My Love Journey's

My Love Journey's
The Intruder



"Ah, fvck!" Paul mengumpat sambil menarik nafas, menunduk melihat tanganku yang bergerak perlahan di kejantanannya yang keras dan penuh di balik ******.


Aku terdesak di salah satu dinding ruang utama kamar hotel, tanpa mengenakan selembar pakaian pun, begitu juga dengan Paul. Kemudian, seringan membalikkan telapak tangan, dia mengangkat kakiku agar melingkar di pinggulnya, lalu memegang kejantanannya yang berdenyut dan menggoda bagian di antara kedua pahaku.


Dia kembali menciumku, dengan keras. Aku melenguh saat Paul mulai mendorong tubuhnya, aku pasti terhempas ke lantai jika Paul tidak menahanku sekarang. Aku mendesah, merasakan kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhku begitu Paul masuk sepenuhnya. Merasa lebih nikmat lagi ketika dia meremas sebelah dadaku dengan lembut sembari menggoda puncak dadaku.


"Aku merindukan ini, love." Paul menggeram, menghentikan ciumannya lalu menatapku sambil mengertakkan gigi. "Aku merindukanmu."


Sudut mulutku terangkat tinggi-tinggi, mabuk oleh pesonanya yang mendebarkan. Tidak ada hal lain yang yang bersarang di kepalaku sekarang, seluruh sudut pikiranku dipenuhi oleh Paul.


Aku meletakkan tanganku di dadanya, merasakan otot-ototnya yang keras sejenak sebelum meraih rambutnya. "Aku juga merindukanmu..." lirihku setengah mendesah, seluruh duniaku terasa kembali begitu melihat Paul. "Sangat merindukanmu..."


Perlahan Paul mulai menghujamku, aku mendesah sembari menutup mata dan meremas rambutnya.


"Lihat aku, love." gumam Paul, menarik kepalaku agar menatapnya. Aku bisa melihat kilatan gairah yang panas membakar di matanya. "Aku ingin kau melihatku." lanjutnya, menggerakkan pinggul dengan pelan.


Aku sangat terpesona dengan apa yang kurasakan saat ini, nyaris tak sanggup merangkai kata-kata untuk membalas ucapannya. Bersamaan dengan kenikmatan luar biasa yang kudapatkan dari Paul, aku merasa seakan sedang berada di rumah. Paul Klug, dia benar-benar memabukkan.


Paul menjalarkan bibirnya di ceruk leherku sementara tangannya mencengkeram pinggulku, menahan tubuhku menempel padanya. Aku memindahkan telapak tanganku ke punggungnya, untuk menjaga keseimbangan tubuhku serta merasakan otot-otot punggungnya yang keras.


"Kau sungguh nikmat," lirihnya tersengal-sengal, dengan lembut menggigit pundakku. "Aku tidak akan pernah puas mencicipimu, Bianka."


Aku terkesiap saat Paul menghujamku dalam-dalam dengan gerakan seolah dia sedang menghukumku. "Paul..." Aku mendesah merasa nikmat sementara mulut Paul mulai menghantam puncak dadaku.


Gerakannya yang mendominasi sama sekali tidak membuatku keberatan, dia malah lebih menunjukkan sebuah perhatian yang menyatakan seakan aku merupakan berlian rapuh yang harus dijaga setiap kali dia mendesakku. Kelembutan dan rasa nikmat yang diberikannya sangat luar biasa.


Aku benar-benar linglung dan tersesat saat bersama Paul, hingga tak menyadari seseorang telah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar hotelnya.


"Paul, aku sudah berbicara dengan pengacaramu, dia..."


Seperti dihempaskan ke dasar jurang, kesadaranku langsung kembali. Aku menjerit, tak bermaksud melakukannya, tapi aku mendorong Paul.


"Apa kau tidak tahu cara mengetuk pintu, bodoh?" Paul membentak si penyusup itu, yang untungnya tak terlihat olehku.


"Aku... aku..." Dia kehilangan kata-kata sementara Paul membungkuk meraih handuknya dan blouse milikku. Aku meraih blouseku, nyaris tak sanggup menahan tawa ketika melihat handuk tak dapat menyembunyikan kejantanan Paul yang mengeras.


"Sekarang bukan waktu yang tepat, Steve." sembur Paul selagi pria itu menghampiri kami, jelas tak menyukai kehadirannya yang mengganggu kegiatan panas kami.


Aku malu. Wajahku pasti semerah tomat sekarang. Buru-buru kuraih pakaian dalamku dan langsung mengenakannya. Aku merasa seperti anak kecil yang bersembunyi di belakang Paul ketika seorang pria berkacamata dengan postur tubuh kurus dan tinggi muncul dalam jarak pandangku. Dia tersipu malu.


