
Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati Paul berdiri mematung di depan jendela. Bahunya yang bidang tampak begitu tegang, seakan dia sedang memikul beban seisi dunia. Dia tidak bergerak, aku bahkan tak yakin dia menyadari keberadaanku.
Aku berderap mendekatinya dan berhenti tepat di belakangnya. Posisinya tidak berubah sedikitpun. Kemudian kulirik punggung tangannya yang memutih karena terkepal erat. Amat sangat erat.
Hasil diskusi dengan ibuku pagi tadi sebelum aku meninggalkan Paul tidak terlalu menjanjikan. Ayahku tak mau menyerah. Aku sendiri juga tidak berniat menjilat kata-kataku sendiri. Aku bersungguh-sungguh saat memilih Paul. Jadi, aku dan ibuku setuju untuk meminta bantuan Marissa, tanteku, untuk membujuk ayahku. Hingga saat itu datang, aku ingin menikmati ketenangan yang ada.
Tadinya aku datang bermaksud ingin mengatakan kepada Paul bahwa aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri. Tapi sekarang, setelah berada persis di dekatnya, aku merasa tidak sanggup menyampaikan tujuanku. Karena akulah alasan Paul terlihat begitu putus asa.
Aku telah menyakitinya.
Dengan ragu-ragu, kujulurkan kedua tangan memeluk pinggulnya, menempelkan kepala di punggungnya, lalu menutup mata. "Maafkan aku." bisikku pelan, namun tetap terdengar.
Kami bertahan pada posisi itu untuk waktu yang terasa abadi sebelum suaraku kembali menggema.
"Ayahku memintaku meninggalkanmu. Dia memberiku pilihan, kau atau keluargaku." Aku mencoba mengatakannya seringan mungkin meski hatiku hancur.
Lalu, kurasakan Paul menangkup tanganku dan melepaskan diri dari pelukanku. Dia berbalik, menaikan daguku dengan ujung jemarinya agar pandangan kami beradu. Kesedihan terlihat begitu jelas di kedua mata gelapnya.
"Apakah itu yang kau inginkan? Berpisah denganku?" tanya Paul dengan wajah tanpa ekspresi setelah beberapa detik terdiam.
"Tidak."
Perlahan kurasakan ketengangan di pundaknya melebur saat dia memelukku, seolah bebannya terangkat begitu saja melalui satu kata 'Tidak.'
Aku tahu kami masih memiliki kesempatan. Masih ada harapan. Meskipun kecil, harapan tetaplah harapan.
Paul merunduk dan mengangkatku. Aku menyurukkan wajah ke lehernya selagi dia membawaku ke ranjang, lalu duduk, membiarkanku berada di pangkuannya.
"Aku minta maaf atas sikapku tadi dan untuk semua yang kukatakan. Tidak seharusnya aku menumpahkan kemarahan padamu."
"Aku juga minta maaf karena mendesakmu." balas Paul, membuatku tersenyum. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sungguh-sungguh. Kekhawatiran memenuhi suaranya.
"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bisa memilih antara ayahku dan pria yang kucintai? Aku merasa tak berdaya. Aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian." Aku menghela napas, jemariku membelai rambutnya.
Pau menyeringai. "Kau mencintaiku?"
Aku mengernyit. "Pertanyaan macam apa itu?"
"Katakan sekali lagi."
"Aku mencintaimu, Paul." jawabku tulus, tersenyum padanya.
"Aku takkan pernah melepaskanmu, Bianka." Paul berbisik lembut sebelum menciumku.
Ciuman itu berlangsung pelan dan sensual. Lidah kami bergerak seolah tarian balet yang aggun sementara Paul menarikku lebih dekat ke dadanya, sebelah tangannya menahan punggungku dan tangan yang lain meremas bokongku. Aku mulai menggodanya dengan menggerakkan pinggul yang membuat ciuman kami semakin panas.
Kemudian aku mendapati tanganku sudah meluncur ke celana kekasihku. Tapi, Paul menyela, melepaskan bibirku begitu aku berhasil menyentuh tongkat saktinya.
"Love..." Dia menarik napas berat. "Mungkin kita harus berhenti sekarang. Dengan segala yang terja..." geraman halus bergemuruh di dadanya saat aku mencengkeram kejantanannya.
"Biarkan aku menghiburmu, Sayang." Aku berbisik, dengan genit menyapukan lidah ke bibirnya, lalu mengeluarkan benda pusaka yang membuatku tergila-gila.
"Bianka..." Paul mengerang, suaranya membuatku berdenyut dan buru-buru melepaskan pakaian dalam sebelum kembali duduk di pangkuannya. Basah dan siap tempur.
Aku mendorong Paul sehingga dia berbaring, menyatukan tubuh kami dan mendesah. Tak ada kata-kata yang terdengar selain suara-suara kenikmatan dari kami berdua. Aku bergerak naik-turun dengan cepat di atas Paul, kedua tanganku bertumpu di perutnya yang keras berotot.
Saat menyadari tekanan kuat yang akan segera meledak di perutku, Paul mengambil alih dengan mendesakku dari bawah, membuatku menjerit sembari meremas dadanya. Sekujur tubuhku gemetar hebat sementara Paul mengerang dan meremas pinggulku, melepaskan gairahnya yang panas di dalam diriku.
Kemudian, tubuhku melemas di atas Paul. Hal terakhir yang kuingat malam itu adalah Paul mencium keningku sambil berkata 'Aku mencintaimu, Love.' dan aku tenggelam ke alam mimpi dengan tersenyum puas.
...Paul Klug POV....
Pagi itu bunyi televisi samar-samar terdengar menayangkan program musik lokal. Hanya itu suara yang menggema di sela-sela hembusan napas kami.
