
Aku memandang kalung yang kubeli secara diam-diam untuk Paul di toko perhiasan saat kami berkeliling kemarin. Sebuah kalung emas putih sederhana dengan taklik salip kecil yang menggantung.
Aku tak yakin Paul seseorang yang religius, begitu pula denganku, tapi aku ingin memberi kalung itu kepada Paul karena aku menyukainya.
Sembari duduk di tepi ranjang, aku menulis sebuah surat untuknya.
...Aku minta maaf karena pergi diam-diam dan tak pamit padamu. Aku membeli kalung ini untukmu, kuharap kau menyukainya....
...Bianka....
Aku meletaklan kalung itu di atas catatan yang kutulis, tahu kalau Paul pasti akan melihatnya.
Dia sudah pergi sejak dua jam yang lalu untuk melakukan pemanasan sebelum pertandingan, yang akan berlangsung satu jam lagi. Kami sepakat aku akan menonton pertandingan di hotel, namun aku punya rencana lain yang tentu tak disadarinya.
Aku hanya ingin dia percaya kalau aku tetap tinggal di hotel selama pertandingan mereka, karena aku tak mau mengganggu konsentrasinya. Aku sudah mengepak semua barang-barangku ke dalam koper dan koper itu sudah berada di depan pintu kamar hotel.
Aku sengaja meninggalkan gaun merah yang dibeli oleh Paul untukku, aku tak mau membawanya tak peduli seberapa besar rasa sukaku terhadap gaun itu. Aku juga meninggalkan hoodie miliknya di dalam lemari, menggabungkannya dengan pakaian Paul.
Tak seorangpu. tahu soal kepergianku. Tidak Alfred, Pablo, Valerie, atau Red. Dengan perasaan murung, aku melangkah meninggalkan kamar hotel dan turun ke lobi.
Tiba di lobi, aku menghampiri meja resepsionis untuk meminta mereka memesan taksi, lalu memutuskan menunggu di depan. Dengan wajah pucat tanpa riasan, aku berdiri menunggu taksi yang akan mengantarkanku ke bandara.
Aku merasa marah dan kecewa pada diriku sendiri. Tidak seharusnya aku menuruti kemauan Paul untuk bercinta semalam. Tidak seharusnya aku memberinya harapan lebih, meskipun aku melakukannya dengan setengah hati.
Sepertinya ini benar-benar hari paling sial untukku karena tak sengaja aku melihat dua wanita baru saja keluar dari lift. Carmen dan Bendela, diikuti beberapa wanita lainnya yang mendapat julukan sebagai pemburu jersey.
Suara dentuman tumit beradu dengan lantai ketika mereka melangkah menuju pintu depan hotel, lekuk tubuh yang indah terpampang dalam balutan gaun desainer yang mereka kenakan.
Aku tidak mungkin bisa menjadi seperti mereka. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka. Aku bahagia menjadi Bianka yang biasa saja, yang menghabiskan waktu untuk bekerja dan sekolah. Kehidupanku tak pernah cocok untuk Paul, begitu juga dengan kehidupannya untukku.
"Apa kau akan menonton pertandingan Paul dengan penampilan seperti itu?" tanya Carmen ketika dia berhenti tepat sebelum melewatiku.
Aku terpejam sejenak dan menarik nafas lalu berbalik menolehnya, suasana hatiku sedang tidak baik saat ini, jadi tidak ada ruang kosong untuk menerima hinaan dalam bentuk apapun. Nadanya cukup ramah, tapi kata-katanya amat sangat merendahkanku.
"Apa kau punya masalah dengan penampilanku?" Aku memiringkan kepala sambil menyunggingkan senyum palsu. Sekarang mereka semua beralih menatapku, dan rasanya seakan sedang berada dalam drama anak sekolah.
"Oh, tidak, say," balas Carmen. "Sama sekali tidak. Namun kau perlu bertanya pada Paul, apa dia mau melihat pernampilanmu yang seperti..."
"Itu dia, kau yang wanita murahan!" bentakku.
