My Love Journey's

My Love Journey's
Pissed Off Football Player



Kami mengobrol ringan, kebanyakan Travis menjelaskan soal statistik para pemain yang muncul di layar televisi. Aku kembali ke dapur untuk menyimpan wine sebelum pertandingan dimulai. Dan saat aku kembali duduk di sofa, jantungku berdebar kencang saat melihat ponselku dan membaca komentar orang-orang soal postinganku di Twitter.


@brianaldarich: jadi dia berhubungan dengan dokter itu? ja**ng.


@lululeo: omg, si dokter tampan @Travis_ baru saja memposting foto dari ruangan yang sama! Mereka benar-benar bersama!


@idkeven: wanita ini sangat memalukan @PaulKlug !!!


Sialan! Hanya karena Travis memposting foto di ruangan yang sama denganku, mereka mengira kami berhubungan. Kenapa aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan temanku tanpa mendapat serangan dari orang-orang?


Tiba-tiba, aku mendapat banyak sekali pesan dan tweet berisi sumpah serapah dan caci maki. Ini benar-benar membuatku gila, bahkan saat foto Paul dan model itu tersebar, semua orang tetap menyalahkanku.


Aku menarik napas dalam-dalam, menghapus postinganku lalu meletakkan ponsel ke atas meja dan kembali mengarahkan pandangan ke TV.


***


Tim Jerman benar-benar mendominasi pertandingan melawan Kolombia malam ini.


Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi di lapangan hingga saat ini, tapi skor sudah cukup menjelaskan. Travis dan aku bersorak untuk kemenangan Jerman.


Meskipun rasanya agak menyedihkan, tapi aku tetap tidak bisa berhenti memperhatikan Paul. Dia mengagumkan, dengan cara yang membuat tubuhku berdenyut-denyut tersiksa. Caranya bermain seakan memperlihatkan kalau bermain bola bukan hal sulit untuk dilakukan, tapi aku tahu itu tidak mungkin yang dibayangkan. Bisa dibilang aku tidak pernah menendang bola di jam olahraga sewaktu aku masih sekolah.


Awalny, Paul tampak bagus, profesional dan bisa menguasai diri, namun beberapa menit setelah itu, dia terlihat mulai frustasi, nyaris marah.


"Dia bisa mendapat kuning karena melakukan itu..." Travis menggelengkan kepala, mengomentari bentrokan antara Paul dan seorang pemain dari tim Kolombia. Keduanya terlihat kesakitan, tapi tidak ada reaksi yang ditunjukkan Paul meskipun dia yang menyebabkannya.


Dia tidak pernah seperti ini pada pertandingan sebelumnya saat Jerman bermain, dan aku merasa seolah aku tahu kenapa permainannya bisa tiba-tiba berubah kacau. Hubungan kami pasti mempengaruhinya.


"Klug ditarik dari lapangan. Aarich turun untuk menggantikannya." kata si komentator mengawasi pertandingan. "Ini sangat disayangkan. Dia tidak akan menyukai ini..."


Semua orang pasti menyadari kalau Paul agak agresif di pertandingan kali ini. Itu tidak akan bagus untuk tim mereka dan untuk dirinya sendiri, jadi kurasa pelatih mereka terpaksa memutuskan untuk menariknya dari lapangan.


I was dying. Aku akan merasa sangat buruk jika memang aku yang membuatnya begitu. Situasinya bahkan lebih buruk lagi ketika kamera fokus menyorotnya berjalan keluar dari lapangan... dia putus asa. Yang dibicarakan sekarang merupakan seorang asisten kapten tim nasional Jerman, dan dia dikeluarkan dari lapangan karena tidak adil dalam bermain.


Paul jelas mengabaikan pelatih mereka ketika dia mencoba berbicara padanya di pinggir lapangan, dan justru berjalan menuju barisan kedua kursi dimana para pemain pengganti duduk menunggu giliran. Seseorang terlihat memberi sebotol air mineral padanya, namun yang dilakukannya adalah menendang botol itu, dengan keras, kalau boleh kutambahkan. Kemudian dia bersandar dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Kamera kembali fokus ke lapangan. Aku tidak bisa memusatkan perhatianku lagi. Ini benar-benar gila!


