My Love Journey's

My Love Journey's
On The Way Home



Setelah selesai mengepak barang-barang yang kubutuhkan untuk menginap semalam di rumah orang tua Paul, dengan perasaan antusias yang berlebihan karena akan berjumpa dengan ibunya, buru-buru kuraih tubuh mungil Frosty lalu langsung melesak ke dalam mobil Paul.


Dia terlihat begitu terhibur melihat tingkahku yang terkesan tergesa-gesa. Ya, aku memang sudah menantikan momen ini sejak Paul mengatakannya beberapa waktu lalu.


"Mau putar Coldplay?" tanya Paul selagi memasang seat belt lalu mengulurkan ponselnya padaku.


Aku menggelengkan kepala, duduk melipat kedua kaki di atas kursi penumpang sementara Frosty meringkuk di pangkuanku, mengabaikan Paul seolah dia merupakan makhluk paling berkuasa di dalam mobil.


Aku masih ingat saat Frosty menempel di kaki Paul pada hari dia datang ke rumahku setelah kembali dari Rusia, hari dimana hubungan kami berakhir karena dia mengira itu demi kebaikanku.


"Putar saja lagu yang kau sukai." kataku penuh semangat. "Aku ingin mendengar lagu kesukaanmu."


Dia mengedikkan bahu cuek lalu mulai mengutak-atik ponselnya. "Tidak ada yang spesial selain R&B, jadi jangan terlalu berharap."


Aku terkekeh sambil mengusap bulu-bulu putih dan halus milik Frosty. "Aku tidak menjanjikan apapun." cetusku bergurau. "Kau dan kedekatanmu dengan musik R&B, kurasa aku tak sanggup menghadapi kolaborasi berbahaya itu." lanjutku menggodanya sambil menyeringai genit.


Getaran pelan dan halus pada mobil membuatku terbuai hingga tertidur saat kami memasuki jalan tol. Frosty masih berbaring di pangkuanku, dia juga terlelap. Kemudian aku terbangun saat merasakan laju mobil berubah pelan lalu berhenti.


Dengan mata yang masih terpejam, aku merasakan Frosty tak lagi berada di pangkuanku, aku takut dia mungkin terjatu tanpa kusadari. Aku tersentak dan mataku terbuka.


"Hei, kau baik-baik saja?"


Aku menunduk mencari Frosty di bagian bawah kursi penumpang, tapi aku tidak menemukannya. Maka kuputar kepala menatap Paul yang baru saja bersuara, alisnya berkerut.


Aku membuka semakin lebar ketika mendapati saat ini Frosty sedang tidur di pangkuan Paul, sendengkur sementara Paul mengusap-usap kepalanya. Astaga, belum pernah aku berpikir menjadi seekor kucing itu ternyata begitu menyenangkan. Bagaimana mungkin dia merebut perhatian Paul dariku?


Well, seharusnya itu tak membuatku terkejut, maksudku Paul benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan seorang gadis.


"Kenapa berhenti? Ada apa?" tanyaku dengan suara gugup.


"Aku membutuhkan kopi sebelum menabrakkan mobil." kata Paul, tersenyum sambil mengedikkan bahu.


"Paul, itu tidak lucu sama sekali... Kau pasti tahu itu sering terjadi." Aku menggeleng tak percaya padanya. "Berdasarkan data lalu lintas..."


"Okay. Hei, tenanglah..." sambarnya memotong kalimatku. Dia tertawa, mengulurkan tangan untuk menyapu sejumput rambut ke belakang telingaku. Dengan keadaan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku menyandarkan pipiku pada telapak tangannya.


"Aku bisa menggantikanmu kalau kau mengantuk." usulku sembari menguap, berhasil menutup mulut dengan punggung tanganku. "Apa masih jauh?"


Aku tahu rumah ibunya tak terlalu jauh dari Berlin. Mengingat perjalanan kami yang sudah cukup lama, mungkin hanya sekitar 45 menit lagi hingga kami tiba disana.


"Kau tahu, ini Bugatti Chiron, Rapunzel." katanya menyombongkan diri. "Aku tidak akan membiarkanmu membawanya."


