
Aku tidak mendengar kabar Sebastian sama sekali hingga hari kamis minggu berikutnya. Pada awalnya, kupikir dia mengabaikanku tapi dia menjelaskan bahwa pekerjaannya sedang sibuk, dan kami akan bertemu pada hari ulang tahun Panda karena Louis mengundangnya.
Aku mengutuk keras ulah adikku yang sepertinya sengaja ingin menyudutkanku. Sekarang, aku hanya bisa berharap semoga situasi nanti tidak akan canggung dengan kehadian Paul dan Sebastian pada saat yang bersamaan.
Paul dan aku mengobrol lewat telepon setiap hari, kebanyakan pada malam hari. Kami berbagi apa pun, tentang kecelakaannya dan proses penyembuhan yang memakan waktu hingga dua tahun lamanya, belum lagi dia harus melatih kekuatan kakinya, itulah yang menyebabkan dia datang padaku setelah tiga tahun. Paul juga mengatakan bahwa Ellie sudah memiliki adik laki-laki dari pernikahan Thomas dan Camille, yang kini berusia tujuh bulan. Aku mendengar kabar pernikahan mereka dari Stacey, tapi tidak pernah tahu bahwa mereka sudah memiliki anak. Aku menceritakan padanya soal pertemuanku dengan ibuku dan kehidupanku selama di Jakarta.
Mengingat lamanya durasi obrolan-obrolan telepon itu, rasanya seakan kami bisa mengobrol sepanjang waktu. Dia membuatku merasa muda, mengingatkanku pada saat pertama kali kami bertemu di rumah sakit. Keyakinan dalam diriku seolah sudah bulat, dan aku harus berbicara pada Sebastian. Aku tidak mau menerima Paul sebelum menyelesaikan urusanku dengan Sebastian, dan aku berencana melakukannya setelah hari ulang tahun Panda.
Aku terlambat tiba di vila keluarga Warner karena harus menyelesaikan shift-ku terlebih dahulu dan Yola adalah orang pertama yang kulihat. Dia juga baru turun dari mobilnya.
Dia tampak antusias. "Oh my gosh!" katanya sambil memelukku. "Aku rindu padamu."
"Oh, ya? Aku juga rindu padamu." kataku seraya tersenyum. Seperti biasanya, dia datang sendiri karena suaminya gila kerja. Tapi, itu tidak menyurutkan sedikit pun semangat yang dimilikinya. Dia selalu pandai menyembunyikan perasaannya meski aku tahu dia sedang kesal jika dilihat dari matanya.
"Siap untuk berpesta malam ini? Tuan Putri kita sudah menyiapkan amunisi untuk semalaman." seru Yola.
"Aku tidak akan mabuk, Yola." balasku mengingatkannya.
"Apakah punya dua pria tampan yang memperebutkanmu tidak membuatmu ingin minum sedikit?" Dia mengedipkan mata padaku.
Aku memutar bola mata. "Kenyataannya tidak sekeren yang kau bayangkan, Say."
Dia mengangguk. "Benar. Keadaan ini pasti memusingkan, ya kan?"
"Tidak perlu mengatakannya dengan lancang." gerutuku.
"Aku serius," Dia menautkan lengannya ke lenganku. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Okay," desisku pelan. "Apa..."
"Yola!" Kami memutar kepala untuk melihat Theo yang berjalan mendekat sambil tersenyum dan memeluk Yola.
"Wow. Kau bahkan tidak menyapaku." Aku menggelengkan kepala.
"Sensitif sekali, sih. Kemarilah." Dia menarikku ke dalam pelukan berkelompok.
Kami tertawa seperti remaja bahagia kemudian melangkah bersama-sama ke dalam vila. Kegiatan ini sama sekali tak cocok disebut sebagai pesta karena Panda ingin hanya keluarga dan beberapa teman terdekatnya yang datang. Aku melihat meja kayu bundar di halaman depan vila yang sudah penuh dengan berbagai macam daging dan pemanggang berukuran jumbo di sebelahnya. Dean dan Louis berdiri disana, menyalakan api.
"Dimana Panda?" Aku bertanya pada mereka. Dean memutar kepalanya dengan gerakan kaku seperti robot, menatapku dengan wajah merengut. "Kau kenapa?"
Louis tertawa. "Dia kesal karena Paul dan Sebastian akan datang."
Aku memasang ekspresi pura-pura merasa bersalah. "Oh, I'm sorry..."
"Apa itu dia?" kata Theo, menunjuk ke belakangku dengan dagunya.
Aku menoleh dan mendapati Paul berjalan ke arah kami. Aku menelan ludah saat mataku beradu dengannya, tampak gelap dan ragu-ragu. "Hei,"
Aku menelan ludah sekali lagi, terpejam menikmati aroma tubuhnya yang membuatku merinding. Tanpa sadar aku melakukannya terlalu lama sampai seseorang berdeham. Aku membuka mata. "Hei," jawabku gugup.
"Kau pasti Paul, kan?" Theo memulai serangannya dengan nada ketus.
Paul mengangguk gugup. "Ya."
