My Love Journey's

My Love Journey's
Honeymoon Failed.



"Ya Tuhan, Love... aku tidak sanggup kalau harus melihatmu seperti ini setiap hari. Ini tidak mungkin normal, pasti ada yang salah denganmu atau dengan anak kita."


Aku berdiri di depan wastafel, berpegangan pada tepian konter selagi Paul mengoceh tanpa henti mengeluhkan mual di pagi hari yang baru kualami beberapa hari terakhir. Karena mual ini kami bahkan harus membatalkan rencana bulan madu selama dua minggu dan pulang pada hari ke empat.


Aku sudah mengatakan padanya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, kalau mual di pagi hari saat hamil muda merupakan hal yang normal di alami oleh ibu hamil. Tapi, yah, lagi-lagi yang kubicarakan ini Paul, pria keras kepala dan tak mau kalah. Aku risih mendengar keluhannya setiap pagi, tapi kalau boleh jujur, aku juga agak merasa tersiksa mengalami mual ini karena dia tidak hanya datang di pagi hari, tapi nyaris sepanjang waktu setiap kali aku habis memakan sesuatu.


Bisa kubilang tak ada makanan yang benar-benar diserap oleh tubuhku dalam seminggu terakhir, berat bedanku turun drastis hingga tulang pipiku menonjol. Singkatnya, aku terlihat seperti tengkorak hidup. Tidak ada energi yang tersisa untuk melakukan apapun, bahkan untul mandi saja harus di bantu Paul.


Dua hari yang lalu kami sudah memeriksakan kandunganku yang baru berusia sembilan minggu dan semuanya baik-baik saja. Dokterku bahkan memberikan obat untuk morning sick yang kualami, tapi itu tidak mempan. Mungkin karena anakku sama keras kepalanya dengan ayahnya, jadi dia seakan ingin menyiksaku.


Aku membasu mulut lalu berkumur dengan cairan pencuci mulut sementara Paul mengusap punggungku dengan lembut. "Love, kita ke rumah sakit, oke?" usulnya.


Aku menggeleng lemah. "Percuma. Dokter sudah memberiku obat untuk mengurangi mualku, ingat?" Dia mengangguk. "Dan, lihat apa yang terjadi? Tidak mempan."


Aku berbalik lalu memeluknya dan menyembunyikan wajahku di leher Paul. Menghirup aroma tubuhnya merupakan satu-satunya obat paling manjur, setidaknya untuk beberapa waktu sebelum dia melakukan aktivitasnya. "Ah, menenangkan sekali..." bisikku pelan.


Dia terkekeh. "Kau mau aku menemanimu di rumah? Aku bisa membatalkan pertemuan hari ini kalau kau mau." Dengan lembut, dia menawarkan, yang tentu saja kuterima dengan senang hati.


Aku menarik wajah untuk menatapnya, mataku berbinar-binar senang. "Benarkah? Kau serius?"


"Ya. Lagi pula, belum waktunya aku bekerja. Pelatihku memberiku libur selama dua minggu untuk bulan madu kita, jadi aku bisa menemanimu di rumah sampai masa liburku habis."


Aku berjinjit mencium pipinya. "Sempurna! Bagaimana kalau kita ke rumah ibumu? Banyak hal yang ingi kutanyakan padanya."


Karena sejak kecil aku hanya dibesarkan oleh ayahku, secara praktis aku tidak pernah melihat bagaimana sikap seorang ibu pada anaknya. Maksudku, ya, aku memang masih mengingat bahwa ibuku pernah hadir di masa lalu, tapi waktu yang sebentar itu tidak cukup untuk membuatku mengerti sepenuhnya. Aku perlu melihat contoh ibu yang hadir dalam setiap fase kehidupan anaknya, dan beruntung Paul memiliki ibu yang selalu berada di sampingnya, mendampinginya di setiap keadaan, baik atau pun buruk.


Paul tersenyum, tatapannya menyiratkan kalau dia memahami keresahanku soal ini. "Okay, kita akan menginap disana beberapa hari selagi kau berusaha mengorek semua informasi darinya." Dia mencium keningku. "Sekarang, ayo sarapan dan bersiap-siap."


Aku mengangguk senang, mulutku tersenyum lebar. Sarapan sesungguhnya bukan ide yang baik, mengingat beberapa menit setelah makan aku pasti akan segera memuntahkannya kembali, dan membayangkan itu saja sudah membuat perutku melilit. Tapi, aku tidak boleh membiarkan bayiku kelaparan di dalam sana. Yah, paling tidak buah bisa sangat membantu.


Paul mengangkat tubuhku ke dadanya dan membawaku turun untuk sarapan. Dia mendudukkanku di kursi dapur lalu berderap ke kulkas dan langsung menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan untukku. "Mau susu?" Aku menggeleng. "Teh?" tanyanya lagi.


"Tidak. Air putih saja. Aku tidak yakin yang lain akan bertahan lebih dari semenit di perutku." sahutku sambil meringis.


Dia mengerang, keputusasaan melintas di wajahnya saat dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, dia menghampiriku. "Love, aku minta maaf kau harus mengalami ini. Aku tahu kau pasti sangat tersiksa. Seandainya bisa, lebih baik aku yang merasakannya."


