
Di malam yang sama, setelah resepsi pernikahan sederhana namun berujung fantastik dengan kedatangan Coldplay di halaman belakang rumah kami, Paul dan aku langsung terbang untuk bulan madu selama dua minggu.
Aku beruntung karena sekarang lebih mudah bagiku mengambil waktu libur karena studiku sudah selesai dan dan hanya bekerja penuh waktu di rumah sakit sebagai perawat resmi dan berlisensi.
Saat ini kami sedang duduk di seat paling belakang di dalam jet pribadi milik suamiku. Ehm, suamiku. Sementara Pablo dan Alfred duduk di depan. Hari ini sosial media dan hampir semua platform pemberitaan menggila karena kabar pernikahan kami akhirnya tercuat dari tweet Cristiano Ronaldo. Aku menerima banyak sekali ucapan selamat hingga akhirnya menonaktifkan akun twitter-ku untuk sementara karena pemberitahuan terus masuk hingga beberapa menit yang lalu.
Kakiku terjulur di atas pahanya sementara kepalaku bersandar di sisi bahunya. Aku meringkuk memeluknya, menikmati aroma tubuhnya yang kugilai sambil menatap pemandangan matahari terbenam sementara pesawat mengudara.
"Boleh kuposting ini, Sayang?" Paul mengulurkan ponselnya padaku.
Aku menunduk, melihat foto kami yang di ambil beberapa jam yang lalu ketika kami untuk pertama kalinya berpose sebagai suami istri di gereja setelah upacara pernikahan. Kami sedang berciuman di foto itu, Paul memegang pinggulku sementara aku menangkup kedua rahangnya. Gaun pernikahanku menjulur indah di tangga. Aku masih belum bisa berhenti mengagumi betapa tampannya suamiku, terutama saat mengenakan tuxedo.
Sekarang, kami sudah mengganti pakaian dengan sesuatu yang lebih nyaman dalam pernerbangan kami ke Italia.
Lalu, aku membaca caption yang ditulis Paul: 'Love of my life. Kata-kata tidak akan cukup mengungkapkan betapa bahagia aku memilikimu. Kau tidak akan bisa kabur dariku mulai saat ini!! x'
Aku tertawa dan memajukan kepala untuk mencium pipinya. "Aww... manis sekali..."
Dia menyeringai lalu memposting foto itu ke Instagram dan Twitter. "Ya, aku juga berpikir begitu." gumamnya menyetujui. "Kau tahu, love? Aku masih belum percaya kita menikah pada akhirnya."
Aku tersenyum lembut lalu menguap. Ini merupakan hari paling bahagia sekaligus paling melelahkan dalam hidupku. "Aku pun sama. Aku tidak percaya bisa bertemu Chris Martin... Terima kasih, Paul."
"Kalian benar-benar luar biasa tadi." katanya.
"Benarkah?" senyumku melebar. "Dia orang yang asik. Coba bayangkan bagaimana gilanya gairahku menyaksikan kau, Cristiano Ronaldo, dan Chris Martin berada di tempat yang sama dan semuanya datang untukku. Tapi, kau yang paling istimewa, karena aku mencintaimu, Klug!"
"Oh, wow!" Paul tertawa lalu menggodaku. "Bagaimana mungkin kau masih hidup setelah melihat kolaborasi maut itu?"
"Pertanyaan yang sangat bagus," dengusku, mengikuti permainannya. "Bagaimana caramu membawa mereka ke sana? Bagaimana bisa tiba-tiba kau berteman dengan band favoritku tanpa kuketahui?"
Dia mengangkat bahu cuek dan menyelipkan ponsel ke saku jaketnya. "Aku juga baru tahu ternyata Chris salah satu penggemarku. Aku mengirim pesan padanya dan bilang kau sangat menyukai Coldplay, dan sisanya mengalir begitu saja..."
"Kau luar biasa, Paul. Apa aku cukup sering mengatakan itu padamu?" Aku meraih tangannya dan menautkan jemari kami sementara kurasakan Paul mencium keningku. "Dan, kau membuatku tersentuh saat kau menangis." desisku mengingatkannya.
"Menangis? Kapan aku menangis?"
"Saat aku berjalan di atas altar!" Aku menarik diri lalu mengangkat alis tinggi-tinggi kepada pria paling menawan di sebelahku, yang kini kusebut sebagai suamiku.