"Well, sekarang aku takut akan beralih tim." Theo meringis saat pandangannya menangkap sosok lain di belakangku. "Oh, Sebastian yang malang."
Aku menarik napas dalam-dalam, memutar tubuh lalu tersenyum dan menyapa Sebastian. "Hei, kau datang?"
Aku melirik Paul yang sedang melihatnya dengan tatapan tak suka. Mendadak kegugupan menyerangku. Paul lebih tinggi dan tubuhnya lebih besar dibanding Sebastian, dan aku tidak mengharapkan semacam drama baku hantam terjadi di acara orang lain.
Sebastian menyeringai. "Ya, terima kasih sudah mengundangku," dia tersenyum pada Louis, lalu memandang Paul. "Kau pasti Paul."
"Kau pasti Sebastian." sahut Paul dengan rahang mengeras.
Keheningan terasa mencekam selama beberapa detik dan aku menoleh Yola dan Theo, mereka hanya tersenyum sambil mengangkat bahu serentak. Kemudian Paul menyeringai sambil mengulurkan tangan ke Sebastian. "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu."
Sebastian tersenyum ramah. "Aku merasakan hal yang sama." Mereka berjabat tangan dengan santai sementara aku menghembuskan napas lega.
"Kau terdengar lebih menyeramkan di telepon." kata Sebastian bergurau.
Aku mengerutkan dahi. "Tunggu. Kalian pernah berbicara di telepon?"
"Bosku memintaku menghubunginya untuk merekomendasikan sebuah rumah." Sebastian menjelaskan.
Aku menatap Paul, dia tersenyum. "Dia punya selera yang bagus," dengkurnya, mengangkat bahu.
"Aku yang terbaik dalam dunia properti," balas Sebastian.
Paul terkekeh. "Kuharap begitu."
Mereka mulai membahas tentang rumah yang akan dibeli Paul dengan bantuan Sebastian. Untuk sesaat, aku tak melihat adanya persaingan di sana.
Aku mendekati Yola. "Apa yang terjadi?" bisikku padanya.
"Dua orang yang berjodoh?" sahutnya bercanda, lalu tergelak. "Ayo, biarkan mereka saling mengenal."
Aku mengangguk, memandang dua pria itu sekali lagi lalu mengikuti Yola dan Theo ke dalam vila. Tiba di dalam, kami di sambut teriakan anak-anak yang sedang berlarian kesana-kemari, Edward dan Sean mengepung mereka sementara Panda duduk di sofa, memandang ke layar tablet di tangannya.
"There you are, birthday girl!" Aku memeluk dan mencium pipi Panda. "Happy birthday, sist."
Aku membiarkan Panda, Yola, dan Theo mengobrol dan pergi ke ruangan lain untuk menyapa ayahku, ibuku, dan Marissa. Hatiku menghangat dengan suasana ini, tentu saja di luar kemungkinan Paul dan Sebastian akan berselisih yang untungnya tidak terjadi. Saat berbicara dengan ayahku, dia tampak begitu antusias dengan kedatangan Paul. Aku bertanya-tanya berapa lama lagi hingga dia mengetahui semuanya.
Kenapa hidup harus selalu begini? Saat kau merasa segalanya sudah sempurna seperti yang kau inginkan, sesuatu yang buruk akan menyelinap seakan kau tak boleh berada dalam ketenangan bahkan sebentar saja. Untuk sekarang, itu memang belum terjadi, tapi berapa lama lagi? Aku tidak mungkin menemui semua orang yang tahu masalahku dan Paul sebelum kami berpisah dan meminta mereka menutup mulut di depan ayahku. Itu tidak mungkin. Dan...
"Kenapa kau di sini?"
Aku tersentak, menarik pikiranku kembali ketika mendengar seseorang berbicara. Aku mengerjap, menyadari bahwa aku tak lagi bersama ayahku, dan Dean sudah duduk di sebelahku.
Aku tersenyum. "Mencari ketenangan," sahutku dengan nada bertanya, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan. Dean mengulurkan segelas wine padaku, aku menerimanya.
"Apa kau bahagia?" tanyanya setelah beberapa saat kami hanya diam. Aku mengernyit dan dia segera melanjutkan. "Kau tahu, mantan suamimu di sini, dan pria yang lainnya adalah pacarmu saat ini, meski aku tidak tahu seserius apa hubungan kalian." gumamnya sedih.
"Kenapa kau begitu tertarik dengan kehidupan pribadiku?"
Ekspresinya tak terbaca. "Aku selalu tertarik padamu, Bianka." Kemudian dia mengerjap saat menyadari sesuatu. "Astaga, selama ini kau pasti menganggapku tidak serius, kan?"
Sekarang, giliranku yang melongo. "Kau... Kau benar-benar menyukaiku?" kataku seperti orang bodoh. Aku tidak mengira dia bersungguh-sungguh karena Dean tipikal pria yang akan menggoda setiap wanita yang tampak di depan matanya, tidak peduli tua atau muda. Panda sendiri pernah di rayu olehnya.
