My Love Journey's

My Love Journey's
Talk To Louis



From: Paul: Bianka, apa yang terjadi?


From: Paul: Kau dimana?


From: Paul: Apa kau meninggalkanku?


Pesan-pesan semacam itu dari Paul sudah menghantuiku sejak semalam. Alih-alih membalasnya, aku justru mengirim pesan kepada Louis.


To: Louis: Apa kau ada waktu untuk datang ke rumahku besok?


From: Louis: Ya, tentu! Coba kutanya Lucy, siapa tahu dia mau ikut.


To: Louis: Lou, bisakah kau datang sendiri, please? Lucy bisa ikut lain kali...


***


Hari berikutnya, aku menghampiri Louis di ruang keluarga rumahku sambil membawa dua gelas teh dan menyerahkan segelas untuknya, lalu kuhempaskan bokongku di sampingnya.


"Bagaimana dengan Rusia?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum lembut. "Aku melihat fotomu dan Paul sedang berpose di depan sebuah restoran. Itu keren, lho."


Aku mengeluarkan satu tawa kecil dan setengah hati. "Ya... Omong-omong, Louis, aku akan langsung membicarakan alasanku memintamu datang kemari." Dengan tenang, dia menunggu aku melanjutkan sambil mengaduk tehnya. "Aku ingin kau meninggalkan Lucy dan kembali ke pusat rehabilitasi."


Kedua mata Louis membelalak, tentu dia tak mengira kalau aku akan mengatakan sesuatu sekasar itu. "Apa? Aku..."


"Paul sudah menceritakan semuanya padaku. Lebih dari yang ingin kuketahui. Apa kau tahu Lucy dan kakaknya mengancam Paul untuk mendapatkan uang?" Aku tak senang mengatakan ini, terutama setelah melihat betapa bahagia Louis ketika bersama Lucy.


Menghadapi situasi ini rasanya seolah aku sedang membuka sebuah plester di atas luka. Semakin cepat aku melakukannya, semakin sedikit rasa sakit yang kuterima, atau yang di terima Louis.


"Pertemuanmu dan Lucy di pusat rehabilitasi, dan upayanya merayumu merupakan salah satu bagian dari rencana jahatnya. Dia menggunakanmu sebagai alat untuk menjauhkan Paul dariku."


Louis menundukkan kepalanya, sementara bahunya melemah putus asa. "Dia bilang dia tau apa yang dilakukannya, saat memberiku pil itu..." gumam Louis pelan. "Dia bilang itu cara termudah untuk berhenti menggunakan narkotika, secara perlahan aku akan mulai menjauhi obat-obatan dan..."


"Yang selalu diberikannya padamu adalah narkoba, Louis..." Aku terdiam sejenak. "Dia bukan dokter, dia tidak memiliki izin untuk memberimu obat dalam bentuk apapun."


"Aku tahu." kata Louis.


"Dengar, Louis, aku ingin kau menyingkirkan Lucy dari hidupmu secepat mungkin. Aku akan membantumu, bilang padaku kalau kau membutuhkan sesuatu." gumamku menawarkan. "Kau bisa tinggal bersamaku untuk sementara waktu, sebelum kembali ke pusat rehabilitasi..."


Dia mengangguk lemah, masih menundukkan kepala, sementara aku lanjut berbicara. "Aku ingin adikku kembali padaku, kembali pada dad. Sudah terlalu lama kau tersesat..."


"Maaf, aku selalu membuat kalian kerepotan, aku..."


Ucapan Louis terganggu oleh suara bel pintu yang berdering beberapa kali, diikuti ketukan tak sabar berulang-ulang. Aku menghela nafas dan meletakkan gelas tehku di atas meja. "Tunggu disini, aku akan ke depan sebentar." cetusku sambil berdiri. Dia menggumamkan sesuatu ketika aku mulai melangkah menuju pintu depan.


Mungkin salah satu tetanggaku sedang membutuhkan sesuatu. Ini jarang terjadi, tapi pernah. Terkadang mereka sengaja mengangguku dengan alasan tak penting seperti meminta tali, atau meminjam tangga.


Aku tiba di depan pintu lalu memutar kenop. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak saat melihat Paul berdiri disana. Aku membeku seperti orang bodoh. "Paul..."


