
Informasi penting! Bianka Becker bukan seorang pemain sepak bola!
Dengan bodohnya, aku menyetujui tawaran Paul untuk bermain bola. Lagi pula, kenapa aku harus membiarkannya bertindak sejauh ini?
"Pelan saja, Bianka." dengkurnya hati-hati? padaku, menatap bola dan aku bergantian. "Tidak ada yang sulit selama kau mau mencoba. Sekarang, tendang bolanya kesini."
Aku membuang nafas frustasi sambil memundurkan kaki kananku. Posisi Paul hanya berjarak beberapa di depanku, tapi kurasa ini akan menjadi sebuah keajaiban jika aku bisa mengoper bola tepat ke arahnya.
Aku menutup mata begitu menendang bola, terlalu takut melihat hasil upayaku sendiri. Tepat sebelum mataku tertutup, aku bersumpah sempat melihat bola itu melenceng jauh ke samping, bukan ke arah Paul.
"Buka matamu, love." Dia tertawa begitu aku melihatnya, berdiri... dan bola itu sudah berada di kakinya? "Kau melakukannya dengan baik."
Sebagian dari diriku tahu kalau dia sengaja bergerak secepat kilat untuk mengambil bola lalu kembali ke posisinya, seakan aku melakukannya dengan baik. Semua itu dia lalukan untuk membuatku percaya diri. Hm, Paul Klug... harus kuapakan dirimu karena bersikap begitu manis?
Alasanku mengajaknya bermain bola begitu dia kembali dari konferensi pers sebelumnya dan aku sudah selesai mempelajari materi untuk kelas hari ini, semata-mata karena aku ingin Paul lebih tenang. Meskipun dia tidak menunjukkannya secara jelas, aku tahu dia sedang merasa tak berdaya karena tidak bisa bermain pada minggu pertama pertandingan mereka di Rusia, dimana seluruh anggota timnya sudah berada disana. Mungkin ini tidak terlalu berhasil mengalihkan pikirannya, namun aku tetap ingin mencoba.
"Well, sebenarnya aku tahu ini tidak terlalu sulit." Aku tersenyum penuh semangat. "Maksudku, kau saja bisa mencetak gol dalam setiap pertandingan." Aku sengaja mendongkrak egonya agar dia tetap percaya bahwa cedera yang dialaminya tidak akan mempengaruhi karirnya.
"Sepak bola bukan hanya soal mencetak gol, love. Komunikasi dan kerjasama dalam tim juga penting," balasnya sambil menggeleng lalu menyeringai lebar padaku.
Perban masih membalut pergelangan kakinya namun aku bisa melihat sedikit peningkatan dari caranya berjalan. Aku selalu mengingatkannya untuk terus mengompres cederanya, begitu juga dengan mengganti perban secara berkala hingga kakinya benar-benar sembuh.
"Ajarkan aku bagaimana caranya mencetak gol, aku ingin menendang bola persis seperti yang kau lakukan." gumamku pelan.
Sebelumnya, kupikir kami akan bermain di halaman belakang rumahnya, tetapi dia malah membawaku ke lantai paling bawah rumahnya. Kalian tidak akan percaya ini... Paul Klug, orang yang saat ini bersamaku, yang beberapa jam lalu resmi menjadi kekasihku sekaligus, memiliki semacam fasilitas mewah disini.
Ruang olahraga yang penuh dengan mesin canggih, kolam renang, sauna... dan berbagai fasilitas lainnya yang tak bisa kujelaskan. Aku bahkan tidak tahu untuk apa semua fasilitas ini, karena Paul jelas tidak memiliki waktu untuk menggunakannya.
Kemudian ada area yang agak luar di sudut ruangan dengan gawang kecil berdiri di salah satu sudut, dan disinilah kami berada sekarang.
"Aku akan mengoper bola ke arahmu, oke?" katanya, menarik perhatianku lagi.
Aku memusatkan pandangan padanya, dia tampak tidak memainkan bola dengan santai, berdiri di beberapa meter di depanku. Aku meringis sambil menggigit bibir bawahku lalu mengangguk dan bersiap menangkap tendangannya.
Dengan pelan, Paul menendang bola ke arahku. Aku nyaris tersandung, namun berhasil mempertahankan keseimbangan. Tentu saja, semuanya tidak semudah yang kubayangkan ketika Paul ternyata menendangnya sedikit keras, membuatku terpaksa berjuang sekuat tenaga untuk meraihnya dengan kakiku.
"Tidak terlalu buruk," Aku tersenyum menatapnya. "Gawangnya di sebelah sana, love." Kemudian dia bergeser selangkah ke samping, lalu memajukan dagu menunjuk arah gawang yang tepat berada di depanku.
Aku mengangguk. "Okay, okay,"
Ini tidak sulit, Bianka. Lagi pula, gawang itu tidak sejauh yang kau bayangkan. Dan... sial! Tendanganku meleset.
