
"Oh, ya ampun... aku senang sekali kau datang, Bianka." Ibu Paul memelukku begitu dia membuka pintu rumah dan langsung menggiringku masuk ke dalam.
"Aku juga senang bisa berakhir pekan disini," balasku sambil tersenyum. "Aku membawa wine favoritku."
"Ah, ini akan menjadi malam yang panjang!" Dia menyeringai senang. "Naiklah ke kamar Paul dan taruh barang-barangmu disana sementara aku menyiapkan lasagna dan memutar musik untuk menemani obrolan kita."
Aku menurut, dan secepat kilat kembali ke dapur. Ibu Paul sudah menata meja untuk kami berdua, dan juga mengisi gelas dengan wine yang kubawa.
"Hm, aromanya sangat menggoda," kataku selagi berjalan mendekatinya. "Ada yang bisa kubantu?"
Dia meletakkan dua piring lasagna di atas meja. "Tidak perlu, Sweetheart. Aku tahu kau pasti kelaparan, kan?"
"Ya, sedikit." cetusku sambil mengeluarkan tawa kecil dan duduk mengikutinya. "Terima kasih sudah mengundangku, aku senang bisa melarikan diri sejenak dari keramaian kota."
"Sama-sama. Bagaimana hari-harimu tanpa Paul?" Tatapan matanya yang hangat dan peduli mengingatkanku akan Paul.
"Sejauh ini masih baik-baik saja. Kami sering mengobrol di telepon." sahutku, meletakkan serben di atas pangkuan sementara dia mulai menyendok lasagna miliknya. "Aku benar-benar berharap dia tidak pergi, tapi aku sadar itu sangat penting untuk karirnya dan bangga padanya."
Ibu Paul tampaknya paham maksudku, kemudian dia tersenyum simpul. "Dia akan tinggal disana selama setahun. Apa menurutmu kalian akan sanggup bertahan?"
Aku menghela nafas seraya tertawa halus. "Sejujurnya aku tidak tahu. Aku tidak mau berpikiran terlalu jauh, hal itu selalu membuatku tertekan..."
"Ah, Paul pernah menceritakan tentang kebiasaanmu yang satu itu padaku." Dia terkikik geli. "Aku paham bagaimana rasanya karena terkadang aku sendiri suka berlebihan dalam berpikir."
"Oh, benarkah?" tanyaku antusias. "Kau tidak tampak seperti pemikir. Maksudku, kau selalu ceria..."
"Ya, aku bersyukur bisa sedikit menahan diri sekarang. Tapi, kita sama, bahkan mungkin aku lebih parah darimu." Dia tertawa. "Oh, ada cerita lucu yang ingin kubagikan padamu. Tunggu sampai kita minum setidaknya tiga gelas wine."
Bibirku melengkung tinggi. "Kedengarannya kau sudah merencanakan itu, Anne. Omong-omong, lasagna buatanmu sangat enak, apa ini resep dari ibumu juga?"
Dia mengerutkan kening. "Dari mana kau tahu kalau ini resep ibuku?"
"Paul memasak ini saat dia mengundangku makan malam di rumahnya untuk pertama kali." gumamku, dan dia terkesiap dengan ekspresi tersentuh. "Saat itu, dia takut aku tidak menyukainya. Manis, bukan?"
"Jadi, apa kau menyukainya?" Ibu Paul penasaran.
Aku mengangkat bahu. "Sangat. Tapi, aku sempat memakan pasta yang kurang matang. Jangan memberitahu Paul, dia akan marah."
Dia tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Tidak, tenang saja. Boleh aku menceritakan satu rahasia? Berjanjilah untuk tidak menanyakannya pada Paul..."
"Ya, aku janji." Aku terkekeh lalu menyesap sedikit wine-ku.
"Selama memasak lasagna dia meneleponku, menanyakan ini dan itu sampai selesai. Kau pasti tidak menyangka, kan?"
"Sama sekali tidak." Senyumku semakin mengembang. "Itu benar-benar mengagumkan."
"Ya, kan? Dia sangat bersemangat untuk menyenangkanmu, karena ketenaran dan kekayaannya sama sekali tidak menarik perhatianmu. Dan kurasa itu yang membuatmu sempurna untuknya."
"Oh, terima kasih, Anne. Aku tulus menyayangi Paul, bukan karena siapa dia dan apa yang dimilikinya."
