My Love Journey's

My Love Journey's
A Cup Of Tea



"Aku merasa seperti anak kecil yang kegirangan mendapat hadiah di Hari Natal." kata Travis sambil terkekeh, menahan punggungku ketika aku bersandar di kursi.


Aku berada di bar lebih lama daripada yang kuperkirakan karena hubungan Vallerie dan aku tampaknya baik-baik saja sekarang, dan kami semua bersenang-senang. Beruntung besok aku libur.


Aku tertawa seraya mendorong bahu Travis. "Karena sekarang kau berteman dengan dua anggota tim nasional sepak bola Jerman?"


Dia melirikku dengan tatapan aneh sekilas. "Bukan. Karena aku sedang bersama gadis yang luar biasa."


Aku hanya tersenyum padanya sebelum menundukkan kepala. Vallerie dan Carl, sedang berdansa, menikmati kebersamaan setelah terpisah selama beberapa waktu karena Carl harus latihan diluar kota dan mereka hanya bertemu sekali. Sepertinya hubungan mereka tidak main-main.


"Kau cantik, Bianka." gumam Travis dengan suara yang lebih rendah tepat di dekat wajahku, masih cukup terdengar di antara dentuman musik.


Dengan hati-hati, aku memberi jarak di antara kami. "Kau minum terlalu banyak, Travis. Aku harus pulang sekarang..."


"Hah? Kau sudah mau pulang?" Paul tiba di hadapanku, satu tangannya menggenggam sebotol bir yang baru saja di ambilnya sementara beberapa botol yang lain berada di saku celana jins nya.


Aku memberinya senyum terpaksa seraya merapikan kemejaku sedikit. Travis sudah menutup jarak di antara kami dan lengannya melingkar di sekeliling pinggangku. Paul menyadarinya, tapi matanya tetap fokus padaku. "Sudah terlalu malam," sahutku. "Aku tidak mau jadwal tidurku semakin kacau."


Seringai kecil tersungging di sudut bibirnya, mata gelap menakjubkan miliknya menatapku dengan cara yang membuat kupu-kupu yang menyebalkan itu seketika memenuhi perutku.


"Temani aku menari sebentar dan kau boleh pulang setelahnya." kata Paul, semburat nakal berkilauan di matanya. Aku merasa benar-benar tidak berdaya dan meleleh saat dia meraih tanganku dan dengan lembut menggenggamnya. Kemudian Paul perlahan menarikku melangkah maju dan menjauh dari Travis.


"Aku akan mengembalikannya padamu dalam keadaan utuh, bung." gumam Paul pada Travis, tidak ada keramahan di nadanya, lalu dia menyerahkan sebotol bir yang sejak tadi di genggamnya kepada Travis.


Ketika aku menatapnya, dia hanya tersenyum kemudian menggiringku ke kerumunan orang yang berjoget dengan gerakan pelan diiringi musik R&B.


"Seharusnya kau bisa bersikap lebih ramah padanya, Travis penggemar berat tim kalian dan dia sama sekali tidak melakukan apapun sepanjang malam ini selain mencoba bersikap baik dan ramah padamu..." Aku mengerutkan kening sekilas saat berbalik menghadapnya dan dia menarik pinggangku agar lebih dekat padanya. Perlahan kami mulai berjoget mengikuti alunan musik.


"Ya, ya." Paul tampak tertarik dengan apa yang baru saja kukatakan, dan sebagai gantinya dia malah mengangkat tangan dan menyapukan jemarinya menjumput rambut di wajahku lalu menyelipkan ke belakang telingaku.


Aku menggelengkan kepala. "Kau tahu, aku tidak akan memberi apa yang kau inginkan, Paul." ucapku dengan nada tegas.


Dia tersenyum selagi menatapku lekat-lekat. "Dan, apa yang kuinginkan, Rapunzel?" Dia menggodaku dengan menyapukan bibirnya di telingaku, di titik yang nyaris membuatku menggila, menjalarkan rasa panas dan kewanitaanku mulai berdenyut.


"Terlalu banyak, Paul. Aku pulang setelah lagu ini habis." kataku mengingatkannya, dan dia mengangguk sekali.


"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu." ucapnya menawarkan.


Aku tertawa pelan seraya menggelengkan kepala. "Kau pasti bercanda. Kita minum sejak tadi dan akan sangat berbahaya jika kau menyetir. Aku akan naik taksi."


Kami memang tidak mabuk, namun aku tetap tahu resiko berkendara di bawah pengaruh alkohol, dan aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dalam keadaan itu.


"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku yang menyetir, love. Aku kemari bersama supirku, dia menunggu di luar." gumamnya menjelaskan dengan mata berkilat-kilat senang.


