
Masa bersantai sudah habis, waktunya kembali pada kesibukan dan suasana riuh di rumah sakit.
Aku langsung melangkah ke ruang ganti setelah turun dari mobil dan Paul segera melaju ke lapangan untuk latihan setelah dua minggu penuh mendapat perlakuan istimewa dari pelatihnya dengan membiarkan dia libur.
Aku agak beruntung hari ini perutku tidak terlalu bertingkah seperti pagi-pagi sebelumnya, jadi aku bisa bekerja dengan wajah segar. Tiba di depan pintu ruang ganti, aku bertemu Stacey yang kebetulan hendak keluar.
"Bitches!" serunya, langsung menarikku ke dalam pelukan.
"I can't... breathe!" kataku terputus-putus.
Dia melepaskanku, lalu menurunkan pandangan ke bawah sambil mengusap perutku. "Oh, ya ampun, maaf. Aku merindukanmu. Tempat ini seolah mati selama kau libur." katanya dengan raut dramatis.
Aku tertawa, merasa senang dengan ucapannya yang membuktikan sepenting apa pertemanan kami baginya. "Aku juga merindukanmu." sahutku. "Bagaimana kabar Jack? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku, ketika mendadak ingatan tentang anak angkat Stacey dan Elise melintas di benakku.
Dia mengangguk penuh, wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku tahu dia dan Elise sedang menikmati masa-masa menjadi orang tua. Aku sendiri bisa membayangkan betapa damainya hati seseorang setelah lelah seharian bekerja, lalu pulang ke rumah dan disambut gelak tawa anak mereka yang menunggu di rumah. Dan, sebentar lagi aku juga akan merasakan itu.
"Dia sudah bisa duduk," kata Stacey, menaikkan kedua sudut bibirnya. "Elise juga sudah mulai memberinya makan. Kau harus ke rumah untuk melihat perkembangannya. Oh, astaga, bagaimana bulan madumu?"
Aku meringis, dia tidak tahu kalau Paul dan aku hanya bertahan selama tiga hari di Italy. "Not good, actually." Aku mengerutkan hidung.
"Eh? Kenapa?"
"Nanti kuceritakan, oke? Aku tidak mau Dr. Grey mengomel di hari pertama aku masuk."
Stacey mengangguk paham, dia mencium pipiku sekali sambil menggumamkan 'Sampai nanti' lalu melangkah melewatiku.
Berhasil melewati empat jam pertama tanpa kehebohan yang berarti selain menerima banyaknya ucapan selamat dari rekan-rekanku dan para dokter, aku melangkah keluar gedung rumah sakit dan langsung menuju restoran langgananku dan teman-temanku. Tiba disana, aku mendapati Stacey dan Camille sudah duduk menunggu.
"Maaf terlambat." kataku sambil membuka jaket lalu menggantungnya di sandaran kursi dan duduk.
"Wanita hamil selalu mendapat hak istimewa." dengkur Camille, mengedipkan mata padaku.
Aku tertawa. "Sudah pesan makanan?" tanyaku.
Stacey mengangguk. "Aku pesan menu biasa, kenapa?"
"Kurasa aku tidak sanggup memakannya," sahutku. "Aku akan pesan yang lain nanti." Stacey dan Camille mengangguk paham.
Selagi menunggu pesanan, kami membahas beberapa topik ringan selama aku libur, hingga ingatan soal Ellie melintas di benakku.
"Camille," desisku. "Bagaimana hubunganmu dengan Thomas?" tanyaku tanpa basa-basi.
Rona merah perlahan menghiasi wajahnya. Dia menunduk sambil tersenyum, kemudian berbicara saat kembali mengangkat wajah. "Well, kurasa dia pria yang cukup baik. Dan, Ellie... ya ampun, anak itu sangat menggemaskan." gumamnya antusias.
Stacey dan aku serentak terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Aku yakin ayahnya lebih menggemaskan." desis Stacey, menggoyangkan kedua alis menggoda Camille. Aku menepuk pelan lengannya, tapi aksiku sama sekali tidak menghentikan niatnya. Dia mengangkat bahu. "Akui saja, Sayang. Wanita manapun akan tertarik pada Thomas, selain aku dan Elise, tentu saja."
