My Love Journey's

My Love Journey's
It's done



"Where the fvck you've been?" Aku tersenyum sinis, melanjutkan langkah ke kamar dan membiarkan Paul menggerutu sambil mengikutiku. "Aku bicara padamu, Bianka! Dari mana saja kau?" ulangnya, setengah membentak.


"Maaf, Paul," jawabku tenang. "Aku tidak bisa terus mengikuti kemauanmu. Aku bukan anjing peliharaan yang setiap saat tunduk pada perintahmu."


Aku melemparkan tas ke sofa di dalam kamar dan memasukkan kunci mobil ke laci di ruang ganti sementara Paul berbicara. "Apa maksudmu? Aku mencarimu seperti orang gila seharian ini, kau bahkan tidak mengangkat telepon. Apa yang merasukimu, Bianka?" tanyanya putus asa.


"Aku lelah. Bisakah aku mandi sebentar?" kataku, meraih jubah dari dalam lemari.


"Tidak," sergahnya. "Kau tidak akan kemana-mana sebelum kita menyelesaikan ini."


Aku menghembuskan nafas geram. Suasana hatiku seketika kembali memburuk begitu masuk ke dalam rumah. Sia-sia saja aku menghabiskan waktu berjam-jam bersama Valerie kalau pada akhirnya Paul kembali mengusikku.


Tersulut oleh sikap tak mau kalahnya, aku melempar jubahku ke atas ranjang lalu melipat kedua tangan di dada, siap memasuki perdebatan sengit yang mungkin tidak akan berakhir dengan cepat.


"Serius, Paul?" kataku sinis. "Kau sungguh ingin kita bertengkar? Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menuruti setiap perintahmu?"


"Aku ingin berbicara, Bianka, bukan bertengkar."


"Well, kau berbicara dengan nada seolah kau sedang mengibarkan bendera perang. Inikah yang kau inginkan terjadi di awal-awal pernikahan?" Suaraku mulai gemetar. "Rumah tangga di isi oleh dua orang, Paul. Kau tidak bisa memutuskan semuanya seorang diri. Kau harus melibatkanku, setidaknya untuk sesuatu yang berkaitan denganku."


Dia menunduk terdiam selama beberapa saat, tampak seperti sedang memikirkan ucapanku. Menyadari rasa bersalah yang berkelebat di matanya saat dia menatapku sekilas, aku pun melunak. Kuayunkan langkah mendekatinya lalu menangkup wajahnya. "Aku mencintaimu, Paul. Aku mencintai dan menghormatimu sebagai suamiku, dan aku berharap kau melakukan hal yang padaku. Kumohon, jangan membuatku kecewa dengan sikapmu, okay?" kataku lembut sambil mengusap pipinya dengan ibu jari.


Dia menganggukkan kepala, menarikku ke dalam dekapannya. "Maafkan aku, love. Sungguh, aku tidak bermaksud mengaturmu, aku mengira itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menjagamu." Dia mencium kepalaku.


"It's okay. Hanya saja, jangan mengulanginya. Bicara padaku setiap kali kau merasa ada yang salah padaku, atau pada sikapku, alih-alih mengambil keputusan sepihak yang akhirnya akan menciptakan kesalahpahaman. Jangan membuka jalan untuk hal kecil yang tanpa kau sadari berpotensi menghancurkan kepercayaan di antara kita." Aku menghirup aroma tubuhnya yang menggiurkan. Selalu menggiurkan. Lalu lanjut berbicara. "Aku ingin pernikahan yang setara, Paul. Tidak ada batasan, tidak ada peraturan mutlak bahwa kau berhak memutuskan segalanya. Namun, percayalah, aku tetap mengetahui di mana tempatku berdiri. Aku tahu harus melakukan apa tanpa perlu kau ingatkan."


Itu benar. Aku mengetahui posisiku sebagai istri. Tentu, ada batasan tertentu yang tak bisa kulanggar, tapi bukan berarti Paul bisa seenaknya menentukan sesuatu untuk kehidupanku. Aku tetap ingin memanfaatkan diriku untuk membantu orang lain, melanjutkan apa yang sudah kulakukan selama ini hingga tuntas, hingga aku benar-benar tak sanggup lagi untuk melakukan apapun.


Aku tidak mau perjuanganku sia-sia. Terlalu banyak waktu, tenaga, dan uang yang telah kuhabiskan untuk menyelesaikan sekolahku dan mendapatkan pekerjaan ini. Ini duniaku, jauh sebelum aku bertemu dengan Paul. Dan, dia salah besar jika mereka mengira aku akan menyerah pada impianku setelah menikah dengannya.