"Ah," Aku membuang napas, tendang ke arah bola yang meluncur melewati gawang. Menyedihkan.
"Wow, nyaris saja." gumam Paul. Kemudian berjalan mengambil bola dan melakukan semacam atraksi dengan kakinya, hingga bola itu melayang ke tangannya, lalu menghampiriku dengan mata menatap lekat-lekat padaku.
Aku tertawa halus. "Kau tahu? Ini tidak adil, kau sengaja mengalihkan pikiranku."
"He? Sejak kapan aku melakukan itu?" tanyanya heran, "Bukankah kau yang mengalihkan pikiranku dari karirku?"
Aku hanya menggoyangkan kepala untuk mengusir topik itu. Sekarang Paul berdiri tepat di depanku, memandangku dengan cara yang membuatku merasa seakan aku sedang mengenakan gaun paling indah di dunia, alih-alih celana olah raga dan hoodie miliknya. Aku merasa hangat, nyaris panas pada setiap detik yang berlalu.
"Aku meragukan kemampuanku soal sepak bola di masa depan," gumamku dengan suara yang lebih pelan.
Paul menyeringai. "Jangan khawatir, kita bisa mengatasi itu. Aku akan membantumu, love."
"Jam berapa sekarang?" Aku bertanya begitu Paul melempar bola ke sudut ruangan.
"Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum kelasmu di mulai." sahutnya, menepis jarak di antara kami dan menangkupkan tangannya di pinggulku. Aku bisa merasakan tangan itu berpindah ke balik hoodie yang kukenakan.
"Okay."
Kemudian dia mencondongkan tubuhnya. Meraih bibirku dengan bibirnya sementara sebelah tangannya bergerak naik hingga ke leherku. Kehangatan menjalar di sekujur tubuhku, dan aku mulai berdenyut menginginkannya.
Aku tahu kami memiliki waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas lain sebelum kelasku. Kami tidak bercinta selama beberapa waktu belakangan, nyaris disebabkan oleh sikapku yang berlebihan dalam memikirkan sesuatu, dan sekarang aku benar-benar bisa menerimanya. Begitu juga dengan gaya hidupnya yang penuh perhatian, aku tidak perlu menjauhi Paul untuk alasan itu.
Kami bersama dalam arti yang sesungguhnya, dan semua orang mengetahui itu.
"Kau berbicara sangat baik tentangku dalam konferensi pers tadi." gumamku di sela-sela ciuman, menaikkan tanganku dari dadanya sampai ke wajahnya.
Paul mengikuti gerakanku, menaikkan sedikit hoodie yang kukenakan. Dia tampak terhibur dengan kata-kataku. "Memangnya apa lagi yang bisa kubicarakan tentangmu?"
"Aku tidak tahu. Itu hanya terlalu... manis? Terima kasih, Paul." balasku sambil tersenyum, sedikit menarik diri darinya untuk melepas hoodie-ku dan melemparkannya ke lantai.
Paul mengangkat alis, bingung dan tak mengira aku akan melakukan itu.
"Aku ingin kau bahagia, Bianka."
"Aku tahu." dengkurku cepat lalu kembali menutup jarak di antara kami dan membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Aku tidak ingin kau meninggalkanku."
"Tidak akan."
"Maukah kau berjanji?" Tatapannya mendadak gelap, memperhatikanku lekat-lekat. "Aku tidak ingin kau terpengaruh oleh orang-orang yang tidak menyukai hubungan kita. Jangan dengar apapun komentar mereka kecuali hal yang baik, seperti betapa cantiknya dirimu."
"Aku menghargai usahamu, love." Dia berbicara dengan suara yang lebih pelan, nyaris berbisik. Seakan ada orang lain yang mendengarnya.
Paul sangat jarang membuka diri soal perasaannya, persis sepertiku. Semakin dia membuka diri padaku, semakin aku jatuh hati padanya. "Kita akan berjuang bersama-sama," Aku menaikkan tanganku ke bahunya. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya."
Aku mendongak menatapnya. "Kau ingat saat aku membiacarakan keluargaku, kan?" tanyaku gugup, tak yakin apakah aku perlu menanyakan ini padanya. Aku tidak ingin merasa tertekan.
"Tentu saja."
"Dan kau tahu aku akan mengunjungi ayahku akhir pekan ini, dimana adikku juga akan berada disana?" Paul mengangguk, terlihat lebih serius. "Apa kau mau menemaniku? Tidak masalah kalai kau tidak bisa, aku mengerti. Aku hanya... entahlah, kurasa aku bisa sedikit tenang kalau kau juga berada disana."
Untuk beberapa saat, Paul hanya terdiam. Aku merasa seperti orang bodoh karena memintanya menemaniku bertemu keluargaku sendiri, tidak ingin membuatnya mengira kalau aku berusaha mengikatnya.
"Manajerku sudah mengatakan kalau aku akan terbang ke Rusia hari minggu. Pagi."