Dia menggelengkan kepala sambil menyeringai. "Aku tidak menangis, ya. Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Paul..."
"Okay, baiklah, kau menang. Lagi pula hanya beberapa tetes air mata dan aku langsung menghapusnya." gumamnya sedikit tersengal, "Aku bersyukur bisa mendapat kesempatan menikahimu, Bianka. Dan, kau sangat cantik. Bukan hanya hari ini, tapi setiap hari. Aku menggilaimu, Rapunzel."
"Masih banyak yang ingin kuberikan padamu, love. Well, aku mulai bosan duduk disini. Bagaimana kalau kita mulai menikmati bulan madu kita?" Nada suaranya merendah, membuat darahku berdesir halus.
"Sekarang?" bisikku lembut seraya melayangkan pandangan ke arah Pablo dan Alfred yang tengah sibuk dengan urusan mereka, aku ragu mereka bisa mendengar obrolan kami.
"Ya." Paul mendorong tubuhku sedikit sebelum melabuhkan ciuman di leherku.
"Disini?" tanyaku malu-malu sekaligus ragu, hendak menggelengkan kepala meski tubuhku mulai bereaksi.
Paul terkekeh dan menatap mataku. "Ada kamar di belakang, love."
"Ohh," desahku terkejut.
Aku berdeham dan menurunkan kakiku dari pahanya. Kemudian kucium bibirnya sekali sebelum berdiri lalu berbalik dan diam-diam mulai melangkah ke bagian belakang pesawat. Begitu menemukan pintu kecil yang kutebak merupakan kamar yang dimaksud Paul, aku lang menyusup ke dalam. Dia menyusul beberapa detik berikutnya.
"Jika mereka menyadari kita menghilang, bisa dipastikan mereka mengetahui apa yang kita lakukan sekarang..." bisikku setelah Paul menutup pintu dan berbalik menghadapku. Bahkan, aku merasa tergelitik sekarang.
"Mereka berdua sudah menikah, jadi pasti paham kenapa kita menghilang." Dia mengedikkan bahu, kemudian melepas hoodie-nya dan aku mengerang dalam hati begitu memandang dadanya yang keras dan berotot sempurna.
"Hm, menurutmu begitu?" tanyaku genit.
"Ya," Dia tersenyum selagi meraih ujung blouse yang kukenakan. "Mau kubantu?"
"Dengan senang hati," balasku, sementara Paul langsung menarik lepas blouse itu.
"Aku tidak mencicipimu dalam seminggu terakhir, dan kita jarang bertemu sebelum hari ini..." Paul mengembuskan nafas panas, membiarkan tanganku bekerja melepas ikat pinggangnya lalu menjatuhkannya ke lantai.
Dia meraih pinggulku, menarikku lebih dekat selagi aku meraba-raba kancing dan ritsleting cenala jinsnya. Aku menaikkan pandangan menatapnya, kemudian sebelum mulutku sempat mengatakan sesuatu dia menciumku dengan lembut. Buru-buru, aku membalasnya.
Aku melupakan tugasku membuka celananya dan malah mengangkat kedua tangan untuk menangkup wajahnya, tenggelam sepenuhnya ke dalam ciuman kami. Perlahan Paul melepas kaitan bra-ku sebelum kembali mencengkeram pinggulku.
"Naiklah ke ranjang, love..." Dia menarik diri dan berbicara dengan suara dalam dan serak, tatapannya liar dan menggoda, membuat tubuhku berdenyut-denyut mendamba di bawah sana.
Aku mengangumi, mencintai, dan menghormatinya. Hari ini dan sampai aku mati, pria ini satu-satunya yang akan menjadi teman hidupku. Dia suamiku. Oh, Ya Tuhan... aku masih belum percaya ini. Paul Klug, pria paling tampan dan sukses kini telah menjadi milikku sepenuhnya. Untuk selamanya...
Dia menatap ke dalam mataku, dan aku menangkap hasrat dan gairah yang menggebu disana, tapi yang lebih menakjubkan dan membuatku merasa bersyukur adalah perasaan cintanya yang kuat, sekuat perasaanku padanya.
"Aku akan menunjukkan padamu apa yang akan kau dapatkan setelah menjadi istriku, Rapunzel." gumamnya dengan nada yang membuat kewanitaanku menjerit. "Kau akan merasakan kenikmatan tak berujung... Setiap hari. Di mulai dari hari ini..."
Tamat!!!