My Love Journey's

My Love Journey's
Movie Theater



Paul benar-benar mengenalkanku kepada semua anggota tim nasional sepak bola Jerman. Pada saat dia membawaku kembali ke mobilnya, kepalaku pusing karena bertemu segerombolan pria tampan dan baik, dan aku merasa sangat senang.


Sekarang kami sedang di perjalanan menuju ke sebuah bioskop, dia bersikeras agar kami menonton di banding menghabiskan waktu di rumahku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan itu, kepalaku masih dipenuhi oleh kata-kata wanita montok dan bar-bar yang kutemui di stadion tadi.


"Kenapa diam saja, love? Apa ada yang mengganggumu?"


"Apa kau sadar kita tidak mungkin bisa menikmati malam ini tanpa seseorang yang mengenalimu? Dan aku yakin pasti salah satu penggemarmu disana..." Aku terdiam, melempar pandangan keluar.


"Percaya padaku, Bianka. Aku sudah mengaturnya." Untuk kesekian kalinya dia mencoba meyakinkanku lagi. "Apa sesuatu terjadi di stadion tadi?"


Aku hanya menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak terpengaruh pada semua hal buruk yang kudengar tadi, dan perlahan aku akan terbiasa dengan penilaian orang-orang. Itu merupakan harga yang pantas untuk kubayar jika menjalin hubungan dengan Paul Klug.


"Ada apa, love? Katakan padaku." Paul masih menatapku, tidak senang melihatku menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ini masalahku, Paul. Aku terlalu takut dan berpikir secara berlebihan." kataku, menggeleng sambil tertawa pelan. Dia masih belum terima.


"Bianka..." Dia mendesah, entah bagaimana aku merasa dia seakan bisa menebak apa yang kupikirkan.


"Wanita di stadion tadi... mereka terang-terangan meledekku, meledek hubungan kita." sambarku, lalu menarik nafas. "Tapi aku baik-baik saja sekarang, lagi pula ada Valerie dan Red yang membantuku tadi."


"Wanita yang mana? Para pemburu jersey itu?" tanya Paul kemudian.


"Para... apa?"


"Mereka hanya sekumpulan wanita yang berharap mendapat kesempatan untuk menjalin hubungan dengan salah satu dari kami." Paul menolehku sekilas saat aku tertawa.


"Kuharap begitu. Well, mereka mengatakan kalau hubungan kita tidak akan bertahan lama dan bilang kalau kau hanya ingin tidur denganku." Aku memutar bola mata, sekali lagi mencoba menyingkirkan semua keraguanku.


"Jangan bilang kalau kau percaya..."


"Tidak. Sama sekali tidak. Soal hubungan kita, kurasa aku akan tahu nanti." gumamku seraya mengedipkan mata.


Paul tertawa. "Kau sangat seksi, Bianka. Aku..."


"Mereka juga seksi. Kebanyakan pria suka wanita dengan dada montok, aku yakin tidak ada yang..."


"Aku belum selesai, love." Paul memegang pahaku dan meremasnya pelan. "Mereka terlalu berlebihan. Sebagian temanku mungkin menyukai mereka, tapi mereka sama sekali bukan tipeku. Jangan terlalu memikirkan apa yang mereka katakan, itu tidak penting."


"Ya, ya," Aku mengangguk sambil menarik nafas. "Sungguh, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak terbiasa berada di situasi seperti itu."


"Aku tahu, love." Paul memindahkan tangannya dari pahaku ke tanganku. Jantungku nyaris melompat keluar karena sikap manis yang ditunjukkannya. "Fokus padaku dan lupakan mereka."


***


"Kau pasti bercanda..." Aku terperangah, tidak percaya pada apa yang kusaksikan sekarang. "Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk... untuk..."


Aku bergeser di sofa untuk melihat kursi bioskop yang kosong di belakang kami. Lampu bioskop sudah di matikan dan layar sedang menayangkan iklan sebelum film dimulai. Paul terlihat santai, jelas berhibur melihat ekspresiku yang terkejut. Apakah dia membeli semua tiket agar kami bisa menonton dengan tenang? HOLY CRAB!!!


"Love, filmnya akan mulai. Bisakah kau tenang?" dengkurnya sambil menahan tawa, sebelah tangannya menempel di sandaran kursiku.