"Oh, okay." Aku mengerti Paul harus mempersiapkan diri menjelang pertandingan. "Kalau begitu, lain kali saja."
Paul menggeleng seraya terkekeh pelan. "Tidak, tidak. Aku akan menemanimu, tapi tidak bisa berada disana lama-lama. Menginap semalam bukan masalah."
Aku tidak mampu menyembunyikan senyumku, kelegaan bersarang di dadaku karena dia menyetujui gagasanku. Aku menciumnya dengan lembut untuk menyatakan kalau aku sangat berterima kasih pada kebaikan hatinya.
Namun beberapa menit kemudian, ketika kami sudah siap melakukan aktivitas yang menguras keringat, aku mengerang saat ponsel Paul berdering beberapa kali. Dengan berat hati, dia meninggalkanku ke ruangan lain sambil meraih kemejanya.
Setelah sekitar sepuluh menit Paul menjawab panggilan, aku mendengar suara tertawa dari belakangku, tepat begitu aku menendang bola dan berhasil memasukkannya ke gawang. Aku menoleh dan mendapati Paul bersandar di dinding, menyeringai lebar dengan ponsel mengarah padaku.
"Apa kau mencuri fotoku?" tanyaku, memutar tubuh sambil tertawa halus.
Dia mengalihkan tatapannya dari layar ponsel lalu mengedikkan bahu. "Video."
"Untuk apa kau mengambil videoku yang payah soal sepak bola?" tanyaku penasaran, berderap menghampirinya.
"Omong kosong. Kau benar-benar berhasil memasukkan bola yang malang itu ke gawang." sahutnya cuek ketika aku sudah berdiri di hadapannya.
Aku melihat dia sedang mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian aku segera tersadar kalau dia akan memposting videoku ke akun Twitter-nya. "Apa yang kau lakukan sekarang, ha?"
"Boleh kuposting?" Aku membaca caption-nya.
'Kau harus menyaksikan ini @Cristiano, dia akan mengalahkan kita di peringkat teratas pemain Fifa'
Di bawah caption itu, terlihat sebuah video berdurasi sepuluh menit dimana aku menendang bola hingga masuk ke gawang, dan berakhir saat aku menoleh ke arah Paul.
"Kau akan mempostingnya di Twitter?" Aku membaca caption itu beberapa kali sebelum menaikkan pandanganku menatap Paul.
"Yes."
"Uhm, aku... okay." jawabku gugup. Sedikit tak yakin dan sekaligus belum siap membaca komentar orang-orang soal hubungan kami.
Untuk kesekian kalinya, seakan bisa mengerti apa yang kurasakan, Paul berusaha meyakinkanku. "Banyak orang yang mendukung hubungan kita, Bianka. Percaya padaku."
Aku mengangguk, mencoba mengusir semua perasaan tak nyaman yang berkecamuk di benakku. "Okay."
"Jadi, boleh kuposting?" tanyanya sekali lagi.
"Ya, silahkan..."
"Bagus." Hal berikutnya yang terjadi adalah Paul memposting video itu dengan semangat, lalu mencium pipiku.
Kemudian aku tersadar akan sesuatu. "Paul, @Cristiano yang kau maksud... Dia bukan orang yang sama dengan yang kupikirkan, kan?"
Hanya satu pemain bola yang paling kuingat seumur hidupku. Pemain terbaik di dunia. Nomor satu. Cristiano Ronaldo.
"Ya, Ronaldo." jawab Paul, dengan santai memasukkan ponsel ke saku celananya. "Kami sering mengobrol. Seharusnya aku menandaimu tadi..."
"Cristiano Ronaldo?" Aku mencoba menenangkan detak jantungku yang memberontak di dalam sana. "Kau, uh... kau mengenalnya?"
Paul tertawa keras, "Ya, tentu saja." gumamnya seakan itu merupakan hal kecil. Dia tampak terhibur menyaksikan rautku yang kebingungan.
"Dan dia tahu aku siapa?" Oh, ya ampun! "Apa kau menceritakan soal hubungan kita padanya?"
"Tentu saja, love... semua orang membaca berita tentang kita. Lagi pula, aku berteman baik dengannya dan dia tidak akan mengumbar hubungan kita kepada publik." katanya, meyakinkanku lagi. Kemudian mendadak rautnya berubah kesal. "Sial, jangan bilang kalau kau menyukainya?"
"Aku sudah menggilainya sejak remaja..." Sekarang giliranku yang tertawa. "Maaf, aku benar-benar tidak menyangka kau mengenalnya."
"Love, dia pemain terbaik di dunia dan aku berada tepat di bawahnya. Tentu saja aku mengenalnya." gumam Paul. "Selain itu, kami juga pernah berada di klub yang sama."
"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku semakin menggilainya sekarang." kataku riang.
Paul menarik pinggulku lebih dekat padanya. "Bagaimana kalau kau menggilai kekasihmu mulai saat ini?"
Aku menyeringai, menaikkan kedua tanganku membelit lehernya. "Okay, fine!"