My Love Journey's

My Love Journey's
Another moment in life.



Author's POV.


Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali Paul melihat Bianka langsung dengan matanya. Setelah menandatangani kontrak kerja sama dengan klub sepak bola terbesar di Jakarta, dia terpaksa ikut klubnya ke Malang selama beberapa bulan. Ya, kandang Persija di pindahkan untuk kebutuhan renovasi menjelang Asean Game. Dia belum pulang ke rumah sejak hari itu.


Inilah hidupnya. Hidup yang dia pilih dan membuatnya senang. Namun, belakangan dia merasa hampa, berharap bisa menghabiskan waktu di sisi kekasihnya.


Paul sempat meminta Bianka menemaninya, yang kemudian berakhir dengan perdebatan sengit. Dia berpikir bukan sesuatu yang berlebihan jika menginginkan Bianka ikut dengannya karena mereka tak harus berpisah selama berbulan-bulan. Tapi, Bianka tidak menyukai gagasan itu, dia tidak mau mengorbankan pekerjaannya.


Flashback...


"Kau pasti bercanda, Paul! Kau tahu aku mencintai pekerjaanku, dan itu satu-satunya yang membuatku merasa hidup. Hubunganku dan rumah sakit sama seperti kau dan lapangan sepak bola. Dan sekarang kau ingin aku menyerah demi bersamamu?"


"Kenapa kau harus memandangnya seperti itu? Aku hanya ingin selalu bersamamu, apa itu sebuah kejahatan?"


Mereka berdebat selama beberapa hari. Bianka sedang mengantarnya ke bandara saat Paul mencoba meyakinkannya sekali lagi. "Aku akan keluar kota selama beberapa bulan." gumamnya beralasan. "Aku hanya ingin melihatmu setiap hari, love. Dan, saat aku libur, kita bisa jalan-jalan."


"Jadi, pada dasarnya kau memintaku duduk tenang di hotel selama berhari-hari, tidak melakukan apapun dan hanya menunggu sampai kau selesai?" Bianka mendengus, pandangannya ke depan. "Tidakkah kau merasa egois saat memintaku berhenti bekerja hanya untuk duduk dan menunggumu? Apakah segalanya hanya tentangmu, Paul? Keinginanmu?"


"Oh, sekarang aku egois!" Paul terdengar kesal.


"Kapan kau tidak?"


"Love, kau tidak perlu bekerja. Penghasilanku lebih dari cukup untuk kita berdua, anak-anak kita nanti, dan bahkan sampai cucu-cucu kita pun akan mendapatkan kehidupan yang nyaman. Kau tidak butuh pekerjaan itu." tantang Paul, membuat Bianka terkesiap.


"Jangan berani mengatakannya seperti itu lagi!"


Paul menghela napas. "Kau tahu? Aku paham sekarang. Kau berusaha menjadikanku orang jahat, tidak masalah. Tinggallah disini dan bersenang-senang dengan pekerjaanmu. Aku tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau inginkan."



Setelah pertengkaran itu, hampir tak ada komunikasi di antara mereka, jarak yang terjadi sekarang bukan hanya sebatas fisik, tapi juga secara emosional. Bianka marah pada Paul. Meskipun pria itu sudah meminta maaf, dia masih bersikap dingin.



Ketegangan itu nyaris membunuh Paul. Butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari bahwa dia memang egois. Dia menyadari kadang-kadang sikapnya memang kelewat batas, dengan mengandalkan perasannya pada Bianka sebagai alibi untuk membenarkan perbuatannya. Bertahun-tahun berpisah dengan Bianka membuatnya kehilangan kepercayaan diri, dan ini benar-benar menyiksa.



Dulu, segalanya terasa mudah. Walaupun hubungan tidak selalu berjalan mulus, tapi juga tidak sesulit ini. Dia nyaris putus asa, hampir ingin menyerah dan mundur dari perjuangannya sendiri. Namun, kemudian... dia menyadari bahwa Bianka pantas untuk di perjuangkan. Sebanyak apa pun hal yang harus dia lakukan untuk memenangkan hati kekasihnya, maka Paul siap melakukannya. Apa pun itu. Karena, hal-hal berharga memang tidak mudah di dapatkan. Butuh tenaga, waktu, bahkan air mata untuk meraihnya.



