My Love Journey's

My Love Journey's
Still Survive



To: Paul: Just got my bachelor's degree!! Say hello to a registered nurse!


Aku baru saja mengirim foto wisudaku kepada Paul, dengan sengaja menunjukkan kalung dan cincin tunangan yang diberikannya padaku agar dia melihat betapa aku bahagia dan bangga menjadi wanita yang berhasil masuk ke dalam hidupnya. Di foto itu aku juga tersenyum manis.


Paul membalas pesanku saat hari menjelang malam sementara aku mengirim pesan pada jam sebelas pagi. Bagus sekali!


From: Paul: Wow, selamat, love!!! Kuharap aku berada disana dan merayakannya bersamamu. Oh, astaga... kau cantik sekali, Bianka! Aku mencintaimu x


To: Paul: I love you too. Sedang apa?


From: Paul: Maaf, love... Ada sesuatu yang harus kulakukan. Nanti kutelepon, okay?


Aku mengerang dalam hati. Kecemasan kembali menyerang sampai dadaku terasa sesak setiap kali aku mengingatnya. Dua hari yang kami lalui saat aku dan ibunya berkunjung ke Madrid benar-benar luar biasa, namun kenyataan menghantam dengan segera dari segala arah begitu aku kembali ke Jerman.


Kesibukanku semakin parah seiring jadwal studi program masterku sudah di mulai, begitu juga dengan Paul. Jadwal latihan untuk setiap pertandingannya bersama Real Madrid sangat padat. Kami masih terus mengirim pesan atau mengobrol di telepon sesekali, tapi tidak sesering ketika awal-awal dia pindah ke Spanyol.


Sekarang, dengan pekerjaan dan studi yang semakin menyita waktu dan tenagaku lebih banyak, minggu demi minggu berlalu terasa semakin berat karena kami tidak bisa menyesuaikan jadwal seperti yang sudah direncanakan pada saat sebelum dia ke Spanyol.


Hingga saat ini sudah sangat banyak rumor yang bermunculan yang mengatakan Paul tengah menjalin hubungan dengan beberapa model Spanyol, dan dia selalu berhasil meyakinkanku kalau foto-foto yang beredar itu hanya editan, atau hanya gosip murahan yang tidak jelas sumbernya.


Tapi, tapi... tidak dengan satu berita yang terbit belakangan ini. Paul tidak mengatakan apapun tentang berita itu. Tidak ada pesan apapun darinya untuk mengklarifikasi sebuah foto yang menunjukkan dia tengah menggandeng seorang model seksi, tentu saja. Intinya, dia seolah membenarkan berita itu, atau setidaknya itu yang kutangkap dari sikap diamnya.


Pikiranku semakin kacau mengingat hubungan kami yang perlahan-lahan terasa semakin jauh. Yah, aku tahu kami sama-sama sibuk dan sungguh aku bisa memahami itu, tapi aku juga tidak bisa berhenti mencemaskan kemana arah hubungan kami ke depannya.


Bagaimana jika fotonya dengan model itu benar? Bagaimana jika dia berhubungan dengan wanita lain disana? Berbagai pemikiran semacam itu tak pernah berhenti menghantui hari-hariku.


Aku berjuang sekeras tenaga meyakinkan diri sendiri kalau Paul tidak mungkin mengkhianatiku, dia sudah berjanji dan aku berusaha percaya padanya. Tapi dia sama sekali tidak pernah membahas soal berita itu.


***


From: Paul: Love, aku sedang minum. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mabuk, tapi kurasa karena terlalu merindukanmu x


Aku mengernyit memandang layar ponsel selagi membaca pesan aneh dari Paul beberapa kali. Ini sudah lewat tengah malam, dan dia bilang sedang mabuk.


To: Paul: Apa kau baik-baik saja? Dimana kau?


From: Paul: Kumohon, jangan marah, love. Aku bersumpah sudah menolak, tapi Gareth dan teman-teman yang lain memaksaku ikut.


From: Paul: Kami sedang berada di strip club yang cukup tertutup.


Seketika dadaku sesak membaca pesannya.


To: Paul: Kau di strip club?


From: Paul: Ya, love. Tapi aku hanya duduk di meja bartender bersama bersama beberapa temanku. Tidak ada wanita. Aku bersumpah.


To: Paul: Sebaiknya begitu. Ingat, Paul... kita sudah bertunangan, dan kau sudah berjanji tidak akan memasuki tempat itu.


From: Paul: Aku tahu, love. Aku benar-benar sudah menolak, ini bukan keinginanku sama sekali.


Baiklah, terserah apa katamu, Paul. Aku sudah terlalu lelah bekerja seharian di rumah sakit, tenagaku benar-benar terkuras habis. Tidak ada celah yang tersisa untukku hingga sanggup memperdebatkan sesuatu yang lain. Pikiranku sendiri sudah sekarat membayangkan betapa kacaunya komunikasi kami sekarang, belum lagi banyaknya rumor memuakkan yang perlahan mulai mengambil alih akal sehatku. Satu per satu masalah datang, dan saat ini semuanya menumpuk seakan menuntunku kepada amarah yang aku sendiri tidak tahu karena apa, atau untuk apa.