Aku mengernyit. "Seriously?"


"Yes. Aku akan mampir untuk segelas teh, bagaimana?" tanyanya, menarikku semakin dekat ke tubuhnya.


Aku menggeleng cepat. "Tidak. Kita berdua tahu dimana kegiatan itu akan berakhir. Mari kita nikmati musiknya dan kembali ke kehidupan masing-masing, oke?"


"Lalu bagaimana dengan kencan kedua kita? Apa kau sedang mencoba mengingkari janjimu?" balasnya dengan nada serius.


"Aku tidak pernah menjanjikan kencan kedua padamu." sergahku. Sekarang dadaku sudah menempel di dadanya.


"Tapi aku sangat mengharapkannya, Bianka." Dia berbicara tepat di depan wajahku, nafasnya yang panas seketika membuat sekujur tubuhku gemetar halus.


"Kau benar-benar membuatku pusing."


"Oh, ya?"


"Well... gaya hidupmu, ya. Ini terlalu sulit, Paul."


"Apanya yang sulit?"


"Hubungan kita."


"Dengar, aku hanya meminta waktumu untuk berkencan denganku sekali lagi. Hanya makan malam, tidak yang lain." katanya, lalu terkekeh pelan. "Tenanglah, Bianka. Aku tidak akan melamarmu. Apa kau masih marah padaku soal fotoku bersama Valerie?"


Aku memundurkan kepala seraya memutar bola mata jengah. "Tidak, aku tidak marah soal fotomu. Itu hanya menunjukkan betapa jelas perbedaan antara kau dan aku. Kau bisa saja meniduri gadis manapun yang kau inginkan, namun sebaliknya kau memilih..."


"Kau membuatku bergairah. Jangan berbicara seolah-olah kau tidak mengetahui itu, love." Paul mendesakkan tubuhnya padaku hingga aku bisa merasakan kejantanannya yang mengeras di balik celananya.


"Paul..." Aku menaikkan kedua tanganku ke lengannya lalu mundur sedikit. Jantungku berdegup kencang dan tidak ada lagi yang kuinginkan selain mencium bibirnya yang menggiurkan, bahkan setelah penolakan yang baru saja kulakukan.


"Apa kau berkencan dengan Travis?" tanyanya kemudian, dengan nada yang lebih lembut.


"Hubungan kami agak rumit, dan itu sama sekali bukan urusanmu." balasku. "Maaf jika aku terlalu kasar, tapi..." Aku mengedikkan bahu, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Kau benar, itu bukan urusanku. Bagaimana kalau aku mengantarmu sekarang dan kita berkencan besok?" Dia mundur selangkah dariku, menyapukan jemari ke rambutnya.


Aku merasa panas. Tidak... terbakar? "Ya, ya... Okay." Aku menganggukkan kepala.


Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu lagi, Valerie tiba di dekat kami. "Hei, apa kalian akan pulang?" tanyanya dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.


"Kami akan kembali ke klub sebentar lagi. Carl sedang mengajak Travis, siapa tahu dia mau ikut." gumam Valerie menjelaskan, dan aku mendapati diriku tersenyum.


"Kau sangat murah hati, Val... Travis pasti senang." kataku sambil tersenyum.


Dia membalas senyumku. "Hey, kapan-kapan kita harus double date." ujarnya menyarankan, menatap Paul dan aku bergantian.


Senyumku perlahan menghilang, pandanganku tertuju pada pria di hadapanku dengan pikiran bertanya-tanya. Apa yang membuat Valerie berpikir bahwa kami sedang berkencan?


"Boleh, itu pasti asyik." jawab Paul tanpa menatapku. Aku melongo sebelum tepukan ringan di tanganku menarik pikiranku kembali.


Tatapanku kembali pada Valerie yang sedang berbicara padaku. "Boleh aku minta nomor ponselmu? Mungkin kita bisa makan siang bersama nanti." tanyanya, tersenyum amat manis dan tulus.


Sekarang aku tahu kenapa Carl begitu tergila-gila pada Valerie, tingkah lakunya serasi dengan tampangnya yang cantik.


"Oh, tentu." Kami saling bertukar nomor ponsel tepat saat Carl dan Travis mendekat.


Sebelum Travis tiba di hadapan kami, Paul lebih dulu menuntunku keluar dan langsung menuju ke sebuah mobil hitam yang terparkir, menunggu di depan bar. Paul sudah mengatakan kepada Travis dan Carl kalau dia akan mengantarku pulang, dan sudah bisa dipastikan Travis akan mengira kami memiliki rencana lain.