Alisku mengkerut. Aku bukan tipikal wanita yang menggemari mobil, terutama sejenis sport car. Aku hanya menggunakan mobilku untuk pulang dan pergi ke rumah sakit, yang setahuku itulah fungsi mobil yang sebenarnya.


Kemajuan teknologi agak membuatku takut, dan khususnya fitur-fitur canggih yang terdapat di beberapa koleksi mobil mahal Paul. Kupikir kita tinggal menunggu waktu sampai teknologi dalam sebuah mobil bisa melakukan apapun yang kita butuhkan. Mengerikan, bukan?


"Kenapa? Kau mengantuk, kan?"


Paul menggeleng tegas, jelas tak mau di bantah sementara tangannya masih bermain dikepala Frosty. "Apa kau tahu berapa harga mobil ini? Aku tidak mau mengambil resiko kau menghancurkannya."


"Kau terlalu meremehkanku," cetusku, menyipitkan mata. "Aku pembalap, Paul..."


"Bagaimana dengan hari saat aku mengatakan soal Ronaldo..."


Aku menyelanya. "Okay, fine. Cepat beli kopimu, aku akan menunggu disini."


Aku menghembuskan nafas lalu memperbaiki posisi duduk dan melempar pandangan ke arah pom bensin di depan tempat kami parkir.


"Kumohon, jangan marah, love." bujuk Paul. Dari suaranya, aku bisa mengatakan dia sedang menahan tawa sekarang. Kemudian dia membelai pipiku, dan mendadak memutar kepalaku menghadapnya.


"Aku tidak marah." protesku. Kedua tanganku terlipat di depan dada tanpa kusadari. Dengan cepat aku menurunkannya ke pangkuanku sementara Paul terus memandangku seakan sedang menikmati hiburan singkat.


"Kalau begitu, cium aku."


"Apa?" Aku mengernyit. "Aku baru bangun, Ya Tuhan..."


"Satu ciuman, Bianka." Paul menyeringai riang tanpa merasa berdosa. "Aku akan membelikan sesuatu untukmu jika kau menciumku."


Tawaku meluncur dengan cepat, "Memangnya apa yang bisa kau dapatkan di pom bensin, Paul? Mungkin gantungan kunci, itu saja. Lagi pula, aku bukan sugar baby-mu."


"Kau. Meminta imbalan yang berbau seksual untuk sebuah hadiah." sahutku, yang kemudian membuat Paul tertawa.


"Kau pasti bercanda. Aku sedang berniat untuk membelikanmu cokelat sebagai imbalan atas satu ciuman darimu." Dia menggoyangkan kepala sambil mematikan mobil. "Maksudku, kita sepasang kekasih, kan? Seharusnya aku boleh dong membelikanmu cokelat kapanpun aku mau, dan itu bukan berarti kita membuat kesepakatan setiap kali akan berciuman."


Aku menarik nafas sambil tersenyum dan memijat pangkal hidung. "Astaga... Begitulah awalnya, Paul. Tak lama lagi kau akan mulai memberiku barang-barang mahal setiap kita habis bercinta." Aku melayangkan tatapan serius padanya. "Aku lebih senang kita bercinta karena sama-sama menikmatinya tanpa berharap ada imbalan lain untuk itu."


"Ya, aku setuju, tentu saja. Aku hanya mencontohkannya, love." Paul terkekeh dan aku menepuk lengan kokohnya. "Kau tahu, kurasa aku harus turun sekarang sebelum kau benar-benar menggila dengan pikiranmu."


Aku memutar bola mata, menerima Frosty saat Paul memindahkannya ke pangkuanku. "Sekarang aku serius, apa kau ingin sesuatu?" tanyanya selagi membuka sabuk pengaman.


"Ya, cokelat mungkin ide yang bagus. Oh, dan air mineral. Itu saja." kataku sambil tersenyum.


"Okay." dia membalas senyumku dan membuka pintu mobil.


Namun sebelum dia keluar, aku memanggilnya lagi. "Paul, tunggu..."


"Ya?"


Dengan menggerakkan telunjuk, aku memintanya mendekat lalu aku mencium bibirnya, agak lama dan dalam.