Dia tidak terlihat bahagia sama sekali. Kemudian tanpa kuminta atau bertanya padaku, dia melesak masuk ke dalam rumahku.


"Tidak. Aku sudah berada disini, kita perlu berbicara." Tak diragukan lagi, Paul marah padaku.


Dengan gusar, aku menyisir rambutku dengan jemari sembari menggelengkan kepala. "Aku sedang menikmati waktu bersama adikku saat ini. Mungkin hingga beberapa jam kedepan..."


"Aku bisa menunggu. Apa kau punya sesuatu untuk di makan? Aku belum makan apapun sejak kemarin." Dia memutar tubuhnya lalu melangkah ke arah dapur sambil menggerutu.


Aku mengernyit dan menutup pintu rumah, lalu buru-buru mengejarnya. "Paul, pikiranmu sedang kacau." cetusku, meraih pergelangan tangannya untuk menghentikan langkahnya, yang membuat Paul langsung berbalik menatapku. Dia terlihat begitu lelah, aku takin dia belum tidur sejak pertandian kemarin. "Kumohon, pulanglah ke rumahmu lalu istirahat. Biarkan aku membereskan masalah adikku lebih dulu." kataku selembut mungkin.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Bianka." dengkurnya rapuh, seakan satu dorongan kecil dariku bisa menghancurkan dirinya.


Aku mengerutkan kening. "Lalu, kenapa kau menerobos masuk ke rumahku seperti orang tak tahu aturan?"


Aku menyadari tanganku yang masih memegang lengannya, maka secepat kilat kulepaskan genggaman itu. Aku menelan ludah, menatap ke dalam matanya yang menghanyutkan, membuatku sulit memusatkan pikiran.


"Keluar dari rumahku, Paul." kataku mengakhiri. "Kau hanya memperburuk situasi jika melakukan hal seperti ini, aku tidak..."


"Paul, hei!" suara Louis menggema di belakangku.


"Paul menoleh, tersenyum ke balik bahuku. "Louis, apa kabar?"


"Tentu saja bahagia... Kita menang di Piala Dunia. Oh, aku masih sulit mempercayainya." Derap langkah Louis terdengar menghampiri kami. Aku menghembuskan nafas frustasi sambil memijat pangkal hidungku.


"Luar biasa, kan?" sahut Paul, kembali menatapku.


"Paul akan pulang," gumamku lalu berbalik untuk melihat adikku.


"Benarkah?" tanyanya, menatap Paul dan aku bergantian.


"Louis, tunggu di ruang keluarga, aku akan segera kembali setelah berbicara dengan Paul sebentar."


Aku menghembuskan nafas lega sesaat begitu tahu Louis paham maksudku, dia mengangguk. "Oh, okay, baiklah."


Aku masih memandangnya selagi dia kembali ke ruang keluarga, lalu tepat setelah dia menghilang dari jangkauan mataku, kuputar kepala menoleh Paul dengan tatapan tajam. Sebelum aku sempat membuka mulut atau menyadari apa yang terjadi, Paul menangkup wajahku lalu menciumku. Dengan cepat, aku mundur sambil mendorong tubuhnya menjauh dariku.


"Bianka..."


"Tidak, Paul. Pergi dari rumahku sekarang. Bisakah kau bersikap dewasa dan sedikit lebih untuk pintar melakukan itu?" ketusku sinis sambil melipat kedua tangan di dada.


"Hanya jika kau berjanji akan mengijinkanku datang malam ini. Kita harus bicara." balasnya.


"Jangan pikir kau bisa memanipulasi dan mengancamku. Pergi dari rumahku sekarang juga. Kita bicara jika aku menginginkannya. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Kumohon, pergilah..."


Aku sudah lelah dan muak dengan semua drama ini. Segala kekacauan yang terjadi belakangan benar-benar membuatku kehilangan akal. Aku merasa seakan hubunganku dengan Paul perlahan-lahan merubahku. Entah bagaimana, tapi aku merasa kalau aku bukan lagi Bianka yang sama.


Paul melunak. "Maafkan aku. Kumohon, maafkan aku..." katanya dengan nada selembut sutra. "Aku ingin kita tetap bersama. Aku benar-benar membutuhkanmu dalam hidupku, Bianka."


Aku tidak membalas kalimat rayuannya. Alih-alih, aku melangkah ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar, tanpa suara meminta Paul keluar dari rumahku.