Aku percaya padanya. Apakah sekarang aku mulai meragukannya? Apakah Paul benar-benar jujur padaku?


To: Paul: Okay. Bersenang-senanglah dengan temanmu, tapi jangan terlalu mabuk. Aku sudah mengantuk, dan besok jadwalku pagi-pagi sekali. Aku mencintaimu x


Titik tiga di bawah namanya muncul menandakan dia sedang mengetik balasan membuatku mengurungkan niat meletakkan ponsel. Aku menurunkan pandangan menoleh Frosty yang terlelap di sampingku, dengan lembut aku mengusap-usap bulunya yang halus.


From: Paul: Tunggu sebentar, love. Aku akan meneleponmu.


Saat namanya terlihat di layar ponsel, aku langsung menjawab panggilan. "Hey, baby..." gumamnya dari ujung sambungan.


"Hai." Nadaku jelas terdengar lebih ketus dari yang kukira.


"Aku di luar sekarang. Apa kau bisa mendengar suaraku?" tanyanya. Sudah sebulan berlalu sejak terakhir kali kami bertemu di Spanyol dan aku sangat merindukannya.


"Ya," sahutku sambil membuang nafas berat. "Paul, tidak apa-apa kalau kau sedang bersama teman-temanmu. Lanjutkan saja, aku percaya padamu."


"Aku tahu. Uhm, beberapa paparazi sempat mengambil foto saat kami masuk tadi, dan aku tidak mau kau terkejut saat melihatnya." Dia terkekeh halus. "Sedang apa?"


Ah, jadi sekarang dia menjelaskan foto yang mungkin akan beredar besok pagi, tapi tidak mengatakan apapun soal ratusan rumor tentang kedekatannya dengan model Spanyol itu?


"Berbaring di ranjang. Ini sudah terlalu larut dan aku harus bangun pagi..."


"Pakaian apa yang kau kenakan?" tanyanya dengan nada bergurau.


Aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Hoodie milikmu."


"Paul! Bung, kembalilah ke dalam!" samar-samar telingaku menangkap suara seorang pria memanggilnya. Munkin salah satu temannya.


"Ya, tunggu sebentar," sahut Paul, lalu kembali berbicara padaku. "Hanya itu?"


"Apanya?" Aku menguap.


"Kau hanya mengenakan hoodie?"


"Ya... Paul, tidak ada kegiatan phone s-e-x malam ini."


"He? Okay, okay." katanya sambil tertawa. Kemudian mendadak suaranya terdengar serius. "Maafkan aku, Bianka. Belakangan jadwalku sangat padat dan tidak sempat meneleponmu."


"It's fine, Paul. Kita sama-sama sibuk, kan?" balasku tenang. "Apakah ada kemungkinan kau pulang dalam waktu dekat?"


"Kurasa tidak." gumamnya sedih. "Kutebak kau juga sibuk akhir pekan ini, kan?"


"Ya. Aku nyaris tak ada waktu bahkan untuk istirahat sekalipun. Jadwalku semakin kacau sejak kelas masterku di mulai."


"Okay. Uhm, Bianka..."


"Hm?"


"Kurasa lebih baik pulang sekarang," cetusnya, nadanya seolah sedang bertanya.


"Oh?"


"Ya. Strip club bukan tempat yang asik jika tunanganku tidak ikut," Aku bisa membayangkan dia sedang tersenyum saat ini. Entah ini masuk akal atau tidak, tapi suaranya yang lembut membuat hatiku sedikit lebih tenang.


"Aku tidak mau kau menjadikanku alasan yang menahanmu bersenang-senang dengan teman-temanmu, Paul. Pergilah, aku tidak akan marah." kataku lembut meyakinkannya. "Hanya saja, jaga dirimu dari makhluk 'aneh' yang berkeliaran disana."


Dia tertawa. "Tidak, lebih baik aku pulang saja. Harry, Johnny, Thomas, dan Ellie akan datang besok. Jadi, aku harus sadar saat menyambut mereka." Paul mengumumkan.


"Ah, senang mendengarnya. Kau pasti sangat merindukan mereka." sahutku, kembali menguap.


"Yup."


Kami mengobrol hingga sekitar lima menit kemudian. Bukan obrolan penting, hanya bertanya tentang kegiatan masing-masing sampai Pauk memanggil Alfred dan pulang ke rumah. Setelah memastikan Paul benar-benar pulang, dengan perasaan lega aku memutuskan sambungan telepon.


From: Stacey: Bee! Sebentar lagi Elliot ulang tahun, bagaimana kalau kita merayakannya di rumahmu? x