
...Author's POV....
Perayaan hari Natal pada tahun ini berjalan luar biasa tanpa terkecuali. Bianka dan Paul menghabiskan sebagian besar waktu bersama keluarga Bianka dan juga Anne yang masih bertahan di Jakarta. Sementara untuk malam Tahun Baru, mereka memutuskan mengunjungi rumah orang tua Bianka. Pada awalnya suasana terasa amat canggung, tapi beruntung ayah Bianka mencoba untuk bersikap baik dan menerima hubungan mereka, setelah mengetahui peristiwa keguguran yang di alami Bianka dari Marissa, yang belum disadari keduanya.
Paul agak terkejut dengan perubahan sikap Daniel yang terkesan mencurigakan, tapi mencoba percaya tak ada motif jahat di balik kebaikan itu.
Segalanya terasa sudah kembali pada tempat yang seharusnya. Untuk sementara waktu selama rumah mereka di renovasi, Bianka dan Paul tinggal di rumah Bianka. Paul sudah menandatangani kontrak kerja dengan tim sepakbola Persija, sementara Bianka juga kini kembali bekerja di rumah sakit yang sama.
Bianka benar-benar mensyukuri proses dalam kehidupan mereka saat ini. Karena sekarang Paul bekerja di Jakarta, maka dia memiliki jam kerja yang hampir bisa di bilang normal, seperti orang-orang pada umumnya. Bianka senang karena kini mereka memiliki kesempatan mengobrol sebelum tidur, walau tidak setiap hari. Bahkan, sekarang dia mulai jarang bermimpi tentang anak-anaknya. Bianka tidak terlalu berharap sesi terapi dengan Dr. Susan akan berakhir baik, tapi pertemuan-pertemuan mereka memang membantu. Paul dan Bianka merasa seakan mereka berada di tempat yang lebih baik.
Namun, tepat pada saat ini, Bianka sedang murka. Jam menunjukkan angka 2 dini hari dan dia sedang dalam perjalanan menjemput Paul dan Louis di sebuah bar. Dia tidak mengerti kenapa mereka harus membangunkannya di tengah malam, saat mereka bisa menelepon taksi atau semacamnya. Paul sempat mengajaknya ikut ke bar, tapi Bianka menolak. Minggu ini dia bekerja dengan tekanan dan juga rumah sakit selalu sibuk. Sayangnya, dua pria itu mengusik jam istirahatnya.
Dia baru saja memarkirkan mobil ketika melihat beberapa laki-laki mabuk berteriak dan mengumpat, membuatnya takut setengah mati. Bianka memastikan tidak membuka kunci pintu dan menelepon Paul. "Aku di depan. Bisakah kalian lebih cepat?"
Saat melihat mereka datang, dia membuka pintu tanpa melirik keduanya dan langsung melajukan mobil.
"Hei, Kak!" Louis menyapa dari kursi belakang.
"Lou." jawabnya kesal.
"Maukah kau mewakiliku mengucapkan terima kasih pada kakak iparku itu? Dia sedang marah padaku." kata Louis.
Bianka memutar mata, tak berniat terlibat dalam urusan dua pria mabuk di dalam mobil itu.
"Kaaaakkkk!" Louis bergumam tak jelas sekali lagi saat Bianka tidak meresponnya.
"Diamlah, Louis!" Paul mengerang, membuat Louis merengek.
Sementara itu, Bianka mendengus pelan. Jelas sekali, Paul marah pada Louis, tapi dia tidak mau mengetahui alasannya. Dia hanya ingin mengantar Louis ke rumah kakak sepupunya dan pulang ke rumahnya sendiri agar bisa segera lanjut tidur. Bianka berhenti di lampu merah dan melirik Paul yang sedang memejamkan mata, kepalanya bersandar ke belakang. Dia tahu Paul masih bangun. Kemudian pandangannya beralih pada Louis yang sedang memainkan ponsel di kursi belakang. Saat kembali memutar kepala, Bianka tak sengaja menangkap noda darah di kemeja Paul, dan juga di bagian sisi kanan kepalanya.
"Apa..." Bianka tergagap, matanya membelalak ngeri selagi tangannya dengan lembut mendorong dagu Paul ke samping dan memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. "Kau baik-baik saja? Ya Tuhan, apa yang terjadi?"
"Aku minta maaf, B." Louis berucap dari belakang.
"Ada apa?" tanya Bianka, kali ini dengan tegas. Kedua pria itu terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Lampu berubah hijau dan Bianka kembali melajukan mobil. "Apa kalian tidak akan mengatakan apa pun padaku?"
Bianka bisa melihat dari sudut matanya bahwa mereka tak berani menatapnya.
"Ini bukan jalan ke rumah Panda, kan?" tanya Louis.
"Kita ke rumah sakit. Paul terluka dan tak seorang pun dari kalian yang merasa aku layak tahu apa yang terjadi."
Paul dan Louis bungkam. Setelah beberapa saat, Bianka merasakan tangan Paul menyentuh pahanya. "Tidak perlu ke rumah sakit, love. Ini hanya luka kecil."
Bianka menghela napas. "Tapi itu tidak mengurangi kekhawatiranku sama sekali, Paul. Kepalamu terluka. Menurutmu bagaimana reaksiku saat melihatmu seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kau berkelahi?"
