My Love Journey's

My Love Journey's
A Moment To Remember



"Ah, fvck!" geram Paul dengan mata memandang ke arah titik dimana tubuh kami menyatu.


Aku menangkup wajahnya dan mengarahkan mulutnya ke mulutku sambil merasakan kenikmatan yang begitu kurindukan terasa di sela-sela pahaku. Aku juga merasakan otot-otot tubuhnya menegang merespon setiap desakannya yang handal dan teratur sementara dadanya mengembang dan mengempis dengan cepat.


******* halus terdengar dari mulutku, lalu aku mengerang nikmat saat dia mendorong pinggulnya lebih cepat, menghujamku tanpa ampun sampai tubuhku berguncang hebat di bawahnya.


"Kau tidak akan tahu betapa aku merindukanmu, Bianka..." dengkurnya seraya mengeluarkan geraman yang bergemuruh di dadanya. Aku menggumamkan sesuatu membalas ucapannya, bersiap menyambut puncakku yang semakin dekat.


Aku menatap ke dalam matanya, hingga tenggelam disana sembari merasakan hentakan memabukkan darinya. Perasaan lega dan nikmat yang kurasakan secara mental dan fisik saat ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Setelah sebulan lamanya kami tidak bertemu, dan sekarang berada di tengah-tengah kegiatan intim, membuatku merasakan kelegaan yang lain diatas kepuasan seksual.


Tidak diragukan lagi, Paul aku sudah terikat satu sama lain. Dia menggenggam hatiku, aku menggenggam hatinya. Aku belum pernah merasakan perasaan sekuat ini pada seseorang sebelumnya, dan tidak ada sedikitpun ruang dihatiku yang tersisa untuk keraguan atau ketakutan akan hubungan kami. Yang ada hanyalah perasaan cinta dan kepercayaan yang kuat.


"Oh, Lord..." Aku menghembuskan nafas gemetar, sekujur tubuhku mabuk akan sentuhannya. "Paul, aku akan..."


Ucapanku tertahan saat dia mendadak menyerang bibirku dengan ganas untuk meredam suara jeritanku sementara sekujur tubuhku gemetar dengan punggung melengkung. Aku menarik rambutnya seraya menahan nafas.


"Shiiit!" umpatnya selagi kewanitaanku yang berdenyut mencengkeram bagian tubuhnya yang paling nikmat itu kuat-kuat. Aku melilit pinggulnya dengan kedua kaki, membuat gerakannya sedikit tertahan.


"Paul..." Napasku sangat terengah-engah, pikiranku terguncang oleh betapa baik dia mengetahui setiap titik lemah di tubuhku dan dia bisa membuatku merasa melayang ke awan hanya dalam hitungan menit.


"Itu dia, love..." Suara seraknya mengiringiku merasakan pelepasan panjangku sementara dia menggigit daguku pelan. "Nikmati, Sayang..."


Semenit kemudian Paul juga mencapai puncak dan memuntahkan gairahnya di dalam tubuhku. Suara geraman berdesakan keluar di antara nafasnya yang tersengal-sengal, lalu menjatuhkan tubuhnya di atasku.


"Was it good?" tanya Paul.


"Yes." sahutku, menarik rambutnya agar dia menatapku. Aku tersenyum. "Was it good for you?"


"Apapun terasa sempurna jika melakukannya bersamamu, love." gumamnya lembut, membuat hatiku tersentuh.


Paul berguling ke sampingku, dan seperti biasa, aku langsung memeluknya dan menarik selimut hingga sebatas dada. Memberi waktu pada tubuh kami untuk istirahat sejenak setelah kegiatan berlumur keringat barusan.


"Sebenarnya aku ingin berhenti main bola." Suara Paul terdengar memecah keheningan.


"Apa? Kapan?" tanyaku bingung, menengadah menatapnya sambil mengernyit. "Bukankah kau mencintai pekerjaanmu?"


Paul mengusap punggungku dengan lembut. "Ya, sudah memikirkan itu sebelum bertemu denganmu."


"Oh,"


"Aku hanya... lelah, kurasa. Ini akan terdengar klasik dan tidak penting," Dia tergelak sementara aku menggelengkan kepala.


"Tidak, ceritakan padaku..."


"Ibuku satu-satunya orang yang pernah kuajak berbicara soal ini saat pertama kali aku merasakannya. Tentu, dia tidak mengetahui semuanya karena aku tidak mungkin mengatakan masalah hubunganku dengan wanita atau semacamnya secara blak-blakan." katanya memulai, sementara aku mendengarkan dengan tenang. "Itu kenapa dia sangat terobsesi padamu, kau tahu?"


Ya, aku merasakannya. Ibunya menyambutku dengan tangan terbuka dan sikapnya jelas mendukung hubungan Paul dan aku. Dia begitu baik, perhatian, dan menyenangkan, lebih dari yang pernah ku bayangkan sebelum Paul mengajakku menemuinya.


