
"Aku benar-benar bangga padamu, kau berhasil kembali menjadi dirimu sendiri." kataku seraya tersenyum tulus pada Louis.
Dia menghisap rokoknya dan meniupkan asap, berhati-hati agar tidak mengenaiku. "Aku juga. Bodoh sekali, ya." Dia menggeleng pada dirinya sendiri. "Aku bahkan tidak pernah meminta maaf dengan cara yang pantas untuk apa yang sudah kulakukan padamu dan dad..."
"Perbuatan lebih penting dari pada sekedar kata maaf, Lou. Lihat, dad sangat bahagia karena kita mau meluangkan waktu di hari ulang tahunnya, dan kita berhasil menahan diri agar tidak membuat kekacauan." gumamku mengingatkannya.
Dia menganggukkan kepala, melempar pandangan ke hutan di depan kami, lalu menghela napas. "Aku membenci diriku sendiri karena menempatkannya dalam kesulitan, padahal dia selalu berjuang menjaga keluarga kita setelah mom pergi."
"Jangan menyalahkan dirimu. Dia pergi karena kemauannya sendiri, dan itu merupakan hal yang benar untuk di lakukan setelah dia membuat keluarga kita hancur... dia yang salah, Lou." kataku. "Dia pemabuk, selalu mabuk. Dia bukan ibu yang baik untuk kita, kita patut bersyukur dia pergi dari kehidupan kita, dan beruntung kita masih punya ayah yang luar biasa, yang selalu ada kapanpun kau dan aku membutuhkannya."
"Kau benar. Sejak kapan otakmu menjadi begitu pintar?" selorohnya sambil mengacak-acak rambutku.
Aku tertawa lalu mengangkat bahu. "Apa yang akan kau lakukan kedepannya? Ada rencana yang lebih spesifik?" tanyaku ketika Louis menghisap rokoknya lagi.
"Manajer di kedai kopi tempatku bekerja sudah mengisyaratkan kalau aku mungkin akan segera menggantikan posisinya." gumam Louis. "Itu bukan jenis pekerjaan yang ingin kulakukan sampai tua, tapi dengan catatanku yang buruk sebagai mantan pengguna narkotika dan putus sekolah, aku tidak punya banyak pilihan."
"Kupikir itu luar biasa, Lou." Aku tersenyum, dengan sungguh-sungguh menyatakan betapa aku bangga padanya. "Setidaknya kau bukan tunawisma yang hidup di jalanan."
Dia terkekeh. "Setuju. Kau tahu, Lucy sangat membantuku saat melewati hari-hari suram. Dia memaksaku memasukkan sedikitnya seratus berkas lamaran kerja setelah kami keluar dari pusat rehabilitasi. Dia juga melakukan hal yang sama. Lucy punya cara yang unik dalam menunjukkan semangat, menatap dunia seakan masih banyak kesempatan, dan tidak ada yang tak bisa di raih, bahkan untuk orang-orang seperti kami..."
"Kurasa kalian memang pasangan yang serasi."
"Aku sangat mencintainya, Bee." Louis menatapku, matanya menunjukkan keseriusan dan kesungguhan yang dalam.
"Aww, manis sekali. Kau benar-benar bertemu dengannya di pusat rehab? Apa yang membuatnya terjebak di tempat itu?" tanyaku penasaran, khususnya setelah aku mendengar pembicaraan Paul dan Lucy.
Louis menghela napas. "Kakaknya menangkap basah dia sedang mengkonsumsi semacam obat-obatan, lalu langsung mengirimnya kesana hari itu juga. Lucy dan aku bergabung di grup konseling yang sama, dan kami sering mengobrol berdua setelah satu sesi konseling yang penuh dengan donat."
"Donat? Makanan kesukaan yang sama, hm?" Aku tertawa halus sementara Louis tersipu malu.
"Tepat sekali. Dia sangat blak-blakan padaku, kupikir aku sudah jatuh cinta padanya setelah beberapa hari kami mengobrol."
"Blak-blakan?"
Louis tersenyum, mengarahkan kembali pandangannya ke hutan di hadapan kami. Kami duduk di kursi halaman belakang rumah ayahku, sementara bangunan rumah berada di belakang kami. "Dia begitu... aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Dia tipikal gadis yang tahu apa yang dia inginkan dan berusaha dengan keras untuk mewujudkannya."
Aku mengangguk paham, hal yang sama seperti yang digambarkan Louis tampaknya juga berlaku untuk Paul.
"Aku benar-benar mengaguminya, Bee. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamanya." gumam Louis melanjutkan, aku tersenyum.
"Aku bisa menerimanya. Dia gadis yang luar biasa."
Begitu Louis mengabiskan rokoknya dan menaruh puntung pada asbak, pintu belakang rumah berderak terbuka dan ayahku muncul dari sana. "Apa yang sedang gosipkan disini, he?" tanyanya sambil tersenyum hangat lalu duduk di sebelahku dan merangkul bahuku. Aku memeluknya.