Ada yang berbeda di antara mereka saat ini dan tiga tahun lalu. Jika dulu keduanya selalu menilai masalah dengan sudut pandang sederhana, sekarang tidak lagi. Apa pun harus disertai kerumitan dan perdebatan panjang, walai hanya hal kecil semacam mengunjungi satu sama lain saat mereka tinggal berjauhan. Tapi, itulah yang dinamakan proses, bukan?



Bagaikan dosa yang asing. Yang dia inginkan hanyalah memperoleh Bianka dengan utuh. Paul seolah berubah menjadi pria tamak. Tamak akan perhatian, senyum, kehadiran, waktu, dan keberadaan Bianka. Dia benar-benar pasangan yang egois. Paul tidak menyadari itu sampai ketamakannya hampir menenggelamkan hubungan mereka. Mungkin momen perpisahan dengan Bianka bukan sesuatu yang buruk karena dia sendiri perlu memperbaiki diri. Dia ingin menjadi yang terbaik untuk Bianka.



Saat Paul akhirnya mendapatkan kesempatan berbicara dengan Bianka, dia mengungkapkan permintaan maaf dengan sungguh-sungguh dan mengakui kesalahannya. Pada waktu bersamaan, dia juga menyadari sikap Bianka telah sepenuhnya berubah. Tak ada lagi respon dingin atau datar yang dilontarkannya pada Paul, seperti sebulan yang lalu.



Flashback...



"Apa kau benci padaku?"




"Love?"



Bianka akhirnya mengalihkan pandangan kepada Paul, sebaris senyum di bibirnya. "Maaf, aku sedang mengawasi Benji sebelum dia menggigit sepatuku."



"Oh, okay. Jadi?" Paul menaikkan sebelah alis, tiba-tiba merasa gugup.



"Aku tidak membencimu, Paul. Aku senang kau berhasil mengendalikan amarah dan sikap posesifmu."



"Kau tidak pernah bilang kalau itu mengganggumu."



"Pernah, ya. Aku menyinggungnya pada pertemuan kita dengan dr. Susan. Ingat? Saat kubilang kadang-kadang kau membuatku tak nyaman."



"Ya, kau benar. Kurasa aku butuh waktu lebih lama dari yang kukira untuk memproses informasi itu. Aku benar-benar minta maaf. Tidak seharusnya aku memintamu berhenti bekerja. Aku tahu kau sangat mencintai pekerjaanmu dan maafkan aku karena tidak berusaha lebih keras untuk memahamimu. Ketahuilah... itu semua karena aku mencintaimu, love." katanya dengan mata berkaca-kaca. Dia menarik napas panjang untuk mengendalikan emosi dan menahan air matanya agar tidak tumpah.



"Aku senang kau menyadarinya, Paul. Aku senang karena kita sama-sama berusaha menjadi versi terbaik dari diri masing-masing. Aku tidak marah padamu. Kesal, iya..."



"Kau janji?"



"Aku janji. I love you."



"I love you more."



Paul sungguh-sungguh mencoba menjadi lebih baik. Itulah salah satu alasan kenapa dia berada pada situasi yang menahannya saat ini. Dia harus berhati-hati dan memastikan Bianka tidak mengetahui bahwa pekerjaannya di luar kota sudah selesai, dan sekarang berada di tempat yang dia rasa sudah sepantasnya didatangi. Dia tidak bisa mengatakan kenyataan ini. Setidaknya, belum.


"Aku butuh bantuanmu." Dia menghembuskan napas gugup.


Pria yang berdiri di hadapannya menjulang dengan gagah dan tegap. Keduanya matanya menjelajah tubuh Paul dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sorot di matanya akan membuat siapa saja menciut ketakutan, tapi Paul tidak bergeming.


"Apa yang membuatmu begitu yakin aku mau membuang waktuku yang berharga untuk membantumu, Anak muda?"


"Tolong, untuk kali ini jangan memandangku sebagai musuh. Aku mencintai putrimu, dan aku ingin melakukan hal yang benar padanya. Kumohon, cukup beri aku beberapa menit untuk menjelaskan maksud kedatanganku sebelum kau membuat keputusan."