
Hi, guys! Aku minta maaf belakangan jadwal update berantakan karena aku lagi sakit. Ini maksa up singkat dan semoga bisa secepatnya rutin update lagi. Bianka dan Paul ini masih panjang, dan aku akan berusaha up dua chapter sehari setelah sembuh nanti. Untuk sementara, bagi yang belum, kalian juga bisa baca bukuku yang berjudul "Pertahanan Terbaik". Klik profilku, ya. I love you, guys. Tetap jaga kesehatan. Much love😘
...Paul Klug POV....
"Bagaimana rasanya menjadi calon ayah?" tanya Harry, salah satu teman dekatku sejak kecil.
Aku terkekeh seraya menggelengkan kepala, membalik daging lalu menjawabnya. "Cukup memusingkan, kalau aku boleh jujur. Wanita hamil dan perubahan hormon." Aku melirik Bianka yang sedang duduk mengobrol bersama ibuku dan Debby. "Tapi, perasaan bahagiaku lebih besar, Bung." sambungku dengan mata berbinar-binar memandang istriku.
Harry tersenyum. "Kuharap aku bisa merasakan perasaan itu secepatnya."
"Bung," Aku berdeham. "Aku tahu kau belum bisa melupakan Eva, tapi berusahalah lebih keras. Aku yakin dia tidak senang melihatmu begini." kataku, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan temanku.
Eva Muller, istri Harry, meninggal dua tahun lalu akibat leukimia yang di deritanya. Harry sangat mencintai istrinya, hidupnya berubah total sejak kematian istrinya. Bahkan, aku sempat nyaris tak mengenalnya lagi. Baru beberapa bulan belakangan ini dia bisa menerima kepergian Eva dan mau bergabung kembali bersama kami.
Aku melihat matanya basah, tapi kemudian buru-buru dikerjapkannya. "Ya, kurasa begitu." Dia menepuk pundakku sekali. "Terima kasih, Bung."
Aku tersenyum, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi teriakan Ellie menarik perhatian kami.
"Johnny, stop!" Ellie berlari di atas rerumputan halaman belakang rumah ibuku, dia memekik sambil tertawa sementara Johnny mengejarnya sambil memegang ular mainan.
"Kemarilah, Ellie, dia ingin berkenalan denganmu." katanya dengan nada dan langkah dramatis.
"No, Johnny!" seru istriku, berjalan cepat menghampiri Ellie. "Dia bisa mimpi buruk kalau menakutinya seperti itu." ketusnya tajam sambil berjongkok di depan Ellie. "Kau baik-baik saja?"
Ellie menganggukkan kepala. Aku tergelak melihat raut Johnny yang menciut. Sikap Bianka benar-benar berubah seiring kehamilannya. Dia bisa terbahak-bahak merespon sesuatu yang kurasa tidak begitu lucu, kemudian terisak ketika mendengar cerita sedih beberapa kemudian, atau bahkan marah seperti sekarang. Aku sendiri hampir putus asa menghadapinya.
Apakah semua wanita hamil mengalami ini?
"Ma-a-affff." kata Johnny sambil menyeringai. Dia mendekati kami dan menyelipkan ular mainan itu ke saku belakang jinsnya. "Baru sekali ini aku terdiam saat seseorang menyemburku." selorohnya.
"Well, aku sudah sering mengalaminya." Kuangkat daging terakhir yang sudah matang lalu meletakkannya di nampan berbahan stainless steel dan membawanya ke meja kayu bulat dimana para wanita duduk mengobrol.
Harry dan Johnny mematikan api sebelum ikut bergabung bersama kami.
"Ah, harum sekali..." kata Bianka dengan tatapan lapar. Dia menelan ludah. "Kenapa kau tidak pernah membuatkan ini untukku, Paul?" tanyanya agak kecewa.
"Begitulah pria kebanyakan," ibuku menimpali. "Tidak mau bersusah payah melakukan sesuatu. Mereka lebih senang membawa kita ke restoran mahal alih-alih memasak di rumah."
Aku meringis. "Mom," sambarku, melayangkan tatapan tak setuju padanya. "Aku sering membuatkan makanan untuk Bianka, bukan begitu, love?"
"Tidak yang satu ini," jawabnya, menunjuk setumpuk daging di atas meja.
Dua puluh menit kemudian, kami menyelesaikan santap siang itu dan lanjut membicarakan hal-hal ringan terkait pekerjaan ataupun kegiatan masing-masing, hingga kulihat Bianka menguap beberapa kali.
"Mau istirahat, love?" tanyaku, dengan nada menyarankan.