"Teman-temanku, yang hidup tenang tanpa embel-embel ketenaran, kebanyakan sudah menikah dan memiliki anak. Sementara aku terjebak dalam lingkaran sepi tak berujung, kadang-kadang melewatkan malam tidur dengan wanita yang kupikir bukan tipikal wanita yang ingin kujadikan istri. Seperti Carmen, atau beberapa model lainnya... well, kuyakin kau cukup banyak mendengar soal itu..."


Aku mengangguk pelan sambil memainkan ujung jariku di dadanya.


"Umurku hampir memasuki angka 30. Aku merasa seolah berdiri di titik yang sangat krusial dan berada pada deretan terakhir sebuah antrean panjang. Ibuku sempat memintaku istirahat sejenak, pergi berlibur atau semacamnya... agar aku bisa menjauh dari kehidupan yang memusingkan untuk sementara waktu." gumamnya pelan dan hati-hati. "Tapi, aku tidak melakukan itu, aku akan merasa lebih kesepian. Lalu, saat aku menceritakan tentangmu padanya, dia sangat bahagia. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali melihatnya sebahagia itu."


"Paul..." Kueratkan pelukanku, menandakan betapa aku juga bahagia mendengar kalimatnya.


"Singkat cerita, intinya aku tidak mau kau berpikir mentalku tidak stabil saat aku ingin hubungan kita berlanjut ke arah yang lebih serius. Aku tahu kau mungkin tidak akan mengerti soal ini, tapi tidak masalah..."


"Aku mencintaimu, Paul. Tidak pernah sekalipun aku berpikir begitu," kataku, lalu menciumnya sekilas. "Namun, kau benar... aku mungkin tidak bisa benar-benar memahamimu, tapi aku selalu mencoba. Aku terus belajar menyesuaikan diri denganmu, dan dengan kehidupanmu."


"Terima kasih, love." gumamnya seraya menghembuskan nafas. "Aku bahagia bersamamu. Sangat bahagia. Dan, aku berhutang banyak padamu."


"No, baby... Kau tidak berhutang apapun." balasku, tersenyum lembut padanya. Kemudian kugerakkan tubuhku hingga berbaring di atasnya. "Malah aku yang berhutang banyak padamu..."


Alis Paul terangkat naik sedikit sementara tangannya mengusap punggungku.


"Pinjaman mahasiswa..." kataku mengingatkan.


Dia terkekeh pelan. "Jangan membahas itu lagi, love. Kita sudah menyelesaikannya..." cetusnya riang. "Dan kau akan membuat pinjaman baru untuk gelar mastermu, kan?"


"Paul!" Gelak tawaku terdengar lebih pelan ketika dia mendadak dengan satu gerakan tangkas membalikkan tubuh hingga aku berada di bawahnya. Aku menelan ludah saat kurasakan kejantanannya mulai mengeras di pahaku.


Dia menyeringai nakal. "Maaf, love. Aku tidak bisa membiarkanmu istirahat dengan tenang malam ini..."


***


Pagi berikutnya, ketika ibu Paul pergi jalan-jalan menikmati kota Madrid bersama Alfred, dan juga sengaja memberiku waktu bersama Paul lebih lama, aku memutuskan mengikuti Paul ke tempat latihannya.


Tidak terlalu banyak perbedaan yang kulihat di lapangan, semuanya nyaris sama dengan situasi saat aku menonton sesi latihannya dengan tim nasional Jerman beberapa bulan lalu. Disini juga ada Jersey Chaser seperti Carmen yang duduk menunggu para pemain berlatih. Beberapa di antara mereka beruntung karena menjadi istri atlet klub sepak bola terbesar dalam sejarah.


Aku berkenalan dengan dua wanita cantik, keduanya merupakan Jersey Chaser. Yang satu sudah menikah, sementara yang satunya masih berada dalam tahap awal suatu hubungan. Aku bersyukur setidaknya para wanita disini sedikit lebih ramah dan tahu aturan, tidak seperti para Jersey Chaser di Jerman yang barbar. Amat sangat barbar! Ewh...


Sepanjang hari itu Paul dan aku benar-benar menghabiskan waktu bersama. Kami makan siang romantis di restoran setelah dia selesai latihan, lalu dia membawaku melihat-lihat pusat kota sambil berbelanja sebentar. Aku berusaha menikmati momen itu dan menyingkirkan sederetan pikiran buruk yang menggangguku saat membayangkan besok kami akan kembali berpisah. Mungkin untuk sebulan kedepan, atau bahkan lebih hingga pertemuan kami berikutnya.


Memang tidak ada yang mudah di dunia ini, ya. Semua hal, baik atau buruk, selalu ada dampaknya. Aku tidak bisa mengharapkan apapun dalam hubungan kami jika mengingat betapa sulitnya jalan yang kami lalui. Yang akan terjadi, terjadilah... Aku pasrah. Kuserahkan semuanya kepada Paul, sejauh apa dia bisa membuktikan bahwa dia benar-benar pria yang pantas untukku. Sungguh, aku tidak meragukannya, tapi mari kita lihat....