
Author's POV.
Bianka menunggu Paul di sebuah kursi lobi depan hotel sementara pria itu sedang melakukan check out di meja resepsionis. Paul memutar kepala ke arah Bianka dan tersenyum padanya. Bianka balas tersenyum, tidak terlalu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Pikirannya hanya terpaku pada dua puluh empat jam terakhir yang mereka lewati.
Rasanya seperti berada dalam luapan-luapan emosi yang menegangkan. Dia selalu mencoba menjadi pendengar yang baik dan hadir untuk menemani pasangannya. Saat muda, mungkin dia gadis periang dan super ceria. Namun, seiring bertambahnya umur, dia mulai belajar bagaimana menyembunyikan perasaan di balik senyuman atau mengalihkan orang lain agar hanya membicarakan tentang diri mereka. Dia tahu bagaimana cara menahan rasa sakit dan situasi sulit tanpa menunjukkannya atau mengeluh.
Sekarang, setelah kembali dengan Paul, dia merasa berbeda.
Segalanya tak lagi sama. Paul melucuti perisai itu dari Bianka. Sedikit demi sedikit. Dia menyukai ketenangan yang menguar di udara, yang membuatnya merasa hidup. Bianka menutup mata, mendongak dan menarik napas dalam. Rasanya tenang. Amat sangat tenang. Mungkin tidak terlalu buruk untuk bersandar kepada orang lain yang mampu membacamu dengan baik.
Apakah ini yang mereka sebut sebagai belahan jiwa? Bianka tersenyum membayangkan itu. Jika kekasih sejati memang ada, dia tidak akan menginkan orang lain selain Paul.
"Apa kau sedang mencoba membekukan pipimu yang menggemaskan itu?"
Kepala Bianka tersentak mendengar suara itu, lalu tersenyum. Paul baru saja berhenti di depannya dengan seringai lebar menghiasi bibirnya. Bianka menggelengkan kepala dan masuk ke dalam mobil. "Bisakah seseorang memberitahuku kenapa aku berhubungan dengan makhluk ini?" tanyanya bergurau, memasang sabuk pengaman.
Paul tertawa merespon pertanyaan itu. "Karena kau mabuk!" balasnya dengan nada yang sama. "Atau mungkin karena kau begitu tergila-gila pada wajah manis dan bokong seksi makhluk ini?" goda Paul sambil mengedipkan sebelah mata sebelum kembali mengarahkan perhatian ke depan.
Bianka menggeleng tanpa menjawab, sebaris senyum di bibirnya. Dia menyalakan radio dan mulai bernyanyi, merasa begitu damai dan tenang. Kemudian, pandangannya beralih ke Paul yang masih tersenyum. Pria itu tampak sungguh-sungguh bahagia. Bianka berpikir mungkin sudah sepantasnya dia memberikan hadiah untuk Paul. Tidak, dia memang harus menyiapkan hadiah karena hari Natal sudah dekat. Namun, dia belum tahu harus memberikan apa. Kira-kira, apa yang dibutuhkan seseorang yang telah memiliki segalanya?
"Apa ada yang mengganggumu?" suara Paul menarik kembali kesadarannya.
"Tidak." Dia mengedarkan pandangan, baru menyadari mereka tidak berada di rumah kakaknya ataupun di rumahnya. "Di mana kita?" Paul memarkirkan mobil di area drop off dan Bianka segera keluar. Dia memutar tubuh, mengamati tempat asing itu dengan seksama, tidak sadar bahwa dia telah menghabiskan sepanjang perjalanan dengan melamun. Dan, kini mereka berdiri di depan sebuah bangunan dengan pemandangan laut yang sangat indah.
"Tempat apa ini, Paul?" Bianka bertanya sambil memanjakan mata dengan hamparan bougenville di sekitar jalan setapak di depan bangunan.
Tempat itu luas, jauh berbeda dari yang biasa dilihatnya. Perpaduan dinding batu bata kasar dan kaca hitam yang agak aneh, namun tampak serasi dan uniknya membuat tempat itu terlihat lebih menarik lagi.
Paul meraih tangan Bianka dan menariknya ke dalam rumah. "Ini rumah yang akan di pinjamkan oleh calon timku sebagai tempat tinggal sementara. Aku meminta kuncinya kemarin, berniat mengajakmu melihat-lihat. Mungkin kita bisa menemukan ide dari sini saat memutuskan membeli rumah nanti?" gumam Paul menjelaskan. "Rumahnya sendiri memiliki tiga lantai. Jika aku tidak salah, luas pekarangannya lebih dari tiga ribu meter persegi." Pandangannya jauh ke depan.
Bianka mengikuti saat mereka melintasi teras yang besar dan masuk ke dalam. Rumah itu memiliki ruang tamu yang luasnya hampir dua kali lapangan bulu tangkis, termasuk ruang makan di lantai dasar. Di lantai itu juga terdapat dua ruang kerja sekaligus dapur, ruang penyimpanan bahan-bahan makanan, dua kamar mandi, ruang mencuci baju, dan satu kamar tamu.
Sementara di lantai satu terdapat ruang keluarga, satu dapur lagi, bioskop dengan fitur sound-proof, empat kamar tidur standar, dan kamar utama dengan pemandangan menghadap ke laut, serta kolam renang.
Kamar utama dilengkapi dengan ruang ganti khusus, kamar mandi yang lebih cocok di sebut ruang spa pribadi dan bak mandi besar. Bagian depannya terdapat teras balkon, mempertontonkan halaman yang dipenuhi beraneka ragam tanaman. Di sudut lain juga ada satu ruang tambahan yang bisa dijadikan sebagai perpustakaan dengan rak-rak buku sudah menggantung pada dinding, siap untuk digunakan.