"Oh, Ya ampun... Kau pasti Bianka, senang berjumpa denganmu." katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan padaku. Dia tampak ramah, tapi aku tidak membutuhkan apapun selain Paul saat ini.


"Steve, tidak sekarang!" dengus Paul, menggeleng tak percaya.


"Benar, maaf." kemudian Steve berdeham lalu memperbaiki letak kacamatanya. "Kau harus menandatangani ini dan pengacaramu yang akan mengurus sisanya."


"Okay, taruh di atas meja. Aku akan menyerahkannya padamu nanti." ucap Paul dengan nada mengusir.


Dia mengangguk gugup. "Ya, ya, tentu." Steve menyerahkan map di tangannya kepada Paul.


"Jadi?" tanya Paul, mengangkat alis tinggi-tinggi. "Kau mau pergi atau mau menonton kami disini?" sindirnya.


Wajah Steve semakin merah padam. "Maaf sudah mengganggumu... Aku, aku keluar sekarang." Dengan gerakan secepat kilat, Steve berputar dan berjalan menuju pintu.


Paul membuang nafas kasar lalu berbalik menghadapku. Dia terlihat masih agak kesal, kemudian ekspresinya berubah bingung saat aku tak sanggup lagi menahan tawa. Aku tidak tahu kenapa, tapi kejadian barusan sedikit menggelitik menurutku.


Paul mengernyit. "Kenapa kau tertawa?" tanyanya.


Aku menangkup wajahku dengan kedua tangan sembari menggelengkan kepala. "Aku merasa tak enak padanya, dia ketakutan sekali, Paul."


"Tentu saja, pria bodoh yang tidak tahu cara mengetuk pintu pantas diperlakukan begitu." gerutunya berapi-api.


"Siapa dia?"


"Asisten manajerku. Aku akan meminta manajerku memecatnya."


Aku tersenyum, mencoba menenangkannya dengan menangkup wajahnya. "Kurasa tidak perlu sampai memecatnya. Sepertinya dia pria yang baik. Dan, kenapa kau berurusan dengan pengacara?"


Paul masih tak tenang, dengan gusar dia melempar map ke atas meja. "Lupakan. Ayo ke kamar, kita harus melanjutkan kegiatan tadi..."


***


"Damn!" umpat Paul, menggulingkan tubuhnya ke sampingku.


Aku berjuang menenangkan jantung dan nafasku yang masih memburu. "Damn, indeed." balasku, tertawa dan bergeser untuk memeluknya setelah dia membuang pengaman.


"Sepertinya kita harus lebih sering berpisah. Yang barusan itu..."


Aku menepuk dadanya. "Paul!" Mataku melotot sementara Paul tertawa halus.


"Bercanda, love. Kenapa serius sekali, sih?" dengkurnya ringan sambil melingkarkan lengannya di punggungku. "Bagaimana penerbanganmu tadi?"


"Penerbanganku?" kataku mengulangi, heran perubahan topiknya yang tiba-tiba.


"Ya. Aku belum sempat bertanya karena terlalu merindukanmu."


Tanpa bisa kucegah, mulutku melengkung. "Biasa saja. Hanya agak aneh karena cuma Valerie, Red, dan aku yang duduk disana."


"Kau akan terbiasa nanti..." cetus Paul, memainkan rambutku dengan jemarinya.


Aku sadar aku tidak mungkin dengan mudah merasa terbiasa dengan gaya hidupnya, namun aku menghargai niatnya yang bisa kuartikan sebagai ungkapan keseriusan pada hubungan kami.


"Aku senang bisa berjumpa kembali dengan Alfred. Oh, dan salah satu pengawalmu, Pablo... dia menarik, ya?"


Paul menghela nafas. "He? Maaf kalau dia agak dingin. Sifatnya sudah begitu sejak lahir, dan..."


"No, no." sambarku. "Dia baik, kok. Kami sempat mengobrol di lift, aku menyanyikan lagu Whitney Houston 'I will always love you' dan dia tersenyum."


Mendadak suara tawa Paul terdengar menggelegar. "Kau... apa? Dan kau membuatnya tersenyum? Luar biasa. Aku saja baru sekali melihatnya tersenyum padahal dia berkerja denganku selama bertahun-tahun..." kata Paul. "Pablo pasti menyukaimu. Lagi pula, siapa yang tidak mengagumi Bianka Becker."


Aku mendongak untuk melihat seulas senyum genit di mulutnya. Aku mencium pipinya sekali lalu beringsut duduk. "Aku mau mandi." kataku sambil menggulung rambut ke atas kepala.


"Aku ikut." Tanpa peringatan, dia mengangkatku ke dadanya, membuatku memekik. Kemudian kami tertawa.