"Hanya beberapa hal soal cewek, dad." kata Louis bergurau, membuat ayahku tertawa. Tawanya sangat renyah dan riang.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian, untuk semuanya. Aku tahu ini tidak terlalu penting untuk kalian, tapi sangat berarti bagiku." katanya dengan nada serius.
Aku menepuk pelan dadanya. "Bagi kami juga begitu, dad." cetusku, bersandar di bahunya. "Kita sering-sering melakukannya."
"Benar." Louis menyetujui. "Selama Lucy dan Paul juga boleh bergabung."
"Tentu saja!" Dad mengangguk. "Kurasa aku sudah menyukai mereka. Lucy gadis yang baik dan menyenangkan, sementara Paul adalah Paul Klug! Aku masih belum percaya ini."
"Apa itu berarti aku akan memiliki seorang cucu dari Paul Klug?" Dad menggodaku. Louis dan aku tertawa saat aku menepuk dadanya lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Dad, please... hubungan kami belum sampai ke tahap itu."
"Kalau begitu, sudah sejauh mana hubungan kalian?" Louis menggoyangkan alisnya seperti anak kecil yang kegirangan, membuatku memutar bola mata seraya tersenyum.
"Cukup serius sehingga dia memintaku menemuinya di Rusia minggu depan." kataku pada mereka.
"Benarkah?" Mendadak dad terlihat begitu antusias. "Kau harus mengirim fotomu saat berada disana!"
Aku tersenyum senang. "Tentu, tapi jangan menyebarluaskannya. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin banyak waktu yang kami miliki untuk bersantai."
"Bisakah kalian berpose sedikit?" Lucy tiba-tiba berjalan mengitari kursi dan berdiri di hadapan kami, sebuah senyum manis dan ceria muncul di bibirnya. "Aku ingin mengambil foto kalian."
"Saran yang bagus, babe." Louis tersenyum padanya selagi Lucy menarik ponsel dari saku celana jinsnya.
Louis meringkuk padaku dan merangkul bahuku. Kami tersenyum, dad membuat tanda 'peace' dengan jarinya sementara Lucy mulai mengambil foto kami.
"Aku akan mengirimnya padamu, Lou." katanya setelah memperlihatkan hasil jepretannya pada kami. Kami terlihat sangat bahagia disana, tepat seperti keluarga yang selalu kuimpikan.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyaku begitu Lucy duduk di pangkuan Louis. "Aku harus kembali ke kota tiga jam lagi."
"Tiga jam?" Lucy mengernyit. "Itu sebentar lagi." Aku tersenyum seraya mengangguk setuju. "Aku punya ide," Cara bicaranya yang spontan dan murni bisa membuat siapapun mustahi tak menyukainya. "Ayo jalan-jalan di hutan, cuaca cukup cerah hari ini."
Aku menoleh ayahku untuk melihat reaksinya dan mendapati tampaknya dia setuju, lalu aku pun mengangguk.
***
Ayahku mengetahui seluk beluk hutan seperti dia mengenal telapak tangannya sendiri, jadi dia menuntun kami ke tempat dimana keindahan alam benar-benar bisa terlihat.
"Bianka, aku akan memotretmu!" Lucy menghampiriku dengan tergesa-gesa sambil menggoyangkan ponsel di tangannya.
Aku terkekeh melihat semangatnya. "Okay."
Aku berdiri di tepi danau, cahaya matahari memantul dengan indah pada permukaannya. Lucy mengangkat ponselnya dan mengarahkan kamera padaku. Aku tersenyum selagi menyibak rambut ke belakang bahu.
Setelah dia mengambil foto dan menunjukkan padaku, Lucy memintaku mempostingnya di Twitter. Menurutku hasil jepretannya lumayan bagus karena aku terlihat begitu bahagia di antara pepohonan yang menjulang tinggi.
Ketika kami kembali ke rumah, aku mengikuti saran Lucy dan memposting foto itu ke Twitter dengan caption singkat 'Such a lovely day'. Kemudian tepat saat aku siap berangkat ke kota, aku membeku begitu mendapati satu pemberitahuan paling menarik di layar ponselku.
@Cristiano menyukai Tweet-mu
Sebesar apapun kesenangan yang kurasakan sekarang, itu tidak sebanding pada perasaan bangga sewaktu aku membaca komentar Paul.
@PaulKlug: Cantik sekali❤️
Aku menyukai komentarnya, lalu mematikan pemberitahuan. Orang-orang akan menggila begitu menyadari Cristiano Ronaldo dan Paul Klug bereaksi terhadap postinganku. Tentu saja, gosip baru akan bermunculan tanpa bisa kucegah. Tapi aku tidak peduli.
Aku mencoba percaya sepenuhnya pada Paul. Kami bisa melalui ini jika memiliki keyakinan yang kuat satu dengan yang lain. Hubungan kami memang belum belum terlalu kuat untuk menyatakan cinta, tapi yang kami jalani saat ini sudah mengarah kesana. Setidaknya itulah yang ada di pikiranku, dan kurasa Paul juga merasakan hal yang sama.