Bagian bawah tanah tampak sama mengagumkan dengan dua lantai di atasnya dengan ruang santai lain, ruangan olahraga, tempat spa, tiga kamar tambahan, dan area parkir yang bisa memuat hingga enam mobil sekaligus.
Sungguh, sebuah rumah yang membuat siapa saja pasti terpana.
Bianka berdiri di salah satu ruang keluarga, mengagumi pemandangan laut di balik dinding kaca. Dia tidak merespon hingga beberapa saat. "Apakah ini model rumah yang kau inginkan?"
"Entahlah." jawab Paul ragu-ragu. "Rumahnya besar dan pemandangannya menakjubkan. Jadi, kurasa aku tidak keberatan tinggal disini."
"Aku setuju. Pemandangannya memang luar biasa." Bianka berbalik menatap kekasihnya. "Tapi, apa menurutmu ini tidak kebesaran? Kau tahu sendiri, aku lebih suka tempat yang kecil dan nyaman."
"Ya, tapi coba pikir sekali lagi." kata Paul menunjuk dengan tangannya. "Kita bisa bercengkerama dengan keluarga dan teman tanpa repot-repot memikirkan hal lain. Dan, kita juga tidak akan selamanya berdua. Rumah ini akan sempurna saat kita memiliki anak."
Bianka menelengkan kepala sambil mengangkat alis sementara Paul langsung melesak ke arahnya.
"Coba bayangkan, love." katanya, mencari-cari mata Bianka. "Barbeque dengan keluarga dan teman-teman, anak-anak bermain di kolam renang atau berlarian di sana-sini, diiringi gelak tawa mungil dan menggemaskan. Atau pemandangan dengan matahari terbenam saat kita bercinta di tepi pantai."
Bianka menolak beradu tatap dengan kekasihnya, sekali lagi, dia berbalik menghadap lautan. Paul tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Selama melihat-lihat, Bianka tidak terlalu banyak bersuara. Paul tak mau terkesan memaksa, tapi dia benar-benar menyukai rumah itu.
"Aku tahu letaknya tidak di pusat kota, tapi jaraknya hanya sekitar tiga puluh menit. Mungkin kita perlu menata ulang bagian dapur dan membuatnya lebih moderen dan serasi dengan seluruh ruangan. Aku sudah menemui seorang arsitek dan dia bilang mungkin butuh waktu sekitar enam sampai tujuh bulam untuk menyelesaikan semuanya. Tapi kita tidak harus menunggu selama itu kalau memang mau pindah kesini. Tentu saja, semuanya harus berdasarkan persetujuanmu sebelum mereka mulai bekerja."
"Oh, kupikir ini rumah yang dipinjamkan calon tim yang akan kau latih?" desis Bianka, menyipitkan mata penuh selidik. "Kenapa kau mengatakannya seolah-olah kau sudah membeli rumah ini?"
Paul merengangkan leher dengan gugup. Keadaan tidak berjalan seperti yang di harapkannya. Dia sudah menghabiskan dua minggu terakhir untuk melihat beberapa rumah yang dia pikir akan disukai Bianka. Dia benar-benar ingin mereka memiliki rumah berdua di Jakarta, dan dia sudah jatuh hati dengan rumah itu dan pemandangannya. Dia menggunakan calon timnya sebagai alasan agar Bianka tidak menebak maksudnya. Tapi, sekarang dia sudah tertangkap basah. Sebelum Paul sempat merespon, Bianka berputar menghadapnya dengan senyum lebar, membuatnya mengernyit.
"Aku suka, Paul." kata Bianka memulai. "Rumah ini sempurna. Agak lebih besar dari yang kuharapkan, tapi sangat bagus. Rumah yang benar-benar indah." Bianka mengedarkan pandangan saat berbicara, kemudian mengulurkan tangan melingkari pinggang Paul dan menempelkan kepalanya ke dada pria itu. "It's perfect. I love it."
"Sungguh? Kau menyukainya?" tanya Paul, tak percaya. Bianka mengangguk. Paul menghembuskan napas yang tanpa sadar telah ditahannya sejak tadi, kedua tangannya memeluk punggung Bianka. "Jadi, bolehkah aku menghubungi brokernya dan membuat penawaran? Aku ingin rumah ini sebagai hadiah Natal untuk kita berdua."
Bianka mendongak. "Kau hanya beralasan soal tim barumu untuk membawaku kemari, kan?" Paul mengangkat bahu, menyeringai. Bianka menepuk dada kekasihnya dengan kedua tangan dan tertawa. "Jangan tunda lebih lama. Kalau perlu, telepon dia sekarang."
Paul ikut tertawa, menunduk untuk satu ciuman panas dan menggairahkan. "Ya Tuhan, bagaimana caranya mengungkapkan rasa syukur dengan pantas karena telah begitu beruntung mendapatkanmu?" Dia memandangi wajah kekasihnya dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. "Aku mencintaimu, Bianka. Sangat mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu, Paul."
Paul menggeleng, tersenyum. "Tidak mungkin. Aku yang lebih mencintaimu."
Bianka terkekeh, melabuhkan kecupan singkat di bibir kekasihnya. "Kalau begitu, aku lebih beruntung karena sangat dicintai oleh orang yang juga sangat kucintai."
Keduanya tertawa dalam balutan perasaan bahagia.