Aku menggeleng frustasi selagi mencoba tenang.
"Aku harus menjauh darimu, Bianka. Aku tidak sanggup melihatmu dan mengucapkan selamat tinggal." katanya, tatapan kami kembali bertemu. "Aku minta maaf."
"Kalau begitu, kenapa kau ingin mengakhiri hubungan kita sementara kau sendiri tak menyukai gagasan itu?"
"Sudah kubilang, itu demi kebaikanmu, Bianka." Dia kembali menunduk, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Well, kau salah." protesku. "Tak ada kehidupan yang mudah. Saat bersamamu, aku merasa... lebih banyak hal baik yang terjadi dibanding semua masalah yang ada. Kau mengira hidupku akan lebih mudah jika kita berpisah dan mungkin kau benar, tapi bukan berarti kau berhak memutuskan sesuatu untukku. Ini hidupku, Paul... aku yang akan mengendalikannya."
Paul mendengarkan dengan tenang, lalu tergelak sambil meraih pinggulku. Dia menuntunku ke ujung lorong dan menjauh dari depan pintu toilet. Begitu kami berhenti, dia kembali menarik tangannya seraya berdeham.
"Aku pria yang payah, aku terlalu egois dan hanya membuatmu berada dalam kesulitan." katanya tegas. "Aku terlalu mencintaimu sampai tak menyadari kalau kau membenci kehidupanku. Sejujurnya aku sendiri tidak mau kehilanganmu, Bianka. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuatmu tenang dan bahagia. Apa kau tahu..."
Dia jelas sangat putus asa saat ini. Aku tidak sanggup mendengar celotehnya lebih lama dan memilih memotong ucapannya dengan menangkup wajahnya lalu menciumnya. Aku bisa mendengar geraman tertahan di dadanya sebelum dia membalas ciumanku dan mendesakku ke dinding sambil mencengkeram pinggulku.
"Sialan, Bianka..." Dia mengerang, terus menciumku. "Kau harus melupakanku."
Meskipun mulutnya jelas memintaku pergi, namun dia tidak menghentikan kegiatan kami di lorong klub, tak ada tanda-tanda dia akan berhenti. Aku menaikkan kedua tanganku menyusuri rambutnya yang tebal, sementara hatiku merasakan kelegaan sesaat.
"Aku tidak bisa melupakanmu, Paul. Aku tidak mau mengakhiri semuanya. Kumohon, jangan mengkhawatirkanku." lirihku di bibirnya, membuatnya terkekeh pelan.
"Kau benar-benar keras kepala..."
Aku menciumnya kembali untuk menyatakan betapa aku merindukannya sekaligus mengungkapkan perasaanku yang tulus untuknya meskipun aku tahu Paul sudah menyadari itu. "Ayo, pulang ke rumahku." dengkurku setelah melabuhkan satu ciuman singkat di pipinya.
Dia terdiam, tampak ragu sementara tangannya menjauh dari pinggangku. Aku mendongak saat melihat dia hendak mundur.
"Bianka..."
"Berhenti mengkhawatirkan apapun, Paul. Kita bisa melewati ini. Apa kau mengira aku terlalu lemah sehingga tak sanggup menahan tekanan?" kataku, berusaha membujuknya.
"Ini bukan masalah kecil. Orang-orang akan terus mengganggumu, entah untuk tujuan baik atau buruk, kau tidak akan mampu bertahan dengan semua perhatian itu. Belum lagi soal privasi yang akan selamanya hilang dari hidupmu, dan bagaimana dengan jadwal kita yang selalu bertabrakan? Ini memusingkan, percayalah..."
"Sudah kubilang, jangan khawatir. Kau mau kita pergi dari sini atau tidak?"
Paul mengamatiku selama beberapa detik. "Apa kau mabuk?"
"Sedikit pusing, ya... tapi bukan berarti aku tidak menyadari apa yang kulakukan sekarang. Dengar, Paul, kumohon berhenti bersikap seakan kau tidak peduli padaku. Kita bisa membicarakan semuanya dengan tenang di rumahku, oke?"
Aku merasakan kelegaan yang mengalir deras begitu dia mengangukkan kepala.
***
Sekarang, Paul dan aku sudah berada di dapur rumahku. Aku melepaskan hak tinggiku dan menendangnya ke bagian bawa konter lalu berderap untuk mengambil gelas. "Mau wine?" tanyaku pada Paul.
Aku mendengar dehaman kecil sebelum dia berbicara. "Apa kau punya sesuatu yang lebih keras?"
Aku menoleh dan mendapati dia sedang bersandar di pintu dapur. Dengan pelan aku mengangguk seraya tersenyum halus. "Ya, aku punya tequila. Mau?"
"Ya, itu saja." gumamnya lalu mengalihkan tatapan dariku.
Dia terlihat sangat gelisah, bingung, dan putus asa. Aku tidak menginginkan apapun selain membuatnya tenang dan merasa lebih baik. Aku tahu dia sedang berperang dengan dirinya sendiri yang terus berusaha menjauhkanku darinya, tapi jujur kukatakan, aku mau hubungan kami kembali membaik.
Aku mengeluarkan sebotol tequila, menuangnya ke dalam dua gelas kosong lalu membawanya ke meja makan. Baru saja aku hendak berbalik untuk mengambil jeruk nipis dan garam di dapur, aku memperhatikan Paul yang tiba-tiba berjalan melewatiku dan meraih botol tequila dari konter.