Paul mengangkat bahu cuek. "Tidak terlalu banyak," Aku mengernyit dengan raut tak senang. "Aku memiliki kontrak kerja sama dengan bioskop ini. Semacam endorsement."


"Apa kau yakin? Jujur, aku tidak suka kau melakukannya untukku, Paul. Aku mau kita hidup normal seperti orang lain, oke?"


Paul merangkul bahuku dan menarikku lebih dekat, sementara aku melepas sepatu lalu menaikkan kedua kakiku dan bersandar di dadanya.


"Oke." Jawabannya tidak meyakinkan, tapi karena film sudah dimulai, aku tidak punya pilihan lain selain percaya padanya dan memusatkan perhatian ke layar di hadapan kami.


"Oh, omong-omong, Bianka..." kata Paul dengan suara pelan.


"Ya?"


"Ada kamera pengawas di belakang, jadi usahakan untuk tidak melompat tiba-tiba ke pangkuanku." ucapnya menggoda lalu mencium pipiku.


"Ah, bagaimana caranya menahan diri kalau kau terus bersikap manis?" balasku genit, dan dia tertawa.


"Hei, aku tidak melakukan apa-apa, ya." protesnya. "Kau yang menggodaku."


"Benarkah? Tapi, aku bahkan belum memulainya, Paul." cetusku riang sebelum dia memajukan wajahnya dan mencium bibirku dengan lembut. "Kupikir ada kamera pengawas di belakang." Aku menyindirnya begitu mulut kami terpisah.


"Aku sudah menyiapkan donat di ruang keamanan, si pengawas bisa melakukan konser satu tangan dengan itu. Kalau kau paham maksudku..." katanya santai, seketika tawaku meledak. Kemudian buru-buru menutup mulut dengan kedua tanganku. "Astaga, kupikir aku sudah tuli." sambungnya, pura-pura tidak mendengar suara tawaku yang menggelegar tepat di dekat telinganya.


"Stop that!" Aku menggoyangkan kepala seraya menepuk pelan dadanya, masih tersenyum lebar.


"Oke, sorry, love."


"Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. Konser satu tangan? Itu merupakan cara yang paling menyedihkan untuk mencari kesenangan." dengkurku, menyeringai tipis.


"Memang." gumamnya menyetujui, kemudian mendorong daguku ke arahnya lalu menciumku sekilas. "Aku menyukaimu, Bianka. Sangat."


Aku bersumpah kalau aku hampir pingsan di sana dan kewalahan menghadapinya, terutama saat dia membuatku linglung dengan belaian mulutnya yang ahli. Namun, aku menarik diri beberapa saat kemudian. "Kau bisa lebih dari sekedar menciumku jika kita berada di rumahku, Paul..."


Dia tersenyum. "Aku tahu, love."


"Lalu, kenapa kau membawaku kesini?"


Paul mengalihkan pandangan ke depan, dengan santai menyandarkan punggungnya. Aku mengamatinya selama beberapa saat sebelum dia menjawab pertanyaanku. "Aku tidak ingin kau merasa bosan karena harus terus bersembunyi saat bersamaku."


Aku tersentuh dengan upayanya menyenangkanku, jadi aku menghadiahinya satu ciuman di pipi. "Terima kasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya sejauh ini, aku akan senang meskipun kita hanya berada di rumah..." ucapanku terpotong saat Paul meremas pahaku.


Dia menatapku. "Love, dengar... aku tahu apa yang kau rasakan. Mungkin sekarang kau tidak keberatan, tapi percayalah, lama-lama kau pasti bosan. Aku tidak mau kau merasa terkurung, aku ingin membuatmu nyaman dan kalaupun aku harus menghabiskan banyak uang untuk itu, aku akan melakukannya. Uang bukan masalah bagiku."


Aku menundukkan kepala, mencoba mencerna semua yang dikatakannya. Jarak di antara kami masih terbentang lebar, rasanya seperti aku berdiri di satu sisi jurang sementara Paul berdiri di sisi lainnya, dan tidak ada jembatan yang bisa menyatukan kami. Setidaknya itulah yang kupikirkan.


"Kau pantas merasakan kehidupan normal, Bianka, dan itulah yang sedang kuberikan padamu." sambungnya kemudian, dan aku mengangguk.