Sejenak aku mempertimbangkan apa aku perlu mengirim pesan padanya untuk menanyakan apakah dia baik-baik saja dan memberitahu kalau aku mendukungnya. Atau mungkin lebih baik membiarkannya begitu saja. Dia sendiri yang berbohong dan bilang kalau dia lelah, tapi malah bersenang-senang dengan seorang super model...


Sepuluh menit sebelum babak pertama berakhir, si pelatih sepertinya sudah berhasil menjinakkan Paul dan mengembalikannya ke lapangan.


Pengingat di ponselku berbunyi, tapi dengan segera kumatikan saat Paul merebut bola dan mulai berlari ke arah gawang Kolombia. Aku duduk di tepi sofa, benar-benar mengagumi penampilannya yang mendebarkan. Dia melewati beberapa pemain, mengoper bola ke Carl yang kemudian kembali mengoper padanya ketika mereka mendekati gawang lawan.


Kamera fokus menyorot lebih dekat, menangkap moment dan gerakan otot-ototnya yang tegang saat dia menendang. Kemudian saat kiper Kolombia melompat dan jatuh, seluruh penonton serta komentator mulai bersorak gembira.


Travis dan aku juga bersorak di rumahku, dengan heboh melompat dari sofa.


"Sebuah gol luar biasa dari Paul Klug!" si komentator terdengar begitu bersemangat. "Benar-benar luar biasa!"


***


"Aku penasaran bagaimana Jerman bermain sekarang karena kita tidak bersorak untuk mereka lagi." kata Travis sambil tersenyum saat kami memasuki area parkir bawah tanah gedung rumah sakit.


"Ya, teriakan kita dari rumahku pasti sangat membantu mereka mencetak gol," cetusku riang, dia tertawa.


"Kau benar," balasnya sarkastis. "Dengar, Bianka, hari ini sangat menyenangkan."


"Tentu saja," gumamku menyetujui. "Kita harus sering-sering melakukannya. Kurasa sekarang aku sudah mengerti apa tuga seorang pria yang memakai sejenis mikrofon dan berlari di lapangan, mengikuti pergerakan para pemain, dan memarahi mereka."


"Itu namanya wasit, darling." Travis menyeringai, menggeleng tak percaya padaku. "Kau perlu belajar banyak lagi."


Aku memutar bola mata sementara Travis memarkirkan mobil di tempat khusus bertuliskan namanya, lalu kami keluar. Kami mengobrol santa selagi melangkah menuju lift, kemudian langsung masuk ke ruang ganti masing-masing. Aku mengenakan seragamku lalu keluar dan melangkah ke ruangan Dr. Grey.


Aku menghabiskan waktu luang di rumah sakit bersama Daniel, anak kecil yang ingin menjadi seorang pemain sepak bola, tetapi sekarang sedang menggunakan kursi roda karena kecelakaan mobil yang dialaminya. Dia dengan semangat berapi-api berceloteh tentang pertandingan Jerman hari ini tanpa tahu kalau aku juga menonton, meskipun hanya setengah pertandingan, tapi aku membiarkannya dan terus mendengarkan semata-mata tidak ingin kehilangan momen menyaksikan keceriaannya.


Aku berpamitan dengannya sebelum kembali menemui Dr. Grey di ruangannya. Dan tepat saat aku keluar dari ruangan Daniel, aku bertabrakan dengan Stacey.


"Hei, apa kau..." Aku baru saja ingin bertanya apa dia baik-baik saja, jelas terlihat sangat senang saat kami bertabrakan, rautnya tampak seakan dia mendapatkan kupon makan gratis di Mc. Donald untuk setahun penuh.


"Bee, aku mendapat pasien, seorang pemain bola yang marah-marah karena keseleo di pergelangan kakinya." gumamnya memotong ucapanku, lalu tersenyum penuh kemenangan.


"Ha?"


"Lebih kau ikut denganku." Aku mengerutkan kening, tidak mengerti maksud ucapannya. Dr. Grey akan sangat marah kalau aku terlambat dan itu bisa memperburuk nilaiku. Tapi tiba-tiba Stacey menarikku saat menyadari aku hanya diam di tempat. "Sekarang!"