***
Ibu Paul dan aku masih mengobrol dan sudah berpindah ke ruang keluarga. Dia menceritakan lebih banyak padaku tentang masa kecil Paul yang lucu dan menggemaskan, disaat yang bersamaan aku juga merasa seolah menemukan teman baru dan sosok ibu yang selama ini tak pernah ada disampingku. Kalau boleh jujur, aku agak iri pada orang-orang diluar sana yang memiliki kesempatan menyapa ibu mereka di pagi hari, tapi aku tahu itu tidak adil. Banyak hal baik yang lebih pantas untuk disyukuri daripada mengeluh terus-menerus.
Aku mengulurkan tangan meraihnya. "Paul." cetusku lalu menoleh ke arah ibunya. "Uhm, apa kau keberatan kalau aku mengangkatnya sebentar?"
"Oh, tidak, tidak. Sampaikan salamku padanya, okay?" Dia mengedipkan mata selagi aku berdiri. Sambil terkekeh, aku mengangguk sekali lalu mulai melangkah membawa gelas wine-ku ke ruangan lain.
Aku duduk di meja makan dan menjawab teleponnya. "Hei, baby." gumamku pelan. "How you doin'?" Dengan bercanda, aku menirukan gaya bicara Joey Tribbiani.
"Joey Tribbiani? Apa yang sudah kau lakukan pada tunanganku?"
Aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Paul, hei."
"Hai, love. Apa kau sedang bersama ibuku?" suaranya terdengar tenang dan santai.
"Dia di ruang keluarga. Ada apa? Aku tidak bisa lama-lama karena obrolan kami sedang seru-serunya..." kataku, tersenyum riang.
Paul terkekeh di ujung sambungan. "Benarkah? Jadi, kau lebih memilih mengobrol dengan ibuku? Wow."
"Ah, bukan begitu... hanya saja, situasinya sedang bagus setelah beberapa gelas wine dan aku sangat menikmatinya." dengkurku. "Oh, omong-omong, dia memasak lasagna untukku."
"Mana yang lebih enak? Lasagna buatan ibuku atau buatanku?" Wajahnya yang sedang tersenyum mendadak melintas di pikiranku.
"Sama-sama enak. Kau sedang apa?"
"Baru selesai mandi dan mau tidur." Aku mendengar suara seakan dia sedang bergeser, kemungkinan besar di ranjang. "Ada jadwal latihan besok pagi."
"Oh, okay. Jadi, tidak ada kegiatan di strip club malam ini?"
"Nope. Mungkin besok malam, itu pun kalau masih kuat."
"Paul..."
"Bercanda, love! Bercanda... Ya Tuhan..." Dia terkikik geli. "Sudah kubilang, aku tidak akan masuk ke strip club. Oh, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Tidak. Aku tidak akan pernah ke strip club denganmu. Paham?"
Paul tertawa sementara aku tersenyum membayangkan wajahnya. "Bukan itu, Bianka. Tapi, terima kasih sudah menolak bahkan sebelum aku menawarkan diri." Sambil menunggunya, aku menyesap wine. "Apa kau libur akhir pekan ini?"
"Aku belum tahu. Kenapa?"
"Uhm, aku ingin kau kemari."
Ah, aku juga sangat ingin bertemu dengannya. Kehidupan tanpa kehadiran Paul disekitarku merupakan mimpi buruk yang amat sangat ingin kuhindari. Rasanya benar-benar kosong dan menyesakkan. Aku kesepian di tengah keramaian, merasa sendiri meskipun sedang terlibat percakapan dengan seseorang.
Aku mencintai dan membutuhkannya, sebesar dan sekuat itu, sampai rasanya begitu menyakitkan. Ada saat dimana aku ingin menghentikan semuanya dan menjauh dari kehidupan Paul yang tidak mungkin cocok denganku sampai kapanpun. Tapi kemudian, perasaan yang lebih kuat mendorongku, memaksa agar aku sedikit lebih bersabar kalau memang menginginkannya.
Setelah beberapa saat memikirkan jawaban atas permintaannya, aku menghela nafa lalu tersenyum dan berucap. "Biar kulihat apa yang bisa kulakukan untukmu, okay?"
"Okay. Aku mencintaimu, love."
"I love you too..."