"Oh, ayolah... kita antar saja Louis dan langsung ke rumah. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi tolong, tidak usah ke rumah sakit."
Bianka melirik Paul sekilas dan menghela napas lagi. "Baiklah." desisnya pasrah.
Bianka beradu tatap dengan Louis melalui kaca spion tengah sebelum pria itu menundukkan kepala.
"Ini semua salahku." Louis memulai setelah beberapa menit. Kalimatnya lebih pelan dan kurang jelas karena mabuk. "Aku berkelahi. Seorang pria hendak memukulku dengan botol dan tiba-tiba Paul menghadang, mencoba melindungiku."
"Kenapa kau sampai berkelahi?"
Louis menoleh Paul seakan meminta tolong, tapi malang... Isyaratnya diabaikan begitu saja. Dia menunduk lagi dan berucap, "Aku menggoda seorang wanita."
"Wanita yang sudah bersuami." gumam Paul, hampir seperti bisikan, tapi semua orang mendengarnya.
"Mana mungkin aku bisa tahu, dia tidak memakai cincin." balas Louis.
Louis memutar mata. "Jangan kasar begitu, dong! Aku sedang mabuk dan hanya ingin menikmati suasana."
"Diam kalian!" maki Bianka, menatap Louis. "Jadi, maksudmu Paul terluka karena kau merayu seorang wanita?"
"Love, ini bukan apa-apa. Sungguh. Lupakan saja, okay?" Paul mencoba menenangkan Bianka.
"Bukan apa-apa? Kepalamu berdarah, Paul! Jangan bilang ini bukan apa-apa!"
"Aku minta maaf..."
"Love...
Kata dua pria itu bersamaan.
"Kalian tahu? Aku tidak sanggup lagi. Aku tidak mau mendengar apa pun. Lou, aku akan mengantarmu ke rumah Dad."
Sisa perjalanan berlalu dalam keheningan. Bianka marah pada adiknya karena telah bertindak bodoh, tapi dia tetap diam. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan disesalinya. Tiba di rumah orang tuanya, Bianka menelepon ibunya dan menunggu sampai pintu depan terbuka. Louis tertidur di kursi belakang.
"Aku akan mengantarnya ke sebentar."
"Biar kubantu." usul Paul.
"Tenang di tempatmu. Kau sama mabuknya dengan dia. Jadi, lebih baik diam, atau kau ingin membuat keributan dengan menunjukkan kepalamu yang terluka itu?" gumam Bianka dengan nada ketus. "Tunggu saja di mobil."
Dia keluar dan menuntun Louis berjalan ke rumah. "Anak laki-lakimu, Mom." katanya.
Lucy memukul pelan kepala Louis tapi tetap membantunya berjalan. "Berhentilah merepotkan orang lain!" gerutunya pelan.
Louis meringis, kemudian memeluk erat Bianka. "Kumohon, jangan marah padaku." desisnya.
"Okay, Lou. Kita lanjutkan besok pagi."
"Baiklah. Aku menyayangimu, Kak." Louis mencium keningnya dan berjalan tergopoh-gopoh ke dalam rumah.
Bianka menggelengkan kepala, tersenyum walau masih agak kesal. Dia berpamitan pada ibunya dan kembali ke mobil. Waktunya berurusan dengan pria mabuk lainnya.
Sampai di rumah, dia memapah Paul ke kamar mandi, membuka kemejanya dan mencari-cari apakah masih ada luka di tubuhnya. Ketika tidak menemukan apa pun, dia menarik napas lega dan meraih kotak P3K, lalu membersihkan kepala Paul.
Untungnya luka itu tidak terlalu dalam, hanya berupa goresan kecil. Paul memegang pinggul Bianka sementara wanita itu berdiri di antara kakinya. "Aku tidak akan mengijinkan kau pergi dengan adikku hanya untuk terluka seperti ini. Setidaknya, kalau tidak ada yang mengawasi kalian." Paul terkekeh. "Ini tidak lucu, Paul!" gerutunya.
"Aku tahu. Maafkan aku. Lain kali, aku akan lebih hati-hati." balas Paul, menyandarkan kepala di dada Bianka, menutup mata dan melilitkan tangan ke balik punggung wanita itu.
"Kau beruntung luka ini menyelamatkanmu. Kalau tidak, kau sudah habis dari tadi."
Paul mengencangkan pelukannya.
"Mandilah," kata Bianka, dengan lembut mendorong Paul. Paul mengangguk dan beranjak ke bilik pancuran.
Bianka membereskan kotak P3K sebelum melangkah ke kamar. Dia berbaring di bawah selimut sambil mendengarkan suara gemerisik air dari kamar mandi.
Sejujurnya dia tak mau marah, tapi perasaan saat melihat darah di bagian tubuh Paul bukan sesuatu yang ingin dirasakannya lagi. Dia tidak tahu bagaimana cara mengendalikan diri seandainya sesuatu yang buruk terjadi. Bianka menutup mata, berpura-pura tidur saat Paul keluar dari kamar mandi dan menyusup ke balik selimut.
Dia merasakan tangan Paul di perutnya dan menariknya ke belakang. "Aku lelah, Paul."
"Ya ampun, aku cuma mau memelukmu, love. Tidak ada tujuan lain. Aku janji."
"Okay."
Paul melabuhkan ciuman di bahu Bianka. "Aku mencintaimu." bisiknya lembut, lalu terlelap.