Well, siapapun yang mengenal Dean tidak akan menanggapi ucapannya dengan serius karena sifatnya yang riang dan kadang-kadang terkesan konyol. Dia menunduk, tersenyum tapi rautnya sedih. Aku meringis dalam hati. Sekarang, bertambah satu orang yang membuatku tak enak hati. Bukan berarti aku mempertimbangkan Dean untuk ikut dalam kompetisi Paul dan Sebastian. Mereka saja sudah cukup membuatku pusing.
"Itulah sulitnya menjadi seseorang yang mampu menyembunyikan perasaan. Orang-orang akan berpikir bahwa yang keluar dari mulutmu hanyalah lelucon."
"Dean..."
"It's okay. Bukan salahmu, kok." Dia menggeleng sambil tersenyum, terlihat tulus meski matanya masih menampakkan kesedihan. Aku yang kurang serius menunjukkan perasaanku padamu." Dia mengangkat gelas winenya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan. "Kita harus keluar sebelum yang mereka memanggil FBI."
Aku mengangguk. "Aku minta maaf," kataku selagi kami berjalan.
Dia terkekeh, bahunya lebih santai. "Ah, tidak perlu. Aku sudah cukup senang melihatmu bahagia." Dia menunjuk ke arah Paul dan Sebastian yang masih asyik mengobrol. "Jadi, siapa di antara mereka yang beruntung?"
Aku tersenyum. "Aku belum memutuskan." jawabku, meski sebenarnya aku sudah tahu akan menerima siapa. Ini pertanyaan paling mudah.
Dean tertawa. "Kau pembohong yang payah,"
"Terima kasih untuk pujianmu," balasku sinis, lalu ikut tertawa seraya mendorongnya menjauh.
Dean terus tertawa sampai kami tiba di halaman depan dan bergabung dengan yang lainnya.
"Lihat siapa yang menjadi maskot malam ini," kata Marissa menggodaku. Dia duduk di teras bersama ayahku, ibuku, Edward dan Sora.
Aku mengerang. "Ini bukan acaraku. Lagi pula, bukan aku yang mengundang mereka." balasku membela diri.
"Wah wah wah... Lihat siapa yang kesal," Edward menyambar lalu tertawa, diikuti oleh yang lainnya.
Aku hanya memutar bola mata, meninggalkan mereka dan beralih ke kelompok kedua yang sedang memanggang daging. Kami melewati malam itu dengan tenang dan damai tanpa keributan seperti yang kubayangkan hingga beberapa jam berikutnya.
"Bianka,"
Aku menoleh dan mendapati Sebastian. "Hei,"
Dia menyeringai. "Hei, aku akan pulang."
"Oh," kataku. "Okay. Biar kuantar ke depan."
"Kupikir kau benar tentang Paul dan aku." gumamnya selagi kami berjalan. "Dia orang yang cukup asyik untuk di ajak mengobrol."
Aku tersenyum. "Tuh kan, apa kubilang."
Sebastian terkekeh. "Apa kau tahu bahwa dia sedang membeli rumah?"
Aku ragu-ragu. "Uhm, aku tahu dia berencana menetap di sini," Seharusnya aku sudah menduga itu.
"Dan, kau tahu dia melakukan itu untukmu?" Aku memandangnya, tapi tak tahu harus mengatakan apa sementara Sebastian tersenyum sedih. "Aku tahu bahwa aku sudah kalah saat melihat kalian berdua."
"Aku minta maaf," desisku pelan.
Sebastian menggeleng, masih tersenyum. "Itu bukan salahmu." Dia ragu sejenak. "Tapi, boleh aku mengatakan sesuatu?"
Aku mengangguk. "Tentu."
"Aku melihat hubunganmu dan Paul memang nyata, Bianka. Ada ikatan di antara kalian berdua. Dia memandangmu bahkan tanpa menyadari bahwa dia sedang melakukannya. Sungguh, aku agak iri padanya." Dia menarik napas. "Aku hanya berharap kalian bisa mempertahankan apa pun yang kalian miliki di masa lalu karena dia sangat menyayangimu."
Dia sangat menyayangimu.
Aku mengulang kata-katanya di benakku, dan aku tahu dia benar. Paul memang menyayangiku, aku beruntung dia kembali padaku dan kami bisa memperbaiki apa yang salah di antara kami. Jika dulu aku bisa menerimanya, kenapa sekarang tidak?
Mataku kembali beradu dengan Sebastian. Dia tersenyum. "Kita pasti akan bertemu lagi dan aku tidak mau kau merasa canggung, oke?"
Aku membalas senyumnya. "Ya, ya. Terima kasih, Sebastian. Aku berharap kau menemukan seseorang yang pantas untukmu."
"Kuharap begitu," Dia menyeringai lalu memelukku. "Selamat malam."
"Selamat malam."
Aku mengamati masuk ke mobil dan langsung melaju. Aku merasa buruk, tapi pada saat yang sama aku juga merasa satu beban terangkat dari pundakku. Ini harus segera diselesaikan. Sekarang, aku bebas melakukan satu hal yang sangat kuinginkan sejak beberapa hari lalu; menerima Paul.