"Tidak ada yang terlalu cepat ketika kau menemukan orang yang tepat, Camille." sahutku. "Kau sendiri menyaksikan bagaimana perjalananku dengan Paul, bukan?" Aku mencoba mendorong semangatnya. Aku tahu Camille takut menyakiti perasaan Thomas karena dia susah menjalin hubungan jangka panjang. Perhatiannya mudah teralihkan, namun kuyakin itu karena dia menemukan pria yang tepat untuknya.
Tepat pada saat itu, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Aku kembali memesan spaghetti dan garlic bread padanya. Stacey dan Camille menunggu hingga makananku datang agar kami makan bersama-sama.
Setelah selesai santap siang dan mengobrol beberapa menit berikutnya, Stacey dan aku kembali ke rumah sakit sementara Camille juga kembali ke kantornya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari restoran. Kami berpisah di depan restoran.
Tiba di depan gedung rumah sakit, aku melihat Paul berdiri di samping mobilnya dengan pandangan menunduk menatap layar ponsel. Apa yang membuatnya datang kemari?
"Lihat siapa yang datang? Dia tidak bisa tenang berjauhan denganmu, ya?" Stacey menyeringai, membuatku tergelak. "Aku masuk, bye!"
"Bye!"
Kakiku baru maju selangkah saat tiba-tiba tanpa kusadari seseorang menabrakku, sangat keras, hingga tubuhku terhuyung dan bokongku menghantam lantai. "Ahhh!"
"LOVE!"
Aku mengerang, menahan sakit di bokong dan perutku. Kedua mataku terpejam sementara aku menahan nafas dengan sebelah tangan meremas bagian depan baju seragamku. "Oh, shoot!"
Mataku masih tertutup saat kurasakan Paul berlulut dan memegang lenganku. "Love, hei, kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir. Aku mengangguk dan membuka mata, namun yang kusadari terjadi berikutnya dia mengumpat. "Sialan! Apa kau tidak bisa menggunakan matamu dengan baik?"
"Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja." kata seorang pria yang baru saja menabrakku. Wajahnya pucat, dan dia gemetar.
"Istriku sedang hamil, bangsat!" geram Paul. Sekarang, semua orang menatap ke arah kami. Hal terakhir yang kuinginkan saat ini adalah menjadi tontonan gratis puluhan pasang mata yang kebetulan melintas dan menantikan kelanjutan adegan tak mengenakkan ini.
Buru-buru kuraih tangan Paul saat dia hendak berdiri. "No, please. Just, ahh!" Kurasakan perutku semakin melilit sampai nafasku tersekat di tenggorokan. Aku menelan ludah, kembali menutup mata dan mencoba mengatur nafasku.
Tanpa menunggu lama, Paul mengangkatku ke dadanya dan membawaku memasuki pintu depan setelah melontarkan ancaman terakhir kepada pria malang yang menabrakku tadi.
"Someone, please help!" serunya tak sabaran begitu tiba di depan ruang gawat darurat. Aku tidak sanggup mengatakan apapun karena sakit yang kurasakan.
***
Aku terbangun dan merasakan sesuatu menindih tanganku. Saat membuka mata, kulihat Paul tertidur di sampingku, memakai lenganku sebagai bantal. Kuarahkan pandangan keluar jendela kaca dan menyadari bahwa hari sudah malam dan kami masih berada di rumah sakit. Aku berdeham lalu mengusap wajah suamiku.
"Paul, hei..." Dia menggeliat, tampak lelah. "Kenapa tidur sambil duduk? Punggungmu bisa sakit."
Dia mengerutkan dahi. "Bukan aku yang harus dikhawatirkan, Bianka." katanya, lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. "Bagaimana perasaanmu? Masih merasa sakit?"
Setelah dokter memeriksa dan memastikan kandunganku baik-baik saja akibat insiden tabrakan tak sengaja itu siang tadi, aku tidur dengan perasaan lega. Tak bisa kubayangkan apa yang akan dilakukan Paul terhadap pria yang menabrakku jika benar-benar terjadi sesuatu dengan anak kami.
Aku menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak." jawabku. "Paul, aku ingin pulang."
"Sekarang?" Aku mengangguk. "Baiklah, aku akan meminta dokter memeriksamu sekali lagi, dan kita akan pulang jika tak ada masalah."