Ketika Paul keluar dan mulai melangkah menuju toko di dalam area pom bensin, Frosty dan aku serentak memperhatikannya. Tak perlu diragukan lagi, Frosty benar-benar tergila-gila padanya.


Paul menutup kepala dengan hoodie agar orang tidak mengenalinya. Aku tertawa sendiri seperti orang sinting ketika sekumpulan supir truk mendekatinya dan meminta foto bersama.


***


Kurang dari 10 menit lagi, kami akan tiba di rumah orang tuanya. Lalu Paul mengumumkan, "Kakak tiriku juga ada disana bersama anaknya. Omong-omong, dia laki-laki, dan anaknya perempuan."


"Oh, benarkah? Berapa tahun umur anaknya?"


"Empat." jawab Paul, memusatkan perhatian pada jalanan sementara sebelah tangannya mengusap Frosty yang kembali memilih duduk di pangkuannya sejak Paul kembali ke mobil saat di pom bensin tadi. "Dia sangat manis. Agak pemalu, tapi kuyakin dia akan menyukaimu."


"Okay," Aku mengangguk beberapa kali. "Apa kakakmu tidak punya istri?"


Paul menggeleng cepat. "Tidak. Istrinya meninggal dua tahun lalu, itu benar-benar mimpi buruk untuk kami semua."


Aku terdiam sejenak sebelum lanjut berbicara. "Oh, jadi dia mengurus sendiri anaknya? Siapa nama keponakanmu?"


"Ellie. Dan ya, dia mengurus Ellie sendirian." Paul mengangkat bahu. "Dari yang kulihat, dia cukup luar biasa. Ellie tumbuh menjadi gadis yang keren. Maksudku, dia pintar dan sangat menyenangkan."


"Untuk beberapa alasan, kurasa ada bagusnya dia masih kecil dan belum sepenuhnya menyadari apa yang sudah terjadi dengan ibunya..." kataku sambil membayangkan ibuku sendiri.


"Ya, kau benar." Paul menolehku sekilas, seakan ingin memastikan aku benar-benar memperhatikannya. "Omong-omong, ayah tiriku sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi, hanya ada ibuku, kakakku, dan Ellie disana."


"Itu sudah cukup untuk saat ini," Bibirku melengkung, kemudian memutar tubuh menghadapnya dan bersandar pada pintu mobil. "Apa kau sadar betapa normalnya kehidupan kita sekarang?"


"Apanya yang normal, love?"


"Kita. Kau dan aku." balasku, lalu maju untuk meraih tangannya yang sedang mengusap kepala Frosty dan menariknya ke pangkuanku. "Hubungan kita benar-benar hancur selama sebulan belakangan hingga kemarin, dan disinilah kita sekarang, dalam perjalanan ke rumah orang tuamu." gumamku dengan perasaan bangga.


Paul menghadiahiku satu senyuman yang membuat hatiku terasa damai. Aku melihat kilatan di matanya saat dia memandangku, seolah dia ingin mengatakan sesuatu namun segera diurungkannya. "Ya," hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Sesaat aku penasaran apa yang membuatnya terlihat agak gelisah, hingga dia kembali berbicara. "Ibuku tipikal orang yang tidak tahu basa-basi... Kalau dia mulai bertanya apa kita sudah berencana untuk memiliki anak, abaikan saja." Dia menggoyangkan kepala sementara tawaku meluncur deras.


"Apa dia benar-benar akan menanyakan itu?" tanyaku ragu-ragu.


Paul menggangguk, tampak sangat serius. "Itu bahkan bukan pertanyaan terburuk yang akan ditanyakannya padamu. Aku hanya mengingatkanmu, love. Jangan terlalu serius menanggapinya, kau akan takut kalau kau masuk ke dalam permainannya."


"Kurasa tidak ada yang menakutkan dalam hal ini." kataku meyakinkannya. "Kau sendiri sudah tergila-gila padaku."


"Hm, ya... Aku sama sekali tidak keberatan untuk menggilaimu. Kau pantas digilai, Bianka."


Aku tertawa, beringsut maju untuk mencium pipinya. "I love you, Paul."


"I love you too, Rapunzel."