
Malam tadi, aku duduk di ruang keluarga rumahku bersama Frosty, menonton pertandingan Jerman vs Inggris. Menyaksikan permainan Paul yang luar biasa mengagumkan. Kurasa aku sudah jatuh cinta pada kegiatan menonton dia bermain di lapangan hijau, gerakannya terlalu seksi dan mendebarkan sekaligus.
To: Paul: Penampilanmu benar-benar luar biasa! Bagaimana mungkin manusia bisa mencetak gol dengan indah seperti itu?!
Jerman menang 1-0 terhadap Inggris. Pada awalnya pertandingan amat sengit, kedua tim saling menekan lawan, hingga lima belas menit sebelum pertandingan berakhir Paul berhasil melakukan gerakan ajaib dengan kakinya dan memasukkan bola ke gawang Inggris.
Pergerakan Paul yang cepat dan gol yang diciptakannya membuat para komentator tak henti menyebut namanya sampai pertandingan benar-benar berakhir.
Kami sempat berbalas pesan selama beberapa waktu sebelum aku meminta Paul istirahat karena pertandingan mereka pasti sangat menguras tenaga. Aku paham situasinya, dan sebisa mungkin memberikan dukungan yang berarti untuk Paul, meskipun kecil.
***
Hari berikutnya, waktu makan siang kuhabiskan untuk beristirahat di salah satu ruang perawatan yang tidak sedang digunakan. Aku belum tidur sejak kemarin karena jadwal kerjaku yang berantakan mengingat aku mengganti hari liburku untuk terbang ke Rusia menemui Paul.
Kemudian Travis membangunkanku. Dengan segala kemurahan hati yang dia miliki, Travis membawakan salad dan kopi untukku, dan menunggu selagi aku makan dengan tenang.
Setelah jam kerjaku berakhir hari itu, aku langsung pulang dan bersantai sejenak di dalam bak mandi untuk menghibur diriku yang nyaris mati. Bekerja dan belajar pada saat yang bersamaan memang sangat menguras energi. Di tambah lagi tidak ada kegiatan seksual yang biasanya bisa membuat pikiranku lebih jernih.
Akhirnya aku menyerah pada kegelisahan akan penantian terhadap Paul dan segala kenikmatan yang dia tawarkan. Aku menyentuh diriku sendiri, namun itu malah membuatku semakin membutuhkannya alih-alih mengobrol lewat sambungan telepon.
Setelah kegiatan menghibur diri itu berakhir, aku berbaring nyaman di ranjangku sambil memeluk Frosty. Aku meraih ponsel dari nakal lalu menelepon Paul. Dia menjawab pada dering kedua.
"Waktu yang sangat pas, aku sedang memikirkanmu, love." Aku tersenyum senang mendengar suaranya yang begitu nyaring menyapu telingaku, merasa lega seolah-olah aku baru saja berhasil meraup udara yang segar.
"Oh? Kenapa?"
"Untuk mengalihkan pikiranku dari pertandingan besok." sahutnya dengan suara lebih berat dan pelan dari biasanya. Aku tidak tahu apa tujuan dia melakukannya, tapi itu sangat menggiurkan bagiku.
Aku berdeham halus. "Siapa lawan kalian besok?" tanyaku, mengusir segala pikiran kotor yang bermunculan begitu mendengar suaranya. Lusa kami akan bertemu, aku pasti bisa bertahan sampai hari itu.
"Kroasia. Itu pertandingan yang menentukan apakah kami akan bermain untuk merebut posisi puncak dan keluar sebagai pemenang di final, atau hanya sebatas memperebutkan juara tiga. Kalau besok kami menang, pertandingan berikutnya dijadwalkan saat kau berada disini, kemungkinan besar Jerman akan melawan Prancis. Dan kalau kami berhasil mendepak mereka, tidak ada keraguan lagi, Jerman membawa pulang Piala Dunia tahun ini."
"Apa kau gugup? Menurutmu mana lawan yang lebih berat, Kroasia atau Prancis?" tanyaku.
"Aku tidak gugup, love, hanya sedikit tertekan." gumamnya meluruskan. "Aku yakin kami bisa menang melawan Kroasia. Tapi dengan Prancis... aku tidak tahu."
"Kalau begitu, jangan di pikirkan." cetusku, tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menghiburnya.
"Simpan kalimat itu untuk dirimu sendiri, over-thinker." seringai halus pada suaranya membuatku terkikik geli.
"Maksudku adalah, cukup berkonsentrasi pada permainanmu dan lakukan semua yang kau bisa, tanpa peduli apapun hasilnya." kataku menjelaskan. "Kau pemain terbaik nomor dua di dunia... itu cukup mengesankan bagiku. Menang atau kalah, Paul Klug tetap menjadi atlet sepak bola legendaris, tidak ada apapun yang bisa merubahnya."