Bianka dan aku berbaring, berpelukan, menikmati keberadaan satu sama lain seolah dunia milik kami berdua. Tak ada drama. Tak satupun dari kami berniat merusak kedamaian itu meski hanya dengan satu gerakan kecil.
Ketika terbangun, dia menjelaskan semua yang terjadi di ruang kerja ayahnya hari itu. Semua yang dikatakannya. Aku cukup terkejut, walaupun bisa memahami kenapa ayahnya semarah itu padaku. Pada kami. Dan, untuk pertama kalinya aku tidak mampu berharap lebih dari kedamaian sesaat ini.
Namun, mengetahui bahwa perasaanku tak bertepuk sebelah tangan dan Bianka juga tak ingin berpisah denganku membuatku lega.
Hari berikutnya aku berangkat keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda sementara Bianka juga harus bekerja. Aku menggunakan waktu itu untuk memikirkan rencanaku membujuk ayahnya saat kembali ke Jakarta.
Malam hari sebelum berangkat keluar kota Bianka mengajakku bertemu tantenya untuk membicarakan tentang masalah kami. Marissa wanita yang sangat baik, lembut, dan bijaksana. Dia bahkan meminta maaf atas sikap adik iparnya. Dia mendengarkan penjelasanku dengan sabar dan tenang sebelum berjanji akan melakukan upaya terbaiknya untuk membantu kami.
Tapi, keesokan harinya dia menyampaikan berita buruk yang seharusnya sudah kuduga. Ayah Bianka tak mau menerima hubungan kami. Aku bahkan bisa mendengar suara hati Bianka yang hancur berkeping-keping saat dia memberitahuku berita ini melalui telepon. Dia kehilangan ayahnya karena memilihku.
Berupaya bertanggung jawab menyelesaikan masalah, aku meminta bantuan ibu Bianka sekali lagi untuk mengatur pertemuanku dengan ayahnya tanpa sepengetahuan Bianka. Dan hari inilah kami bertemu, tiga minggu setelah drama di mulai. Tak pernah sekalipun dalam hidup aku merasa segugup ini.
"Kurasa kau tidak datang kesini untuk mengagumi lantai. Kau ingin bicara, maka bicaralah." kata Daniel.
Dia duduk dengan tegap, kakinya menyilang, wajahnya datar, namun tatapannya menghunus tajam.
"Sir, terima kasih sudah mau menemuiku hari ini. Aku menyadari bahwa mungkin aku orang terakhir yang ingin kau lihat saat ini..."
"Jangan terlalu menganggap dirimu penting, anak muda." Dia memotong dengan raut masam.
Aku menarik napas dalam, selagi menyiapkan kata-kata untuk dilontarkan. "Sir, aku tahu kau sangat membenciku sekarang. Dan aku paham karena aku sendiri memang bersalah." gumamku memulai.
"Aku mencintai anakmu dengan segenap hati. Tak pernah sekalipun aku mengira akan bertemu wanita seperti Bianka. Hubungan kami memang tidak mudah sejak awal, tapi aku berjanji akan melakukan apapun untuknya. Kau membesarkannya dengan baik, mendidiknya dengan sempurna hingga hatinya mampu mengikatku begitu kuat. Dia wanita yang tangguh dan hebat. Aku sangat mencintainya." sambungku dengan mata menatap lurus Daniel.
"Ibuku selalu mengatakan bahwa setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku berjanji padamu, Sir, bahwa aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat anakmu senantiasa tersenyum. Inilah alasanku datang kemari. Aku tidak berharap kau akan menyukai dan menerimaku, tapi kumohon jangan mengusirnya dari hidupmu. Jangan membuangnya. Dia menyayangimu dan sangat menghargai pendapatmu." Daniel mengamatiku dalam diam, jadi aku melanjutkan.
"Kumohon, Sir, jangan marah padanya. Kau tidak harus menyukaiku, dan aku tidak akan memaksamu. Aku datang hari ini untuk memohon padamu, tolong jangan memotong ikatan di antara kalian. Hubungan kalian tidak boleh rusak hanya karena Bianka bersamaku. Itu dua hal yang berbeda, jadi kumohon jangan mengusirnya dari hidupmu. Bianka masih tertekan hingga hari ini dan aku tidak sanggup melihat dia terus seperti itu." Aku menutup dengan satu hembusan napas berat.
Daniel terus menatapku selama beberapa saat tanpa mengatakan apapun. Dia tidak bergerak sepanjang pidatoku. "Apa kau sudah selesai?" tanyanya sambil bersandar di kursi.
"Sebenarnya, belum, Sir. Aku sudah meminta Bianka menjadi istriku lagi, tapi aku membutuhkan restumu." balasku seraya mengeluarkan satu kotak kecil dari saku jaket.
Aku memandang kotak itu sejenak sebelum membukanya dengan tangan gemetar. Hatiku menghangat hanya dengan membayangkan Bianka mengenakan cincin yang sudah kusiapkan sejak masih di Jerman. Dia bebas memilih cincin mana yang akan dipakai untuk pernikahan kami. Cincin milik nenekku, atau yang ini. Terserah saja.
Aku menghela napas sekali lagi. "Tujuanku kemari adalah untuk meminta restumu secara langsung. Seperti yang kau ketahui, aku ingin Bianka menjadi istriku lagi. Aku tahu itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dan sekali lagi kumohon jangan memutus hubungan kalian karena kehadiranku. Jangan mengusir Bianka dari hidupmu."
"Anak muda, kau bukan siapa-siapa selain pengganggu. Kau membuang-buang waktu untuk datang kesini. Jadi, kuminta kau pergi dari rumahku sekarang."
"Sir..."
"Kubilang pergi!"