Tepat saat aku hendak menarik rambut palsunya, satu lengan besar dan kuat melilit pinggangku dan menarikku ke belakang. Dengan wajah kaget yang amat kentara, Carmen dan gerombolannya pergi meninggalkanku. Aku mencoba menenangkan diri sementara pandanganku masih mengikuti mereka.
Aku merasa baru saja mengalami krisis identitas ketika Pablo berpindah ke hadapanku. "Kau baik-baik saja, Miss Becker?" tanyanya, alis mengernyit bingung.
Bibirku masih gemetar sementara air mataku mulai turun. Aku sedang mengalami gejolak emosi dan aku tidak tidur sedikitpun sejak semalam. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja?
"Apa perlu aku menelepon Mr. Klug?"
"Tidak, tidak," sahutku cepat sambil menggeleng dramatis. "Tidak usah. Kumohon, jangan katakan apapun padanya soal kejadian tadi, aku hanya... Oh, taksiku sudah tiba, aku... aku harus pergi..."
"Kau mau pergi? Bukankah seharusnya kau pulang bersama Mr. Klug malam ini?" Dia bertanya lagi.
Aku menggelengkan kepala sambil mengembuskan nafas gemetar." Ceritanya panjang, Pablo. Aku benar-benar harus pulang sekarang." kataku sedikit memohon dengan sorotku.
Dia terdiam sejenak, entah bagaimana dia seakan mengerti situasiku saat ini. Kemudian dia mengangguk dan meraih koperku. "Mari kubantu."
***
From: Paul: Pertandingan akan segera di mulai! Kau menonton, kan?
Aku baru saja masuk ke dalam pesawat yang akan membawaku kembali ke Jerman. Kutunjukkan tiketku kepada seorang pramugari, lalu dia membiarkanku masuk. Begitu duduk di seat-ku, aku membalas pesan Paul.
To: Paul: Kau pasti bisa! Semoga kalian berhasil membawa pulang Piala Dunia tahun ini!
From: Paul: Oh, aku lupa bilang padamu, semalam Prancis menang, jadi posisi Cristiano mungkin akan ikut turun... dan itu berarti aku punya kesempatan menjadi pemain terbaik Fifa tahun ini x
Apapun yang di raih Paul dalam karir sepak bolanya tidak akan sanggup mengaburkan pemikiranku tentangnya. Bagiku, dia hanya seorang Paul, dengan atau tanpa kesuksesannya. Aku menyukainya karena dia, bukan karena pencapaiannya. Meskipun begitu, aku paham hal itu pasti membuatnya bangga.
To: Paul: Wow, itu berita bagus🥇
Aku sengaja menyempatkan emoji untuk membuatnya mengira kalau aku mendukungnya, sementara menutupi kenyataan bahwa aku tak begitu bersemangat. Sudah cukup semua upayaku mempercayai Paul. Aku tak sanggup menahan diri lebih lama bersamanya. Sampai kapanpun, kami takkan pernah cocok.
From: Paul: Pelatih sudah memanggil kami. Sampai jumpa nanti malam. I love you x
Aku tak membalas pesannya, dan malah tidur saat perlahan pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Kurang setengah dari total tiga jam perjalanan, sang pilot mengumumkan dari ruang kokpit bahwa tim nasional Jerman telah menang dan keluar sebagai juara Piala Dunia tahun ini.
Aku turut bahagia mendengar berita ini. Para atlet, pelatih, dan semua orang yang berpartisipasti membantu dalam kompetisi ini sudah bekerja sangat keras. Mereka pantas mendapatkannya. Situasi di seluruh penjuru Jerman pasti menggila sekarang. Tak diragukan lagi, akan banyak aksi untuk merayakan kemenangan ini. Semua orang berbahagia, kecuali aku.
Faktanya, aku sedang berada dalam pelarian, seperti maling yang mengendap-endap, kabur dari pemain sepak yang merupakan kebanggaan semua orang. Aku tak sepenuhnya menyalahkan Paul dalam hal ini, hanya saja aku tidak bisa menerima perbuatannya begitu saja.
Begitu menyadari kalau Paul akan segera kembali ke hotel, aku membiarkan ponselku berada dalam mode Airplane agar dia tidak bisa menghubungiku.