"Aw, aw, terdengar manis sekali, Bianka." Paul tergelak di ujung sambungan. "Ceritakan padaku tentang kegiatanmu hari ini."
"Oh, well... tidak ada kejadian spesial di rumah sakit, semua berjalan normal seperti biasanya. Aku sempat mengobrol dengan Daniel, kondisinya semakin membaik. Dia juga masih antusias mengingat hari dimana kalian bertemu." Aku tersenyum. "Kau tahu, dia terus saja membicarakanmu, benar-benar fans fanatik Paul Klug."
"Mhm," Sepertinya dia tidak terlalu tertarik, suaranya terdengar semakin rendah. "Apa lagi yang kau lakukan, love?"
"Tidak ada, sungguh. Aku pulang ke rumah, mandi, dan sekarang berbaring di ranjang bersama Frosty."
"Ah, ceritakan bagian mandi itu."
"Paul!" Aku tersenyum sembari menggigit bibir bawahku, menyadari kemana arah pembicaraannya. Aku merasakan desiran halus mulai menjalar di sekujur tubuhku, sementara denyutan halus terasa di bawah sana.
"Ya, Bianka?" sahutnya cuek.
"Tidak ada phone s-e-x, oke?"
"Aku tidak mengatakan apapun soal phone s-e-x." dengkurnya, sok polos. "Imajinasiku cukup bagus. Cukup katakan suasananya, aku bisa mulai dari situ."
Aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Kau sudah gila. Aku tidak akan menceritakan kegiatan mandiku padamu."
"Baiklah, kalau begitu ceritakan apa saja yang kau rasa pantas. Tentang kucing sialanmu itu, atau apa pun. Aku hanya ingin mendengar suaramu lebih lama..."
Andai saja hari ini suasana hatiku sedang tidak baik, aku pasti memintanya berhenti dan Paul tidak akan memaksaku. Tapi aku cukup santai hari ini, aku tergiur pada permintaannya dan kurasa itu cukup menantang. Aku hanya tidak terlalu percaya diri akan kemampuanku untuk memuaskannya melalui panggilan telepon.
"Kau kejam sekali, Paul. Jangan membawa-bawa Frosty dalam obrolan ini."
"Bianka..."
"Baiklah, aku memikirkanmu. Saat mandi."
"Benarkah?" Aku mendengar dia bergerak setelah berdeham sekali.
"Ya," kataku dengan suara yang sengaja diperhalus. "Kau tahu, aku... merasa kosong, di suatu tempat, tanpamu."
"Yeah?" Satu dengkuran napas berat Paul tertangkap pendengaranku, aku bisa membayangkan dia sedang berbaring saat ini, dengan tangan menggenggam... "Apa nama tempat itu, babe?"
Ya Tuhan, suaranya... Andai saja aku tidak menyentuh diriku dan mencapai pelepasan sebelum meneleponnya, aku pasti melakukan kegiatan itu sekarang.
"Kau tahu apa namanya, Paul." Aku menyeringai genit pada diriku sendiri saat mendengar dia menghembuskan napas gemetar, gairah terbukti pada suaranya. "Anggap saja bagian kepala shower bisa melakukan sesuatu yang ajaib."
"Ahh, sial!" Ketika aku membayangkan gerakan tangannya saat ini, dia mengerang di sela-sela kalimatnya. "Apa yang kau pikirkan tentangku?"
"Kau dan teman kecilmu..." Aku terkikik sementara Paul tergelak menahan tawa.
"Oh, kutarik kembali. Kejantananmu yang besar." kataku. "Menontonmu bermain bola, rasanya agak... uhm, kau sangat terkendali dan seksi. Aku tidak tahu kenapa, tapi itu menarik untukku... membuatku merasa jarak di antara kita semakin jauh karena tidak ada lagi yang kuinginkan selain desakanmu... Oh, Lord... pikiranku benar-benar kacau. Maaf, aku..."
"Lanjutkan, love."
Ya ampun, ada apa ini? "Aku tidak bisa berhenti memikirkan saat aku menyelinap ke kamarmu di rumah ayahku... aku merindukanmu, Paul. Aku gila menantikan momen kita bercinta gila-gilaan." lanjutku, dengan nada genit.
Deru napasnya semakin keras dan tersengal. "Sial. Teruskan, love."
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa..."
"Apa saja. Katakan apa saja," Paul menggeram. "Fvck!"
"Kuharap aku berada di ranjangmu sekarang. Aku ingin memuaskanmu." Aku menelan ludah ketika Frosty menggeliat di pelukanku. "Aku sangat merindukanmu, Paul... Aku menginginkanmu..."