Aku tertawa, terhibur memandang ekspresinya yang menggemaskan. "Well, dalam beberapa kasus, ada pria yang mengalami ini saat pasangan mereka sedang hamil. Tapi, percayalah... kau tidak akan mau mencobanya."


"Eh, kenapa? Aku pria kuat, fisikku lebih kuat daripada kau. Aku yakin bisa mengatasi apapun. Jangan meremehkanku, Rapunzel." gumam Paul, mulutnya menyeringai sementara dia mencium pipiku sebelum kembali berderap untuk mengambilkan air.


"Tunggu sampai kau mengalaminya. Dan, kita akan lihat sejauh mana kau bertahan." balasku menantang, meraih gelas berisi air minum dari tangannya.


"Percayalah, aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Kau pikir aku tidak memahami kebiasaanmu dalam empat tahun terakhir?" Aku mengedipkan mata genit. Dia terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Uhm, Paul, boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Sure. Apa?"


"Mmm... Apa kau mau mengunjungi Indonesia?" Aku meringis, tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Bagaimana kalau dia menolak? Bukan karena dia tidak mau, tapi karena pekerjaannya.


Bulan depan klubnya harus mulai berlatih keras untuk bertanding di liga tahun ini, yang berarti dia akan sangat sibuk. Aku sudah mengalaminya bertahun-tahun. Setiap kali musim di mulai, Paul nyaris tak ada waktu untukku selain malam hari dan akhir pekan. Tapi, entah kenapa mendadak aku ingin sekali kembali ke Indonesia.


Ada banyak hal yang kurindukan disana. Udaranya yang pengap namun tetap terasa seperti rumah, lalu lintasnya padat dan Jakarta yang seakan tidak ada matinya. Siang malam jalanan selalu ramai. Dan, tentunya, teman-temanku juga sudah merengek bertanya kapan aku akan kembali.


Berita pernikahanku dengan Paul sepuluh hari lalu tentu akan diketahui siapa saja, begitu pula dengan teman-temanku. Theo, Yola, Sheril... Ah, aku sangat merindukan mereka.


Paul menyipitkan mata, menghentikan sejenak kegiatannya memotong buah. "Aku mau, love, tapi kau tahu sendiri mulai bulan depan jadwalku akan penuh." Dia menunduk, sebelah tangannya bertumpu di pinggang sementara tangannya yang lain menopang tubuhnya pada tepian konter. "Bagaimana kalau kita kesana setelah musim berakhir?"


"Itu berarti tahun depan?" kataku menyimpulkan. "Kurasa tidak bisa, kalau begitu. Karena itu berdekatan dengan jadwalku melahirkan. Selain itu, aku tidak mau kesana dengan perut buncit. Percuma saja kita pergi kalau pada akhirnya aku tidak bisa menikmati momen selama berada disana."


"Aku minta maaf, love." Dia melanjutkan memotong buah sementara aku melangkah ke kabinet paling ujung untuk mengambil obat.


"Yah, mau bagaimana lagi. Bukan kita yang mengatur semuanya, kan?" Kepahitan terdengar jelas di nadaku. Aku kecewa, tapi dalam hati juga menyadari kalau ini bukan keinginan Paul. Dia akan melakukan apapun untukku selagi bisa, dan ini bukan sesuatu yang bisa dia kendalikan.


Kami terdiam selama beberapa saat, sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing. Aku kembali duduk di kursi dan menopang dagu di tangan, seketika kantuk menyerang dan aku mencoba menutup mata.


Aku tersentak saat tiba-tiba Paul mengguncang bahuku. "Love, ya ampun... Kau tidak bisa menahan diri, ya?"


"Ini bukan kemauanku!" ketusku kesal. Dia tahu aku selalu mengantuk belakangan ini. Aku menguap, lalu mengerjap saat menyadari dia sudah menyelesaikan sarapannya. "Berapa lama aku tertidur?" tanyaku penasaran.


"Sekitar setengah jam." sahutnya sambil terkekeh. "Aku baru mengetahui wanita hamil bisa bertingkah seperti koala. Kau tidur lebih dari enam belas jam sehari. Apa kau sadar?" Dia tertawa lagi sebelum mengangkat piring kotornya dan meletakkannya di wastafel.


"Bukan salahku," gerutuku tak terima. "Anakmu yang membuatku begini."


Dengan raut terkejut dia mendekatiku dan berlutut hinga kepalanya sejajar dengan perutku. "Hei, baby, kau dengar itu? Ibumu sedang marah padaku karena kau membuatnya tak bisa melakukan sesuatu. Jadilah anak yang baik sebelum aku menghukummu, okay?"


Sekarang giliranku yang tertawa. "Bagaimana caramu menghukumnya, Klug?" kataku geli.


Seringai nakal dan genit melintas di sudut mulutnya saat dia menengadah menatapku. "Well, tentu saja kau harus membantuku untuk itu. Bagaimana kalau kita menghukumnya sekarang, Mrs. Klug?"


Aku memutar bola mata. Memahami maksud ucapannya, aku pun buru-buru menolak. "Tidak. Kita harus bersiap-siap ke rumah ibumu. Jadi, bagaimana kalau sekarang kau menggunakan sedikir tenagamu untuk membantuku naik ke kamar?" Aku mengangkat sebelah alis.


Dia tergelak, lalu dengan kedua tangannya yang besar dan berotot, dia mengangkatku dari kursi. "Dengan senang hati, Miss."