"Alfred, ini Bianka." Dia mengenalkanku kepada seorang sopir paruh baya dengan kepala plontos dan memiliki senyum paling ramah dari yang pernah kulihat selama ini.


"Senang berkenalan denganmu, Miss." sapanya dengan sopan.


"Terima kasih, Sir. Maaf kau harus bekerja selarut ini."


"Oh, jangan sungkan... ini sudah menjadi tugasku." balasnya sambil menyalakan mobil. "Kemana kita?"


Aku memberitahukan alamatku padanya dan dia segera melaju, kemudian menaikkan kaca pembatas di dalam mobil, memberi privasi untukku dan Paul di kursi belakang. Aku menguap, benar-benar kelelahan.


"Apa kau lelah?" tanya Paul seraya menatapku lekat-lekat.


Aku memutar kepala menolehnya. "Nyaris mati."


Paul terkekeh dan menunduk selama beberapa saat. "Apa kau sungguh tidak mengijinkanku mampir sebentar, Bianka? Untuk minum teh?"


Satu tawa kecil terlepas dari mulutku saat aku aku menyandarkan kepala ke belakang. "Kau sangat gigih, ya?"


"Dan kau sangat keras kepala."


"Atau aku hanya tidak ingin kalau melepaskan pakaianku lagi?" kataku menggodanya, mataku jelas menunjukkan kalau aku sangat lelah saat ini.


Dia mengedikkan bahu sambil menyeringai. "Hei, aku hanya meminta segelas teh, bukan mengajakmu bercinta. Kecuali, tentu saja, kalau kau juga menginginkannya..."


Ketika dia menggoyangkan alisnya dengan genit, aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Apa kau tidak mendengarku menolak gagasan itu sejak tadi?"


"Sulit berkonsentrasi mendengarkanmu saat matamu melakukan hal seperti itu, Bianka..." gumamnya beralasan dengan raut tanpa dosa, lalu dia mengangkat tangan dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya.


Aku mengeryit. "Apa? Mataku tidak melalukan apapun sejauh yang kuketahui."


Sekujur tubuhku seakan tertarik padanya, jenis tarikan yang tidak bisa kulepaskan. Itu membuatku merasa hangat dan agak cemas pada saat yang bersamaan.


Ibu jarinya kemudian turun ke bibirku, matanya mengikuti gerakan tangannya dengan cermat saat dia mengusapkannya ke bibir bawahku. Aku membeku sementara jantungku berdebar kencang, dan itu merupakan hal yang tidak ingin kulakukan saat itu.


"Apa yang kau lakukan?" gumamku malas, lalu dengan cepat memalingkan wajah hingga tangannya terlepas dariku.


Ketika kami tiba di depan rumahku, Paul dengan gerakan yang terkesan buru-buru keluar dari mobil, membukakan pintu untukku.


Alfred menurunkan kaca pembatas mobil. "Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang, Miss." Dia tersenyum padaku.


"Terima kasih," balasku, bertepatan saat Paul membuka pintu di sampingku. "Demi kebaikanmu, kuharap kau segera pensiun, Sir."


"Ya, kuharap juga begitu." Aku tersenyum padanya sebelum menoleh Paul yang mengulurkan tangan padaku, menawarkan kebaikan untuk membantuku turun dari mobil mewahnya.


Saat aku berdiri di atas trotoar, aku menggigil kedinginan. Cahaya bulan terpantul di jalan dan aku baru menyadari ketika kami berada di bar, kemungkinan besar di luar sudah hujan.


Paul menutup pintu mobil dan maju beberapa langkah.


"Senang berjumpa denganmu, Paul. Kuharap kau bisa bersantai sejenak dari latihanmu."


Paul mengangguk. "Ya, kuharap..."


Aku tidak mendengar ucapannya lagi karena mendadak mobil Paul melaju meninggalkannya. Aku mengernyit. "Apa yang..."


Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Ketika aku menoleh Paul, dia menaikkan bahu. Alisku mengkerut dengan raut tidak suka karena aku tahu ini ulahnya. Mana mungkin Alfred melupakan majikannya. Yang benar saja!


"Oh, no." gumamnya ringan, pura-pura bodoh dengan sorot mata berkilat. "Kurasa aku harus mampir sekarang."


"Apa kau serius, Paul?" Aku melipat kedua tangan di depan dada. "Aku benar-benar lelah, dan yang kubutuhkan saat ini hanya masuk ke dalam rumahku dan tidur sampai besok."


"Bianka, kumohon... hanya segelas teh, tidak lebih. Aku janji." katanya sambil tersenyum memohon, senyum yang tidak mungkin bisa kutolak.


"Oke. Segelas teh!"