"Ahh, itu dia," Paul terengah-engah. "Hampir sampai..." katanya.
Semoga Frosty tidak mengalami trauma mendengar telepon mesum ini.
Aku menuntunnya lebih dekat pada puncaknya. Merayunya dengan kata-kata seksi dan menggoda yang belum pernah kuucapkan pada siapapun. Sampai terdengar erangan keras dari Paul saat dia mencapai ******* di ujung sana. Dengan tenang, aku mendengarkan deruan napasnya yang memburu, lalu perlahan mulai teratur kembali.
"Malam ini benar-benar kacau," gumamnya kemudian.
Aku tertawa nyaris tanpa suara, agak malu dengan sikap agresif yang barusan tanpa kusadari ternyata bisa memuaskannya. "Apakah upayaku cukup bagus?" tanyaku. "Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kurasa kemampuanku sangat payah soal phone s-e-x."
"Dengar, aku tidak pernah mencapai ******* secepat itu dengan tanganku sendiri... Percayalah, kau bisa membuat apapun terdengar seksi." balas Paul sambil terkekeh.
"Kau mau mandi? Apa ada rencana keluar malam ini?"
"Sebentar lagi. Besok kami latihan lebih pagi, jadi malam ini tidak ada kegiatan di luar." sahutnya. "Bisakah kita mengobrol lebih lama?"
Aku menoleh jam dinding. "Ya, tapi tidak terlalu lama."
"Aku menyesuaikan dengan waktumu, love." Dari nadanya, aku bisa tahu Paul sedang tersenyum saat ini. "Uhm, aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini, terutama setelah aktivitas mesum yang terjadi barusan, tapi aku ingin mengajakmu bertemu orang tuaku."
"Orang tuamu?"
"Ya. Kita bisa menghabiskan akhir pekan di rumah mereka, kalau kau mau." dengkur Paul. "Rumah mereka terletak di tepi pantai. Pemandangannya sangat indah."
"Apa orang tuamu tahu siapa aku?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja, love. Siapapun yang menggunakan sosial media atau menonton dan membaca berita pasti tahu siapa Bianka Becker."
"Bukan itu. Maksudku, apa kau sudah menceritakan tentangku pada mereka?"
"Ya. Ibuku bahkan sangat antusias ingin bertemu denganmu. Dia sudah jatuh cinta padamu, Rapunzel." Sepertinya Paul tidak main-main.
"Oh, okay." Aku berdeham. "Berarti kita harus menunggu sampai aku mendapat jatah libur akhir pekan berikutnya. Aku benar-benar ingin bertemu mereka."
"Fantastic! Satu lagi, aku akan membawamu kencan saat kau tiba disini." cetusnya memberitahu.
"Benarkah?" Aku tersenyum, mendekap bantal ke dadaku sambil mengusap bulu halus Frosty.
"Ya. Aku sudah memesan meja di restoran yang cukup keren. Yang berarti, kau harus mengenakan gaun yang sama kerennya."
Aku mengernyit, menyadari koleksi gaunku tidak terlalu mahal. "Gaun model apa?"
"Semacam gaun untuk makan malam romantis. Intinya sesuatu yang kau suka."
"Aku tidak yakin memiliki gaun seperti itu, tapi biar kuperiksa lemariku besok..." gumamku ragu-ragu.
"Ah, tidak usah terlalu di pikirkan. Kita bisa belanja disini, love." kata Paul.
Aku tahu dia tidak terbiasa dengan keadaan bahwa ada banyak sekali orang yang tidak memiliki ribuan Euro untuk dibelanjakan pada gaun dan sejenis barang mewah lainnya. Termasuk aku salah satunya. Kebutuhanku sehari-hari lebih mendesak di banding membeli selembar pakaian rancangan desainer ternama.
Aku tidak suka gagasan dia membelikan gaun untukku, tapi tubuhku terlalu lelah untuk mendebatnya sekarang. Maka kuputuskan menyetujui ide itu. "Baiklah," Aku menguap. "Aku sekarat, Paul. Dan kau... kau harus segera mandi."
"Ya, ya, okay." balasnya. "Mungkin aku akan meneleponmu lagi saat kau dalam perjalanan kesini."
"Aku pikir juga begitu."
Paul terdiam selama beberapa detik, suasana hatinya yang tenang entah kenapa mendadak berubah murung.
"Bianka?"
"Mhm."
Aku sudah yakin dia ingin memberitahuku soal obrolannya dengan Lucy. Dengan gugup, aku menunggu dia berbicara, namun yang kudengar hanya hembusan napas berat.
"Lupakan. Selamat malam, love." gumamnya.
Aku membeku sejenak sebelum membalas ucapannya. "Selamat malam, Paul."