Paul mengangguk di bahuku, lalu menarik diri dan menatap mataku. "Aku mencintaimu, love. Maafkan aku."


"Hei, it's okay. Aku memaafkanmu." kataku sambil tersenyum. "Apa kau sudah makan?" Dia menggeleng, perasaan bersalah masih tersirat di wajahnya. "Baiklah, aku akan mandi sebentar lalu membuatkan makanan untukmu. Bagaimana?"


Perlahan senyumnya mengembang dan dia terkekeh. "Kenapa aku merasa seperti sedang dibujuk oleh ibuku?"


Aku mengangkat bahu. "Well, anggap saja aku sedang latihan menjadi ibu." sahutku, mengedipkan mata, membuat gelak tawanya semakin menggema di dalam kamar. "Okay, big boy, mommy akan mandi. Tolong jangan membuat kamarku berantakan. Ayahmu bisa mengamuk dan menghukummu." gumamku bergurau sembari menepuk-nepuk kepalanya.


Sambil tertawa halus, aku meraih kembali jubahku dari ranjang lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Malam ini satu masalah selesai, masalah lain sudah mengantri di belakang. Siap menyerang kapan saja tanpa peringatan, dan kuharap kami selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Kumohon, Tuhan, bantu kami menjalani pernikahan ini dengan baik.


Aku keluar dari kamar mandi lalu langsung menuju ruang ganti dan mengenakan piyama sebelum turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makanan Paul. Aku sendiri tidak terlalu lapar karena Valerie dan aku menyempatkan mampir di restoran Prancis sebelum kami pulang.


"Paul?" panggilku sambil memandang sekeliling begitu begitu kakiku menginjak anak tangga terbawah.


"Yes?"


Aku menoleh ke ruang kerjanya yang pintunya dibiarkan terbuka. "Apa yang kau inginkan untuk makan malam?" tanyaku, bersandar pada ambang pintu.


Dia menatapku, tersenyum sambil memegang kertas di masing-masing tangannya. "Apa saja selalu enak jika kau yang membuatnya, love." sahutnya genit mengedipkan mata.


Aku terkekeh. "So cheesy." Aku berbalik dan melanjutkan langkah ke dapur.


Setelah menimbang beberapa saat, kuputuskan membuat pasta karena tak mau repot-repot bekerja sementara Paul hanya makan sedikit. Belakangan dia menggerutu karena bobotnya naik setelah dua minggu libur dan tidak ada kegiatan menguras keringat selain di atas ranjang. Ya, aku tahu itu kedengaran berlebihan, tapi untuk seorang atlet seperti dia, berat badan proporsional merupakan hal yang penting. Itu berpengaruh pada kecepatannya di lapangan, yang berarti permainannya berpotensi menurun jika bobotnya naik, dan itu bukan sesuatu yang bagus untuk karirnya.


"Apa saja yang kau lakukan hari ini, heh? Membawa kabur mobilku, dan bersenang-senang tanpa mengabariku? Kau tahu itu salah, kan?" tanyanya saat aku meletakkan sepiring pasta di hadapannya.


Aku mengangkat bahu. "Aku perlu melakukan sesuatu untuk membalasmu." sahutku cuek, berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol air untuk kami.


Dia terkekeh. "Dasar pendendam."


"Yah, aku sangat marah karena tingkahmu. Oh, aku juga menghabiskan beberapa ribu Euro hari ini, jadi jangan terkejut kalau kau melihat tagihanmu membengkak."


Paul berjuang menelan makanannya lalu tertawa. "Wah wah wah, lihat siapa yang kunikahi sekarang? Kemana peri seksi yang tak mau menggunakan uangku selama ini?" godanya.


Aku menyipitkan mata sementara tersenyum seperti iblis. "Love, Rapunzel, Peri Seksi... julukanku sudah terlalu banyak sepertinya. Aku menantikan sampai kau memanggilku Mak Lampir."


"Mak... apa?" tanyanya bingung.


Oh, aku lupa dia bukan orang Indonesia. Sia-sia saja. "Medusa." kataku. "Mak Lampir sama dengan Medusa."


Gelak tawanya semakin keras terdengar selama beberapa detik. "Ya Tuhan, mana mungkin aku memanggilmu dengan julukan itu, love."


"Kita lihat saja."