Dia meletakkan dagunya di pundakku, lalu tersenyum. "Aku lebih tertarik melakukan sesuatu selain tidur." bisiknya genit sambil mengedipkan mata.
Aku tertawa dan menggeleng tak percaya. "Dasar, gadis nakal!" balasku berbisik. Aku menatap ibu dan teman-temanku, pamit dan mengatakan Bianka mengantuk. Mereka mengangguk dan membiarkan kami masuk ke dalam rumah.
Tiba di kamar, aku menaruh ponsel di nakas sementara Bianka berbaring lebih dulu di ranjang. Kemudian dia menguap, mengusap mata lalu menarik selimut. Gelak tawa darinya terdengar saat aku kembali menyibak selimut dengan kasar. "Jangan coba-coba menipuku, love." kataku, lalu menarik lepas kaosku melalui kepala.
Makhluk seksi itu tertawa lagi. "Aku tidak menipumu, Sayang." Dia menggelengkan kepala. "Kau terlalu bersemaNGAT!" dengkurnya, menyentakkan suara di ujung kalimat ketika aku buru-buru menaikkan gaunnya lalu melepas pakaian dalamnya dan mendorong dua jariku masuk ke dalam tubuhnya. Kakinya melilit pinggulku, pinggulnya bergerak mengikuti irama desakan jariku.
Aku menatap wajahnya. Aku suka melihat keningnya gelisah saat dia mengerutkan alis dan mulutnya terbuka untuk membentuk huruf O yang sempurna. Dia mendorong pahaku lebih dekat dengan kedua kakinya, aku merasakan kakinya gemetar. Dia menggumamkan 'OH!' dengan nada tinggi ketika ibu jariku ikut menggoda kewanitaanya yang berdenyut.
"More! Oh, God, I need more." Dia mendesah. Kemudian dia membuka mata dan menatap tajam padaku saat aku menarik jariku darinya. "Apa-apaan kau? Aku akan memotong kejantananmu jika kau berani menggantungku!" semburnya sebelum suara dentingan ikat pinggangku menarik perhatiannya.
Dengan satu gerakan tangkas, kulepaskan celanaku dan buru-buru mendesaknya. Sial, dia selalu hangat dan nikmat! Aku tahu dia lebih menyukai saat aku menghujamnya keras-keras, atau saat aku mencengkeram pinggulnya kuat-kuat, itu terbukti dari jeritan yang keluar dari mulutnya.
"Kau menyukainya, love? Suka saat aku mendesakmu seperti ini?" dengkurku di telinganya. Aku menjilat garis dadanya, naik hingga ke rahangnya.
"Yes!" erangnya, lalu tubuhnya mengencang saat aku menggigit puncak dadanya dan meninggalkan begitu banyak jejak merah di kulitnya. Dia milikku.
Kejantananku mengencang hingga terasa sedikit menyakitkan saat kurasakan kewanitaannya mengepal, menandakan dia sudah mendekati puncak. Kuangkat tubuhku darinya lalu mendorong lututnya ke atas, nyaris menyentuh dadanya. Dengan posisi ini, aku bisa mendesaknya lebih dalam. Bianka terus mendesah sampai akhirnya dia menancapkan ujung kukunya ke lenganku.
"Yes, yes, yesssss!" desisnya, lalu sekujur tubuhnya bergetar hebat, matanya terpejam erat sementara dia menahan nafas selama beberapa detik seiring pelepasannya. Aku tidak akan pernah bosan dengan pemandangan ini. Tidak akan pernah.
Kurasakan bagian dalam pahaku gemetar saat aku memejamkan mata, aku menenggelamkan wajah ke lehernya dan melepaskan gairahku di dalam tubuhnya. "Fvck!!!"
Keheningan terasa selama beberapa menit sementara kami berusaha menenangkan detak jantung masing-masing, hingga akhirnya suara istriku kembali terdengar. Dia tertawa. "Mau mendengar sesuatu yang lucu? Sebenarnya bukan ini yang ingin kulakukan tadi. Bukan berarti aku kecewa, ya, hanya saja... aku merasa geli karena tak bisa menolakmu."
Aku ikut tertawa, lalu berguling ke sampingnya, memberinya waktu melepaskan gaun sebelum menariknya ke dalam dekapanku. Aku mencium keningnya sementara dia mencium dadaku. "Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku penasaran seraya mengusap punggungnya.
Bianka menengadah, menggeleng pelan dan tersenyum. "Percuma mengatakannya sekarang. Aku sudah kelelahan." cetusnya cuek.
"Love..."
"No. Lain kali saja. I love you, Paul." Dia mencium bibirku sekilas dan memejamkan mata.
"I love you too, Rapunzel."