Aku mengernyit, kemudian terdiam membeku saar melihat dia membuka tutup botol dan langsung meminum tequila dari sana. Aku meringis, garam dan jeruk nipis seketika menguap dari kepalaku.
"Kau tidak butuh garam atau..." tanyaku gugup selagi dia menurunkan botol dari mulutnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Tidak."
"Tapi tequila lebih nikmat jika..."
"Aku tahu cara menikmati tequila, Bianka. Aku bukan orang bodoh." katanya dengan nafas tersengal-sengal sambil menyusurkan sebelah tangan ke rambutnya.
Aku memijat pangkal hidungku seraya menghembuskan nafas berat, menghadapi Paul tidak akan semudah yang kubayangkan. "Okay." balasku, menantangnya untuk melanjutkan kegiatan yang menyebalkan ini.
Aku merebut botol tequila dari tangannya dan meneguk isinya banyak-banyak, hingga tenggorokanku terasa terbakar. Aku mengerang pada rasa panas yang mengalir turun ke perutku.
Kami terus melakukannya secara bergantian tanpa mengatakan apapun sampai kami benar-benar mabuk seperti orang sinting. Meskipun begitu, aku tidak berhenti mengaguminya. Mataku terus terpaku pada parasnya yang tampan mempesona.
"Aku tidur dengan wanita lain, Bianka." cetusnya tiba-tiba setelah beberapa menit kami pindah ke sofa ruang keluarga di rumahku.
Sontak aku memutar tubuh menghadapnya. Kewaspadaan menjalar di sekujur tubuhku. "Lagi?"
"Tidak, Bianka. Maksudku, Carmen." Satu hembusan nafas lega lolos dari sela-sela bibirku saat menyadari dia tidak berbohong. Aku juga bersyukur setidaknya dia mau berbicara denganku saat ini, meskipun aku yakin itu merupakan dampak dari sebotol tequila yang kini isinya hanya tinggal sedikit.
"Oh, benar..." Aku mengangguk, membiarkan diriku tersesat sejenak dalam kegelapan matanya yang sangat kurindukan. Aku mengerjap perlahan lalu lanjut berbicara. "Kita hanya berkencan, dan tidak ada yang serius dari hubungan kita saat itu, kan?"
"Kau terlalu murah hati menanggapi itu." kata Paul dengan nada yang lebih lembut dan santai. "Aku satu-satunya orang yang mengacaukan hubungan kita, Bianka. Aku yang memaksamu setuju untuk mengumumkan kepada publik soal kedekatan kita, bahkan sebelum kau merasa nyaman di dekatku. Lalu kemudian, Carmen datang... dan kau tahu bagaimana akhirnya."
Aku mengerutkan kening. "Paul, yang sudah berlalu biarlah berlalu..."
"Kenapa kau begitu gigih memaafkanku dan melupakan semuanya? Apa yang kau cari?"
"Apa maksudmu?" tanyaku sinis, tak senang mendengar pertanyaannya yang seakan merendahkanku.
"Kau mendengar apa yang kukatakan, Bianka. Aku tidak tahu apa niatmu mempertahankan hubungan yang rumit ini. Aku hanya pria egois yang akan terus membuatmu berada dalam masalah. Tidak ada sedikitpun kebaikan yang bisa kau temukan dalam diriku." kata Paul menjelaskan, terdengar sangat yakin dengan ucapannya.
Aku menghela nafas lalu meneguk tequila dan menyerahkan sisanya kepada Paul. Sudah cukup alkohol yang masuk ke dalam tubuhku untuk hari ini.
Sementara Paul menerima botol tequila dari tanganku, aku menjawab keraguannya. "Kau membuatku merasa aman dan nyaman. Aku bahagia saat bersamamu, aku selalu tertawa pada lelucon ringan yang keluar dari mulutmu. Aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu, Paul. Mungkin kau akan mengira aku tertarik pada kekayaanmu, dan aku tidak bisa..."
"Aku tahu bukan itu tujuanmu mempertahankanku." dengusnya kasar. Dia menunduk menatap botol tequila di pangkuannya lalu maju untuk meletakkan botol itu di atas meja.
"Lantas kenapa kau tidak mau aku memaafkanmu? Aku ingin kita melupakan masalah ini dan memulai semuanya dari awal. Jangan bilang kau tidak menginginkan itu?"
"Aku ingin kau bahagia, dan..."
"Hentikan!" sambarku secepat kilat. "Aku selalu bahagia saat bersamamu."
"Bagaimana kalau aku tidur dengan wanita lain ketika kita resmi menjalin hubungan? Apa kau akan tetap memaafkanku?" Pandangan kami beradu, aku bisa menangkap sekelebat perasaan kesepian dan rindu melintas di matanya.
"Kau tidak akan melakukan itu, aku percaya padamu." sahutku dengan yakin. "Lupakan soal Carmen, kau tidak perlu cemas apakah aku akan marah atau tidak. Aku bisa memahami keadaan kita saat itu."
Diikuti satu hembusan nafas, Paul memgangguk lemah. Beberapa menit berikutnya tak ada suara di antara kami. Kami hanya terdiam menatap satu sama lain hingga Paul memalingkan wajah dan bergeser. "Ini sudah larut, aku harus pulang."
Alih-alih membiarkannya beranjak dari sofa, aku justru menepis jarak lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menciumnya dengan keras.
"Temani aku tidur malam ini. Aku merindukanmu." gumamku pelan, nyaris berbisik.